Di balik utang yang mencekik, janji gaib menanti di atas bukit.
Terdesak tagihan, biaya sekolah tertunggak, dan ancaman penyitaan toko besok pagi, seorang ayah di ujung keputusasaan mendengar rahasia: tetangganya Pak Kasan mendadak kaya setelah mendatangi Simbah, juru kunci Makam Keramat Panjang.
Makam berukuran tak lazim di bukit itu konon memberi pinjaman tanpa bunga bagi yang terdesak. Tapi di dunia gaib, tak ada yang benar-benar gratis. Saat wangi pandan basah dan tanah kuburan mulai menyelimuti kamarnya, ia harus memilih sebelum subuh: seberapa mahal harga yang dibayar, saat yang dipertaruhkan bukan harta, melainkan nyawa sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17 — SAJEN KERBAU DAN PENETAPAN ABADI
Malam Selasa Kliwon tiba membawa gulita pekat yang membendung seluruh lereng bukit.
Hujan deras mengguyur bumi, disertai angin kencang yang mematahkan ranting-ranting pohon jati tua.
Aku berdiri kaku di tengah ruang dapur, memandangi kerbau hitam mulus yang dituntun Ujang.
Kerbau hitam berukuran raksasa itu membisu kaku di samping meja kayu, tanpa mengibas ekornya.
“Mas... apakah kerbau raksasa ini yang bakal kamu sembelih di atas bukit nanti malam?” tanya Ningsih berbisik gemetar.
Istriku melangkah mendekat sambil memeluk tubuh Dedek yang terbangun dari tidurnya.
“Iya, Ningsih, ini sajen kerbau hitam buat puncak penetapan kejayaan toko kita,” jawabku pelan.
“Apakah kamu tidak takut melangkah sendirian menuntun kerbau ini di dalam hutan pekat, Mas?” tanyanya cemas.
“Aku jauh lebih takut kalau sampai keselamatan anak dan istriku terancam lagi, Ningsih,” tegasku.
“Aku takut sekali kalau raga dan jiwamu hancur ditelan iblis makam itu, Mas,” rintih Ningsih menangis terisak.
“Jangan biarkan rasa cemas merusak pikiranmu malam ini, Ningsih,” bujukku pelan memegang bahunya.
“Aku pasti akan pulang kembali membawa keselamatan buat keluarga kita,” janji serakku menenangkan.
“Tolong jaga Dedek baik-baik di dalam kamar tidur selama aku pergi ke puncak bukit,” pesanku mengarahkan.
“Iya, Mas, aku akan memeluk Dedek di kamar dan berdoa terus sampai kamu kembali,” sahut Ningsih terisak.
“Jangan pernah membuka pintu dapur buat siapa pun sebelum mendengar ketukan tiga kali dariku,” pesanku lagi.
“Baik, Mas, aku mengerti pesanmu, aku pasti akan menunggu ketukan tiga kali darimu,” janji Ningsih.
Aku mengangguk pelan, lalu menyelipkan parang panjang tajam yang sudah diolesi minyak mawar di saku celana.
Kantong goni besar berisi empat puluh sembilan kuntum bunga kantil putih kuselempangkan di pundak.
Ujang menyerahkan tali tambang besar pelikat leher kerbau hitam itu ke dalam jemari tangan kiriku.
“Ingat baik-baik pesan Simbah, Mas! Sembelih leher kerbau ini tepat pukul dua belas malam!” tegas Ujang.
“Tancapkan empat puluh sembilan bunga kantil putih itu berjejer rapi di atas gundukan tanah!” tambahnya.
“Jangan biarkan kerbau ini bersuara mengusik keheningan hutan sebelum disembelih!” gertak Ujang memperingatkan.
“Kalau kerbau ini mengembik atau meronta di jalan... perjanjian gaib batal dan ragamu ditarik!” ancamnya.
Aku menelan ludah yang terasa sangat pahit dan menyiksa tenggorokan mendengarkan peringatan Ujang.
“Aku pasti akan menjaga mulut kerbau ini rapat-rapat sampai ke atas batu nisan, Jang,” janji pasrahku.
“Baguslah kalau kamu paham, pergilah sekarang sebelum kegelapan malam makin pekat!” pesan Ujang.
Aku menuntun kerbau hitam raksasa itu melangkah keluar dari pintu dapur belakang rumah.
