Malam hujan di RS Elisabeth Semarang, dua bayi tertukar karena gelang pink. Clarissa hidup mewah di Graha Candi Golf, Aurel menderita di Gunungpati. 18 tahun kemudian, tes DNA membongkar rahasia. Siapa yang akan hancur saat kebenaran terungkap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah Kosong di Ujung Kabut
Suara langkah kaki Aurel menepuk pelan permukaan jalan setapak tanah yang kian basah dan licin. Malam perlahan-lahan merayap turun di lereng selatan Gunung Ungaran, menyapu sisa-sisa cahaya keemasan sore dan menggantinya dengan gulungan kabut tebal yang kian pekat dan dingin. Udara pegunungan yang menusuk menembus kain seragam sekolah tipis yang dikenakannya, membuat tubuhnya menggigil halus. Namun, Aurel terus merapatkan salnya di lehernya dan melangkah menanjak pantang menyerah.
Di hadapannya, pagar bambu rumah kayu sederhana milik Suster Rina berdiri tegak di balik keremangan malam. Di sekeliling teras depan rumah tersebut, berjejer rapi belasan pot tanah liat berisi berbagai tanaman herbal jahe merah, kencur, temulawak, dan daun sirih yang tampak sangat subur, hijau, dan baru saja disiram. Dedaunan basah itu memantulkan sisa embun sore, menandakan tempat ini jelas-jelas masih berpenghuni dan terawat dengan baik.
Jantung Aurel berdegup kencang hingga terasa memenuhi dadanya yang sesak. Dengan jemari tangan yang agak gemetar, ia mendorong pelan pintu pagar bambu yang ternyata tidak terkunci. Keriut bambu tua berbunyi halus saat ia melangkah perlahan menaiki dua anak tangga kayu menuju teras depan.
"Permisi....." suara Aurel keluar memecah keheningan lereng gunung yang sangat sepi.
Tidak ada sahutan dari dalam. Yang terdengar hanyalah gesekan dedaunan pohon cengkeh tua yang ditiup angin malam, serta suara nyaring serangga pegunungan yang mulai bersahut-sahutan dari balik semak belukar.
Aurel menarik napas panjang, mengumpulkan seluruh keberanian di dalam jiwanya, lalu mengetuk pintu kayu rumah itu perlahan. tok, tok, tok.
Suara ketukan itu bergema hampa di udara dingin. Setelah menunggu beberapa menit dalam keheningan yang mencekat, Aurel memberanikan diri untuk mengetuk kembali dengan sedikit lebih keras. Namun tetap tidak ada pergerakan, sahutan, atau suara langkah kaki dari dalam rumah.
Aurel memiringkan kepalanya, mencoba mendekatkan telinga ke daun pintu papan tersebut. Suasana di balik pintu terasa sangat sepi dan dingin. Pandangannya kemudian beralih ke arah jendela kaca kecil yang berada tepat di samping pintu utama. Aurel melangkah mendekat, lalu menangkupkan kedua tangannya di sisi wajah untuk melihat ke balik kaca yang tertutup sedikit lapisan debu.
Dari balik kaca, ruangan dalam tampak rapi namun sepi. Sebuah lampu minyak di atas meja kayu ruang tengah masih menyisakan hawa hangat dan asap tipis, seolah pemiliknya belum terlalu lama melangkah keluar atau mengunci rumah tersebut.
Dada Aurel bergemuruh hebat, rasa cemas dan penasaran mendadak berbaur menjadi satu di dalam benaknya.
"Mencari Mbak Rina, Nak?"
Suara berat dan serak seorang laki-laki paruh baya mendadak menyapa dari arah samping pagar bambu, membuat Aurel tersentak kaget. Aurel segera membalikkan badan dan melihat seorang warga lokal berkain sarung lusuh dengan senter di tangannya sedang berdiri memandangnya penuh rasa ingin tahu.
Aurel mengusap dadanya yang terkejut, mencoba menenangkan diri, lalu melangkah turun dari teras dengan sikap sopan. "Selamat malam, Pak. Maaf mengganggu waktu Bapak... saya sedang mencari Suster Rina. Apakah benar ini rumah beliau? Dan apakah beliau sedang pergi?"
Pria paruh baya itu mengarahkan sorot lampu senternya sejenak ke arah pintu rumah kayu yang terkunci rapat, mengamati seragam sekolah SMA Loyola yang dikenakan Aurel, lalu menghela napas panjang sambil menggelengkan kepala perlahan.
"Kalau anak ini mencari Mbak Rina tidak akan ketemu," kata warga itu dengan nada suara iba. "Mbak Rina baru saja pergi meninggalkan rumah ini sekitar tiga hari yang lalu."
