Sejak kecil, Kirana Lin dibuang ke desa karena terlahir bisu. Meski tak mampu berbicara, ia memiliki kecerdasan luar biasa dan segudang prestasi.
Dua puluh tahun kemudian, Kirana kembali ke keluarga Lin untuk menggantikan putri angkat mereka menikah dengan Kendra Wu, penguasa keluarga Wu yang lumpuh akibat kecelakaan.
Semua orang mengira Kirana akan menderita di tangan Kendra. Namun, gadis bisu itu justru berhasil membuat sang penguasa jatuh cinta dan membantunya merebut kembali semua yang telah dirampas darinya.
Yuk simak kisahnya! Yang tidak suka langsung skip!👊👊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menyusup
Malam itu, sebuah klub malam di pusat kota dipenuhi cahaya lampu yang berwarna-warni dan suara musik yang terdengar dari kejauhan.
Di salah satu ruangan VIP, Shania duduk berdekatan dengan Julian Shu sambil memasang wajah manja, seolah seluruh masalah yang terjadi di rumahnya hanya bisa diselesaikan oleh pria tersebut.
“Julian, semenjak Kak Kirana pulang, aku jadi sering diganggu olehnya,” keluh Shania dengan suara lembut. “Dia bahkan sering pamer di depanku seolah-olah sekarang dirinya sudah menjadi orang penting karena mendapatkan perhatian dari keluarga Wu.”
Julian mengusap kepala Shania dengan gerakan menenangkan. “Jangan dipikirkan terlalu serius. Kalau dia memang mengganggumu, nanti aku akan memberinya pelajaran.”
Shania langsung tersenyum puas. “Benarkah? Aku tahu kamu pasti membelaku.”
“Tentu saja,” jawab Julian santai. “Aku tidak akan membiarkan siapa pun membuatmu terus merasa tidak nyaman.”
Shania kemudian terdiam sejenak sebelum menatap Julian penuh harap. “Kalau begitu, kapan pernikahan kita?”
Senyum Julian perlahan menghilang. Ia bersandar di sofa dan terdiam beberapa saat sebelum akhirnya menjawab, “Sabar dulu, Shan. Kita masih punya banyak waktu.”
“Aku tidak bisa terus menunggu,” balas Shania cepat. “Orang tuaku juga sudah berkali-kali menanyakan kapan kita akan menikah.”
Ia kemudian menambahkan dengan nada lebih serius, “Mama dan Papa bahkan sudah menyiapkan mahar besar untukku sebagai calon menantu keluarga Shu. Mereka ingin semuanya segera diselesaikan.”
Mata Julian seketika berbinar ketika mendengar tentang mahar tersebut. Ekspresinya berubah menjadi jauh lebih bersemangat, lalu ia tersenyum lebar.
“Begitu rupanya,” ujar Julian. “Kalau begitu, tunggu saja. Kita akan menggelar pesta pernikahan yang meriah.”
Shania langsung tersenyum lebar. “Benarkah?”
Julian mengangguk. “Kamu akan menjadi pusat perhatian di pesta itu. Semua orang akan tahu bahwa kamu adalah calon istri Julian Shu.”
Senyum Shania semakin lebar. Ia membayangkan dirinya mengenakan gaun pengantin mewah dan memasuki keluarga Shu dengan penuh kebanggaan.
“Tentu saja,” katanya penuh percaya diri. “Aku harus mengalahkan Kirana, si bisu itu.”
Di tempat lain, jauh dari keramaian klub tersebut, mansion keluarga Lin justru telah diselimuti keheningan malam.
Di dalam kamarnya, Kirana sedang bersiap dengan pakaian serba hitam yang membuat penampilannya terlihat jauh berbeda dari gadis sederhana yang dilihat keluarga Lin pada siang hari.
Rambutnya diikat menjadi ekor kuda agar tidak mengganggu pergerakannya. Ia juga mengenakan penutup wajah yang membuat sebagian wajahnya tersamarkan, kemudian memeriksa beberapa perlengkapan kecil sebelum memasukkannya ke dalam tas.
Kirana berdiri di dekat jendela dan memastikan keadaan di luar cukup sepi. Setelah tidak menemukan siapa pun yang mencurigakan, ia membuka jendela tersebut dan keluar dengan gerakan ringan.
Beberapa saat kemudian, tubuhnya melompat turun dari lantai dua. Ia mendarat dengan kedua kaki secara stabil tanpa menimbulkan suara keras, lalu segera menegakkan tubuhnya kembali.