Drap! Drap! Drap!
Langkah kaki kerbau raksasa itu menapak keras di atas permukaan jalanan tanah setapak yang basah.
Jalanan tanah setapak menuju puncak bukit terasa kian menanjak licin dan sangat gelap pekat.
Srik!
Suara gersak dedaunan kering di balik rumpun bambu membuat langkah kakiku mendadak terhenti kaku.
Bayangan hitam tinggi besar berdiri membungkuk di balik rimbunan pohon pisang liar.
Dua titik mata merah menyala menatapku lurus-lurus dari balik kegelapan semak-semak hutan.
“Siapa yang berdiri di balik pohon pisang itu?” tanyaku berbisik dengan nada suara bergetar hebat.
“Apakah kamu utusan gaib dari Makam Keramat Panjang yang sengaja mengawasi langkahku?” tanyaku tegang.
“Jawab pertanyaan saya sekarang kalau kamu memang penunggu hutan ini!” seruku berusaha tegar.
Tidak ada jawaban suara kata manusia yang membalas bisikan ketakutanku di tengah hutan sepi.
Namun desah napas dingin berbau bangkai busuk terasa menyapu lembut tengkuk leher kiriku.
Suara tawa serak seorang wanita tua mendadak bergema sangat dekat di samping daun telinga.
“Surya... bawa kerbau hitam raksasa itu ke batu nisan tempat rumahku...” bisik suara gaib itu.
“Sembelih lehernya dan tancapkan empat puluh sembilan bunga kantil putih di tanahku...” tambah suara mendesis.
“Anak dan istri mu di rumah sedang menunggu kepulanganmu membawa kepastian...” lanjut suara dingin itu.
“Ingat kata Ujang, jangan pernah menoleh ke belakang sedikit pun!” bisikku mengingatkan diri.
“Fokuskan pikiran cuma buat sampai ke puncak bukit makam keramat!” tegasku menguatkan hati.
Aku memejamkan mata rapat-rapat, lalu melangkah berlari sekuat tenaga menaiki tanjakan bukit.
Drap! Drap! Drap!
Langkah kakiku menapak deras di atas bebatuan licin dan perakaran pohon jati tua yang melilit.
Di ujung tanjakan bukit, dua tiang batu hitam berlumut berdiri menatap anggun dan angker.
Makam Keramat Panjang terhampar membisu di bawah naungan pohon kamboja raksasa yang rindang.
Gundukan tanah makam sepanjang lima meter itu membentang kaku di atas tanah pelataran bukit.
Cklek!
Suara dentang jam dinding dari balai desa di kejauhan terdengar berbunyi dua belas kali berturut-turut.
Tepat pukul dua belas malam, puncaknya malam Selasa Kliwon yang paling sakral dan mengerikan.
Aku menuntun kerbau hitam raksasa itu mendekati batu nisan tua di ujung gundukan makam.
“Permisi, Mbah... saya Surya datang membawa sajen kerbau hitam Selasa Kliwon,” bisikku gemetar.
“Saya datang buat menepati janji puncak penetapan sajen kejayaan keluarga saya,” tambahku serak.
“Saya mohon dengan sangat, lindungilah anak dan istri saya dari bahaya gaib,” pintaku memohon ampun.
Grombol!
Tanah merah di atas gundukan makam sepanjang lima meter itu mendadak berguncang sangat hebat.
Retakan-retakan tanah terbuka lebar, mengeluarkan asap hitam tebal yang berbau bangkai menyengat.
Dua lengan hitam raksasa berdaging busuk menerobos keluar dari dalam gundukan tanah makam.
Jemari berkerut dengan kuku-kuku hitam panjang mencengkeram erat pinggiran batu nisan tua.
Sosok mahluk raksasa tinggi besar membungkuk berdiri perlahan di atas gundukan tanah makam.
Wajahnya yang hancur membusuk tidak memiliki hidung, dan dua titik matanya menyala merah terang.
“Surya... kamu datang membawa kerbau hitam raksasa dan empat puluh sembilan kantil...” gemuruh suara gaib.
“Apakah kamu benar-benar membawa kerbau hitam mulus tanpa cacat malam ini?” tanyanya bergemuruh.
Aku terpaku kaku berlutut di atas tanah basah, dadaku bergemuruh dihantam rasa takut luar biasa.
