NovelToon NovelToon
Musuh Bebuyutan Kok Pacaran?

Musuh Bebuyutan Kok Pacaran?

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Romantis / Komedi
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rofiwan

Dafa Mahendra itu kapten basket paling keren se-antero sekolah, tapi otaknya suka agak lemot kalau urusan cinta. Niatnya mau nembak Kinar Kirana (kapten basket putri) pakai cara super romantis di koridor yang gelap, Dafa malah salah sasaran! Akibat salah narik tangan karena panik, dia justru menyatakan cinta ke Lilis Nurmala—kapten cheerleader sekaligus musuh bebuyutannya yang super galak dan hobi adu mulut dengannya.

Sialnya, momen salah tembak itu viral! Demi menjaga gengsi dan menghindari hukuman dari guru karena bikin keributan, mereka terpaksa pura-pura pacaran. Di sisi lain, Kinar yang aslinya naksir Dafa mulai panik dan mencoba merebut Dafa kembali. Belum lagi Azril, kapten futsal yang protektif banget sama Lilis, siap menghajar Dafa kapan saja. Tapi, siapa sangka? Dari yang tadinya hobi bertengkar, saling mengejek, dan pasang jebakan jail tiap hari di kelas, Dafa dan Lilis justru pelan-pelan malah saling bikin baper beneran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ribut mulu 14.

Dafa masih mengusap pipinya yang memerah, menatap Lilis dengan pandangan antara dongkol dan heran. Koridor sekolah sudah makin redup diguyur warna jingga pekat yang perlahan mati.

"Gua beneran heran sama jalan pikiran lu," gerutu Dafa sambil berdiri, membersihkan celana abu-abunya dari debu semen. "Untung gua sabar. Kalau cowok lain, udah lu ditinggal sendirian di sini biar digotong sama hantu penunggu ring basket."

Lilis masih memeluk lututnya, menenggelamkan separuh wajahnya di sana agar Dafa tidak melihat rona merah yang belum hilang dari pipinya. "Ya lagian lu ngapain tiba-tiba ngorbanin jarak sosial begitu? Refleks tahu!"

"Refleks lu mirip atlet muay thai, tahu nggak?" Dafa mendengus. Tanpa aba-aba, dia berbalik membelakangi Lilis lalu merendahkan tubuhnya. Kedua tangannya bertumpu pada lutut sendiri. "Ayo. Naik."

Lilis mengerjap. "Ngapain?"

"Ngapain lagi? Tidur siang? Ya gua gendong lah! Lu mau jalan jinjit pakai satu kaki sampai parkiran depan? Yang ada besok kaki lu diamputasi."

"Mulut lu ya, Daf, bener-bener minta ditampol sebelah kiri lagi," cibir Lilis. Namun, melihat punggung lebar Dafa di depannya, dadanya kembali berdesir.

Sadar tidak punya pilihan lain dan gengsinya sudah runtuh setengah, Lilis akhirnya condong ke depan. Dia melingkarkan lengannya di leher Dafa dengan ragu-ragu.

Begitu kedua tangan Dafa menyangga bawah paha Lilis dan mengangkatnya, Lilis refleks memekik kecil. Tubuh Dafa ternyata jauh lebih tegap dan kokoh dari yang terlihat. Aroma sabun maskulin yang bercampur sisa keringat tipis dari cowok itu langsung menyeruak masuk ke indra penciuman Lilis. Dekat sekali.

"Lu hobi makan apa sih? Berat juga," celetuk Dafa saat mereka mulai berjalan menyusuri koridor yang sepi.

"Gua cuma empat puluh delapan kilo, ya! Lu-nya aja yang lemes!" Lilis membela diri, menyembunyikan wajahnya di bahu belakang Dafa.

"Iya deh, Kapten. Terserah lu," sahut Dafa, terkekeh pelan. Ritme langkah Dafa terasa sangat konstan dan hati-hati. Dia sengaja tidak berjalan terlalu cepat atau melakukan gerakan mengejutkan agar pergelangan kaki Lilis tidak terguncang.

