Marco Maverick membenci wanita cantik. Trauma masa lalu membuat CEO jenius yang hobi bertingkah kocak ini lebih memilih melajang, menyawer live TikTok, dan mengasuh anak sahabatnya. Bahkan saat menyelamatkan wanita mempesona di klub malam, Marco menolaknya mentah-mentah.
Penasaran dengan satu-satunya pria yang berani mencampakkannya, Isabel nekat menyusup ke hidup Marco. Putri konglomerat yang sedang buron itu menanggalkan kemewahannya dan menjelma menjadi 'Lia', sekretaris berpenampilan cupu dan kusam.
Ironisnya, Marco justru menolak pesona Isabel dalam wujud aslinya, dan perlahan jatuh hati pada kesederhanaan Lia. Namun, tak ada kebohongan yang abadi. Ketika topeng sang sekretaris terbongkar, luka lama Marco kembali menganga, menghancurkan semua rasa percaya yang baru tumbuh.
"Apakah seru mempermainkan hatiku, Lia?"
Saat bahaya masa lalu kembali mengincar nyawa Isabel, sanggupkah ia meyakinkan pria itu bahwa cinta tak selamanya pahit, Marco!?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
"Hari pertama jadi sekretaris. Ayo, Lia! Kau pasti bisa! Pekerjaan ini pasti sangat gampang," ucap Isabel yang kini telah jadi Magnolia sepenuhnya.
Di hari pertamanya bekerja, Isabel—yang kini sepenuhnya berwujud Lia si gadis cupu—merasa sangat percaya diri. Mengurus jadwal seorang CEO? Menjawab telepon? Menyeduh kopi? Apa susahnya?
LSebagai pewaris keluarga Ramsey, ia terbiasa melihat para asisten melakukan pekerjaan itu dengan mata tertutup.
Namun, teori memang selalu jauh lebih indah daripada realita. Terutama jika seumur hidupmu kau tidak pernah sekali pun menginjakkan kaki di dapur.
Pagi itu, Lia berjalan masuk ke ruangan Marco dengan langkah dibuat gontai dan kepala menunduk. Kedua tangannya yang gemetar pura-pura memegang nampan berisi secangkir kopi hitam yang masih mengepul.
"Ini kopi pagi Anda, Tuan Maverick," cicit Lia pelan, meletakkan cangkir porselen itu di atas meja kerja Marco dengan sangat hati-hati.
Marco yang sedang sibuk memutar-mutar pena di sela jarinya sambil menatap grafik saham di layar komputer, hanya bergumam pelan.
"Bagus. Taruh di sana," ucap Marco tanpa menoleh. Ia lalu meraih gagang cangkir itu dan membawanya ke bibir. "Aku butuh kafein dosis tinggi sebelum menghadapi para direktur tua yang hobi mengeluh di rapat nanti."
Marco menyesap kopi itu dalam-dalam.
Satu detik. Dua detik.
Mata Marco mendadak membulat sempurna hingga nyaris keluar dari tempatnya. Wajah tampannya berubah pucat pasi, lalu memerah padam, sebelum akhirnya ungu seperti orang tercekik.
"PFFFHHHTTT!"
Marco menyemburkan seluruh isi mulutnya tepat ke arah tempat sampah di bawah mejanya. Ia terbatuk-batuk hebat sambil mencengkeram dadanya, lidahnya menjulur keluar dengan ekspresi horor yang luar biasa.
"Uhuk! Uhuk! Astaga! Air! Beri aku air putih!" jerit Marco panik, menepuk-nepuk dadanya sendiri.
Lia yang terkejut buru-buru menyodorkan botol air mineral. Marco merebutnya dan menenggaknya rakus, lalu berkumur-kumur dan membuangnya lagi ke tempat sampah.
Napas Marco memburu. Ia menatap cangkir kopi di atas mejanya seolah benda itu adalah granat aktif, lalu menatap Lia dengan tatapan membunuh.
"Kau mau meracuniku, Lia?!" raung Marco, suaranya menggelegar ke seluruh ruangan. "Apa yang kau masukkan ke dalam kopi itu, hah?!"
Lia menundukkan kepalanya dalam-dalam, menahan tawa melihat wajah dramatis bosnya.
"S-saya hanya memasukkan satu sendok kopi dan satu sendok gula putih, Tuan..."
"Gula dari mana yang rasanya seaneh ini?!" Marco menggebrak meja, menunjuk cangkir itu dengan jari gemetar. "Kopi ini rasanya seperti kuah mi instan! Kau memasukkan penyedap rasa kaldu ayam ke dalam kopiku, kan?! Kau membuatkan ku kopi rasa sup ayam?!"
