Mireya Ananta diceraikan suaminya karena tubuhnya yang gemuk.
Terusir tanpa harta, ia hanya memiliki uang dua puluh ribu rupiah dan terpaksa mencari pekerjaan.
Sebuah lowongan membawanya ke kediaman Arven Zarreti, tuan tanah bengis yang memiliki perkebunan luas di sebuah desa.
Arven membutuhkan seseorang untuk mengasuh Elden, putranya yang berusia lima tahun dan menolak sekolah karena takut bertemu orang lain.
Awalnya, Arven menguji Mireya terlebih dahulu, apakah benar di bisa membuat Elden makan tanpa harus dipaksa. Ternyata, berbekal pengalaman mengasuh anak kakak iparnya, Mireya dengan mudah membuat Elden menikmati makannya.
Keesokan hari, Penghulu datang ke rumah itu.
"Kita menikah!"
Jadi lah, beberapa hari usai cerai, Mireya langsung menjadi istri pria bernama Arven.
Mireya menjadi ibu sambung bagi Elden, dan mengurus lahan pertanian milik Arven. Bagaimana kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2. Melamar Menjadi Ibu Tiri
“Hah? Ternyata ada lowongan pekerjaan seperti ini?” Mireya melanjutkan membaca pengumuman tersebut.
Pekerjaan menjadi seorang ibu tiri. Gaji yang dijanjikan jumlahnya sangat besar. Syarat utamanya harus bersedia menikah dengan ayah sang anak.
Mireya mengernyit. “Menikah? Aku kan baru cerai?”
Lalu ia menatap angka yang tertera sebagai gaji pekerjaan tersebut.
“Wah, gajinya gede bener?”
Dia membaca ulang. Angkanya bahkan membuatnya mengira ada kesalahan. Namun semakin lama membaca, semakin banyak pertanyaan muncul.
“Masa ibu tiri sampai kayak dilelang begini? Kan bapaknya cukup cari istri lagi.”
Mireya hampir menutup unggahan itu.
Namun matanya kembali jatuh pada jumlah gaji yang ditawarkan. Dia teringat uang dua puluh ribu yang terselip di dalam tas.
“Tak ada pilihan. Aku butuh uang,” gumamnya.
Akhirnya, Mireya menekan kontak yang tertera. Panggilan langsung tersambung.
“Selamat sore. Saya melihat lowongan pengasuh anak.”
☎️ “Namanya?”
“Mireya Ananta.”
☎️ “Bisa datang besok pagi?”
Mireya sedikit heran.
“Di mana alamatnya?”
Sebuah alamat disebutkan. Mireya langsung mencatatnya. Sebelum telepon ditutup, pria di seberang memberikan sebuah peringatan.
☎️ “Saya ingatkan sekali lagi, Nona. Pekerjaan ini sangat tidak mudah.”
Mireya tersenyum pahit.
“Sepertinya sepanjang hidup yang saya lewati tak pernah mudah.”
Sambungan telepon pun berakhir.
Mireya menatap layar ponselnya.
Kemudian mengintip uang dua puluh ribu di dalam tasnya.
“Besok?” bisiknya.
“Sepertinya, hari ini aku harus menahan perutku.”
.
.
.
Matahari belum terlalu tinggi, tetapi Mireya baru saja turun dari angkutan desa. Dia berdiri di pinggir jalan sambil memeriksa alamat yang tersimpan di ponselnya.
“Beneran di sini?”
Mireya mendongak.
Di hadapannya terbentang jalan tanah yang diapit perkebunan hijau sejauh mata memandang.
Tidak ada deretan rumah.
Tidak tampak jajaran toko yang biasa ia temukan di kota.
Bahkan suara kendaraan pun hampir tidak terdengar.
Hanya suara burung dan desir angin yang melewati dedaunan.
Mireya mengernyit. Dia kembali membaca alamat yang diberikan kepadanya. Nomornya sama. Lokasinya juga sama.
“Katanya di sini rumahnya...” Mireya memasukkan ponselnya ke dalam tas. “Kok malah kayak masuk perkebunan orang?”
