NovelToon NovelToon
Bu Gubernur Bar-bar Pilihan Hati Sang Kapten

Bu Gubernur Bar-bar Pilihan Hati Sang Kapten

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikahi tentara / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:16.2k
Nilai: 5
Nama Author: Yulianti Azis

Alvierra Zea Khanza atau biasa dipanggil Zea rela menjadi gubernur demi mewujudkan impian sang nenek. Tapi sejak menjabat, berbagai teror dan ancaman mulai mengincarnya.

Demi keselamatan Zea, sang kakek mengirim seorang pengawal pribadi bernama Sagara Arya, kapten dingin yang ternyata menyimpan misi rahasia yaitu membunuh Zea.

Sayangnya, menghadapi gubernur yang bar-bar, keras kepala, tetapi begitu tulus mencintai rakyatnya membuat Kapten Sagara perlahan melupakan misinya.

Di antara ancaman, rahasia, dan perasaan yang tak seharusnya tumbuh, sang kapten justru jatuh cinta kepada perempuan yang seharusnya menjadi targetnya.

Ketika tugas dan cinta berada di dua sisi yang berlawanan, akankah Sagara memilih perintah atau melindungi perempuan yang telah mencuri hatinya?

Yuk stay tune ya. Yang gak suka silakan skip.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mulai Mencari Musuh

Beberapa pejabat mulai terlihat tidak nyaman. Salah satu dari mereka mengangkat tangan dan berkata, “Tetapi laporan masyarakat belum tentu semuanya benar, Bu.”

“Makanya diverifikasi,” jawab Zea cepat. “Bukan berarti saya bilang kita percaya begitu saja.”

Ia mengambil pena lalu menunjuk bagian anggaran. “Yang saya tolak adalah pemborosan, bukan proses verifikasinya. Kita tetap melakukan pengecekan, tetapi berdasarkan laporan yang sudah masuk dan diprioritaskan berdasarkan tingkat kerusakannya.”

Seorang kepala dinas lain mencoba menyela. “Bu Gubernur, kalau tim harus memeriksa berdasarkan laporan satu per satu, justru bisa membuat pekerjaan lebih lama.”

Zea menatapnya tanpa berkedip. “Lebih lama dibandingkan mengadakan rapat koordinasi di hotel?”

Beberapa orang langsung terdiam.

Intan spontan menunduk agar tidak terlihat sedang menahan tawa. Sagara yang berdiri di belakang Zea tetap memasang wajah datar, meskipun sudut bibirnya nyaris bergerak ketika mendengar jawaban tersebut.

Pria paruh baya itu kembali mencoba menjelaskan. “Rapat di hotel bukan semata-mata untuk rapat, Bu. Kami membutuhkan tempat yang nyaman agar koordinasi antarinstansi bisa berjalan dengan baik.”

“Di kantor tidak nyaman?” tanya Zea.

“Bukan begitu, Bu.”

“Lalu kenapa harus hotel?”

Pria itu terdiam beberapa detik sebelum menjawab, “Karenab... fasilitasnya lebih mendukung.”

Zea menghela napas panjang. “Kita sedang membicarakan jalan rusak dan fasilitas umum yang tidak layak, bukan konferensi internasional.”

Suasana ruangan semakin tegang. Beberapa pejabat yang sejak tadi diam mulai saling bertukar pandangan, seolah mereka tidak menyangka gubernur muda itu akan membongkar anggaran sedetail itu.

Seorang kepala bidang kemudian berkata, “Bu Gubernur, kami sudah bertahun-tahun menjalankan sistem ini. Selama ini tidak ada masalah berarti.”

Zea menyandarkan punggungnya ke kursi. “Justru karena sudah bertahun-tahun dilakukan, bukan berarti semuanya harus terus dipertahankan.”

“Namun, perubahan mendadak bisa mengganggu sistem yang sudah berjalan,” jawab pria tersebut.