Lia mengerjap polos di balik kacamata tebalnya.
"T-tapi bentuknya kristal putih, Tuan. Toplesnya ada di sebelah toples kopi di pantry."
"Itu MSG, Gadis Bodoh! Roy*o! Micin!" Marco menjambak rambutnya sendiri dengan frustrasi.
"Pantas saja Nyonya Brenda bilang kau pintar, otakmu pasti kelebihan micin! Ya Tuhan, lidah mahalku ternoda! Aku bisa kena darah tinggi pagi-pagi begini!"
Marco sibuk mengelap mulutnya dengan tisu, membuat dasi birunya ikut terkena noda air. Melihat itu, Marco semakin mengerang frustrasi. Ia menarik dasi itu dengan kasar dan melemparnya ke sofa, lalu membuka laci mejanya dan mengeluarkan dasi baru berwarna merah marun.
"Kemari kau!" perintah Marco galak. Ia menyodorkan dasi itu ke arah Lia. "Pasangkan dasiku! Lima menit lagi aku ada video conference dengan investor dari Jepang. Dan berhentilah menunduk, aku tidak akan menggigitmu!"
Lia ragu-ragu melangkah maju. Ia mengambil dasi itu dengan tangan sedikit gemetar.
Sial, batin Isabel memaki dirinya sendiri. Jangankan memasangkan dasi pria, melihat Bryce memakai dasi saja aku sudah muak. Bagaimana cara mengikat benda sialan ini?
Lia mengalungkan dasi itu ke kerah kemeja Marco. Karena tinggi Marco menjulang, Lia harus sedikit berjinjit. Wajah mereka berdekatan, tapi Marco membuang muka dengan bibir masih komat-kamit merutuki kopi rasa sup ayam tadi.
Lia mulai menyilangkan ujung dasi dengan sedikit kebingungan. Ia menariknya, melilitkannya asal-asalan seperti mengikat tali sepatu, lalu menarik simpulnya dengan tenaga penuh ke arah atas.
"Hkkh!"
Mata Marco mendelik seketika. Kedua tangannya refleks mencengkeram kerah kemejanya sendiri saat simpul dasi buatan Lia mencekik lehernya dengan brutal.
"L-lepas! Hkkh! Lepaskan!" Marco meronta, wajahnya kembali memerah karena pasokan oksigennya terputus mendadak.
Lia tersentak kaget. Bukannya melonggarkan, ia malah panik dan menarik ujung dasi itu semakin kencang.
"Eh! M-maaf, Tuan! Saya bingung cara melonggarkannya!" seru Lia heboh.
"Uhuk! Mati aku! Kau benar-benar pembunuh bayaran yang disewa kompetitorku, kan?!" Marco akhirnya berhasil merampas dasi itu dari tangan Lia, menarik simpulnya dengan paksa hingga longgar, lalu terbatuk-batuk mencari udara.
Marco mundur hingga menabrak rak buku. Ia menunjuk Lia yang berdiri kaku memeluk nampan, seolah benda itu adalah perisai paling hebat yang bisa menangkal omelan Marco.
"Kau!" napas Marco tersengal-sengal. "Kau tidak bisa membedakan micin dan gula! Kau mengikat dasi seperti mengikat tali gantungan mati! Ijazahmu itu beli di mana, hah?! Kau ini mau jadi sekretarisku atau mau mencabut nyawaku?!"
"M-maaf, Tuan... S-saya biasa pakai baju kaus dan kacamata... s-saya tidak pernah pakai dasi..." cicit Lia, air mata buayanya sudah bersiap menggenang di pelupuk mata.
"Jangan menangis!" ancam Marco cepat, mengangkat tangannya menghentikan drama gadis itu. "Simpan air matamu! Kepalaku sudah mau pecah!"
Marco berjalan gontai menuju sofa dan menjatuhkan tubuhnya di sana. Ia mengusap wajahnya dengan kasar. Energinya terkuras habis hanya dalam waktu lima belas menit sejak gadis aneh ini masuk ke ruangannya.
"Di dalam kulkas kecil di sudut itu," tunjuk Marco lemas, matanya terpejam. "Ada sebotol kecil suplemen kesehatan penambah stamina. Ambilkan untukku. Buka tutupnya sekalian. Tanganku lemas gara-gara kau cekik tadi."
Lia mengangguk patuh. Ia berjalan cepat ke arah kulkas kecil, mengambil botol kaca berukuran mungil berisi cairan kuning cerah. Segel aluminium di tutupnya masih utuh.
Lia kembali ke depan sofa. Marco masih memejamkan mata, kepalanya bersandar di punggung sofa dengan mulut sedikit terbuka.
