Sebuah kisah tentang seorang pria dari masa lalu yang bangkit di masa ini.
Di masa ini, ia bertemu dengan perempuan yang mirip dengan seseorang yang ia cintai di masa lalunya. Seseorang yang tidak berani ia gapai karena kondisi fisiknya yang seperti monster saat itu.
Akankah ia berhasil menyingkirkan kenangan buruk masa lalunya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Tidak Terduga
Tidak sampai beberapa tarikan napas, suara pertempuran perlahan menghilang. Jalan yang sebelumnya dipenuhi puluhan anggota Kelompok Serigala Hutan Angin kini hanya menyisakan Zho Yu.
Pria itu berdiri dengan tubuh gemetar. Matanya terus mengikuti Hao Mi yang baru saja berhenti beberapa langkah di depannya.
Makhluk besar dari kegelapan tersebut tidak mengatakan apa-apa. Tatapannya yang menyerupai manusia siluman naga membuat Zho Yu merasa seolah sedang berhadapan dengan kematian itu sendiri.
Zho Yu menelan ludah. Ia perlahan mengalihkan pandangan kepada Lan Suya. Tatapannya mengandung permohonan. Ia berharap wanita itu mau menghentikan makhluk mengerikan tersebut.
Namun Hao Mi tiba-tiba bergerak.
Wusss!
Tubuh besarnya melesat seperti bayangan. Zho Yu bahkan belum sempat memahami apa yang terjadi ketika kepalan tangan Hao Mi sudah menghantam tubuhnya dengan telak.
Boom!
Tubuh Zho Yu terlempar beberapa meter. Ia jatuh keras ke tanah. Darah mengalir dari sudut bibirnya. Tulang-tulang di dalam tubuhnya terasa seperti telah hancur. Napasnya tersengal-sengal, sementara kesadarannya perlahan menghilang.
Hao Mi berjalan mendekatinya. Zho Yu mencoba mengangkat tangannya, tetapi tubuhnya sama sekali tidak mampu bergerak. Beberapa saat kemudian, ia hanya bisa terbaring dengan napas yang sangat lemah.
Hao Mi memastikan pria itu tidak lagi memiliki kemampuan untuk melawan. Setelah itu, ia berbalik dan berjalan menuju tempat beberapa anggota kelompok tersebut sebelumnya tumbang.
Ia membungkuk. Satu per satu cincin ruang milik anggota Kelompok Serigala Hutan Angin dikumpulkannya. Setelah semuanya terkumpul, Hao Mi kembali menuju Sha Nuo.
Ia berdiri di samping kuda hitam tersebut lalu menyerahkan seluruh cincin ruang itu kepada tuannya.
“Tuan.”
Sha Nuo menerima cincin-cincin tersebut.
“Terima kasih, Hao Mi.”
Hao Mi mengangguk.
Pada saat berikutnya, kegelapan kembali menyebar dari bawah kaki Sha Nuo. Bayangan hitam yang pekat menjalar ke seluruh jalan.
Tubuh para anggota Kelompok Serigala Hutan Angin yang telah tumbang perlahan ditelan kegelapan. Tidak ada suara jeritan. Tidak ada bekas tubuh yang tersisa. Semuanya menghilang.
Beberapa detik kemudian, jalan tersebut kembali terlihat seperti sebelumnya. Seolah-olah tidak pernah terjadi pertarungan apa pun.
Hao Mi sendiri berdiri di dalam bayangan yang berada di bawah kuda Sha Nuo. Tubuhnya perlahan tenggelam. Dalam beberapa tarikan napas, sosok besar itu juga menghilang. Kegelapan itu akhirnya lenyap.
Para anggota Harta Langit hanya bisa menatap pemandangan tersebut dengan perasaan campur aduk. Ada yang merasa takut dan ada yang kagum.
Sebagian lainnya bahkan tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Mereka baru saja melihat sebuah kelompok yang terdiri dari puluhan pendekar dihancurkan dalam waktu yang sangat singkat.
Sha Nuo menyadari tatapan semua orang. Ia menggaruk kepalanya.
“Aku hanya tidak ingin mereka mengganggu orang lain nantinya.”
Suasana langsung hening. Tidak ada yang menjawab. Sha Nuo mulai merasa canggung.
Namun beberapa saat kemudian, salah seorang anggota Harta Langit justru mengangguk kuat.
“Senior benar.”
Yang lain segera ikut berbicara.
“Benar. Kalau mereka dibiarkan, mereka pasti akan terus melakukan hal yang sama kepada rombongan lain.”
“Kelompok seperti itu memang sudah terlalu berbahaya.”
“Senior Nuo telah melakukan hal yang benar.”
Suasana yang sebelumnya tegang perlahan berubah. Sha Nuo tertawa kecil.
“Kalau kalian semua sudah berkata seperti itu, mari kita lanjutkan perjalanan.”
“Baik, Senior!”
Rombongan kembali bergerak.
Tidak lama kemudian mereka tiba di sebuah desa yang sebelumnya sudah terlihat dari kejauhan. Rombongan berhenti untuk beristirahat.
Para anggota Harta Langit memberikan makanan dan air kepada kuda-kuda mereka. Beberapa orang juga membeli makanan sederhana dari penduduk desa untuk mengisi tenaga. Setelah beberapa waktu, perjalanan kembali dilanjutkan.
Matahari perlahan tenggelam di ufuk barat. Langit berubah menjadi gelap. Lampu-lampu dari kereta kuda mulai dinyalakan ketika rombongan akhirnya melihat tembok kota yang menjulang tinggi di kejauhan.
