Bagaimana jadinya jika seorang dokter bedah dan ahli toksikologi jenius dari abad ke-21 bertransmigrasi ke tubuh seorang Permaisuri yang lemah dan dibuang?
Anran, seorang dokter genius masa depan, tewas dalam insiden laboratorium dan terbangun di tubuh Permaisuri Kerajaan Great Yan. Tak hanya dibuang ke Istana Dingin karena fitnah kejam, tubuh Permaisuri ini juga diracuni secara perlahan oleh musuh-musuhnya di istana belakang.
Permaisuri lama yang penakut dan mudah menangis telah lenyap. Kini, Anran bangkit membawa kecerdasan medis modern, keahlian racun yang mematikan, dan keberanian tanpa batas!
Satu per satu racun dibongkar, fitnah selir licik dipatahkan, dan intrik politik kerajaan dihancurkan. Seluruh istana dibuat gempar oleh perubahan drastis sang Permaisuri yang kini anggun, cerdas, dan tidak bisa diintimidasi oleh siapa pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aldolado, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
lanjut bab 14
... sarang racun dan intrik kotor yang mengancam keselamatan penguasa Kerajaan Great Yan."
Kaisar Tian mengangguk perlahan, pendar kebanggaan dan ketertarikan di sepasang mata elangnya kian tak terbendung. "Jika ada pejabat atau tabib yang membangkang terhadap perintahmu di Balai Pengobatan, kau memiliki hak penuh untuk mengeksekusi tindakan disipliner tanpa perlu menunggu izin dari-Ku."
"Terima kasih atas kepercayaan Yang Mulia," balas Anran seraya membungkuk anggun.
Sidang fajar di Aula Keagungan resmi ditutup. Para menteri membubarkan diri dengan bisik-bisik ketakutan dan rasa hormat yang baru terhadap sang permaisuri. Anran melangkah keluar dari aula utama dengan gaun merah keemasannya yang menjuntai indah, diiringi oleh Lian dan Tabib Zhou yang kini berjalan membungkuk hormat di belakangnya.
"Yang Mulia Permaisuri..." panggil Tabib Zhou dengan suara bergetar pelan saat mereka melintasi koridor pualam menuju kompleks Balai Pengobatan Kerajaan. "Hamba sungguh terpesona oleh ketajaman wawasan medis yang Anda miliki. Hamba berjanji akan setia mengabdi dan mendampingi Anda merapikan Balai Pengobatan."
Anran melirik Tabib Zhou dari sudut matanya, mengulas senyum tipis. "Kesetiaanmu akan diuji mulai hari ini, Tabib Zhou. Balai Pengobatan Kerajaan adalah jantung kesehatan istana. Jika jantungnya sudah terinfeksi oleh keserakahan dan racun, seluruh istana ini akan membusuk dari dalam."
Beberapa saat kemudian, rombongan Anran menginjakkan kaki di pelataran Balai Pengobatan Kerajaan. Bangunan megah tiga lantai berarsitektur kayu jati tua itu menyebarkan aroma khas ratusan jenis herbal kering dan akar obat.
Namun, suasana di dalam Balai Pengobatan mendadak menjadi tegang luar biasa. Puluhan tabib istana, asisten pengobatan, dan peracik herbal yang sebelumnya mendengar kabar kejatuhan Selir Mei di Aula Keagungan kini berbaris rapi di pelataran. Wajah-wajah mereka pucat pasi, tubuh mereka bergetar ketakutan saat melihat sang Permaisuri melangkah mendekat.
Anran menghentikan langkahnya di tangga utama. Pandangan matanya yang jernih dan tajam mengabsen satu per satu Tabib Senior yang berdiri paling depan.
"Hamba sekalian memberi hormat kepada Yang Mulia Permaisuri!" seru para tabib secara serempak, bersujud hingga dahi mereka menyentuh ubin batu.
Anran tidak langsung menyuruh mereka bangun. Hawa intimidasi yang memancar dari dirinya memaku keheningan di pelataran tersebut.
"Bangunlah," ujar Anran halus namun dingin. "Aku datang ke sini bukan untuk beramah-tamah. Tabib Kepala Lin, mana buku inventaris obat dan catatan distribusi herbal tiga bulan terakhir?"
Seorang pria paruh baya berjanggut panjang—Tabib Kepala Lin—melangkah maju dengan tubuh gemetaran. Pria ini dikenal sebagai sekutu dekat keluarga Selir Mei yang sering memalsukan catatan medis. Dengan kedua tangan yang bergetar hebat, ia menyerahkan dua gulungan kitab kulit ke hadapan Anran.
"Ini... ini catatan lengkapnya, Yang Mulia Permaisuri," gagap Tabib Kepala Lin.
Anran menerima gulungan kitab tersebut dan membukanya di tempat. Sebagai seorang profesional berpendidikan tinggi dari masa modern, matanya yang sangat teliti dengan cepat memindai angka-angka dan nama bahan obat. Hanya dalam waktu kurang dari dua menit, alis Anran bertaut kencang.
"Empat puluh kati Akar Salju tercatat keluar untuk Kediaman Barat, namun hanya sepuluh kati yang tercatat masuk dari pedagang utara," desis Anran seraya melemparkan gulungan kitab itu tepat di depan kaki Tabib Kepala Lin. "Ke mana sisa tiga puluh kati lainnya hilang? Dan mengapa