Saniya Syamira, tak memiliki pilihan lain selain menerima perjodohan amanah dari almarhum kakeknya.
Terlebih sang ibu mengkhawatirkan dirinya jadi perawan tua dikarenakan memiliki kekurangan. Saniya penyandang disabilitas fisik, kaki kanannya diamputasi sedari dia berumur 8 tahun.
Mampukah Saniya menjalani biduk rumah tangga bersama pria berstatus duda yang pernah gagal menikah sampai dua kali dengan wanita sama yakni, cinta pertamanya?
Lantas, bagaimana dengan sepasang anak tirinya, bisakah mereka menerima wanita lain selain ibu kandung?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengenal dunia Saniya : 13
“Aku mau sekolah! Sekalang!” Ardan menggeliat minta diturunkan.
“Papi tulunin! Aku tu mau ngejal Ibu tili!” meski sudah ditegur tidak boleh memanggil Saniya seperti itu, tetap saja dia menyebut demikian.
“Gak boleh, Nak. Yang sekolah sudah besar, sudah menjadi abang-abang. Ardan kan masih kecil, jadi belum bisa ikut mami Saniya.” Yarash tetap menahan putranya.
“Kapan aku besalnya?” sifat keras kepalanya mulai mendominasi, bersiap mendebat siapa saja.
“Kalau mau cepat besar, harus banyak makan sayur, terus —”
“Gak mau, aku tu gak suka makan lumput,” Ardan menyamakan warna sayuran sama seperti rumput yang pernah dia dikunyah karena penasaran akan rasanya.
“Kalau gitu sabar sampai kamu jadi Abang, baru sekolah,” Yarash sangat sabar menghadapi putranya yang sering membuatnya mengelus dada.
“Aku tu malas sabal.” Dikarenakan kesal, keinginan tidak dikabulkan, dan bus sudah melaju, diremasnya mulut sang ayah. “Aku kan udah abang-abang?”
Yarash menggelengkan kepala guna melepaskan tangan Ardan yang mencubit bibirnya. “Katanya kamu mau dipanggil Mas, sekarang kok Abang?”
“Telselah! Huwwaaa … aku tu mau sekolah sama ibu tili,” laju air matanya seperti rintik hujan deras, tak ketinggalan liur pun menetes melewati dagu jatuh di atas perut bulatnya.
Jika sudah seperti ini, maka Yarash wajib membujuk. “Kita antar kak Tita ke sekolahnya ya? Nanti beli es krim, mau?”
Ingus sudah diatas bibir disedot masuk lagi, lengan gempalnya menyeka air mata di pipi. “Beli banyak-banyak.”
“Cuma boleh satu, Ardan pilih mau rasa apa?” dia sangat ketat menjaga asupan makanan maupun camilan buah hatinya.
“Mau banyak lasa, semua ada,” dia tidak akan mau memilih hanya satu saja.
“Satu rasa atau tidak sama sekali?” pilihannya tak dapat ditawar-tawar.
“Aku tu lagi sedih, bingung mau milih lasa apa?” Dicekiknya leher sang ayah, dia kesal sekaligus menyalurkan rasa gemasnya.
“Nanti Papi pingsan, gimana?” Yarash membawa masuk putranya, membiarkan saja tindakan main-main Ardan.
“Gak mau. Aku tu sayang banyak-banyak sama Papi, sama kak Tita, sama cucu colo (kecoa), telus sama sus Suci dalam debu, lek Lele, mang Susu, Mbok, mbak Ndut ….” dia berhenti mengabsen para orang terdekatnya, tengah berpikir keras sepertinya masih ada nama tertinggal.
“Oma, Opa, gak kamu sebut? Mami Saniya juga belum.” Yarash menurunkan Ardan di ruang bermainnya.
“Nanti lagi, halus makan es klim dulu balu beltenaga,” sudah malas dirinya mengabsen nama lainnya.
“Sus, tolong pakaian Ardan baju. Kamu ikut saya mengantar Tatiana ke sekolah,” ucapnya pelan dengan nada sopan.
“Iya, Pak.” Suci menarik tangan anak asuhnya. Membawa Ardan ke kamarnya sendiri yang hanya digunakan untuk berganti pakaian, tidur siang, kalau malam dia tidur bersama ayahnya.
“Kak Tita sudah siap, belum?” seru Yarash memanggil dengan nama kecil dan kesayangan, ia merasa aneh karena tidak melihat putrinya yang biasanya menunggu di ruang keluarga maupun teras.
Tatiana masih duduk di kursi meja makan, sedang menepuk-nepuk pipi agar tidak terlihat pucat, perasaannya kacau, takut kalau sampai ibu tirinya mengadukan perbuatan jahatnya tadi.
“Sudah, Pi!” serunya, sudah merasa lebih baik. Berhasil mengenyahkan perasaan takut sekaligus merasa bersalah.