Itu adalah Kota Wuye. Setelah perjalanan sepanjang hari, mereka akhirnya tiba di tujuan mereka.
Ketika rombongan mendekati gerbang kota, para penjaga segera mengenali lambang Harta Langit yang terdapat pada kereta. Salah seorang penjaga bahkan langsung memberi isyarat kepada rekan-rekannya.
“Itu rombongan Harta Langit.”
“Biarkan mereka masuk.”
Tidak ada pemeriksaan yang rumit. Harta Langit sudah memiliki hubungan dagang yang sangat luas di Kota Wuye. Para penjaga mengenal mereka dan tidak ingin mempersulit rombongan tersebut.
Kereta kuda pun melewati gerbang. Begitu memasuki kota, suasana langsung terasa berbeda. Meskipun sudah malam, jalan-jalan utama Kota Wuye masih dipenuhi orang. Lampion tergantung di sepanjang jalan, sementara suara pedagang dan pengunjung terdengar dari berbagai arah.
Lan Suya membuka tirai kereta dan melihat keluar.
“Pertama-tama kita makan dulu.”
Gao Rui langsung tersenyum.
“Bagus!”
Sha Nuo yang kini menunggang kuda di samping kereta tertawa kecil.
“Sepertinya sejak tadi kau memang menunggu kesempatan itu.”
Gao Rui menggaruk kepalanya.
“Perjalanan seharian membuatku lapar, Paman.”
Lan Suya ikut tertawa kecil.
“Kalau begitu kita mencari tempat yang bagus.”
Rombongan akhirnya berhenti di sebuah rumah makan yang cukup besar. Kedai Makan Bulan Kesembilan.
Rumah makan tersebut terkenal di Kota Wuye. Makanan yang disajikan memiliki rasa yang sangat baik, tetapi harga yang ditawarkan juga tergolong mahal.
Bagi kebanyakan orang, makan di tempat ini beberapa kali saja sudah cukup menguras tabungan. Namun bagi Lan Suya, harga tersebut tentu bukan masalah. Terlebih lagi, Sha Nuo ada bersama mereka malam ini. Lan Suya sudah memutuskan untuk menjamunya.
Para anggota Harta Langit memilih makan di lantai bawah. Sementara itu, Lan Suya, Gao Rui, dan Sha Nuo naik ke lantai atas. Mereka memilih sebuah meja di dekat jendela.
Setelah duduk, seorang pelayan segera datang.
“Nyonya, Tuan, silakan memesan.”
Lan Suya menyerahkan daftar pesanan.
“Bawakan beberapa hidangan khas tempat ini. Tambahkan juga beberapa hidangan terbaik kalian.”
Pelayan itu langsung mengangguk.
“Baik.”
Gao Rui tampak sangat antusias. Ia bahkan mulai melihat daftar makanan yang tersisa.
“Bibi, yang ini kelihatannya enak.”
“Pesan saja.”
“Yang ini juga.”
“Pesan.”
Gao Rui menoleh kepada Sha Nuo.
“Paman, bagaimana dengan yang ini?”
Sha Nuo melihat daftar tersebut sebentar.
“Kalau kau mau, pesan saja.”
Wajah Gao Rui langsung cerah.
Tidak lama kemudian, makanan mulai berdatangan. Aroma daging panggang, sup hangat, sayuran tumis, ikan kukus, serta berbagai hidangan khas Kota Wuye memenuhi meja.
Gao Rui langsung mengambil sumpit. Lan Suya tertawa kecil melihat tingkahnya.
“Makanlah perlahan. Tidak ada yang akan mengambil makananmu.”
Gao Rui mengangguk sambil tersenyum. Mereka bertiga mulai makan.
Suasana yang sejak perjalanan terasa cukup tegang akhirnya menjadi hangat. Sha Nuo beberapa kali menceritakan kejadian-kejadian yang pernah dialaminya. Gao Rui mendengarkan dengan penuh minat, sesekali tertawa ketika mendengar cerita yang menurutnya lucu.
Lan Suya juga beberapa kali tertawa kecil. Ia tidak menyangka Sha Nuo yang biasanya terlihat pendiam ternyata memiliki cukup banyak cerita menarik.
Untuk sesaat, masalah mengenai pernikahan yang akan dihadapinya minggu depan terasa jauh dari pikirannya. Ia hanya menikmati makan malam bersama dua orang yang membuat perjalanan ini terasa lebih menyenangkan.
Namun suasana hangat itu tiba-tiba berubah. Dari belakang Lan Suya terdengar suara seorang perempuan.
“Kau... Lan Suya?”
Tangan Lan Suya yang sedang memegang sumpit langsung berhenti. Senyumnya perlahan menghilang. Ia menoleh ke belakang.
Seorang perempuan berdiri beberapa langkah dari meja mereka. Tatapan perempuan itu tertuju langsung kepada Lan Suya.
Wajahnya menunjukkan keterkejutan. Lan Suya juga tampak terkejut melihatnya.
“...Kau?”
Perempuan itu tersenyum.
“Benar-benar kau.”
Sha Nuo yang duduk di seberang Lan Suya ikut mengalihkan pandangan. Gao Rui juga berhenti makan.
Pertemuan tak terduga itu membuat suasana di meja mereka mendadak berubah. Perempuan itu menatap Lan Suya beberapa saat sebelum akhirnya berkata,
“Sudah lama tidak bertemu.”