Cinta kadang dapat membutakan mata seseorang, itu juga yang terjadi pada Ivy. Cinta membuatnya buta hingga tega merebut tunangan saudara kembarnya sendiri.
Ivy memang berhasil, pertunangan Mateo dan Evelyn dibatalkan dan dia berhasil menikahi Mateo. Tapi sayangnya pria itu tidak pernah mencintai Ivy. Mateo melakukan banyak hal untuk menyakit hati Ivy bahkan dia juga berselingkuh hanya agar Ivy lebih terluka. Tapi Ivy selalu memaafkan Mateo.
Hingga hari itu Ivy benar-benar berhenti mencintai Mateo. Sejak Mateo lebih memilih menemani selingkuhannya dibandingkan mengantarkan putri mereka ke rumah sakit. Hingga akhirnya Ivy harus kehilangan putrinya untuk selamanya. Sejak saat itu, cinta Ivy lenyap dan dia akhirnya memilih bercerai dan meninggalkan Mateo.
Saat Ivy berpikir dia sendirian dan tak punya tempat untuk pulang, Edgar datang memberikan cahaya untuknya. Awalnya Ivy berpikir jika Edgar hanyalah pria biasa. Tapi ternyata identitas Edgar tidak sesederhana itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nitaastri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 Kebahagiaan Mateo
Selena kemudian mendorong Mateo perlahan ke arah sofa. Mateo akhirnya duduk, sementara Selena mendekat dan mengambil tempat di pangkuannya.
Tangannya terangkat, membelai kening Mateo dengan lembut, lalu turun menyusuri pipinya. Jemarinya berhenti sejenak di bibir pria itu sebelum bergerak perlahan ke lehernya.
Tatapan Selena tak pernah lepas dari mata Mateo, ada senyum tipis di wajahnya ketika tangannya kembali menyentuh pipi pria itu, lalu berhenti di sana.
Mateo hanya diam, membiarkan Selena mendekat. Jarak di antara mereka semakin menipis, hingga Selena akhirnya kembali menyatukan bibirnya pada bibir Mateo dalam sebuah ciuman yang penuh gairah.
"Ummmmmm"
Suara napas Mateo yang memburu memenuhi ruangan itu, membuat suasana seketika terasa semakin tegang. Ia memejamkan mata sejenak, berusaha mengatur napasnya, Mateo menatap selena dengan penuh gairah.
"Sayangg, kau benar-benar selalu bisa membangkitkan hasratku." Ucap Mateo sambil mengecup bibir Selena.
"Itulah sebabnya kau harus segera menikahiku, bukankah aku jauh lebih hebat dibanding Ivy. Aku jauh lebih hebat dalam memuaskan mu." Kata Selena sambil membuka kancing kemeja Mateo satu per satu, sementara Mateo hanya diam menatapnya dengan tatapan penuh gairah.
Jarak di antara mereka semakin dekat, Selena mengangkat wajahnya, menatap mata Mateo seolah ingin memastikan bahwa pria itu benar-benar menginginkan dirinya.
“Mateo...” bisiknya pelan.
Mateo tidak menjawab, tangannya justru meraih pinggang Selena dan menariknya lebih dekat. Tatapan mereka bertemu dalam diam, sebelum Selena tersenyum tipis dan kembali mendekatkan wajahnya.
"Iya sayang, suka dengan pemandangan yang kau lihat? hmmm?" Tanya Mateo menyeringai.
Selena tidak menjawabnya, justru dia kembali menarik Mateo mendekat dan menciumnya dengan penuh gairah. Mateo membalas ciuman itu tanpa ragu, kedua tangannya menahan Selena agar tetap berada dekat dengannya.
Napas keduanya mulai memburu, Mateo kemudian melepaskan baju tipis yang dikenakan Selena dan meletakkannya sembarangan di sofa, sementara Selena hanya menatapnya dengan tatapan nakal sambil menjilat bibirnya sendiri.
Tatapan mereka bertemu, tak ada kata-kata yang diperlukan untuk menjelaskan apa yang sedang mereka rasakan.
Mateo kembali mendekat, mengecup bibir Selena dengan lembut kali ini, Selena membalasnya sambil merangkul leher pria itu.
"Ummmm"
Suara decakan ciuman terdengar memenuhi ruangan, seakan menjadi jawaban atas besarnya gairah mereka berdua.
Mateo kemudian mendekat dan mengecup leher Selena dengan penuh gairah, Selena sempat memejamkan mata, membiarkan dirinya hanyut dalam suasana yang semakin intens.
Tangannya perlahan meraih bahu Mateo, sementara Mateo memeluknya lebih dekat. Untuk beberapa saat, keduanya hanya tenggelam dalam keheningan yang dipenuhi ketegangan dan perasaan yang sulit mereka sembunyikan.
"Mau pindah?" Tanya Selena menyeringai.
"Bukankah kita belum pernah bermain di meja makan?"
"Ingin mencobanya honey?"
"Of course, baby." Ujar Mateo sambil menjilat cuping telinga Selena.
"Akhhhhh, daddy." desah Selena.
Mateo lalu menggendong Selena dan membawanya ke meja makan. Sesampainya di sana, ia menurunkannya dengan hati-hati hingga Selena bersandar di atas meja.
Tatapan Mateo masih tertuju pada wanita itu, ada hasrat dan emosi yang begitu kuat di matanya, membuat Selena terdiam beberapa saat.
