NovelToon NovelToon
Menikahi Duda Tua, Malah Dimanja Setiap Hari

Menikahi Duda Tua, Malah Dimanja Setiap Hari

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Menikahi tentara
Popularitas:440
Nilai: 5
Nama Author: Raven Ayu

Semua orang bilang Laras sial.

Dibesarkan belasan tahun sebagai putri keluarga perwira, ia dicampakkan dalam semalam begitu putri kandung yang sesungguhnya—**Tiara**—pulang lewat tes DNA. Dan ketika Tiara menolak menikahi "duda tua beranak tiga dari kampung" yang lamarannya sudah diterima, keluarga memaksa Laras menggantikannya demi nama baik.

Sebuah desa asing. Seorang lelaki dingin dan pendiam. Tiga anak yatim yang kurus, waspada, dan salah satu balita yang bahkan belum bisa bicara. Semua menyangka Laras "menikah turun derajat" dan pasrah pada nasib.

Tak ada yang tahu—rumah termewah satu-satunya di desa itu adalah miliknya. Bahwa lelaki pendiam bernama **Arya** itu adalah **mantan perwira Kopassus** yang disegani para jenderal, seorang **konglomerat yang menyamar** di balik peternakan sapi.
Dan tak ada yang menyangka: duda "tua" yang katanya dingin itu justru **memanjakan istrinya setiap hari**—diam-diam, dengan tindakan, sampai membuat seluruh desa iri.

Sedikit demi sedikit, Laras membalik keadaan. Ia besarkan tiga anak terlantar itu menjadi anak-anak jenius. Ia permalukan satu per satu orang yang pernah memandangnya rendah. Ia bangkit dari "ibu tiri kampungan" menjadi mahasiswa UI dengan nilai tertinggi.

Tapi keluarga yang membuangnya belum menyerah. Tiara masih menginginkan segalanya yang "seharusnya" jadi miliknya. Dan rahasia asal-usul ketiga anak itu—darah keluarga konglomerat **Adiwangsa**—bisa mengubah segalanya…

*"Kamu menikahiku karena terpaksa," katanya suatu malam. "Tapi aku akan mencintaimu sampai kamu lupa pernah terpaksa."*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raven Ayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24

Bab 24: Cemburu

Aku tetap memasak makan malam.

Raka dan Bayu mendapat ayam kecap. Sasa mendapat sup lembut dengan wortel cincang. Untuk Arya, aku menyiapkan sayur bening tanpa sambal, lauk yang paling jarang disentuhnya jika ada pilihan lain.

Dia pulang lebih cepat dari biasanya.

Arya masuk ke dapur sambil membawa rantang yang sudah dicuci. “Aku makan semuanya.”

“Bagus.”

“Rendangnya juga.”

“Bagus.”

“Kamu tidak mau bertanya apakah rasanya enak?”

“Mas Arya sudah tahu rasanya.”

Dia berdiri di ambang pintu cukup lama. Aku terus mengiris wortel tanpa menoleh.

Saat makan, anak-anak langsung merasakan ada yang berbeda. Bayu memandang lauk Arya, lalu piringnya sendiri.

“Kenapa Ayah tidak dapat ayam?”

“Ayah sedang ingin sayur,” jawabku.

Arya yang baru memasukkan satu sendok kuah hambar mengangguk. “Iya.”

“Tapi Ayah tidak suka sayur bening.”

“Sekarang suka.”

Raka menunduk ke piring agar tidak terlihat tersenyum.

Seusai makan, Arya mengambil semua piring dan mencucinya sendiri. Dia bahkan membersihkan kompor, meski kain lapnya dipakai dengan urutan yang salah hingga aku harus mencuci ulang permukaan setelah dia pergi.

Aku tidak memarahinya. Aku juga tidak mengucapkan terima kasih.

Malamnya, aku tidur membelakanginya dan menggulung selimut di antara kami seperti dinding. Arya tidak mencoba menerobos. Dia hanya berbaring di sisi lain, diam begitu lama hingga aku tahu dia belum tidur.

Keesokan paginya, dia bangun sebelum aku. Ketika turun, aku menemukan Arya sedang berusaha mengikat rambut Sasa.

Hasilnya dua ikatan tidak seimbang. Satu hampir di atas telinga, satu lagi di belakang kepala. Sasa menatap pantulan dirinya di kaca lemari, lalu mencabut salah satu karet.

“Dia tidak suka,” kata Bayu.

“Diam,” jawab Arya.

“Mbak Laras biasanya bikin dua yang sama.”

Arya melihatku di pintu. “Bisa ajari?”

“Mas Arya kan bisa memimpin orang.”

“Rambut tidak bisa diperintah.”

Aku hampir tertawa, tetapi menahannya. Aku mengambil sisir, membetulkan ikatan Sasa, lalu mengembalikan sisir tanpa menyentuh tangan Arya.

Di meja makan, buku-buku rekening peternakan sudah terbuka. Ada catatan pemasukan, pengeluaran, daftar kontrak, bahkan laporan transfer beberapa tahun terakhir.

“Ini apa?” tanyaku.

“Semua rekening yang kupakai.”

“Aku tidak meminta.”

“Biar kamu lihat tidak ada transfer ke Yolanda.”

“Masalahnya bukan hanya uang.”

Arya menutup mulut. Lagi-lagi dia sampai di jalan buntu yang dibuatnya sendiri.

Bayu yang duduk dekat kami memegang sendok tanpa makan. “Mbak Laras marah sama Ayah?”

“Mbak sedang memikirkan sesuatu.”

“Mbak Laras tidak suka Ayah lagi?”

Pertanyaan itu membuat semua udara keluar dari dadaku.