Sentuhan tangan Dafa di pahanya terasa kokoh tapi sama sekali tidak lancang. Ada rasa aman yang mendadak melingkupi Lilis.

Sepanjang jalan menuju parkiran, yang terdengar hanya gema sepatu Dafa dan helaan napas mereka yang teratur.

Begitu sampai di samping motor matic milik Lilis, Dafa menurunkan gadis itu dengan sangat hati-hati. Dia memastikan kaki kiri Lilis menapak dengan nyaman lebih dulu sebelum melepas tumpuannya.

"Bisa naik sendiri?" tanya Dafa, nadanya melunak lagi.

"Bisa. Kan kaki kanan yang cedera, tinggal naik doang, gasnya pakai tangan," jawab Lilis sambil memegang stang motornya. Dia memakai helm, lalu menyalakan mesin. "Makasih ya, Buat... urutannya. Sama gendongnya."

Dafa memasukkan kedua tangan ke saku celana, menatap Lilis datar tapi matanya melembut. "Sama-sama. Pulang langsung kompres air dingin. Jangan kelayapan."

"Iya, Cerewet." Lilis menarik gasnya perlahan, meninggalkan Dafa yang masih berdiri di area parkir yang sepi.

Dafa menaiki motor sport hitamnya beberapa menit kemudian. Pikirannya agak rancu. Sentuhan fisik yang tidak sengaja tadi menyisakan getaran aneh di dadanya. Dia melajukan motornya santai membelah jalanan sore yang mulai padat oleh volume kendaraan jam pulang kerja.

Saat tertahan di lampu merah perempatan besar dekat alun-alun kota, Dafa menghentikan motornya di barisan tengah. Dia membetulkan posisi spion kanannya yang agak miring.

Tepat saat kaca spion itu lurus, objek yang tertangkap di dalamnya membuat gerakan tangan Dafa terhenti.

Tiga motor di sebelah kiri belakangnya ada Lilis.

Gadis itu sedang menaikkan kaca helmnya sedikit, membiarkan angin sore menerpa wajahnya yang kelihatan lelah. Dari sudut pandang spion Dafa, profil samping Lilis terlihat sangat jelas.

Garis rahangnya yang lembut, hidungnya yang kecil, dan bibir tipisnya yang malam ini entah kenapa terlihat sedikit merah alami.

Saat terkena pantulan cahaya lampu jalanan yang mulai menyala, wajah polos Lilis tanpa make-up lapangan itu terlihat... sangat mulus. Dan cantik.

Dafa terpaku. Dia memandangi pantulan wajah Lilis lewat kaca spion kecil itu tanpa berkedip. Jantungnya berkhianat lagi, berdetak lebih cepat daripada putaran mesin motornya.

Selama ini dia hanya melihat Lilis sebagai kapten cheerleader yang galak dan tegas di lapangan. Dia hampir lupa kalau cewek yang sering dia ajak adu mulut ini punya sisi serapuh dan semanis ini.

Tin!!! Tin!!!

Suara klakson nyaring dari mobil di belakangnya membuyarkan lamunan Dafa.

Dia tersentak. Lampu sudah berubah hijau. Di depannya, motor matic putih Lilis sudah bergerak maju, berbelok ke arah kiri menembus jalan alternatif.

Tanpa berpikir panjang, Dafa langsung memutar stangnya ke kiri, mengikuti jalur Lilis.

Otaknya menyuruhnya pulang ke rumah yang arahnya berlawanan, tapi tangannya justru menahan gas untuk tetap berada dalam jarak aman di belakang motor gadis itu.

Dia hanya ingin memastikan Lilis sampai rumah dengan selamat dengan kaki cedera seperti itu. Setidaknya, itu alasan logis yang dipakai Dafa untuk membodohi dirinya sendiri.

Lilis mematikan mesin motornya di depan pagar sebuah rumah minimalis berpagar hitam. Saat dia hendak turun dengan bertumpu pada kaki kirinya, sebuah deru mesin motor sport yang sangat familiar berhenti tepat di belakangnya.