“Saya datang membawa kerbau hitam raksasa mulus tanpa cacat sesuai perintah, Mbah,” sahutku bergetar.
“Tancapkan empat puluh sembilan bunga kantil putih itu di atas gundukan tanahku sekarang!” perintah mahluk itu.
“Sembelih leher kerbau hitam raksasa itu dan tumpahkan darahnya tepat di atas nisanku!” serunya.
Dengan jemari gemetar hebat, aku mengeluarkan empat puluh sembilan kuntum bunga kantil putih dari goni.
Aku menancapkan satu per satu bunga kantil putih itu berjejer rapi di atas gundukan tanah merah.
Bunga kantil putih berdiri memutar mengelilingi gundukan tanah makam sepanjang lima meter utuh.
Setelah itu, aku menekan tubuh kerbau hitam raksasa itu bersujud di atas batu nisan tua.
Kerbau hitam itu tetap membisu kaku tanpa meronta sedikit pun, menempelkan lehernya di batu nisan.
Aku merogoh parang panjang tajam dari saku celana dengan jemari tangan kanan yang bersisik hitam.
Sret!
Bilah parang panjang tajam kugoreskan keras menembus urat leher kerbau hitam raksasa tersebut.
Darah segar berwarna merah gelap memancar keras menyembur membasahi permukaan batu nisan tua.
Grojok!
Aroma wangi amis darah menyengat pekat membumbung tinggi bercampur dengan asap hitam makam.
Kerbau hitam raksasa itu berguncang kejang sebentar di atas nisan sebelum akhirnya terkulai mati kaku.
Begitu darah kerbau hitam terserap tanah, mahluk raksasa itu mengaum keras mengerikan.
Auman gaib itu bergemuruh hebat mengguncang seluruh pepohonan hutan dan tanah pelataran bukit.
“Darah manis kerbau hitam raksasa ini sangat nikmat membakar dahagaku!” seru mahluk itu.
“Wangi empat puluh sembilan bunga kantil ini menyempurnakan penetapan perjanjian gaib kita!” tambahnya.
Mahluk raksasa itu membungkukkan wajah hancurnya tepat di atas batu nisan yang berlumur darah.
Mulut besarnya yang bertaring tajam mengisap lelehan darah segar kerbau hitam dari batu nisan.
Pendar cahaya merah menyala dari matanya makin berkilau terang di dalam kegelapan malam.
“Sajen darah kerbau hitam Selasa Kliwon sudah kuterima utuh dan sempurna, Surya!” gemuruh suara gaib.
“Toko grosirmu akan menjadi yang terbesar dan tak tertandingi di seluruh pelosok negeri!” tegas mahluk itu.
“Uang puluhan juta rupiah akan terus membanjiri kotak kasir tokomu tanpa pernah surut!” lanjutnya.
“Terima kasih banyak, Mbah! Terima kasih atas kelarisan dan kejayaan toko saya!” jeritku gemetar.
“Ingat baik-baik, ikatan perjanjian modal gaib ini tetap berlaku abadi seumur hidupmu!” ancam mahluk itu.
“Setiap Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon kamu wajib datang menjalankan kewajiban sajen!” tegasnya.
“Sisik hitam di lengan kananmu adalah segel sah kepemilikan ragamu di rumahku!” lanjut mahluk itu.
“Makin kaya tokomu... makin tebal sisik hitam yang membungkus raga dan dagingmu!” gertaknya keras.
“Kalau kamu alpa satu kali saja... sisik hitam itu merambat menelan jantung dadamu!” ancam mahluk itu.
“Saya janji tidak akan pernah alpa, Mbah! Saya akan selalu datang mematuhi perintah!” sahutku bersumpah.
“Saya akan rajin membawa sajen dan menyembelih darah segar setiap jadwal ritual!” janjiku.
“Pulanglah sekarang sebelum kegelapan malam menelan raga dan jiwamu!” perintah mahluk raksasa itu.
“Pergilah sekarang menemui istri dan anakmu yang sedang menunggu di rumah!” serunya bergemuruh.
Aku berlari menuruni bukit tanpa berani menoleh ke belakang sedikit pun jua di jalanan setapak.
Drap! Drap! Drap!
Langkah kakiku menapak deras menembus kegelapan jalanan tanah setapak yang licin berembun.