Bagi orang biasa, tindakan tersebut tentu membutuhkan keberanian dan keterampilan. Tapi, bagi Kirana yang sejak lama ditempa oleh para master di desa, hal semacam itu sudah menjadi bagian dari kemampuan yang dikuasainya.
Ia kemudian bergerak melewati area penjagaan mansion. Dengan memanfaatkan posisi para penjaga dan suasana malam yang cukup gelap, Kirana berhasil melewati mereka tanpa menarik perhatian.
Sesampainya di dekat pagar, ia berhenti sebentar dan melihat sebuah motor sport berwarna putih yang telah menunggu di tempat tersembunyi. Kendaraan itu merupakan miliknya sendiri dan sengaja dibawa ke sana atas perintahnya.
Kirana memang tidak datang sendirian ke kota. Ia hanya perlu menghubungi salah satu anak buahnya untuk mengurus beberapa hal yang diperlukan tanpa harus menjelaskan terlalu banyak.
Ia mengenakan helm, kemudian duduk di atas motor tersebut. Mesin kendaraan itu menyala dan menghasilkan suara rendah yang segera memecah kesunyian.
Kirana menatap jalanan di depannya melalui kaca helm. Malam ini ia keluar karena ada urusan yang sudah lama menunggunya.
Tanpa membuang waktu, Kirana memutar gas. Motor sport putih itu langsung melesat meninggalkan area mansion, sementara sosok Kirana perlahan menghilang di antara kerlap-kerlip lampu kota.
****
Di salah satu kamar utama, Kendra baru saja selesai membersihkan dirinya dan kini duduk di atas kursi roda dengan mengenakan pakaian handuk menutupi bagian bawahnya, tubuh kekarnya ia biarkan terbuka, kemudian mendorong roda kursinya keluar dari kamar mandi.
Baru beberapa langkah ia bergerak, tatapannya langsung tertuju pada sosok berpakaian hitam yang duduk santai di atas tempat tidurnya. Pria itu seketika menegang dan tangannya bergerak mengambil belati kecil yang selalu tersimpan di sisi kursi rodanya.
“Siapa kau?” tanyanya dingin.
Shut!
Belati tersebut melesat cepat ke arah sosok misterius itu. Tapi orang tersebut hanya memiringkan tubuh dengan santai, membuat belati itu melesat melewatinya dan menancap pada bagian kepala tempat tidur.
Pria berpakaian hitam itu kemudian mengangkat tangannya dan perlahan membuka penutup wajahnya. Rambut panjangnya terurai sedikit, memperlihatkan wajah cantik yang membuat Kendra mengerutkan kening.
“Kirana Lin?” tanya Kendra.
Kirana mengangguk tenang.
Kendra menatapnya tajam. “Apa yang kau lakukan di sini? Dan bagaimana kau bisa melewati seluruh penjagaan mansion ini?”
Kirana hanya mengangkat bahu. Ia kemudian menjentikkan jarinya dengan santai sebelum mengambil buku kecil yang tergantung di lehernya dan menulis beberapa kata.
“Mudah.”
Kendra membaca tulisan itu, lalu menatapnya beberapa detik. “Kau menyusup ke mansion milikku, menghindari para penjaga, lalu hanya mengatakan semuanya mudah?”
Kirana mengangguk lagi.
Kendra Wu merasa informasi tentang gadis ini masih banyak lagi. Ia kemudian menyandarkan punggungnya pada kursi roda dan bertanya dengan nada dingin, “Apa yang kau inginkan?”
Kirana justru tersenyum tipis. Ia menyukai cara Kendra berbicara yang langsung pada inti persoalan tanpa membuang waktu.
Ia mengambil selembar kertas, menulis cukup panjang, kemudian menyerahkannya kepada Kendra. Pria itu membaca tulisan tersebut dengan alis sedikit terangkat.
“Aku ingin kita membuat kesepakatan sebelum menikah.”
“Kau ingin membuat kesepakatan?” ulang Kendra. “Apa yang kau inginkan?”
Kirana mengangguk.
Kendra menatapnya tajam. “Kau tidak takut aku membunuhmu sekarang?”
Kirana menggeleng.
Ia kembali menulis pada kertasnya sebelum menunjukkannya kepada Kendra.
“Tidak. Sebelum pengawalmu menyadari kehadiranku, aku sudah bisa membuatmu tidak berdaya.”
sat set tnpa drama
keren pojok nya
wuih jous gandos
aaahhh mboh lah mumet AQ sweeter
otornya lho bikin penasaran Mulu 🤣🤣🤣
🤭🤭🤭🤭