NovelToon NovelToon
MODEL RAHASIA TEMAN KAKAK

MODEL RAHASIA TEMAN KAKAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: MissSHalalalal

Hayden menghentikan langkahnya tepat di tepi podium. Tatapannya menelusuri tiap lekuk tubuh Aluna. Pria itu mengulurkan tangannya, seolah-olah hendak membenarkan letak kain selendang yang tersingkap di atas paha Aluna.

Namun, gerakan jemari Hayden tidak berhenti di sana. Jemarinya yang dingin dan kasar bergeser perlahan, sengaja menyapu permukaan kulit halus Aluna, bergerak semakin naik menyentuh area yang tertutup selendang putih tipis itu.

Sentuhan asing dan lancang itu seketika meletupkan amarah Aluna.

"Jangan sentuh!"

Aluna menepis tangan Hayden dengan kibasan keras. Dalam sekejap, gadis itu menarik kain selendang untuk menutupi dadanya, merapatkan kedua kakinya, dan mundur ke sudut podium. Matanya yang sembab menatap Hayden dengan kilatan amarah yang membara.

"Jaga tanganmu, Hayden!" bentak Aluna dengan suara bergetar hebat, napasnya memburu cepat oleh kombinasi rasa takut dan murka. "Aku di sini cuma jadi model lukisanmu! Aku menjual posisiku sebagai model untuk melunasi _

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

23.

Mobil SUV hitam itu berhenti mendadak tepat di selasar gawat darurat. Sebelum Rendra sempat berputar membukakan pintu, Hayden sudah lebih dulu melangkah keluar sambil merengkuh tubuh rapuh Aluna ke dalam dekapannya.

Langkah kakinya lebar dan tergesa menerobos pintu kaca rumah sakit. Raut wajahnya mengeras kaku, namun sorot matanya memancarkan kepanikan yang teramat sangat—bayangan ketakutan akan kehilangan Aluna mendadak menghantuinya.

"Panggilkan dokter sekarang!" bentak Hayden pada perawat yang melintas. "Siapkan brankar!"

"Baik, Tuan! Ke sebelah sini!" sahut seorang perawat dengan sigap mendorong brankar mendekat.

Hayden membaringkan Aluna dengan kehati-hatian yang kontras dengan tatapannya yang tajam. Ia ikut berlari kecil mendampingi tim medis yang mendorong brankar, mengawal tubuh pucat itu hingga menerobos tirai IGD.

Selama proses pemeriksaan darurat berlangsung, Hayden tak sanggup duduk diam. Pria yang biasanya selalu tenang dan dominan itu kini mondar-mandir cemas di koridor luar. Langkah kakinya berat, rahangnya mengatup rapat.

Tanpa ia sadari, di balik pilar koridor yang remang, kilatan kanta kamera milik seorang pemburu berita sempat mengabadikan sosok sang seniman ternama yang tampak begitu panik dan kehilangan kendali.

Rendra melangkah cepat mendekati atasannya. "Tuan..."

Hayden menghentikan langkahnya, menoleh kaku dengan napas memburu. "Katakan, Rendra."

"Saya baru saja menghubungi Mas Romeo," bisik Rendra seraya menunduk kaku. "Mas Romeo menceritakan bahwa selama empat hari ini Aluna benar-benar mengurung diri di dalam kamar. Beliau mengira Aluna hanya kelelahan dan butuh waktu sendiri, jadi tidak berani memaksanya keluar..."

Kata-kata itu menghantam dada Hayden bagai pukulan telak. Rasa bersalah yang teramat dalam merayapi rongga dadanya. Bukan hanya karena kondisi fisik Aluna yang memburuk, melainkan kesadaran bahwa dirinya sendiri yang telah mendorong gadis itu ke dalam kegelapan dan keputusasaan tersebut.

Pintu IGD terdorong terbuka. Seorang dokter keluar seraya melepas stetoskop dari lehernya.

"Bagaimana keadaannya?" desak Hayden langsung memotong sebelum sang dokter sempat menyapa.

