NovelToon NovelToon
DUA WAJAH SATU HATI

DUA WAJAH SATU HATI

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Sistem / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:714
Nilai: 5
Nama Author: Kenzy Elbarra

Siang hari, aku cuma Maxy — pegawai biasa yang diam-diam mencintaimu.
Malam tiba, aku berubah jadi Roxy — sosok percaya diri yang berani berdiri di hadapanmu.

Kamu tersenyum pada Roxy, tapi tak pernah tahu kalau dia itu aku.
Sampai kapan aku harus menyembunyikan siapa diriku?
Dan nanti… saat kamu akhirnya memilih, siapa yang akan kamu pilih?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kenzy Elbarra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Jam tepat menunjukkan pukul enam pagi. Cahaya fajar mulai menyelinap lewat celah tirai kamar. Roxy duduk di tepi ranjang, menatap ke luar jendela, menunggu pergantian fase yang selalu datang tepat waktu.

Getaran halus merambat ke seluruh tubuhnya. Di udara di depannya, tulisan hologram muncul perlahan.

DING!

FASE BERGANTI

Mode malam berakhir. Mode siang dimulai.

Akses dana sistem ditutup.

Penampilan kembali ke wujud asli.

Pandangannya sejenak kabur. Saat jernih kembali, pantulan di cermin menunjukkan wajah Maxy — biasa, sederhana, sedikit lelah. Dan di bawahnya, notifikasi yang membuatnya menahan napas.

DING!

Hubungan dengan Maxy: 22% (-2%)

Hubungan dengan Roxy: 26% (+2%)

Catatan: Kedekatan bersifat saling memengaruhi. Fokus berlebih pada satu identitas dapat menurunkan daya tarik pada identitas lainnya.

Maxy menghela napas pelan, menatap angka itu. Tadi malam sebagai Roxy mereka makin dekat, +2% memang benar. Tapi harganya — kedekatan sebagai Maxy malah turun 2%. Ini bukan sekadar angka. Ini peringatan. Semakin lama dia tampil sempurna sebagai Roxy, semakin Shella melihatnya hanya sebagai sosok itu, semakin tertutup kesempatan untuk dirinya yang asli.

Aku tidak bisa terus begini. Roxy bisa membuka pintu, tapi kalau Maxy tidak masuk, ruang itu tidak akan pernah jadi miliknya.

Aku mandi, berpakaian rapi dengan kemeja kerja yang sederhana, lalu menuju garasi samping.

Mobil tua itu menyala setelah tiga kali putaran kunci. Dia menyetir perlahan, membiarkan pikirannya tertata.

Sesampainya di kantor, dia masuk ke ruangan dengan langkah biasa. Beberapa rekan kerja menyapa, Aku membalas sekenanya.

Saat Aku sampai di mejanya, Shella sedang berdiri di dekat meja resepsionis tidak jauh dari situ. Saat melihatnya, Ia tersenyum dan melambaikan tangan — senyum yang ramah, tapi tidak sehangat saat menyapa Roxy kemarin malam.

Maxy berjalan mendekat. "Pagi, Shella."

"Pagi, Maxy. Udah lama datang?" tanyanya sambil membetulkan letak tas di bahu.

"Baru sampai. Kamu sendiri kelihatan sibuk pagi ini."

"Agak banyak yang harus diurus dari pagi," jawabnya sambil menghela napas pelan. "Mungkin nanti siang aku nggak bisa makan bareng dulu ya? Ada rapat mendadak."

"Gak apa-apa, urus aja dulu. Kerjaan lebih penting," jawab Maxy tulus.

Shella menatapnya sejenak, seolah mencari sesuatu di wajahnya. "Kamu emang paling ngerti soal itu. Makasih ya, Maxy. Nanti kalau udah longgar, aku kabarin."

"Oke, siap."

Shella tersenyum, lalu berjalan menuju ruang rapat. Maxy kembali ke mejanya, tapi hatinya terasa sedikit berat.

DING!

Hubungan dengan Maxy: 23% (+1%)

Hubungan dengan Roxy: 25% (-1%)

Sumber: Pemahaman dan dukungan tanpa menuntut waktu.

Maxy tersenyum tipis melihat notifikasi itu. Cuma +1%, tapi arahnya benar. Dan Roxy turun 1% — bukan hal yang buruk, kalau itu artinya Shella mulai menghargai dirinya yang asli.