“Kalau sistemnya bagus, saya pertahankan,” kata Zea. “Kalau sistemnya membuat anggaran habis untuk hal-hal yang tidak langsung dirasakan masyarakat, saya ubah.”

Intan kembali mengetik dengan cepat, bahkan beberapa kali melirik wajah para pejabat yang mulai menegang. Ia bisa merasakan suasana ruangan berubah dari rapat biasa menjadi seperti medan perang tanpa senjata.

Zea kemudian mengambil lembar anggaran dan mencoret beberapa bagian menggunakan pena merah. “Biaya hotel untuk rapat koordinasi, hapus, buang-buang duit aja.”

Salah seorang pejabat langsung mengangkat kepala. “Bu!”

“Biaya makan rapat yang berlebihan, sesuaikan dengan standar kantor, kenapa harus mahal-mahal,” lanjut Zea tanpa berhenti. “Perjalanan dinas yang tidak memiliki urgensi, evaluasi. Pengecekan lapangan dilakukan berdasarkan prioritas laporan dan kebutuhan teknis.”

“Bu Gubernur, tetapi—”

“Belum selesai,” potong Zea dengan wajah tegas.

Ruangan kembali diam.

“Untuk kontraktor swasta, saya ingin semua prosesnya transparan,” katanya tegas. “Jangan ada kontraktor yang dipilih hanya karena sudah biasa bekerja dengan dinas tertentu.”

Seorang pria paruh baya mengepalkan tangan di bawah meja. “Kami tentu tidak pernah melakukan hal seperti itu, Bu.”

Zea menatapnya. “Saya tidak mengatakan Bapak melakukannya.”

Pria itu terlihat sedikit lega.

“Saya hanya mengatakan jangan sampai ada yang melakukannya,” sambung Zea.

Intan menahan napas. Dalam hati ia mulai berpikir bahwa rapat ini benar-benar akan panjang.

Zea kemudian membuka dokumen lain. “Dan satu lagi, saya ingin melihat rekam kerja kontraktor sebelum mereka mendapatkan proyek.”

“Rekam kerja, Bu?” tanya salah seorang kepala dinas.

“Ya. Proyek sebelumnya, kualitas pekerjaannya, ketepatan waktu, serta keluhan masyarakat kalau ada,” jawab Zea. “Saya tidak mau memilih kontraktor hanya karena proposalnya terlihat bagus di atas kertas.”

Sagara memperhatikan Zea dari samping dengan tatapan tenang. Ia sudah mengetahui perempuan itu keras kepala, tetapi baru kali ini ia melihat bagaimana Zea menghadapi beberapa pejabat senior yang jelas-jelas mencoba mempertahankan kebiasaan lama.

Seorang pejabat akhirnya berkata dengan nada sedikit menekan, “Bu Gubernur masih muda. Mungkin ada beberapa hal teknis pemerintahan yang belum terlalu dipahami.”

Intan langsung berhenti mengetik.

Zea justru tersenyum tipis. “Betul, saya memang masih muda.”

Beberapa orang terlihat saling pandang.

“Tapi saya bukan tidak bisa belajar,” lanjut Zea. “Kalau ada aturan yang memang wajib dilakukan, jelaskan kepada saya. Jangan gunakan kata ‘prosedur’ hanya untuk mempertahankan sesuatu yang bahkan tidak bisa kalian jelaskan manfaatnya.”

Tidak ada yang langsung menjawab.

Zea menutup map anggaran tersebut. “Saya tidak ingin menghabiskan uang rakyat untuk sesuatu yang tidak perlu. Kalau masyarakat meminta jalan mereka diperbaiki, ya uangnya harus lebih banyak digunakan untuk memperbaiki jalan, bukan untuk memperbanyak rapat tentang jalan.”

Intan menatap Zea dengan kagum sekaligus tegang. Ia kemudian menuliskan kalimat terakhir itu sebagai poin penting dalam notulen rapat.

