Bagi semua orang di SMA Nusantara, Rian hanyalah seorang yatim piatu miskin, pendiam, dan sasaran empuk perundungan. Tak ada yang tahu bahwa di balik lebam dan pakaian lusuhnya, sebuah Sistem Kultivator Tunggal baru saja bangkit dalam dirinya.
Di era modern tempat hukum alam dikendalikan uang dan kekuasaan, Rian menjadi satu-satunya manusia yang menguasai seni kultivasi kuno. Tanpa perlu bersuara, ia mengasah kekuatannya di balik layar—menjadi sosok yang tak terlihat, namun tak tertandingi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serly Can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aroma Kopi
Suara gesekan rantai sepeda yang berputar pelan menemani langkah kaki Rian menyusuri koridor perpustakaan pusat kota pada sore hari menjelang senja. Langit di luar jendela kaca raksasa berona jingga kemerahan, memantulkan bias cahaya matahari yang perlahan tenggelam di balik deretan gedung pencakar langit. Udara sore terasa lebih tenang, jauh dari hiruk-pikuk ketegangan politik internal di SMA Bina Bangsa yang baru saja mereda setelah jatuhnya pengaruh keluarga Surya.
Di dalam perpustakaan yang sunyi dan beraroma khas kertas tua serta tinta cetak, Rian duduk di sebuah meja kayu jati di sudut paling sepi. Di hadapannya, tumpukan arsip digital dan beberapa buku sejarah lokal tertata rapi. Meskipun Direktur Utama Hartawan Kusuma telah memberikannya kebebasan mutlak dan tawaran posisi istimewa pagi tadi, Rian memilih untuk tetap menjalani harinya seperti biasa—tenang, terukur, dan tidak mencolok.
K Foot...
Suara derit kursi kayu ditarik perlahan memecah keheningan meja sebelah. Seorang gadis berambut sebahu dengan kacamata berbingkai tipis dan seragam sekolah swasta yang berbeda—SMA Nusantara—duduk perlahan di kursi seberang Rian. Gadis itu membawa setumpuk buku tebal tentang arsitektur kuno dan menatap Rian lekat-lekat dengan mata jernihnya.
Nama gadis itu Kirana. Ia adalah pustakawan sukarelawan junior yang sering membantu Rian merapikan katalog arsip sejarah di perpustakaan tersebut setiap akhir pekan.
"Kau terlihat sangat tenang hari ini, Rian," bisik Kirana pelan, sengaja menjaga volumenya agar tidak mengganggu pengunjung lain yang sedang membaca di dekat mereka. Ia meletakkan sebuah cangkir kertas berisi kopi hitam hangat di samping tumpukan buku Rian. "Biasanya anak-anak seusiamu akan menghabiskan waktu sore untuk nongkrong di kafe atau bermain gim daring setelah jam sekolah selesai. Tapi kau malah memilih bergelut dengan arsip digital sejarah kota lama."
Rian mendongak pelan, mengalihkan pandangannya dari layar laptop murahnya. Ia menatap cangkir kopi hitam yang mengepulkan uap tipis itu, lalu tersenyum tipis ke arah Kirana.
"Ketenangan di tempat seperti ini jauh lebih berharga daripada kebisingan di luar sana, Kirana," jawab Rian dengan nada suaranya yang khas—tenang dan rendah. Ia meraih cangkir kopi tersebut, menyesapnya sedikit untuk merasakan kepahitan hangat yang menyegarkan tenggorokan. "Lagi pula, sejarah sering kali menyimpan jawaban atas masalah-masalah yang sedang kita hadapi di masa sekarang."
Kirana mengerutkan keningnya, menyandarkan dagunya pada kedua tangan yang saling bertumpu di atas meja. "Jawaban atas masalah? Omonganmu terdengar seperti seorang filosof tua, tahu. Memangnya masalah apa yang sedang kau hadapi sampai harus mencari jawabannya di arsip kota tua?"
"Bukan masalah besar," balas Rian ringan, menghindari detail tentang konflik kekuasaan korporasi pendidikan yang baru saja ia selesaikan pagi tadi. "Hanya sebuah lingkaran kecil yang kebetulan berputar pada poros yang sama dari tahun ke tahun. Manusia selalu mengulang kesalahan yang identik: merasa berkuasa karena harta, lalu jatuh karena kesombongan mereka sendiri."
Kirana terdiam sejenak, meresapi makna di balik kalimat Rian. Ada kedewasaan dan ketajaman berpikir yang tidak lazim pada remaja seusia tujuh belas tahun. Selama beberapa bulan mengenal Rian di perpustakaan ini, ia tahu betul bahwa pemuda di depannya bukanlah anak SMA biasa yang hidupnya hanya sebatas soal ujian sekolah dan percintaan remaja.
"Omong-omong," kata Kirana mengubah topik pembicaraan, matanya berbinar penasaran. "Aku dengar berita heboh dari teman-temanku yang sekolah di Bina Bangsa. Katanya, keluarga Surya—donatur terbesar di sekolahmu itu—mendadak kehilangan pengaruh besar hari ini karena kasus korupsi internal yang terbongkar secara misterius. Apakah kau tahu sesuatu tentang itu?"