Dahi Aurel berkerut heran, dadanya kian berdebar kencang. "Pergi tiga hari yang lalu? Apakah beliau hanya pergi berobat atau membeli bahan obat ke kota, Pak? Soalnya pot-pot tanaman herbal di teras ini masih segar sekali dan tanahnya baru disiram..."
"Tanaman itu tadi pagi saya yang bantu siramkan, Nak. Mbak Rina memang sempat titip pesan ke warga sebelum pergi," jawab pria itu sambil membetulkan letak sarung di pundaknya. "Tapi perginya Mbak Rina kali ini aneh sekali, tidak seperti biasanya. Tiga hari lalu, ada dua orang pria berjas rapi mengendarai mobil sedan hitam mewah dari Semarang bawah datang ke desa ini. Mereka keliling menanyakan alamat Mbak Rina dan bertanya-tanya tentang latar belakang pekerjaan beliau sewaktu masih jadi perawat di RS Elisabeth dulu."
Dada Aurel mendadak bergemuruh hebat. Mobil sedan hitam mewah dari Semarang bawah? Dua pria berjas rapi?
"Lalu... apa yang terjadi setelah orang-orang itu datang, Pak?" tanya Aurel panik, suaranya bergetar menahan tekanan di dadanya.
"Sepertinya Mbak Rina ketakutan setengah mati waktu mendengar ada orang-orang kota mencari beliau," lanjut warga tersebut dengan nada suara berbisik ragu. "Sorenya, setelah orang-orang berjas itu pergi meninggalkan desa, Mbak Rina langsung mengemas tas-tas besarnya terburu-buru. Wajahnya pucat pasi seperti orang dikejar hantu. Beliau cuma titip kunci rumah dan meminta warga menyirami tanamannya, lalu pergi naik travel malam tanpa memberi tahu mau pindah atau bersembunyi di mana."
Aurel terpaku kaku di tempatnya berdiri. Lidahnya mendadak membeku, sementara air mata kekecewaan dan kecemasan yang mendalam mulai mendesak hangat di sudut matanya.
Suster Rina telah melarikan diri dan menyembunyikan jejaknya. Namun, bukan karena kedatangan Aurel, melainkan karena ada orang-orang berpengaruh dari Semarang bawah yang sudah lebih dulu melacak keberadaannya! Siapa lagi yang sanggup menyuruh pria berjas rapi dan mobil sedan mewah jika bukan orang-orang dari lingkaran elite Semarang—pihak yang ingin memastikan rahasia malam badai sembilan belas tahun lalu tetap terkubur selamanya?
"Oalah... kasihan Nak sekolah sudah jauh-jauh datang," ucap pria paruh baya itu prihatin melihat raut shock dan mata berkaca-kaca milik Aurel. "Hari makin gelap ini, Nak. Kabut tebal di lereng gunung ini sering bikin orang tersesat. Sebaiknya Nak sekolah segera berjalan turun ke persimpangan jalan sebelum bus desa terakhir lewat meninggalkan tempat ini."
Aurel berusaha sekuat tenaga menguasai gejolak emosinya. Ia menyapu air mata tipis yang hampir menetes di pipinya dengan ujung lengan seragam, lalu mengangguk sopan kepada warga tersebut. "Baik, Pak. Terima kasih banyak atas penjelasan dan informasinya."
"Sama-sama, Nak. Hati-hati berjalan di jalan setapak, licin."
Pria paruh baya itu melangkah pergi menembus kegelapan kabut sambil mengayunkan lampu senternya. Tinggallah Aurel sendirian di depan pagar bambu rumah kayu yang sunyi itu.
Aurel menatap kembali pintu kayu yang terkunci rapat dan jendela rumah Suster Rina. Tanaman herbal yang tertata rapi di teras menjadi saksi bisu betapa terburu-burunya sang mantan perawat meninggalkan tempat tinggalnya. Di balik rasa kecewa karena tidak berhasil bertemu langsung, ada satu hal penting yang justru makin mantap berakar di dalam jiwa dan pikiran Aurel:
Suster Rina tidak akan melarikan diri secara mendadak di tengah malam jika tidak ada rahasia besar yang sengaja ditutupinya. Dan yang lebih menakutkan... seseorang di luar sana—seseorang yang sangat kaya dan berkuasa dari Semarang bawah—juga sedang berusaha membungkam Suster Rina agar rahasia malam badai itu tidak pernah terkuak.
Dengan jemari tangan yang menggenggam erat tali tas kainnya, Aurel membalikkan badan. Kaki kecilnya melangkah mantap menuruni jalan setapak tanah yang licin, kembali menembus gulungan kabut tebal Gunung Ungaran. Pencariannya malam ini tidak berakhir dengan jawaban yang instan, melainkan menjadi pembuka dari sebuah perjalanan panjang dan sarat bahaya untuk membongkar takdir kehidupan yang sesungguhnya.
kalau bisa double up