Zea berdiri dari kursinya. “Mulai hari ini, semua anggaran yang tidak memiliki hubungan langsung dengan pembangunan akan saya evaluasi. Tim tetap bekerja, pengecekan tetap dilakukan, tetapi caranya harus lebih efisien.”

Ia memandang satu per satu orang di hadapannya. “Saya juga akan meminta laporan berkala. Kalau ada pekerjaan yang hasilnya buruk, jangan berharap proyek berikutnya otomatis jatuh kepada orang yang sama.”

Beberapa pejabat hanya bisa mengangguk dengan wajah kaku. Mereka mungkin sebelumnya mengira gubernur muda itu mudah ditekan dan diajak kerja sama, tetapi hari ini Zea sudah menunjukkan bahwa usia bukan alasan untuk membiarkan pemborosan terus berlangsung.

“Rapat selesai,” kata Zea sambil menutup map.

Kursi-kursi mulai bergeser ketika para pejabat berdiri. Intan segera menghampiri Zea sambil membawa laptopnya dan berbisik, “Zea, tadi aku kira yang keluar dari ruangan ini cuma hasil rapat.”

Zea menoleh. “Terus?”

Intan melirik ke arah para pejabat yang masih tampak tegang. “Kayaknya harga diri beberapa orang juga ikut keluar.”

Zea hampir tertawa, tetapi segera menahannya. “Jangan keras-keras.”

Begitu pintu ruang rapat tertutup setelah Zea, Intan, dan Sagara keluar, suasana yang sebelumnya hening langsung berubah.

Beberapa pejabat yang sejak tadi menahan emosi akhirnya saling pandang dengan wajah kesal, seolah baru saja kehilangan kendali atas rapat yang mereka kira akan berjalan seperti biasa.

Brak!

“Kurang ajar!” bentak seorang kepala dinas sambil menggebrak meja. “Dia benar-benar tidak memberi kita muka di depan semua orang!”

“Tenang dulu,” ujar pejabat di sebelahnya, meskipun wajahnya sendiri terlihat panik. “Jangan sampai ada staf yang mendengar.”

“Bagaimana bisa tenang?” balas pria itu dengan suara tertahan. “Dia mencoret hampir semua anggaran yang selama ini kita gunakan!”

Seorang pejabat lain segera membuka kembali dokumen anggaran yang tadi dibahas. “Bukan cuma itu, dia juga mengatakan akan mengevaluasi anggaran sebelumnya.”

Mendengar kalimat itu, beberapa orang langsung terdiam. Mereka saling bertukar pandang karena mulai menyadari bahwa masalah mereka bukan hanya anggaran tahun ini, melainkan laporan-laporan lama yang mungkin akan ikut diperiksa.

“Kalau dia benar-benar mengusut anggaran tahun lalu, bagaimana?” tanya seorang pria dengan nada cemas. “Semua laporan pengeluaran bisa diminta kembali.”

“Jangan bicara sembarangan,” sahut yang lain cepat. “Kita harus memastikan semua dokumen lama sudah lengkap.”

“Lengkap?” Seorang pejabat tertawa hambar. “Kalian pikir semua pengeluaran bisa dijelaskan begitu saja?”

Ruangan kembali sunyi. Tidak ada yang berani menjawab karena masing-masing mulai memikirkan bagian anggaran yang selama ini mereka anggap tidak akan pernah disentuh.

“Dia masih muda,” gumam seorang pejabat senior dengan wajah penuh kesal. “Saya kira dia akan mudah diarahkan.”

“Justru itu masalahnya,” jawab rekannya. “Dia tidak seperti gubernur sebelumnya.”

Pria yang tadi menggebrak meja mengepalkan tangannya. “Kalau begini terus, semua jalur yang selama ini kita gunakan bisa ditutup olehnya.”

“Jangan panik,” kata seorang pejabat yang terlihat lebih tenang. “Kita lihat dulu sejauh mana dia akan bergerak.”

“Kalau dia sudah mulai meminta laporan satu per satu, itu bukan lagi sekadar ancaman,” balas seorang lainnya. “Dia serius.”