Rian tetap mempertahankan ekspresi wajah yang datar. Ia kembali mengetik beberapa baris kode di layar laptopnya tanpa tergesa-gesa.
"Berita di luar sana sering kali dibumbui oleh banyak spekulasi," jawab Rian tenang tanpa menoleh. "Jika seseorang jatuh, itu bukan karena orang lain yang mendorongnya, melainkan karena pijakan kakinya sendiri memang sudah rapuh dari awal."
Kirana mendengus pelan, setengah kagum setengah sebal dengan jawaban diplomatis Rian yang sulit ditebak. "Kau selalu punya cara untuk berkelit dari pertanyaanku, Rian. Tapi... jujur saja, aku senang mendengarnya. Keluarga Surya terkenal arogan dan sering menindas anak-anak beasiswa di sana. Sudah saatnya ada seseorang yang memberi mereka pelajaran."
Sebelum Rian sempat menanggapi ucapan Kirana, getaran pelan dari ponsel murahan di dalam saku celananya memecah keheningan di antara mereka. Rian merogoh ponsel tersebut dan melirik layar kecilnya. Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal, namun terenkripsi dengan sandi khusus yang hanya dikenali oleh sistem internal perusahaan Hartawan Kusuma.
[ Pesan: "Tuan Rian, laporan investigasi tambahan mengenai jaringan logistik yayasan telah diamankan. Direktur Hartawan ingin mengundang Anda untuk makan malam informal malam ini di restoran Panorama Lt. 12 guna membahas langkah digitalisasi selanjutnya. Apakah Anda berkenan?" ]
Rian membaca pesan itu sekilas, lalu mengetikkan balasan singkat: [ 'Maaf, saya ada keperluan pribadi malam ini. Kita bahas digitalisasi lewat enkripsi data saja.' ]
Ia langsung mengunci layar ponselnya dan memasukkannya kembali ke saku.
"Ada pesan penting?" tanya Kirana penasaran melihat gestur Rian.
"Bukan apa-apa, hanya urusan pekerjaan kecil," jawab Rian berdiri dari kursi kayunya, merapikan beberapa buku catatan ke dalam tas ransel hitamnya. "Hari sudah semakin malam, Kirana. Aku harus segera pulang sebelum hari benar-benar gelap. Bibi Inah pasti sudah menunggu di rumah."
Kirana ikut berdiri, mengangguk maklum. "Baiklah, hati-hati di jalan, Rian. Jangan terlalu memforsir dirimu dengan semua tumpukan tugas itu."
"Terima kasih untuk kopi dan obrolannya sore ini," ucap Rian singkat, lalu membalikkan badan dan melangkah keluar dari area perpustakaan.
Sementara itu, di lantai dua belas restoran mewah Panorama yang menyuguhkan pemandangan malam lampu kota yang berkilauan bagaikan lautan berlian, Hartawan Kusuma duduk seorang diri di meja sudut eksklusif berbingkai kaca besar. Di hadapannya, semangkuk sup jamur hangat dan secangkir teh hijau tersaji rapi.
Ponsel di atas meja bergetar pelan, menampilkan balasan pesan dari Rian. Hartawan membaca pesan singkat tersebut, lalu tersenyum kecil penuh pemakluman. Ia menggelengkan kepalanya pelan sambil bergumam seorang diri, "Anak muda yang sangat mandiri dan sulit ditebak... Dia bahkan menolak ajakan makan malam dari seorang pemilik korporasi tanpa rasa canggung sedikit pun."
Meskipun tawarannya ditolak mentah-mentah untuk makan malam bersama, rasa hormat Hartawan terhadap Rian justru semakin berlipat ganda. Di dunia bisnis yang dipenuhi oleh penjilat, orang-orang bermuka dua, dan mereka yang selalu mencari muka demi jabatan, keberadaan seorang remaja yang tidak silau oleh kemewahan dan kekuasaan adalah sebuah fenomena yang sangat langka.
"Tuan Hartawan," suara lembut seorang pelayan restoran berpakaian rompi hitam menyela lamunannya sambil membungkuk hormat. "Apakah hidangan utamanya ingin disajikan sekarang, atau Anda ingin menunggu tamu yang lain?"
Hartawan melirik arloji mewahnya sekilas, lalu melambaikan tangan pelan. "Tidak perlu menunggu siapa-siapa lagi. Sajikan saja sekarang."
"Baik, Tuan."
Di belahan kota yang lain, jauh dari kemewahan lampu-lampu restoran pencakar langit, Rian berjalan santai menyusuri jalan setapak di sekitar kompleks rumah susun tempat tinggalnya. Udara malam terasa dingin, membawa angin sepoi-sepoi yang menggoyangkan dedaunan pohon angsana di pinggir jalan.