Sepanjang pagi, Aku menyelesaikan laporan dengan fokus penuh. Sesekali melirik ke arah ruang rapat tempat Shella berada. Jam menunjukkan pukul satu siang saat pintu ruang rapat terbuka. Shella keluar dengan wajah sedikit lelah, tapi terlihat lega. Dia berjalan menuju meja Maxy.

"Maaf ya, tadi rapatnya lumayan lama," ucapnya sambil meletakkan berkas di meja sebelah. "Mau makan sekarang? Biar aku yang traktir sebagai ganti telat."

Maxy menatap wajahnya yang terlihat butuh istirahat. "Kamu yakin kuat? Mungkin kamu butuh istirahat dulu."

"Justru butuh makan biar ada tenaga lanjut," jawabnya sambil tersenyum. "ya, Ayo, aku yang pilih tempat kali ini."

Mereka pergi ke sebuah kedai makan yang bersih dan tenang, tidak jauh dari kantor. Shella memesan makanan yang ringan, Maxy menyesuaikan. Saat makanan datang, Shella menghela napas panjang sambil menatap mangkuk di depannya.

"Rapatnya berat ya?" tanya Maxy pelan.

"Agak. Banyak keputusan yang harus diambil cepat, padahal datanya belum lengkap," jawabnya sambil menyuap pelan. "Bingung harus gimana, kalau nunggu lengkap terlambat, kalau ambil keputusan sekarang takut salah."

Maxy diam sejenak, memikirkan kata yang tepat. "Kalau belum yakin, minta waktu tambahan. Jelaskan alasannya. Keputusan yang terburu-buru lebih berisiko daripada keputusan yang sedikit terlambat tapi tepat."

Shella berhenti menyuap, menatapnya lekat-lekat. "Kamu bilang gitu ya? Banyak yang bilang aku terlalu lama mikir."

"Karena kamu yang nanggung konsekuensinya. Bukan mereka," jawab Maxy tenang. "Kamu tahu batas kemampuanmu. Kalau kamu minta waktu, bukan berarti kamu lemah. Itu tandanya kamu bertanggung jawab."

Shella terdiam cukup lama, menatapnya dengan pandangan yang berubah — lebih dalam, lebih tulus.

DING!

Hubungan dengan Maxy: 25% (+2%)

Hubungan dengan Roxy: 23% (-2%)

Sumber: Nasihat yang tulus, sesuai karakter, tanpa pura-pura.

"Kamu ngomongnya... kayak orang yang ngerti banget soal tanggung jawab," ucap Shella pelan. "Makasih ya, Maxy. Bicara sama kamu bikin aku ngerasa nggak sendirian nanggung semuanya."

"Sama-sama. Kalau berat, bagi beban. Bukan berarti kamu nggak mampu, cuma kamu manusia biasa," jawabnya tulus.

Mereka mengobrol sampai selesai makan. Shella terlihat jauh lebih tenang dibanding saat keluar dari ruang rapat. Saat kembali ke kantor, langkah kakinya lebih ringan.

"Terima kasih makan siangnya, Maxy," ucapnya di depan pintu ruangan kantor.

"Besok kalau nggak sibuk, lanjut ya. Aku yang traktir."

"Boleh kok," jawabnya sambil tersenyum.

Shella tersenyum lebar, lalu melangkah masuk ke ruangan. Maxy kembali ke mejanya, merasakan dadanya terasa hangat. Angkanya naik — nyata, murni, sebagai dirinya sendiri. Bukan karena topeng, bukan karena tampil sempurna. Cuma karena dia jujur dan ada di sana untuknya.

Sore harinya, ponselnya bergetar. Pesan masuk, ditujukan untuk Roxy.

"Maaf ganggu. Kalau malam ini kamu ada waktu, aku ke restoran lagi. Ada hal yang aku pikirin dan pengen dengar pandangan kamu. Nggak lama kok."

Maxy menatap layar lama sekali. Di satu sisi, dia tahu kalau datang sebagai Roxy, kedekatan itu akan naik lagi untuk identitas itu, dan turun untuk dirinya. Di sisi lain, kalau dia tidak datang, Shella mungkin akan mencari orang lain untuk mendengarkannya.

Dia mengetik balasan pelan-pelan.