Mereka kembali terdiam ketika mendengar langkah kaki beberapa staf di luar ruangan. Tidak seorang pun ingin pembicaraan mereka terdengar oleh orang lain, apalagi sampai mencapai telinga Zea.

“Mulai sekarang, jangan ada yang membuat kesalahan,” ujar pejabat senior itu dengan suara rendah. “Semua dokumen lama diperiksa kembali.”

“Dan kalau wanita itu benar-benar meminta audit?” tanya seorang pria.

Pria itu tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap tumpukan dokumen di atas meja, kemudian berkata pelan, “Kita hadapi ketika saatnya tiba.”

1
Tiara Bella
keok kan jdnya Soraya.....zea dilawan apa sh yg gk bisa dilakuin sm dia.... waktu kecil aja uler mainannya...
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Yulianti Azis: masih inget ternyata🤣🤣
total 1 replies
Tiara Bella
gk tw aja kemampuan anaknya dr Zahra ini turun ke anaknya zea.....
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ
kalah telak pun masih mau mungkir lagi hadeh dasar tak tau malu

tp psti malu nya luar biasa kan setealh terllu pwrcaya diri ahahahaA🤣🤣🤣
SOOOOOKOOOR
Mei Mei
jendral mayor korupsi itu ayahmu Soraya jgnko terlalu sombong dan angku NT dikuliti kebusukan ayahmu baru tau rasa km, tidak salah memang mi bibitnya Zahra menurun ke anaknya, serba pintar dan GK sombong
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ
eleh sudah jelas kalah masih saja ngeles
mau tanding apa lagi bel diri gas ken zea
Tiara Bella
cinta segitiga yg rumit wkwkkwk
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ
salah kau cari lawan wahai nona Soraya
jangan di kira bukan dari militer zea tak tau apa2 justru karna itu dia di latih sedemiaknrup untk melindungi diri nya s dri sudah tajir dari orok kali 🤣🤣🤣🤣
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ
jiahhh ada yg kebakaran jengot
mlh ini pura2 polos
hadeh mboh lah rumit wis asli
piye terusan jal
kyo2 arep meledug kompore 🤣🤣🤣🤣
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ
wahahahah sengaja kan sengaja biar makin terbakar
aaaahhh kira2 apa lagi ya
ryuka
diihhh situ yg mburu situ yg marah2
ryuka
eaaaaaa 😍😍😍😍
🟡🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya☕︎⃝❥ 💎
🤣🤣 malu gak malu gak? ohhh... tentu saja malu, apalagi di hadapan para tentara yang melihat 🤣🤣... dan setelah ini, kau pasti minta ayahmu untuk turun tangan /Chuckle/, 🤣🤣 pengecut lah kalah begitu kau Soraya 🤣... jadi, sebenarnya, siapa nih yang manja?

Zea atau kau Soraya? 😏
🟡🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya☕︎⃝❥ 💎
dihh, udah kalah gak mau ngaku pula, si muka tebal dia 🤣
stnk
😄😄😄👍👍👍
ismi
kenapa ? gak lanjut dibabak baku hantam kak yul😄😄😄
Hary Nengsih
🤣🤣🤣
juwita
krn anak seorang jenderal bisa seenaknya🤣🤣. bener* persis di dunia real🤣🤣
juwita
awas aj memanfaatkan kekuasaan Bpk mu soraya buat dptin sagara🤣🤣
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
ajak si Soraya tanding gelut Zea biar th kl kamu bkn gubernur yg manja dan dpt di remehkan oleh dia biar seluruh barak jg th kamu itu gak gampangan dan gak lemah 😏💪
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
kalah ya ngaku kalah aja Soraya jngn buat kamu nanti malu dngn kekeh pengen tanding lg sama Zea 😏😏 makanya jd orang yg sotoy dan suka rendahin jd malukan ternyata Zea lbh unggul dr kamu dah minggir aja jngn di terusin biar gak tambah malu nantinya 😏😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!