Keluarga baru Saniya pun satu persatu masuk ke dalam mobil. Gaya si bungsu lebih keren dari sang ayah — mengenakan celana selutut, kemeja tidak dikancing memperlihatkan kaos singlet, pakai kaca mata hitam, rambutnya diberi pomade dan disisir berdiri pada bagian tengah.
***
Bus yang ditumpangi oleh Saniya sudah tiba di halaman sekolah luar biasa milik swasta.
Para murid di dalam bus yang memakai fasilitas antar jemput, bersorak gembira dan saling bercengkrama meski arah obrolan tidak selalu nyambung, tetapi tidak mengurangi binar kebahagiaan di mata mereka, dan saling menyayangi.
Saniya sendiri selalu antusias saat diajak bercanda, tak henti-hentinya menjawab pertanyaan terkadang membuatnya bingung mencari kosa kata sederhana.
Murid berjumlah sembilan orang ini, bukan anak didiknya, sebab dia mengajar bahasa isyarat teruntuk anak-anak berumur 8-10 tahun penyandang disabilitas sensorik – tuna rungu dan tuna wicara.
Prit!
Prit!
Saniya terharu akan penyambutan anak didiknya yang berbaris rapi. Mereka tidak seperti teman lainnya yang berseru memanggil namanya.
Akan tetapi, jemari tangan bagaikan tangga nada menari-nari membentuk kosa kata dengan ekspresi wajah mengungkapkan kerinduan.
Dibalasnya dengan bahasa isyarat. “Miss juga kangen sekali. Sini peluk ….”
Murid berjumlah dua belas orang terdiri dari 5 laki-laki selebihnya anak perempuan, bersamaan berlari masuk ke dalam pelukan wanita merentangkan kedua tangannya.
Sherlin, sahabat satu-satunya Saniya yang tadi membunyikan peluit, ikut berlari kecil, lalu memeluk para murid yang bergerombol. “Aku juga kangen sama miss Saniya,” ucapnya antusias.
“Kamu kangen sudah tentu ada maunya? Kalau gak minta ditemani shopping, ya bisa jadi menagih traktiran awal bulan, kan?” goda Saniya, mulai melerai pelukan, dan langsung saja tangannya dipeluk banyak tangan lebih kecil.
“Miss Saniya memang yang terbaik, jadi tambah sayang.” Bibirnya maju-maju. Sherlin bercanda hendak mencium pipi Saniya.
Para murid pun bertepuk tangan, tersenyum lebar menyaksikan hal lucu kedua gurunya yang tengah bercanda.
“Ayo kita olahraga dulu sebelum belajar, biar badan sehat dan pikiran jadi cemerlang!” jemari Saniya menari lincah mengikuti ucapannya.
Anak-anak berlari ke tengah lapangan, berbaris tidak rapi sesuka hati mereka sendiri. Ada yang langsung menggoyangkan pinggul saat mendengar musik senam dinyalakan, banyak juga malah berlari memutari teman mereka.
Saniya Syamira berjalan ke teras ruang guru, meletakkan tas berisi barang pribadi dan juga bekal dari sang suami di atas lantai.
Para guru berjumlah empat belas orang, mendisiplinkan anak didik mereka. Bukan hal mudah karena butuh kesabaran ekstra dan juga sikap tegas tetapi tidak menghilangkan perhatian tulus.
Saniya lebih banyak tersenyum bahkan tak jarang tertawa kecil. Melihat tingkah laku anak-anak yang sedikit sulit berkonsentrasi dari anak lain seusia mereka, kadang kala lapangan sewaktu-waktu bisa berubah jadi arena balap lari, menurutnya sangat lucu.
“Ini duniaku, dunia yang penuh ketulusan, jauh dari kepura-puraan,” gumamnya penuh rasa syukur. Segenap jiwa raga dirinya mengabdi disekolah ini, pun sangat menyayangi anak-anak istimewa yang memiliki hati bersih, kasih sayang tulus.
Acara senam pun tidak selalu tenang, para anak didik kebanyakan memiliki gerakan olahraga sendiri yang memancing senyum lebar guru mereka.
Tiga puluh menit penuh perjuangan para guru dalam menjaga suasana tetap kondusif pun berakhir, biasanya anak-anak langsung diarahkan masuk kelas, namun kali ini ditahan di halaman bercahayakan sinar matahari pagi.
Dari dalam kantor guru, kepala sekolah dan wakilnya keluar dengan mendorong meja beroda, di atas meja terdapat nasi tumpeng komplit dengan lauk pauknya.
Saniya mendekati sang sahabat, bertanya sedikit keras karena suara bising anak-anak. “Ada acara apa, Erlin?”
.
.
Bersambung.
ini sdh pol pas... bagus
si kecil ardan & si tita mulut racun😁
jngn di ganti lg ya kak cublik
lupakan lepaskan belenggu masa lalu.. sambutlah masa depan
dahayu apa kabarrr...