Aku berpindah duduk di sampingnya. “Bukan begitu. Orang dewasa kadang berbeda pendapat. Tapi Mbak dan Ayah tetap sayang kalian.”

“Sayang Ayah juga?”

Aku melirik Arya. Dia menunggu jawaban dengan wajah lebih tegang daripada saat menghadapi keluarga Bimo.

“Itu urusan Mbak dan Ayah,” kataku, lalu mencubit pipi Bayu. “Kamu habiskan sarapan.”

Aku sadar sejak saat itu bahwa dinginku tidak boleh membuat anak-anak kembali takut rumah akan pecah. Aku masih bicara seperlunya kepada Arya, tetapi berhenti menghukum suasana meja makan.

Arya rupanya mengartikan perubahan kecil itu sebagai kesempatan. Dia tidak pergi ke peternakan sampai siang. Bang Gino menelepon dua kali, dan Arya menyelesaikan urusan melalui ponsel sambil melipat cucian di ruang keluarga.

Kemejaku dilipat seperti seragam, seluruh garisnya kaku. Baju Bayu justru terbalik. Popok kain Sasa ditumpuk bersama lap dapur.

“Itu tempatnya salah,” kataku akhirnya.

Arya langsung memisahkan tumpukan. “Yang mana?”

Aku menunjukkan lemari satu per satu. Dia mengikuti tanpa membela diri. Bayu membantu dengan membawa pakaian ke kamar, sementara Raka menempelkan label kecil pada rak karena tidak yakin Ayahnya akan mengingat.

“Ayah biasanya tahu letak perlengkapan satu regu,” komentar Raka.

“Ini lebih banyak,” jawab Arya.

“Cuma lima orang.”

“Jenis barangnya lebih banyak.”

Sasa mengambil celana kecil dari tumpukan dan memakainya sebagai topi. Aku tertawa tanpa sengaja. Arya langsung menoleh, dan harapan yang muncul di matanya membuat tawaku berhenti setengah jalan.

“Jangan merasa sudah dimaafkan,” kataku.

“Aku tidak merasa begitu.”

“Wajah Mas bilang begitu.”

“Wajahku memang begini.”

Kali ini Raka ikut tertawa. Ketegangan di rumah mencair sedikit, cukup untuk membuat anak-anak kembali bermain tanpa terus mengawasi kami.

Saat makan siang, Arya tidak lagi mendapat sayur hambar. Aku memberinya ayam kecap seperti yang lain. Dia menatap lauk itu beberapa detik sebelum makan.

“Jangan berlebihan,” kataku.

“Aku belum bicara.”

“Mata Mas berisik.”

Menjelang siang, Bu RT datang mengembalikan wadah makanan. Dia melihat Arya menyapu teras dan langsung duduk lebih lama daripada perlu.

“Pak Arya rajin sekali hari ini,” katanya.

“Sedang banyak tenaga,” jawabku.

Bu RT menurunkan suara. “Kalian bertengkar?”

“Tidak.”

“Syukurlah. Saya kira gara-gara omongan orang soal perempuan tentara itu.”

Tanganku yang sedang menutup wadah berhenti. “Perempuan siapa?”

“Katanya dulu waktu Pak Arya masih di kesatuan, ada perwira perempuan yang dekat sekali. Cantik, pintar, keluarga tentara juga. Namanya... Yolanda, kalau tidak salah.”

Arya yang menyapu teras mendadak menghentikan gerakan.

Bu RT menyadari kesalahannya. Dia buru-buru berdiri dan mengatakan harus memasak, lalu pergi membawa rasa ingin tahu yang pasti akan berkembang di jalan.

Malam itu, setelah anak-anak tidur, Arya duduk di tepi ranjang.

“Aku tidak macam-macam,” katanya.

Aku melipat pakaian tanpa menjawab.

“Yolanda bukan kekasihku.”

“Lalu siapa?”

“Adik seseorang yang sangat berjasa kepadaku.”

“Yudha?”

Mata Arya berubah. Aku tahu tebakanku tepat.

“Kenapa Mas tidak mengatakan itu kemarin?”

“Karena ceritanya tidak berhenti di sana.”

“Aku tidak meminta seluruh cerita sekaligus. Aku meminta satu jawaban jujur.”

“Aku sedang berusaha.”

Kemarahan di dadaku sudah tidak setajam pagi tadi. Melihatnya mencuci piring, menyisir Sasa, dan membuka seluruh rekening terasa sedikit lucu sekaligus menyedihkan. Namun dia masih memegang rahasia itu begitu erat hingga aku tidak tahu bagian mana yang harus kupercaya.

“Aku tidak akan memaksamu membuka luka Yudha malam ini,” kataku. “Tapi jangan memakai luka itu untuk membuatku menebak-nebak tempatku dalam hidupmu.”

Arya menatapku lama. “Tempatmu tidak pernah diperebutkan siapa pun.”

“Kalau begitu buktikan dengan kejujuran, bukan dengan buku rekening.”

Dia mengangguk, tetapi tetap belum mengeluarkan surat itu.

Aku mematikan lampu dan berbaring tanpa menggulung selimut menjadi dinding. Arya tidak mendekat, mungkin tidak yakin izin itu sudah kembali.

Tengah malam, aku bangun untuk minum.

Cahaya bulan jatuh di sisi ranjang. Arya belum tidur. Dia duduk membelakangiku, melipat surat Yolanda berkali-kali hingga menjadi persegi kecil.

Kemudian dia mengambil mantel militer lama dari lemari dan menyelipkan surat itu ke saku paling dalam.

Seolah ada masa lalu yang lebih aman disimpan dekat dadanya daripada dibagikan kepadaku.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!