"Nona Aluna mengalami dehidrasi berat, hipoglikemia parah, dan penurunan kondisi fisik yang cukup kritis akibat tidak mendapat asupan makanan selama beberapa hari," terang dokter tersebut. "Kami sudah memasang infus nutrisi. Sekarang kondisinya sudah stabil dan bisa dipindahkan ke ruang VIP."

*

Di dalam kamar perawatan VIP yang hening dan beraroma antiseptik, Hayden duduk membisu di kursi samping ranjang. Tatapannya terkunci pada wajah tirus Aluna. Dengan rasa bersalah yang mencengkeram, jemari Hayden perlahan terulur, menggenggam erat tangan Aluna yang dingin dan terpasang selang infus.

Sela pintu bergeser pelan. Suster Maya melangkah masuk membawa kantong cairan pengganti. Langkahnya mendadak terhenti saat melihat pemandangan di hadapannya.

"Tuan Hayden...?" panggil Suster Maya ragu. "Apa yang terjadi dengan Dek Aluna?"

Hayden tidak melepas genggamannya, hanya menegakkan posisi duduknya seraya memasang kembali topeng dinginnya. "Dia kelelahan dan tidak menjaga makannya. Urus saja tugasmu, Suster."

Suster Maya menelan ludah kaku. Tanpa banyak bicara, ia mengganti kantong infus di tiang. Di tengah keheningan yang menyengat, Hayden tiba-tiba bersuara tanpa beralih pandang dari Aluna.

"Suster."

"Ya, Tuan?"

"Kapan... tanda-tanda kehamilan bisa dideteksi secara medis setelah seseorang melakukan hubungan?"

Pertanyaan itu meluncur begitu dingin dari bibir Hayden, membuat Suster Maya membeku seketika. Jantung perawat itu berdebar kencang, namun melihat gestur Hayden yang intimidatif, ia menahan seluruh dorongan untuk bertanya lebih jauh.

"Secara medis, tes darah baru bisa mendeteksi hormon hCG sekitar delapan sampai sebelas hari setelah pembuahan, Tuan," jawab Suster Maya hati-hati. "Sedangkan untuk tes urine mandiri, biasanya baru terdeteksi akurat setelah dua minggu."

Hayden mengangguk pelan, merespons penjelasan medis itu tanpa sedikit pun ekspresi. Namun, tepat saat Suster Maya berbalik hendak merapikan peralatannya, gesekan halus pada sprei menarik perhatian Hayden. Jemari mungil yang berada di genggamannya mendadak bergetar kaku.

"Aluna..." bisik Hayden lirih. Ada getaran cemas yang samar dari nada suaranya.

Suster Maya bergegas mendekat ke sisi ranjang seraya merendahkan tubuhnya. "Dek Aluna sudah sadar? Dek Aluna... bisa dengar suara Saya?"

Kelopak mata Aluna bergerak lambat sebelum akhirnya terbuka penuh. Pandangannya yang semula samar perlahan menajam, hingga iris matanya bertabrakan langsung dengan sosok Hayden yang berdiri menjulang di sampingnya. Seketika itu juga, seolah tersengat rasa takut yang amat sangat, Aluna menarik tangannya dengan kasar dari genggaman Hayden.

Tanpa jeritan atau isakan histeris, Aluna langsung memalingkan wajahnya rapat-rapat ke arah jendela, membelakangi Hayden secara mutlak.

"Dek Aluna? Ada yang terasa sakit?" tanya Suster Maya lembut, mencoba meraih pergelangan tangan Aluna untuk memeriksa nadinya.

Aluna hanya diam membisu, bibirnya terkatup rapat. Tidak ada lagi sosok gadis hangat yang selalu menyapa ramah. Yang tersisa hanyalah cangkang hampa yang enggan bersuara.

Merasakan aura tertekan yang begitu pekat dan tak nyaman di dalam ruangan, Suster Maya berniat mengundurkan diri. "Saya permisi dulu ya, Dek. Kalau butuh sesuatu, tinggal tekan tombol di atas ranjang. Kebetulan Suster yang jaga hari ini."

