NovelToon NovelToon
OM GANTENG ITU SUAMIKU

OM GANTENG ITU SUAMIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Leny Fairuz

Mita Septia, seorang gadis manis yang berprofesi sebagai Guru PJOK di sekolah terpencil Kecamatan Entikong, kabupateng Sanggau perbatasan Kalimantan Barat dengan negeri jiran Malaysia. Ia telah menjalin hubungan asmara dengan Denis yang menjabat sebagai CSR Supervisor di salah satu perusahaan pertambangan ternama di Kalimantan Barat. Hubungan yang telah berjalan hampir 3 tahun, membuat keduanya berencana meresmikan di akhir tahun. Tetapi kenyataan tak sesuai harapan Mita. Denis telah berpaling hati, hingga membuat rekan kerjanya hamil. Tak bisa menghindari tanggung jawab, Denis melupakan janji yang telah ia susun bersama Mita. Keputusan Denis tentu saja menghancurkan hati Mita, dalam kelukaan atas kabar yang dikirim Denis mempertemukan ia dengan seorang Abdi Negara berpangkat Kapten yang bernama Reihan. Akan kah Kapten Reihan mampu menyembuhkan segala luka yang dialami Mita....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leny Fairuz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29. Di Antara Persahabatan dan Perasaan

Di halaman pos, Budi masih sibuk menyelesaikan persiapan kegiatan sore. Ia memeriksa kembali daftar perlengkapan, memastikan kotak obat tersedia, dan mengingatkan anggota yang bertugas agar tidak meninggalkan barang penting.

Dari kejauhan, Yanto memperhatikannya. Ada sesuatu yang berbeda dari pemuda itu. Biasanya, Budi mampu menjalankan tugas dengan tenang tanpa terlalu banyak menunjukkan apa yang sedang dipikirkannya. Namun, sore itu, di balik kesibukannya, sesekali ia terlihat melamun.

Yanto mengetahui penyebabnya.

Percakapan mereka sebelumnya masih membekas dalam pikiran Budi. Nasihat yang diberikan Yanto telah membuatnya berani mempertimbangkan langkah yang selama ini selalu ditundanya.

Budi ingin mengungkapkan perasaannya kepada Mita. Ia belum tahu bagaimana hasilnya nanti. Ia juga belum mengetahui apakah perempuan itu akan menyambut perasaannya atau justru menolaknya dengan cara yang paling halus sekalipun.

Tapi setidaknya, ia mulai memahami bahwa terus berdiam diri bukanlah jaminan untuk terhindar dari rasa sakit.

Yanto akhirnya menghampirinya, "Bagaimana persiapannya?" tanyanya.

Budi menoleh, “Aman. Tinggal menunggu beberapa anggota yang masih bersiap."

Yanto mengangguk, kemudian berdiri di sampingnya, "Kapten tadi menanyakan kegiatan sore ini."

Budi menoleh lagi, "Kapten Reihan?"

"Memangnya ada kapten lain di pos ini?"

Budi mendengkus kecil, "Jangan mulai."

Yanto tertawa, tetapi kali ini tawanya tidak berlangsung lama, “Dia juga menanyakan kesiapanan personil."

"Ya, wajar. Ini tugas kita."

"Benar."

Keduanya terdiam sejenak.

Yanto melirik Budi, lalu berkata dengan nada lebih serius, "Bud, ada satu hal yang perlu kau ingat."

"Apa?"

"Jangan sampai persoalan perasaan membuatmu lupa siapa dirimu. Kau prajurit yang punya tanggung jawab. Apa pun yang terjadi nanti, jangan biarkan hal pribadi mengubah caramu menjalankan tugas."

Budi menatapnya cukup lama sebelum akhirnya mengangguk, "Aku tahu, Yan."

"Dan satu lagi. Jangan pernah menganggap Bu Mita sebagai seseorang yang harus diperebutkan."

Budi mengerutkan kening, tetapi tidak menyela.

"Kalau kau memang menyukainya, beri dia kesempatan untuk mengenalmu lebih dekat. Sampaikan perasaanmu kalau kau sudah siap. Tapi, keputusan tetap ada padanya."

Budi mengembuskan napas Panjang, "Aku tidak pernah berpikir untuk memaksanya."

"Aku tahu. Aku hanya ingin kau benar-benar memahami itu."

Budi mengalihkan pandangan ke arah kendaraan yang telah siap diberangkatkan, "Aku hanya ingin mencoba, Yan. Kalau ternyata dia tidak punya perasaan yang sama, setidaknya aku tidak akan terus bertanya-tanya tentang kemungkinan yang tidak pernah kuperjuangkan."

Yanto tersenyum tipis, "Itu baru Budi yang kukenal."

Mereka kemudian kembali memeriksa kendaraan sebagai persiapan akhir, seolah percakapan tersebut tidak lebih dari nasihat biasa di antara dua orang sahabat.

Jauh  di dalam hati, Yanto menyadari bahwa ia baru saja membantu membuka sebuah pintu yang mungkin tidak akan mudah ditutup kembali. Sebab, ketika perasaan mulai diungkapkan, tidak ada seorang pun yang bisa menjamin bahwa segala sesuatu akan tetap sama.

Menjelang keberangkatan, Yanto sempat kembali melirik ke arah teras pos.