Aroma wangi bunga kantil busuk dan bau bangkai perlahan-lahan memudar hilang ditiup angin.
Sesampainya di halaman rumah panggung, aku segera mendorong pintu dapur belakang dan menguncinya.
Tok! Tok! Tok!
Aku mengetuk pintu dapur tiga kali sesuai dengan kode janji yang kubuat bersama Ningsih.
Ningsih bergegas membuka selot kayu pintu dapur dari dalam dengan raut wajah lega luar biasa.
“Alhamdulillah ya Allah... kamu sudah pulang kembali dengan selamat, Mas!” jerit Ningsih memelukku.
“Aku sudah menuntaskan seluruh ritual sajen kerbau hitam di atas bukit, Ningsih,” jawabku pelan.
Aku meletakkan parang panjang dan goni kosong di atas meja kayu dapur.
Dedek sedang tertidur pulas di atas ranjang bambu dengan nafas yang sangat halus dan teratur.
Wajah anak kami terlihat sangat bersih, hangat, dan bebas dari bekas pendar memar hitam gaib.
“Bagaimana kondisi tempat makam keramat itu saat kamu menyembelih kerbau tadi, Mas?” tanya Ningsih.
“Suasana di makam itu sangat mencekam dan menakutkan, Ningsih,” jawabku berbisik jujur.
“Apakah mahluk gaib penunggu makam itu benar-benar menerima sajen kerbau hitammu, Mas?” tanya Ningsih.
“Mahluk itu menerima seluruh sajen kerbau hitam dan empat puluh sembilan bunga kantil, Ningsih,” tuturnya.
“Penunggu makam sudah berjanji menjamin kelarisan toko grosir kita tanpa hambatan,” tambahku.
“Beliau bilang usaha toko kita akan makin melimpah uang puluhan juta rupiah,” tuturku menghibur.
“Alhamdulillah ya Allah... terima kasih banyak sudah menyelamatkan keluarga kami malam ini,” rintih Ningsih.
“Tapi tolong perlihatkan lengan tangan kananmu sekarang, Mas,” minta Ningsih berbisik cemas.
Aku perlahan melepaskan gulungan kain kemeja lengan tangan kananku di bawah lampu minyak tanah.
Di bawah pendar redup lampu minyak, pemandangan mengerikan pada tangan kananku terlihat jelas.
Sisik hitam tebal yang membungkus lengan kananku kini telah merambat naik menembus ketiak dada.
Sisik hitam gaib itu memancarkan pendar cahaya kebiruan redup yang sangat pekat dan abadi.
Garis-garis hitam kebiruan menyerupai akar pohon tua telah melingkari seluruh bahu dan dada kananku.
“Mas... sisik hitam di lenganmu ini makin tebal dan merambat naik ke dada!” jerit Ningsih gemetar.
“Sisik hitam ini adalah segel perjanjian seumur hidup yang wajib kutanggung, Ningsih,” jawabku.
“Selama aku mematuhi jadwal ritual, sisik hitam ini tidak akan membahayakan nyawa kalian,” jelasku.
“Apakah sisik hitam ini terasa sangat dingin menyengat saat kamu bernapas, Mas?” tanya Ningsih.
“Rasa nyerinya seperti tusukan es batu yang membeku, tapi aku bisa menahannya demi kalian,” jawabku.
Ningsih memeluk erat tubuhku, menangis terisak di atas dadaku dengan kepasrahan yang dalam.
“Aku akan selalu menemanimu menghadapi ujian berat perjanjian ini, Mas,” bisik Ningsih penuh haru.
“Kita tanggung beban gaib ini bersama-sama demi masa depan dan keselamatan Dedek,” sambungnya.
Aku membalas pelukan Ningsih dengan derai air mata keharuan dan tekad yang makin terpatri bulat.
Dedek menggeliat pelan di atas ranjang bambu, tersenum manis di dalam tidurnya yang tenang.
Wajah anak kami terlihat sangat polos, dilindungi oleh pengorbanan raga ayahnya sendiri.
Perjanjian berdarah di Makam Keramat Panjang kini telah resmi menjadi garis takdir hidupku.
Sisik hitam di lengan dan dadaku akan menjadi saksi abadi pengorbanan demi kebahagiaan keluarga.
---