Mendengar kata 'permisi', panik mendadak menguasai Aluna. Kehadiran Suster Maya adalah satu-satunya perlindungan yang ia miliki dari sosok Hayden. Aluna memutar tubuhnya kaku, menatap Suster Maya dengan mata berair yang memancarkan permohonan mendalam.

Ia ingin berteriak menyuruh Hayden pergi, ingin menceritakan segalanya, namun tenggorokannya terasa kaku dan terkunci. Dengan sisa tenaga yang ada, Aluna hanya mampu berbisik amat irit, berharap perawat itu menangkap ketakutannya.

"Suster... di sini saja..." bisik Aluna parau. Tangannya yang bergetar terulur, berusaha menggapai ujung pakaian Suster Maya. "Tolong... jangan pergi..."

Suster Maya tertegun melihat binar ketakutan di mata Aluna. Rasa iba membuatnya melangkah kembali mendekat. "Dek Aluna, tenang dulu ya—"

"Suster Maya, keluar."

Instruksi itu meluncur datar dari bibir Hayden, namun sarat akan ancaman terselubung yang seketika membekukan udara di ruangan VIP tersebut.

"T-tapi Tuan Hayden... Dek Aluna kelihatan sangat cemas, beliau butuh—"

"Saya katakan keluar, Suster," potong Hayden dingin, memangkas ucapan Suster Maya tanpa ragu. "Biarkan saya yang menjaga Aluna. Kamu bisa kembali nanti setelah saya panggil."

Suster Maya membeku. Kekuasaan penuh yang dimiliki pria di hadapannya membungkam seluruh keberaniannya untuk membela Aluna. Dengan kepala tertunduk dan rasa bersalah yang mengimpit dada, ia membalikkan badan dan melangkah mundur menuju pintu.

"Suster... tolong..." gumam Aluna sangat pelan, air matanya menetes deras melewati pipi tirusnya saat mendengar derit pintu yang tertutup rapat.

Pertahanannya runtuh seketika. Harapan terakhirnya untuk berlindung sirnah, menyisakan keheningan yang mencekat di antara dirinya dan Hayden.

Ruangan kembali diselimuti keheningan yang mencekat. Aluna memejamkan matanya rapat-rapat, menarik napas terengah-engah dalam keputusasaan.

Semua perlawanan dan teriakan batinnya runtuh tak berdaya di hadapan pria di sampingnya. Dengan tubuh yang remuk dan jiwa yang hampa, Aluna akhirnya hanya bisa pasrah. Gadis itu menarik selimut hingga menutupi dadanya, meringkuk kaku membelakangi Hayden yang tetap berdiri dingin mengawasinya.

*

*

*

1
diga pues
rome.. bawa adikmu pergi, jauh 🌚
Mita Paramita
🔥🔥🔥
Mia Camelia
Hayden makin gak bisa melepaskan Aluna nih🤭
𝐀⃝🥀Weny
baru aja baca, udah disuguhin Bombay banyak sama othor😭
Mia Camelia
siap thor 😁penasaran nih visual ny gimana😂
diga pues
+21☻️☻️☻️
diga pues
☻️☻️☻️
diga pues
serigala☻️
diga pues
ugh☻️
Mia Camelia
hayden obsesif banget ini mah ke aluna🤭
sukaa banget nih sama modelan ky hayden 😁
diga pues
ugh🌚
Ita Putri
haduuhh
bahaya Aluna
sudah dong Hayden kasihan aluna
Mia Camelia
lanjut thor😁
Mita Paramita
Thor nih novelnya sampai tamat kn? gak kayak novel kemarin yang dihapus? padahal lagi seru cerita ny
Mita Paramita: siap Thor 🔥🔥🔥🔥
semangat Thor 🔥🔥🔥
total 2 replies
Mia Camelia
seru banget thor😁😁😁
MissSHalalalal: terimakasih kak🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!