Olivia seorang penyanyi, karirnya semakin bersinar setelah mendapat warisan bros dari sang nenek yang dulunya juga seorang sinden terkenal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anindia Andin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
siasat mely
pukul 9 malam widuri menemui dimas
pintu ruang kerja dimas di ketuk
"masuk"
widuri membuka handle pintu itu
"selamat malam Mas dimas" sapa widuri
"selamat malam mbk widuri.. mari masuk" dimas menyambut kedatangan widuri di dalam ruangannya
"itu yang perfome siapa mas?"
"Mely mungkin mbk, atau pengunjung cafe"
"ow.... Olivia ada kan mas"
"ada mbak. aku pangil ya" dimas keluar dari ruangannya
Kini Olivia berada di stage
dimas menunggu sampai Olivia selesai. Olivia menoleh ke samping mendapati dimas disana, menyuruhnya untuk turun
"vi... dicari mbk widuri"
"dimana mas?"
"di ruanganku. yuk" dimas mengajak Olivia bersamanya, Mely melihat mereka berdua, semakin tidak senang melihat kedekatan Olivia dengan dimas
"kamu lihat apa?" tanya kakok
"itu" tunjuk Mely kearah dimas dan Olivia
"ow... cemburu?" goda kakok
"kalau iya kenapa?" ucapnya ketus
"tenang, via dalam pengawasan ujang"
"ujang dekati Olivia?"
"iya... mulai yuk" ajak kakok
*****
Diruang kerja dimas, widuri menunggu dengan tenang kedatangan dimas dan Olivia
"selamat malam mbk" sapa Olivia masuk kedalam ruangan
"malam Olivia"
"wah kamu tambah cantik aja vi..." puji widuri
"biasa aja mbk. sudah cantik sejak dalam kandungan mbk" canda Olivia
"vi.. bapakmu dulu Khitannya dimana? " tanya dimas membuat Olivia dan widuri kebingungan
"khitan?" ucap Olivia "ya ndak tau mas"
"kalau tau aku mau khitan disana vi"
"lha mas dimas belum khitan?" widuri ikut nimbrung
"sudah mbak. aku mau tanya ke bapaknya via, dulu khitan dimana kok bisa menghasilkan anak secantik Olivia ini" canda dimas
"ah mas dimas bisa aja... tak kira kenapa" ujar Olivia
"hahaha.. bisa aja kamu ini mas" imbuh widuri
"aku serius lho mbk"
"haha... oh ya vi kita bahas tentang job kita ya" ujar widuri kini serius
Olivia mendengarkan penjelasan widuri
"kalau kamu setuju dengan kesepakatan tadi boleh tanda tangan disini via" ucap widuri menyodorkan beberapa lembar kertas perjanjian di atas materai
"jadi minggu ini sudah ada job mbk?"
"sudah via, Untuk jadwalnya aku kirim ke mas dimas, katanya beliau yang akan meng-handle jadwal kamu"
"iya mbk"
Setelah urusannya selesai, widuri pamit undur diri dari ruang kerja dimas
"aku antar keluar mbk" tawar Olivia
"oke via, terimakasih" widuri pergi di temani Olivia "oh ya, outfit untuk setiap event kamu siapkan sendiri ya. kamu sesuaikan aja akan event dimana. yang penting sopan"
"baik mbk"
"besok main ke studio ku, aku kenalkan dengan anggota band yang lain"
"iya mbk, besok aku datang. di share lock aja ya"
"oke via... selamat bergabung dengan team ku ya. semoga kerasan"
"iya mbk terimakasih"
Olivia mengantar widuri sampai di halaman cafe. setelah mengantar widuri, Olivia kembali bergabung bersama yang lainnya
"siapa tadi itu vi?" tanya Widi
"partner kerja mas... mas nanti duet yuk"
"boleh... mau lagu apa?"
"balungan kere"
"wah keren itu... yuk gas"
setelah Mely turun dare stage, Olivia dan Widi naik
"kalian mau duet?"
"iya"
"kamu kalau aku ajak duet ndak pernah mau wid"
"ssttt... berisik" ucap widi
"jang" sapa Mely
"kenapa mel?"
"nanti ada yang perlu aku bicarakan"
"bicara aja sekarang Mel, kenapa harus nanti"
"aku mau bahas masalah serius jang"
"soal apa?" tanya ujang
"nanti kamu juga tau, sudah sana di tunggu itu" Mely berlalu dari hadapan ujang menemui dimas
"mas" sapa Mely berpapasan Dengan dimas
"hay Mel.. mau ke toilet?"
"mau ketemu kamu mas"
"ketemu aku? ada apa?"
dimas mengajak Mely duduk di salah satu meja yang baru di tinggalkan oleh pengunjung
"ada apa mel?"
"aku dengar Olivia dapat job di luar mas"
"iya... kenapa?"