Dia mulai melangkah masuk. Semakin jauh berjalan, semakin luas perkebunan yang ia lihat.
Ada barisan tanaman yang tertata rapi di sebelah kanan. Di sebelah kiri, beberapa pekerja sedang memeriksa tanaman sambil membawa keranjang.
Mireya spontan memperlambat langkah. Matanya memperhatikan kondisi tanah.
Tanahnya cukup subur. Drainasenya bagus.
Lalu matanya berpindah ke beberapa bagian yang terlihat kurang terawat.
“Sayang sekali...”
Mireya berhenti. Kebiasaan lamanya muncul tanpa sadar. Dia jongkok dan menyentuh permukaan tanah.
Sedikit lembap.
Tidak terlalu basah dan tidak tergenang. Struktur tanahnya juga terlihat cukup baik.
“Kalau ditanami sayuran tertentu, hasilnya pasti akan sangat bagus.”
Ketika Mireya hendak berdiri, seorang pekerja yang kebetulan lewat menatapnya dengan heran.
“Nona mencari siapa?”
Mireya tersenyum sopan. “Saya mencari rumah keluarga Zarreti.”
Seketika raut pria itu berubah.
“Keluarga Zarreti?”
“Iya.”
Pria itu menatap Mireya dari atas sampai bawah. Kemudian menunjuk ke arah jalan di depan.
“Terus saja lurus mengikuti jalan ini. Rumahnya berada paling ujung.”
Mireya mengangguk. “Terima kasih.”
Mireya melanjutkan langkah. Namun setelah beberapa meter, dia menoleh ke belakang.
Pria tadi masih berdiri di tempat yang sama. Ia seperti ingin mengatakan sesuatu.
Mireya mengangkat alis.
“Aneh.”
Dia tidak terlalu memikirkannya.
Sekitar sepuluh menit kemudian, langkah Mireya berhenti. Napasnya sedikit tersengal. Sudah lama sekali dia tidak berjalan kaki sejauh ini.
Keringat membasahi dahinya.
Di balik deretan pepohonan, berdiri sebuah rumah besar.
Bukan rumah biasa.
Bangunan itu lebih mirip vila mewah yang sengaja dibangun jauh dari keramaian.
Dindingnya berwarna putih dengan aksen batu alam. Pilar-pilar tinggi menopang teras depan. Jendela-jendelanya besar dan tinggi. Di depan rumah terbentang halaman luas yang dihiasi taman serta air mancur.
Mireya bahkan melihat beberapa kendaraan hitam terparkir di sisi bangunan.
“I-ini... rumahnya?”
Dia menelan ludah.
Mireya membuka kembali ponselnya. Nama yang tertera di pesan masih sama.
Arven Zarreti.
“Jangan-jangan aku salah alamat?”
Dia memeriksa kembali alamatnya.
Ternyata benar.
Mireya menghela napas, kemudian melangkah menuju gerbang.
Baru beberapa langkah, dua pria berpakaian hitam muncul dari pos penjagaan.
“Berhenti.”
Mireya refleks ikut berhenti.
“Saya...”
“Keperluan?”
“Saya datang untuk melamar pekerjaan...” Ia sedikit ragu melanjutkan nama pekerjaan itu.
Namun, kedua pria tersebut tampaknya sudah memahami maksud kedatangannya. Mereka saling melirik sebelum akhirnya mengangguk.
Bukan kali pertama seseorang datang untuk melamar menjadi ibu tiri sang tuan muda.
Salah seorang penjaga kemudian membuka pintu gerbang.
“Masuk.”
Mireya menghela napas.
“Terima kasih.”
Dia melangkah melewati gerbang.
Namun baru beberapa meter berjalan, suara anak kecil terdengar dari dalam rumah.
“Jangan!”
Mireya menoleh.
Seorang bocah laki-laki berlari keluar dari pintu rumah. Usianya mungkin sekitar lima tahun. Rambut hitamnya sedikit berantakan.
Dia memeluk sebuah mobil-mobilan kecil erat-erat sambil berlari menuju taman.
