Hazella Adeline, atau Hazel, adalah gadis 19 tahun yang dikenal sebagai bad girl. Meski keras kepala dan berani, Hazel sebenarnya memiliki hati yang sangat baik. Saat pindah sekolah, Hazel harus tinggal di rumah kakaknya, Cateline, yang ternyata sudah menikah selama dua tahun dengan seorang pria bernama Sagara. Namun, Sagara jauh dari bayangan Hazel tentang seorang suami. Ia terlihat penakut, mudah menangis, selalu mengalah, dan sering menjadi sasaran amarah Cateline. Hazel pun selalu membelanya hingga tanpa sadar mulai menyukai pria itu. Hazel tahu perasaannya salah karena Sagara adalah suami kakaknya. Ia berusaha menahannya. Hingga sebuah rahasia perlahan terbongkar. Sagara ternyata mengalami amnesia dan tidak mengingat siapa dirinya sebelum kecelakaan. Tak ada yang tahu bahwa sebelum kehilangan ingatan, Sagara adalah mafia paling kejam sekaligus salah satu pria terkaya di dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33
Arlend mengalihkan pandangannya dari Hazel lalu melirik pelan ke arah Gideon yang berdiri tegap di sampingnya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Arlend hanya memberikan satu isyarat kecil sebuah anggukan tipis dengan kerutan di dahi. Gideon yang langsung memahami kode dari atasannya segera melangkah maju mendekati meja petugas polisi untuk menyelesaikan seluruh urusan administrasi, menghapus semua catatan nama Hazel dari berkas razia, dan memastikan tidak ada satu pun dokumen resmi yang tersisa.
Arlend memutar tubuhnya, melangkah perlahan menghampiri Hazel yang masih duduk membeku di bangku kayu. Pria itu berdiri tepat di hadapan Hazel, menyilangkan kedua tangannya di dada dengan aura penekanan yang teramat berat.
"Ikut aku," ucap Arlend singkat. Suaranya rendah, dingin, dan tak menerima bantahan sedikit pun.
Hazel menggigit bibir bawahnya rapat-rapat. Dengan wajah menunduk dan perasaan campur aduk, ia berdiri perlahan dari bangku. Namun, baru saja Hazel mengayunkan dua langkah melewati barisan pembalap, sebuah cengkeraman halus namun menahan menghentikan langkahnya.
Leo mendongak dari duduknya, menahan pergelangan tangan Hazel. Pria tampan itu menatap Hazel dengan raut wajah khawatir yang jujur, mengabaikan atmosfer mencekam yang memenuhi ruangan.
"Hazel... kamu nggak apa-apa, kan?" tanya Leo pelan namun terdengar jelas, mengencangkan pegangannya sedikit. "Hati-hati pulang ke rumahnya ya."
Mata Arlend mendadak berkilat tajam bagaikan belati. Begitu melihat jemari Leo menyentuh pergelangan tangan Hazel, rahang Arlend mengetat keras. Pria itu melangkah selangkah lebih dekat, melemparkan tatapan membunuh yang teramat pekat ke arah Leo. Hawa intimidasi yang memancar dari tubuh sang Raja Mafia seketika membuat udara di sekitar mereka terasa membeku. Leo tersentak pelan, merasakan ancaman bahaya yang nyata memancar dari pria berjas hitam tersebut, hingga perlahan-lahan ia melepaskan pegangannya dari tangan Hazel.
Hazel menyergap napas halus, lalu buru-buru menyusul Arlend yang sudah berjalan terlebih dahulu menuju pintu keluar kantor polisi.
Suasana di dalam mobil Maybach hitam milik Arlend terasa begitu pekat dan hening. Kaca mobil yang gelap rapat menutupi mereka dari hiruk-pikuk jalanan malam. Gideon dan pengawal pribadi sengaja tidak ikut masuk dan memilih mengendarai mobil SUV di belakang, membiarkan Arlend dan Hazel berada di dalam satu kabin yang sama.
Sepanjang perjalanan, Hazel hanya duduk terdiam kaku di kursi penumpang depan. Jarinya meremas celana jeans minimnya tanpa henti. Ia menatap lurus ke arah kaca depan, sengaja menghindari pandangan mata ke arah Arlend yang sedang mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi namun teratur. Hazel terlalu takut jika pria itu mulai melemparkan pertanyaan-pertanyaan intimidatif yang akan memojokkannya.
Hingga akhirnya, mobil berhenti sempurna di area parkir dalam mansion yang temaram. Mesin mobil dimatikan. Hening kembali melingkupi mereka, hanya menyisakan suara hembusan napas yang tertahan.
Arlend melepas cengkeramannya dari kemudi, menyandarkan punggungnya seraya memutar tubuh sepenuhnya menghadap ke arah Hazel. Tatapannya menelusuri setiap inci penampilan Hazel mulai dari crop top hitamnya yang terbuka hingga tatanan rambutnya yang agak berantakan.
"Kenapa?" suara Arlend memecah keheningan. Suaranya tidak membentak, melainkan terdengar sangat dalam, sarat akan rasa kecewa dan kekhawatiran yang tertahan. "Kenapa kau bisa berada di tempat seperti itu, Hazel? Dengan pakaian seperti ini?"
Hazel menelan ludahnya yang terasa pahit. Ia perlahan memutar kepala, memberanikan diri menatap iris mata Arlend yang membara di tengah kegelapan kabin mobil. Hazel mengambil napas panjang, memasang kembali ekspresi wajah yang tampak bersalah, polos, dan sedikit rapuh senjata utamanya untuk meluluhkan pria di hadapannya.