Lilis menoleh dan matanya membelalak. Dafa membuka kaca helm full-face-nya.

"Lu... ngapain ngintilin gua?!" tuduh Lilis langsung, pincang sedikit sambil memegangi pagar.

Dafa turun dari motor, melepas helmnya santai. "Siapa yang ngintilin? Rumah temen gua daerah sini, ya. Geer banget lu."

"Temen lu siapa? Setahu gua anak-anak tongkrongan lu rumahnya di komples sebelah utara semua!" Lilis melipat tangan di dada, menatap Dafa curiga. "Lu sengaja ya ngikutin gua dari lampu merah tadi? Gua liat lu di spion!"

"Oh, jadi lu yang hobi nyariin gua lewat spion?" Dafa balik memojokkan sambil berjalan mendekat, menyunggingkan senyum jahil andalannya. "Lagian lu bawa motor udah kayak siput pasrah, lambat bener. Gua kan cuma mastiin kapten cheerleader sekolah nggak pingsan di jalan terus nabrak tukang bakso."

"Gua bawa motor hati-hati karena kaki gua sakit, Dafa!" seru Lilis kesal, wajahnya memerah lagi antara gemas dan salah tingkah karena ketahuan memperhatikan spion. "Udah sana pulang! Dicariin emak lu tahu rasa!"

"Gua emang mau pulang. Cuma mau mastiin lu masuk rumah dulu dengan selamat," kata Dafa. Kalimat itu keluar begitu saja, membuat suasana mendadak hening lagi selama beberapa detik. Dafa berdeham, mencoba mengalihkan kecanggungan. "Ya udah, masuk sana. Udah magrib juga."

Lilis terdiam, rasa kesalnya mendadak menguap digantikan oleh rasa hangat yang kembali menyergap dadanya. Dia membalikkan badan, membuka selot pagar rumahnya. "Makasih, Daf. Atas... semuanya hari ini."

Dafa tersenyum tipis, jenis senyuman tulus yang jarang dia perlihatkan di sekolah. "Yoi. Besok gua jemput. Jangan bawa motor dan jangan protes, ini perintah dari pelatih lewat gua."

Sebelum Lilis sempat protes atau menanyakan kebenaran kalimat itu, Dafa sudah memakai helmnya, menyalakan mesin, dan melesat pergi meninggalkan koridor jalan depan rumah Lilis yang kini dipenuhi senyum kecil yang tertahan di bibir gadis itu.

......................

...****************...

Tbc,

1
Gege Mas
yaaah pikir plotnya lilis hilang ingatkan..trus jadi berpuluh puluh episode buat kembali ingat dafa..🤣
Gege Mas
apik Dan epic
Gege Mas
perasaan di bab berapa sudah di perjelas..disini di putar balik lage.. othor memainkam durasi ini..🤣🤭
Rofiwan: satu bab doang /Sob/🤣
total 1 replies
falea sezi
makanya jangan bego dava.. ayo lis putusin hubungan pura2 kalian
falea sezi
makanya jd cowok jangan serakah suka lilis malah nemenin mantan gebetan🤣🤣 plin plan elu🤣
falea sezi
abis ne bodoh amat m dava donk lis jual. mahal putusin hubungan pura2🤣 berjuang apanya pret si dava
mars-venus
ceritanya gak bosenin asliii
mars-venus
jujur ini gimana caranya berenti baca novel.. berasa males kerja pen baca sampe akhir😫
falea sezi
lanjut
falea sezi
jual mahal lis ngapain ngejar cowok duluan🤣 ogah amat mending di cintai Dripada mencintai
falea sezi
biarin aja lis dava ma Kinar 🤣 nanti jg dia nyesel tp uda telatt🤣
falea sezi
lanjut q kirm hadiah
Gege Mas
luncurkan 10k kata Thor...gasskeun
Nita Nita
wekwekwekwek 😄
Queen Aisyah
woy, sampe keselek siomay saya baca ginian/Sob//Curse/
Nita Nita
😄😄😄😄😄🤣🤣🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!