“Mateo...” bisik Selena.
"Yes baby?" Bisik Mateo di depan wajah Selena.
Mateo mendekat, menatap mata Selena lekat-lekat. Tangannya terulur untuk menyentuh pipi wanita itu dengan lembut.
“Aku sangat menginginkan mu hari ini sayang, kau benar-benar seksi.” ucap Mateo dengan suara rendah.
Selena menelan ludah, jarak mereka semakin dekat, hingga suasana di ruangan itu terasa semakin sunyi dan penuh ketegangan.
Mateo kemudian mengecup kening Selena sebelum menariknya ke dalam pelukan erat.
Mateo kembali mendekat dan mengecup bibir Selena dengan penuh perasaan. Selena sempat terkejut, tetapi kemudian membalasnya. Keduanya larut dalam suasana yang semakin intens.
Saat mereka akhirnya menjauh, Mateo menatap Selena lekat-lekat. Napasnya terdengar berat, sementara Selena masih memandangnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
“Aku benar-benar ingin memakan mu.” ujar Mateo pelan.
Selena tersenyum tipis. “makanlah aku sepuasnya honey.”
Mateo menggenggam tangan Selena erat.
“Aku benar-benar menginginkan mu.” bisik Selena sensual.
Selena lalu tersenyum tipis sambil membelai dada Mateo yang masih terbuka, tatapannya tak lepas dari wajah pria itu.
“Sekarang kau milikku honey,” ucap Selena lirih. “Tidak ada lagi yang akan mengambil mu dariku, Akhhhh.” Selena kembali mendesah saat Mateo mengecup puncak dadanya.
"Tentu saja, tidak akan ada yang akan mengambil ku darimu." Ujar Mateo sambil melepaskan sisa pakaian di tubuh selena, dia juga mulai melepaskan sisa pakaian yang melekat di tubuhnya dan setelah itu kembali mencium selena dengan agresif.
Mereka benar-benar larut dalam hasrat yang memabukkan, seolah dunia di sekitar mereka menghilang untuk sesaat. Tak ada lagi kata-kata yang terucap, hanya tatapan penuh hasrat yang memenuhi mata mereka.
Setelah menyalurkan hasrat mereka, Mateo dan Selena akhirnya berhenti sejenak. Keduanya saling menatap dalam diam, napas masih belum sepenuhnya teratur.
Selena tersenyum tipis sambil mengecup pelipis Mateo, sementara Mateo mengusap lembut rambutnya sambil membelai bahu telanjang selena.
“Aku masih tidak percaya semuanya akan berubah secepat ini,” bisik Selena.
Mateo menatapnya lama sebelum menjawab, “Aku juga, aku tidak percaya kalau sekarang aku benar-benar sudah bebas.”
"Kau tidak memakai pengaman dan mengeluarkan semuanya di dalam, kalau aku hamil bagaimana." Tanya Selena cemberut, tapi dalam hatinya dia bahagia. Berharap dia segera hamil dan mengikat Mateo sepenuhnya.
"Jangan khawatir, aku akan bertanggung jawab, setelah ini kita akan menikah." Kata Mateo.
"Apa kau tidak sedih karena kehilangan putrimu?" Tanya Selena sambil menatap mata Mateo.
"Aku sedih, ternyata tanpa aku sadari. Aku menyayangi Grizella, kadang aku suka menyesali semuanya, aku bahkan merindukan anak itu." Ujar Mateo.
"Maafkan aku, seandainya aku tidak menyuruhmu menemaniku malam itu. Mungkin Grizella masih bersamamu saat ini." Hibur Selena, tapi dalam hatinya dia bersorak bahagia atas kematian Grizella.
"Ini semua bukan salahmu, kau tidak salah. Lagipula andai saja Ivy menyetir mobilnya lebih hati-hati malam itu, mungkin Grizella masih hidup sekarang." Ucap Mateo yang sekarang justru malah menyalahkan Ivy.
"Kau benar, Seandainya Ivy menyetir lebih hati-hati. Kecelakaan itu pasti tidak akan terjadi, dan Grizella pasti akan baik-baik saja saat ini." Ujar Selena sambil membelai dada Mateo lembut.
"Sudahlah, jangan membahas itu lagi. Ngomong-ngomong, aku bisa tinggal di sini beberapa hari? Setelah membeli rumah baru aku akan pindah." Kata Mateo.
"Ada apa dengan rumahmu?"
"Aku berencana pindah dari sana, rumah itu penuh bayang-bayang Grizella. Aku ingin memulai hidup baru bersamamu dan calon anak kita nantinya." Ujar Mateo.
Mateo tersenyum tipis sambil mengelus perut Selena dengan lembut, tatapannya dipenuhi harapan ketika membayangkan kehidupan baru yang mungkin tumbuh di sana.
“Semoga suatu hari nanti ada anak kita di sini,” ujar Mateo pelan. “Aku ingin melihatmu mengandung anakku, Selena.”
Selena terdiam sejenak, lalu menatap Mateo dengan senyum kecil. Tangannya kemudian menggenggam tangan Mateo yang masih berada di perutnya.
"Aku juga berharap segera mengandung anakmu honey."
Namun di balik senyum mereka, ada sesuatu yang mulai terasa berbeda. Perceraian Mateo dengan Ivy memang telah selesai, tetapi keputusan itu membawa konsekuensi yang tidak mungkin mereka hindari selamanya.
Bersambung