"Aku... aku minta maaf, Kak Sagara," cicit Hazel dengan suara parau yang terdengar lirih. "Aku tidak bermaksud menipumu atau kabur dari pengawal..."
Arlend tidak menyela, ia tetap menatap Hazel lurus-lurus, menunggu kelanjutan kalimat gadis itu.
"Di sekolah tadi, aku bertemu teman-teman baru... dan mereka mengajakku keluar sebentar untuk menonton," Hazel menundukkan kepalanya sedikit, meremas jemarinya sendiri. "Aku... aku cuma merasa sangat jenuh dan terkungkung selama ini, Kak. Aku merindukan hobiku yang dulu, aku cuma ingin merasakan hidup normal seperti remaja lainnya tanpa bayang-bayang ketakutan... Tapi aku tidak tahu kalau acara itu bakal dibubarkan polisi. Aku benar-benar takut tadi..."
Mendengar nada suara Hazel yang mulai bergetar dan menyiratkan rasa takut, garis-garis tegas serta kemarahan di wajah Arlend perlahan-lahan mengendur. Hati sang Raja Mafia yang keras seperti baja itu mendadak luluh begitu melihat sorot mata Hazel yang kembali tampak rapuh dan membutuhkan perlindungan dari dirinya.
Mendengar kebohongan yang tersusun begitu rapi dari bibir Hazel, rasa bersalah Arlend sempat goyah sejenak. Namun, ingatan saat seorang remaja laki-laki memegang pergelangan tangan Hazel di kantor polisi tadi mendadak berputar kembali di kepalanya. Pria itu menyandarkan punggungnya, menatap Hazel dengan pandangan yang makin dalam dan mengintimidasi.
"Lalu... siapa pria tadi?" tanya Arlend dengan suara yang luar biasa dingin. "Pria muda yang memegang tanganmu sebelum kita keluar."
Hazel mengerjapkan matanya pelan. Ia tahu betul pria yang dimaksud adalah Leo. Alih-alih merasa takut atau panik, nurani Hazel justru menangkap peluang emas untuk menguji sejauh mana batas keposesifan dan kecemburuan Arlend terhadap dirinya.
Hazel menaikkan kepalanya sedikit, menyunggingkan senyuman tipis yang terkesan sangat polos namun sarat pancingan.
"Maksud Kak Sagara... Leo?" cicit Hazel halus seraya memiringkan kepalanya. "Dia teman sekelasku di sekolah, Kak. Tadi dia cuma khawatir dan memastikan aku pulang dengan aman."
Hazel sengaja jeda sejenak, memperhatikan perubahan raut wajah Arlend sebelum melontarkan kalimat pemancing selanjutnya.
"Dia lumayan tampan, kan?" bisik Hazel pelan dengan nada santai. "Tadi di sekolah Kirana sempat bilang padaku... katanya Leo menyukaiku. Dialah yang mengajakku ke tempat balapan itu karena tahu aku suka mobil."
KLEK.
Sebelum Hazel sempat menyelesaikan napasnya, Arlend bergerak secepat kilat. Dalam hitungan detik, Arlend melepas sabuk pengamannya, memajukan tubuhnya yang tinggi besar, dan langsung mengukung Hazel di dalam kabin mobil yang sempit.
Kedua lengan kokoh Arlend terkunci rapat di kiri dan kanan sandaran kursi Hazel, menutup seluruh akses pergerakan gadis itu. Napas Arlend yang hangat dan memburu berembus tepat di atas permukaan kulit wajah Hazel. Jarak di antara wajah mereka kini hanya tersisa beberapa sentimeter.
Sensasi dominasi mutlak yang pekat, menindas, dan berbahaya seketika menyelimuti seluruh kabin Maybach tersebut.
"Ulangi lagi kalimatmu, Hazel," pangkas Arlend dengan suara yang teramat rendah, berat, dan berbahaya. Iris matanya yang tajam berkilat penuh amarah yang tertahan.
"Kak... Kak Sagara—"
"Kau pikir aku akan membiarkan pria lain menyentuhmu?" potong Arlend tegas, matanya menatap lurus ke dalam iris mata Hazel tanpa berkedip sedikit pun. Cengkeraman tangannya di sandaran kursi makin mengencang hingga buku-buku jarinya memutih.
"Kau milikku, Hazel. Sejak hari pertama aku membawamu keluar dari neraka keluarga Adeline, seluruh hidupmu, tubuhmu, dan hatimu adalah milikku. Tidak ada pria mana pun baik teman sekolahmu, pria bernama Leo itu, atau siapa pun di dunia ini yang boleh menatapmu atau menyukaimu."
Hazel tertahan di tempatnya. Hawa intimidasi Arlend begitu kuat hingga membuat dadanya berdebar kencang. Namun, di balik rasa tertekan itu, Hazel menyunggingkan senyum tersembunyi di dalam hatinya. Pancingannya berhasil total. Pria paling ditakuti di dunia gelap ini telah sepenuhnya berlutut dan terikat dalam rasa posesif yang gila padanya.
Arlend mendongakkan rahang Hazel pelan menggunakan jemarinya, memaksa gadis itu menatap matanya yang membara.
"Jauhi pria itu," perintah Arlend dengan nada absolut yang tidak bisa diganggu gugat. "Mulai besok, aku tidak ingin melihatmu berdekatan lagi dengannya. Jika dia berani mendekatimu lagi di sekolah... aku sendiri yang akan memastikan dia menghilang tanpa jejak."
double up y thor 😄🙏