"Ini, Tuan... Sebentar, saya bukakan dulu untuk Anda."
Lia memutar tutup botol itu. Namun, karena tangannya licin dan segelnya sangat rapat, tutup itu sulit terbuka. Lia mengerahkan seluruh tenaga di pergelangan tangannya. Ia meremas botol plastik keras itu kuat-kuat sambil memutar tutupnya dengan paksa.
"Ayo terbuka!" ucap Lia dengan gigi bergemeletuk.
POP!
Tutup botol itu akhirnya terlepas dengan bunyi nyaring.
Namun, karena tekanan remasan tangan Lia yang terlalu kuat, cairan kuning kental di dalamnya langsung menyembur keluar seperti letusan gunung berapi mini.
BYURRR!
Cairan suplemen rasa jeruk itu muncrat dengan sukses, mendarat telak membasahi wajah, hidung, dan rambut Marco yang sudah ditata rapi.
Keheningan yang mematikan langsung turun menyelimuti ruangan itu.
Marco perlahan membuka matanya. Tetesan cairan berwarna kuning menetes dari ujung hidungnya, mengalir melewati dagunya, dan membasahi kemeja putih mahalnya. Wajah pria itu benar-benar kosong, seolah jiwanya baru saja melayang meninggalkan raganya.
"M-maaf, Tuan..." bisik Lia ngeri, mundur dua langkah dengan botol kosong di tangannya. Matanya membelalak lebar, merutuki kecerobohannya.
Dalam gerakan lambat yang sangat menakutkan, Marco bangkit berdiri. Ia tidak berteriak. Ia tidak memaki. Ia hanya memutar tubuhnya, berjalan kaku seperti zombi menuju pintu ruangannya, dan menarik gagang pintu itu sekuat tenaga.
"NYONYA BRENDA!!!!"
Teriakan melengking Marco menggema hingga ke lorong luar, membuat beberapa karyawan yang sedang lewat tersentak kaget.
Nyonya Brenda yang sedang mengetik di mejanya menoleh dengan wajah datar, menatap bos besarnya yang basah kuyup oleh cairan kuning dan memiliki dasi yang terikat mengerikan di lehernya.
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan Maverick?" tanya Nyonya Brenda tanpa dosa.
"Ganti dia! Ganti gadis itu sekarang juga!" raung Marco, menunjuk ke dalam ruangannya dengan dramatis. "Dia memberiku kopi rasa kaldu ayam! Dia mencoba menggantungku dengan dasiku sendiri! Dan sekarang dia mengotori wajah tampanku dengan suplemen kesehatan! Aku tidak peduli, aku tidak mau bekerja sama dengan nenek sihir itu sedetik pun lagi!"
Nyonya Brenda membenarkan letak kacamatanya dengan tenang. "Dia hanya sedang beradaptasi, Tuan. Anda sendiri yang menyuruh saya mencari kandidat yang tidak pandai merias diri dan tidak fokus pada penampilan."
"Tapi aku tidak menyuruhmu mencari orang yang berniat membunuhku!" balas Marco frustrasi, mengusap wajahnya yang lengket.
"Dia lulusan terbaik, Tuan. Kecepatan mengetiknya—"
"Aku tidak peduli kalau dia bisa mengetik dengan kakinya sekalipun!" Marco merengek seperti anak kecil, menghentakkan kakinya ke lantai. "Pokoknya, aku mau dia dipecat!"
"Tidak bisa, Tuan," geleng Nyonya Brenda. "Lia sudah terlanjur tanda tangan kontrak kemarin. Jadi, jika Anda ingin memecatnya, tunggu masa percobaannya selesai."
Marco meremas rambutnya frustasi. "Argghh!!! Keluarkan dia dari ruanganku, Nyonya! Sekarang! Pokoknya, aku tidak mau melihatnya didepanku lagi. Aku benci dia! Aku benci nenek sihir itu."
Dari dalam ruangan, Lia yang mengintip dari balik pintu hanya bisa meringis. Tak ia sangka, baru di hari pertama, dia sudah hampir membunuh bosnya sendiri.
Sial, aku benar-benar hampir dipecat di hari pertama.
oooh tdk bisaaa ,, anda gx liat tuh calon pawang ny udh ngeluarin tanduk dari kening ny🤭🤭🤭🤣🤣🤣
semangat Marco ,,
semangat liaa or Isabella ,,
kejam banget sih itu memang cewek 😡
jgn bermimpi bisa dapetin Marco Alana ,, pawang skarang ganas meski belum resmii ,, tp ttap hati2 ,,