Reihan masih berada di sana, berbicara dengan salah seorang anggota mengenai jadwal patroli berikutnya. Sikapnya tetap tenang, tegas, dan terkendali. Tidak ada yang menunjukkan bahwa ia sedang memikirkan seorang perempuan yang sama sekali tidak berada di hadapannya.

Yanto menghela napas. Reihan adalah sahabat sekaligus atasannya. Sedangkan Budi juga rekan yang ia hormati. Ia tidak ingin melihat salah satu dari mereka terluka, apalagi jika luka itu tumbuh dari kesalahpahaman yang sebenarnya bisa dihindari.

Tapi, ia juga tahu bahwa perasaan tidak selalu tunduk pada pertimbangan yang masuk akal. Perasaan bisa tumbuh tanpa direncanakan, menguat tanpa disadari, lalu mengubah cara seseorang memandang dunia.

Dan ketika dua laki-laki mulai menaruh harapan kepada perempuan yang sama, persoalannya tidak sesederhana menentukan siapa yang lebih dahulu berani mengungkapkan perasaan.

Sebab, Mita bukan hadiah yang bisa dimenangkan oleh siapa pun.

Ia memiliki kehendak, pilihan, dan hak untuk menentukan siapa yang ingin berada di sisinya. Tidak peduli siapa yang lebih tinggi pangkatnya, siapa yang lebih lama mengenalnya, atau siapa yang paling berani mengambil risiko.

Pada akhirnya, ketulusan tidak bisa diukur hanya dari seberapa besar seseorang menginginkan orang lain. Ketulusan juga terlihat dari kesanggupan menghormati keputusan orang yang dicintainya.

Yanto berharap Reihan dan Budi memahami hal itu sebelum keadaan menjadi semakin rumit.

Ia kemudian mengembuskan napas panjang, mengusap wajah, lalu tersenyum kecil saat menyadari betapa seriusnya ia memikirkan persoalan yang bahkan belum benar-benar terjadi.

Yanto tercenung sesaat. Ia teringat sesuatu, yang mungkin terlupakan Budi, karena rasa ketertarikan pada Mita membuatnya menutup mata atas hal lain.

“Bagaimana kalau perempuan yang ditaksir sahabatnya itu sudah mempunyai orang yang Istimewa di hatinya?” batin Yanto tiba-tiba.

Ia menggelangkan kepala tak percaya, jika apa yang ada dalam benaknya sesuai dengan fakta di lapangan. Seharusnya Budi mencari tahu latar belakang perempuan yang pingin ia tembak.

Apakah ia janda cerai? Janda yang ditinggal mati? Atau bahkan telah mempunyai suami yang ‘LDR’ dengannya?

Senyum bias terselip di ujung bibir Yanto membayangkan segala kemungkinan yang bermain di pikirannya mengingat perempuan yang menjadi target sahabatnya. Namun ia akui, dari segi fisik Mita masih seorang ‘perawan’.

"Sepertinya," gumamnya seorang diri, "Aku harus menyiapkan banyak kopi untuk menghadapi semua ini."

Senyum tipis menghiasi wajahnya, tetapi hanya sesaat. Sebab, di balik guyonan itu, Yanto tahu bahwa suatu hari nanti ia mungkin harus berdiri di antara dua sahabat yang sama-sama memiliki alasan untuk memperjuangkan perasaan mereka. Dan ketika hari itu tiba, ia hanya bisa berharap persahabatan mereka cukup kuat untuk bertahan.

Sementara itu, Reihan masih belum mengetahui apa yang telah dibicarakan Yanto dan Budi. Ia juga belum menyadari bahwa perhatiannya kepada Mita perlahan mulai membuka ruang bagi kemungkinan-kemungkinan yang selama ini tidak pernah ia pertimbangkan.

Bagi Reihan, sore itu hanyalah sore biasa di pos perbatasan.

Bagi Budi, sore itu menjadi awal keberanian untuk memperjuangkan sesuatu yang selama ini disimpannya sendiri.

Dan bagi Yanto, sore itu adalah permulaan dari sebuah persoalan yang mungkin akan menguji kesetiaan, persahabatan, serta kedewasaan mereka semua.

Persaingan itu belum terlihat. Belum ada pengakuan yang diucapkan di hadapan Mita. Belum ada pertentangan yang muncul di antara Reihan dan Budi. Bahkan, perempuan yang menjadi pusat dari semua perasaan itu mungkin masih menjalani harinya tanpa mengetahui apa yang sedang tumbuh di hati dua orang laki-laki tersebut.

Namun, sesuatu telah berubah.

Sebuah rahasia kini diketahui oleh lebih dari satu orang. Sebuah keberanian mulai tumbuh. Dan sebuah perasaan yang semula tersembunyi perlahan bergerak menuju saat ketika ia harus menghadapi kenyataan.

Tanpa disadari siapa pun, persaingan yang kelak menguji kehormatan, persahabatan, dan ketulusan itu telah dimulai.

Dan ketika kebenaran akhirnya terungkap, tidak ada pangkat, kedekatan, ataupun keberanian yang dapat menjamin siapa yang akan memenangkan hati Mita.

Sebab, keputusan terakhir tetap berada di tangan perempuan itu sendiri.

1
Heti Supriyati Laela
ikutan senyum sendiri
Heti Supriyati Laela
semangat up othor
Heti Supriyati Laela
gasss kapten
rayhan dirgantara
up lg ga ka aku rayhan kls 4sd ka slm knal ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!