Di dalam tubuhnya, inti energi Qi berputar dengan ritme yang semakin stabil dan matang. Setiap tarikan napasnya menyatu dengan alam sekitar, menciptakan semacam perisai tak kasat mata yang melindungi tubuhnya dari rasa lelah.
[ Pemberitahuan Sistem: Analisis energi spiritual lingkungan mencapai 104%. ] [ Kultivator memenuhi syarat untuk membuka Akses Pelatihan Tingkat Ketiga: Pemahaman Hukum Ruang dan Waktu Mikro. ]
Teks transparan berwarna keemasan melintas sekilas di retinanya. Rian menghentikan langkahnya sejenak di dekat sebuah lampu jalan yang berdengung lemah. Ia menutup matanya perlahan, merasakan bagaimana aliran udara, getaran langkah kaki orang-orang di kejauhan, hingga denyut nadi di pergelangan tangannya sendiri berdetak dalam satu harmoni semesta yang agung.
"Ternyata hierarki kekuatan di dunia ini hanyalah permulaan dari perjalanan yang jauh lebih panjang," bisik Rian pelan pada angin malam.
Tiba-tiba, suara derap langkah kaki tergesa-gesa terdengar dari arah gang gelap di sebelah kanannya, disusul oleh suara napas memburu dan suara benturan benda tumpul.
Bum!
Seorang pria paruh baya berjas kusut tampak terlempar keluar dari mulut gang, jatuh tersungkur di atas aspal jalan dengan luka lebam di wajah dan darah segar mengalir dari sudut bibirnya. Di belakangnya, tiga orang pria bertubuh kekar mengenakan jaket serba hitam keluar sambil membawa tongkat pemukul baseball, menyeringai buas ke arah korban mereka.
"Wah, wah, rupanya masih ada sisa dana rahasia yang coba kau sembunyikan, Tuan Akuntan?" cerca pria bertubuh paling besar dengan nada suara mengejek, melangkah mendekati pria paruh baya yang terduduk tak berdaya di aspal. "Serahkan dokumen sandi brankas itu sekarang, atau malam ini malam terakhir keluargamu melihatmu bernapas!"
Pria paruh baya yang merupakan seorang akuntan independen itu menggeleng ketakutan, mendekap erat sebuah tas kerja hitam di dadanya. "Aku... aku tidak punya apa-apa lagi! Semua dokumen sudah diserahkan kepada pihak berwenang!"
Pria berjaket hitam itu mendengus geram, mengangkat tongkat baseballnya tinggi-tinggi ke udara, bersiap menghantamkannya langsung ke arah kepala sang akuntan tanpa ampun.
Rian, yang berdiri tidak jauh dari tempat kejadian di bawah temaram lampu jalan, menghela napas pelan. Ia sama sekali tidak berniat menjadi pahlawan kesiangan yang ikut campur dalam urusan preman jalanan. Namun, tepat saat bayangan tongkat baseball itu diayunkan turun, mata Rian menangkap lencana kecil di kerah jaket salah satu penjahat tersebut—lencana lambang sindikat bawah tanah yang sama dengan kelompok preman yang diutus oleh Surya kemarin.
Sistem korupsi dan premanisme ini ternyata berakar lebih dalam dari perkiraan, batin Rian dingin.
Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Rian melangkah maju ke depan. Sosoknya meluncur bagaikan bayangan angin malam yang tak terlihat, menembus jarak lima belas meter dalam kedipan mata.
Sebelum ujung tongkat baseball itu menyentuh kepala sang akuntan, jari tangan kanan Rian terulur lurus, menyentuh ringan udara kosong di depan para penjahat tersebut sambil memancarkan gelombang energi Qi internal tingkat lanjut.
Whush!
Sebuah ledakan angin kejut tak kasat mata berdesing kencang, menghantam ketiga preman berbadan kekar itu seketika. Mereka terlempar mundur sejauh tiga meter secara bersamaan, jatuh terbanting keras menghantam dinding beton gang dengan suara benturan yang memekakkan telinga, sebelum akhirnya pingsan tak sadarkan diri.
Suasana jalanan kembali mendadak sunyi.
Pria paruh baya akuntan itu terperangah ketakutan, terduduk di aspal dengan mata melotot lebar menatap tiga preman yang tumbang dalam sekejap tanpa tahu siapa yang menyerang mereka. Ia menoleh perlahan ke samping, mendapati sosok seorang remaja berseragam sekolah berdiri tenang dengan tangan di dalam saku celana.
Rian menunduk sedikit menatap sang akuntan, lalu berkata dengan suara datar namun berwibawa, "Bangunlah, Tuan. Jalan di depan sudah aman untuk anda lewati. Tapi lain kali, simpan dokumen penting di tempat yang lebih aman daripada tas kerja usang."
Sebelum pria itu sempat mengucapkan sepatah kata ucapan terima kasih atau pertanyaan, Rian sudah berbalik badan dan melangkah tenang melanjutkan perjalanannya menuju rumah susun, meninggalkan bayangan malam yang saksi bisu atas kebangkitan seorang kultivator di tengah kota modern.