Seorang pria mengejarnya.
“Tuan Muda! Tunggu!”
Anak itu justru berlari semakin cepat.
Kemudian...
Bruk!
Kakinya tersandung, membuat tubuh kecilnya hampir jatuh.
Mireya spontan berlari.
“Hati-hati!”
Dia berhasil menangkap tubuh anak itu sebelum kepalanya membentur lantai.
Elden mendarat di pelukan Mireya. Matanya membesar. Mireya juga terheran. Mereka saling menatap selama beberapa detik.
Anak itu kemudian mendorong dada Mireya.
“Jangan pegang-pegang aku, Genduuut!”
Mireya langsung melepaskan tangannya.
“Maaf.”
Elden mundur beberapa langkah. Wajahnya mengernyit, bibirnya mengerucut.
Pria yang mengejarnya segera datang.
“Maaf, Nona. Elden memang tidak suka disentuh orang asing.”
Mireya mengangguk.
“Tidak apa-apa.”
Dia memperhatikan bocah itu.
Elden langsung bersembunyi di balik pria tersebut. Hanya kedua matanya yang terlihat.
Mireya tersenyum kecil.
“Hai.”
Elden tidak menjawab.
“Kamu Elden?”
Anak itu menggeleng.
Mireya bingung.
“Bukan?”
Elden kembali menggeleng.
Pria di belakangnya tampak panik.
“Elden...”
Mireya akhirnya tersenyum.
“Kalau begitu, aku tidak akan bertanya lagi.”
Dia pun menegakkan badan. Lututnya masih terasa pegal setelah berjalan cukup jauh, tetapi dia berusaha mengabaikannya.
Dari balik tubuh pria itu, suara kecil terdengar.
“Kamu siapa?”
Mireya berhenti.
Dia menoleh.
“Namaku Mireya.”
Elden menatapnya beberapa detik.
Kemudian kembali bersembunyi.
Mireya tersenyum.
Setidaknya... anak itu mau bertanya.
Dan saat itu, Mireya mulai tahu bahwa bocah kecil inilah yang membutuhkan seorang ibu.
*bersambung*
kepercayaan itu ga tumbuh dalam semalem..
dia udah pernah mencoba mempercayai seseorang dengan segenap jiwa dan raganya ,dan endingnya menyakitkan.
jadi cobalah kau bangun kepercayaan nya dulu
ambil simpatinya, dan sembuh kan lukanya
baru dia akan bisa membuka hatinya🥹
lucu amet si mereka🤣🤣
kontrak oh kontrak🤔
mending jujur daripada mantan mertua yang mengacaukan semua greget sama Mire
trauma diselingkuhi itu kyk kangker dufalam tubuh,ga keliatan tapi sakitnya nyata. merasuk Ampe kedalam aliran darah dan otak kita tanpa kita sadari
selalu mempertanyakan apakah kita cukup baik
apakah ini semua karena salah kita?
apakah ada g kurang dr kita?
sampai mati pasti kebawa🥹🥹
Mau nya lupa
maunya ga dipikirin
tapi...🫣🥹🥹
Dia takut nasib pernikahannya akan sama dgn sebelumnya
bahkan sekelas artis sebelah aj yg lagi rame
ketemu yg baru,setengah mampus nyerein istrinya 🤣🤣.
katanya yg baru dipilih karena lemah lembut.
hei...kami juga awalnya kembang desa
pas lama nikah jadi kembang api🤣🤣🤣
apalagi pengalaman mireya yg paket komplit...🥹
hatinya aja ga ada gerbang nya di KK
ga ada yg jagain🤣🤣🤣
Iddah itu berlaku pas suami ngucapin talak kan?
nah...si b4ngs4t itukan nalak nya udah lama...lebih dr 3 bulan kali
di pengadilan mah tinggal ketik pali doank
wahhhh....begini orang yg ga ngerti agama sok sok an mau pake dalili agama
tapi bener Lo
kita yg terbiasa di sajikan pisau didepan mata,tetibaan dikasih bunga
pasti bingung kan ya🫣🥹🥹