"Aku usahakan datang. Jam delapan?"

"Iya, jam delapan. Makasih ya."

Jam tepat pukul lima sore, dia pulang seperti biasa. Menuju rumah mewahnya, memarkir mobil tua di garasi samping, lalu menunggu. Tepat pukul enam, getaran halus datang.

DING!

FASE BERGANTI

Mode malam dimulai.

Penampilan dioptimalkan.

Akses dana sistem tersedia.

Metrik saat ini — Maxy: 25%, Roxy: 23%.

Dia berubah menjadi Roxy. Wajah tegas, tatapan dalam, postur tegak. Dia mengenakan pakaian yang rapi, lalu menuju garasi utama. Mobil mewahnya melaju perlahan menuju restoran.

Sesampainya di sana, Shella sudah duduk menunggu. Saat melihatnya masuk, dia tersenyum — senyum yang berbeda dari yang tadi siang. Lebih antusias, lebih tak sabar.

"Kamu datang," ucapnya saat Roxy duduk. "Makasih udah mau meluangkan waktu."

"Kamu butuh didengarkan, saya datang," jawab Roxy tenang. "Ada yang berat dipikirin?"

Shella bercerita — tentang kemungkinan promosi yang memindahkannya ke kota lain, tentang keraguan apakah harus pergi atau tetap di sini. Roxy mendengarkan, memberi pandangan yang seimbang, tidak memihak, tidak mendesak.

"Pilihan yang benar itu yang bisa kamu jalani tanpa menyesal nanti," ucap Roxy pelan. "Bukan yang paling bagus menurut orang lain."

Shella menatapnya lama, matanya terlihat lega.

DING!

Hubungan dengan Roxy: 25% (+2%)

Hubungan dengan Maxy: 23% (-2%)

Sumber: Ketenangan emosional dan pandangan yang menenangkan.

Roxy menahan napas sejenak. Benar seperti yang dikatakan sistem.

Setiap kali dia tampil sebagai Roxy, kedekatan itu beralih. Dan dia harus hati-hati — karena kalau terus begini, yang akan dipilih Shella nanti adalah sosok yang tidak nyata, bukan dirinya.

"Sekali lagi makasih ya, Roxy. Bicara sama kamu bikin semuanya terasa lebih jelas," ucap Shella saat mereka berpisah di depan mobilnya. "Kita ketemu lagi ya kalau ada waktu."

"Aku usahakan," jawab Roxy tulus.

Dia menyetir pulang perlahan, pikirannya jauh lebih berat dari sebelumnya. Dia menang di satu sisi, tapi mundur di sisi lain. Dan dia tahu, tidak bisa terus begini. Kalau dia ingin Maxy yang menang, dia harus mulai memberi ruang lebih besar untuk dirinya yang asli. Bukan cuma menampilkannya sebentar, tapi membiarkannya dilihat, dikenal, dan dicintai.

Pertanyaannya: kapan? Dan bagaimana caranya tanpa menghancurkan semua yang sudah dibangun sejauh ini?

1
Lylik Kurniawan
iya.. platform nya memang aneh.. masa beranda isinya cm top tier wkwkwk🤣🤣🤣🤣
Kenzy Elbarra
ceritanya bagus..tapi sayang gk dimunculin diberanda sama platform /Puke//Puke//Puke//Puke/
Lylik Kurniawan
😍😍😍😍😍😍😍
Lylik Kurniawan
Bagus. beneran fresh.. aku ksih bintang 5
Lylik Kurniawan
bagus dan beda. like this!!!😍😍😍
Kenzy Elbarra
hehehe 😍😍😍
Salwina Riyani
mewek gw ... 🤣🤣🤣🤣🤣
Salwina Riyani
😍🤭😍🤭🤭😍🤭😍😍
Salwina Riyani
wadidawwww... 😍
Salwina Riyani
heran.. pdhl ini novel bagus.. knpa msh sepi ya
Salwina Riyani
nusuukkkm
Salwina Riyani
seruuuuu.....!!! bener bener beda dari yang lain.. byee bye CEO... bosen gw ma alur CEO wkwkwk
Salwina Riyani
seruuuu.... 😍😍😍😍😍😍
Ma Xy
gasssss terussss kak...
Ma Xy
lanjutkan kaka.. saya suka🙏😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!