"kenapa ndak promosikan aku mas? aku kan yang duluan disini"
"Mel... kamu jangan salah paham, aku tidak pernah mempromosikan siapapun, baik kamu ataupun Olivia. mbk Widuri datang sendiri menawarkan kerja sama dengan Olivia. itu saja sudah"
Mely tak menjawab
"kenapa? masih ndak percaya?" tanya dimas
"bukan begitu mas, hampir semua orang lebih suka kalau Olivia yang perfome"
"trus salahnya dimana Mel? kita ndak bisa lho memaksa orang untuk suka kepada kita, menurut ku kamu sudah bagus sih"
Mely diam bukan ini yang dia harapkan dari kata-kata dimas, Mely berharap dimas akan memperhatikannya seperti dia memperhatikan Olivia
"kamu sudah bagus, mungkin lebih di tingkatkan lagi perfoma kamu Mel. aku tidak mau membandingkan kamu dengan Olivia, kalian sama-sama bagusnya kok. kalau soal job, itu datang sendiri Mel. bukan keinginan Olivia atapun rekomendasi ku"
"tapi mas, semua orang disini bisa lihat lho kalau mas dimas lebih perhatian ke via"
"hey Mel... sama aja Mel.. sama. itu perasaan kamu aja"
"trus baju yang aku kasih dulu kenapa mas dimas berikan ke Olivia?"
"oke aku jelaskan soal baju itu...Melyyyy.. kemarin itu tepat 100 hari meningalnya kedua orang tua Olivia, dia terpaksa harus pulang kampung, setelah acara disana selesai dia langsung datang kesini, baju dia ketumpahan air bunga baunya wangi banget. aku merinding kalau nyium bau itu. makanya aku suruh dia ganti baju. yang ada di ruangan ku baju dari kamu itu. sudah itu aja"
"aku disini hampir 1 tahun mas, tapi belum pernah aku mas dimas antar pulang. sedangkan Olivia setiap hari mas dimas antar"
"jadi ini intinya kamu cemburu?"
"iyalah mas"
"Mel... cemburu ataupun iri itu namanya kamu artikan sendiri ya. yang jelas, aku tidak membandingkan kamu dan Olivia. kamu dan dia sama-sama membangun cafe ini"
"tapi dia baru beberapa hari sudah menyita perhatian mas dimas"
"Mel, kamu minta aku antar pulang?"
"iya"
"kamu punya pacar kan Mel? setiap hari kamu di antar jemput pacar kamu, trus kenapa kamu minta aku antar pulang? lagian rumah kita ndak searah Mel. sedangkan Olivia searah dengan ku"
Mely masih diam
"oke.. baik... nanti kamu aku antar pulang"
"beneran mas?"
"iya.. gitu aja ngambek Mel Mel... sudah sana"
"makasih mas dimas" ucap Mely sambil mencolek tangan dimas
dimas melihat ketertarikan Mely kepada dirinya
"jang" dimas menghampiri ujang di belakang stage
"iya mas"
"nanti kamu antar Olivia pulang ya"
"iya mas, tadi juga berangkat aku jemput, jadi sudah kewajibanku pulang aku antar"
"jadi kesannya ndak seperti Jailangkung gitu ya jang? datang tak di jemput pulang tak di antar" canda dimas
"kalau ada Jailangkung seperti Olivia aku mau mas"
"ngaco kamu"
****
Malam kian larut, cafe senja segera tutup. beberapa karyawan cafe itu mulai membersihkan cafe tanpa ada yang terlewat
"jang" panggil Mely
"apa mel? tadi kamu mau ngomong apa?"
"ikut aku" Mely menarik tangan ujang keluar dari cafe
"kenapa sih Mel.. jauh amat"
"jang, kamu suka sama Olivia kan?"
"iya. kenapa?"
"kamu harus dapatkan dia jang, sepertinya mas dimas juga suka sama Olivia. kalian menyukai orang yang sama"
"trus kenapa?"
"ya kamu dapatkan Olivia jang.. memangnya kamu mau Olivia jadian sama mas dimas?"
"kalau Olivia juga suka sama mas dimas trus aku mau gimana lagi Mel"
"kamu ndak mau mendapatkan dia jang?"
"mau"
"kalau kamu memang suka dengan Olivia, aku ajak kamu ke satu tempat"
"kemana? dukun?"
"bisa dikatakan begitu"
"hari gini bicara dukun Mel... ada ada aja kamu ini. sudah yuk. pulang"
"kamu pikirkan jang"
Ujang pergi Meninggalkan Mely di luar
"vi... sudah siap?" tanya ujang
"aku naik ojek aja mas"
"sudah bareng aku aja, berangkat bareng pulang juga bareng" ujar ujang sambil keluar dari cafe itu
mely menunggu dimas di luar cafe
"nunggu siapa mel?" sapa Olivia
"nunggu mas dimas" jawab mely dengan nada mengejek
"oww... oke.. kita duluan Mel"
"oke"
tak lama kemudian dimas keluar mengenakan jaket kulit
"mas dimas bawa motor?" tanya mely
"iya. yuk"
dimas menghidupkan mesin motor gedenya, mely bonceng di belakang dia. dimas memutar gas kencang menyalib ujang dan Olivia
"Hati-hati di jalan jang" sapa dimas
"oke mas" Jawab ujang
dimas melajukan motornya, mely memeluk tubuh dimas dengan kencang.
"mereka serasi ya vi" tanya ujang
"he em" hanya itu yang keluar dari mulut Olivia melihat dimas dan Mely