NovelToon NovelToon
PERMAISURIKU DARI ABAD KE-21

PERMAISURIKU DARI ABAD KE-21

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:977
Nilai: 5
Nama Author: Ve Love

Aku masuk ke dalam tubuh calon permaisuri sial dan terdampar di Kerajaan Langit. Di kepalaku, Sistem yang jatuh dari langit aktif!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ve Love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22 - MAHKOTA EMAS DAN TEH ASIN

Pagi setelah gerhana bulan penuh, seluruh Kerajaan Langit geger.

Bukan geger karena gerhananya. Gerhana seratus tahun sekali itu memang sudah selesai tengah malam tadi, bulan sudah kembali bulat dan terang. Tapi geger karena satu hal yang terlihat di atas kepala Permaisuri Mawar saat dia berjalan dari puncak Candi Langit kembali ke Paviliun Mawar subuh-subuh tadi bersama Kaisar.

Mahkota emas murni dengan permata merah delima di tengahnya.

Mahkota Permaisuri Sejati.

Menurut Kitab Langit, mahkota itu hanya akan muncul sendiri dari api persembahan biru jika seorang permaisuri telah melakukan pengorbanan terbesar untuk Kerajaan Langit. Pengorbanan yang bahkan lebih besar dari memberikan 100 peti emas atau 1000 padi emas. Pengorbanan hati.

Selama 200 tahun, tidak ada permaisuri yang pernah mendapatkan mahkota itu. Bahkan Ibu Suri yang sangat berkuasa pun hanya memakai mahkota perak, bukan emas murni.

Tapi pagi ini, Kahiyang Gayatri Ayuningtyas, perempuan yang datang dengan gaun putih kotor karena terdampar dan tidak bisa baca tulis aksara Kerajaan Langit dengan lancar, memakai mahkota emas murni itu di kepalanya.

Dan dia tidak memakainya dengan sombong. Dia memakainya sambil mengantuk, dengan jubah hitam kebesaran Mbok yang masih dia pakai dari malam tadi, dengan rambut yang berantakan karena angin di puncak Candi, dan dengan tangan yang masih menggandeng tangan Segara El-Bhumi yang juga berantakan dan mengantuk.

Kami berdua berjalan turun dari Candi Langit seperti dua anak kecil yang habis main hujan-hujanan semalaman, bukan seperti Kaisar dan Permaisuri Sejati.

Sampai di Paviliun Mawar, Mbok yang sudah bangun dan panik mencari ku semalaman, melihat mahkota di kepalaku dan langsung bersimpuh sambil menangis.

"Gusti Permaisuri! Mahkota emas murni! Gusti... Gusti sudah menjadi Permaisuri Sejati! Gusti Adiningrat pasti bangga sekali di surga!" jerit Mbok sambil memeluk kakiku.

Aku tersenyum lelah dan melepaskan mahkota itu dengan hati-hati. Mahkota itu berat, tapi hangat. Tidak dingin seperti mahkota perak atau perunggu. Hangat seperti habis dibakar api biru.

"Mbok, tolong simpan dulu ya. Berat. Leher saya pegal," bisikku.

Segara yang berdiri di belakangku, tertawa kecil melihatku yang mengeluh pegal karena mahkota. Tawa kecilnya itu membuat Mbok semakin kaget, karena Mbok belum pernah mendengar Kaisar tertawa sepagi ini.

"Kahiyang, mahkota Permaisuri Sejati itu memang berat. Karena tanggung jawabnya juga berat. Kau harus bisa membuatnya terlihat ringan," kata Segara dengan nada menggoda, tapi matanya masih merah karena semalaman menangis di Candi Langit.

Aku menjulurkan lidah padanya. "Kalau berat, Gusti Kaisar saja yang pakai. Saya pakai bando mawar saja sudah cukup."

Siang itu, Balairung Langit mengadakan upacara kecil untuk meresmikan mahkota emas murni itu.

Semua menteri, semua kepala desa, semua tabib, dan semua selir berkumpul. Ibu Suri juga datang, memakai gaun ungu termegahnya. Wajahnya tersenyum, tapi matanya menatap mahkota emas di atas bantal beludru merah yang dibawa oleh pengawal dengan tatapan yang sulit diartikan. Tatapan iri, kagum, dan sedikit takut.

Tabib Ageng maju dan membacakan Kitab Langit dengan suara bergetar.

"Pada malam gerhana bulan penuh, ketika api persembahan biru berubah menjadi emas, maka akan lahir Permaisuri Sejati. Permaisuri yang hatinya telah memilih untuk tinggal dan mengabdi pada Kerajaan Langit, bukan karena dipaksa, tapi karena cinta."

Semua orang menatapku yang duduk di samping Segara, dengan gaun putih sederhana dan tanpa mahkota, karena mahkotanya masih ada di atas bantal beludru.

Segara berdiri dari singgasana naga hitamnya dan mengambil mahkota emas murni itu dengan kedua tangannya.

Dia berjalan mendekatiku dan dengan gerakan yang sangat pelan dan hati-hati, dia meletakkan mahkota itu kembali di atas kepalaku.

Kali ini, di depan semua orang, dengan cahaya matahari siang yang masuk dari jendela Balairung.

"Kahiyang Gayatri Ayuningtyas, mulai hari ini, kau bukan hanya Permaisuri Mawar ku. Kau adalah Permaisuri Sejati Kerajaan Langit. Permaisuri ku, satu-satunya, selamanya," katanya dengan suara yang menggelegar tapi hangat, suara Kaisar yang mengumumkan titah terpenting dalam hidupnya.

Satu Balairung bersorak.

"Permaisuri Sejati! Permaisuri Sejati!"

"Permaisuri Obat Dewa! Permaisuri Sejati!"

Bahkan Selir Jelita dan empat selir lainnya yang kemarin aku rias, ikut bersorak dengan tulus dan bertepuk tangan sambil menangis bahagia.

Hanya Ibu Suri yang tidak bersorak. Dia hanya tersenyum tipis dan mengangguk pelan ke arahku, seolah berkata, "Kau menang kali ini, Kahiyang. Kau memenangkan hati anakku dan hati seluruh kerajaan."

Upacara selesai dengan cepat dan santai. Tidak ada pesta besar lagi karena semua orang masih lelah setelah Pesta Panen dan gerhana.

Sore harinya, di Paviliun Mawar ku, aku melepaskan lagi mahkota emas yang berat itu dan menyimpannya di dalam kotak kayu cendana.

Aku memakai bando mawar sederhana dan duduk di teras sambil membuat teh mawar.

Segara datang tanpa diundang, seperti biasa, dengan dua cangkir di tangan.

"Kahiyang, aku buatkan teh mawar," katanya dengan bangga, meletakkan satu cangkir di depanku.

Aku menatap teh mawar itu. Warnanya agak keruh, tidak jernih seperti teh mawar buatanku. Dan ada sedikit endapan putih di dasarnya.

Aku mencicipinya sedikit.

Asin.

Asin sekali, seperti air laut.

Aku menahan tawa. "Gusti Kaisar... ini teh mawar atau air kuah sayur asin, Gusti? Asin sekali."

Segara yang mendengar itu, wajahnya langsung memerah padam sampai ke telinga, sama seperti saat dia memelukku pertama kali di lumbung padi.

"Ah! Maaf! Aku salah mengambil garam! Harusnya gula! Aku... aku gugup karena tadi pagi kau memakai mahkota emas itu dan terlihat sangat cantik, jadi aku... aku salah," katanya gugup seperti anak kecil yang ketahuan berbohong.

Aku tidak bisa menahan tawa lagi. Aku tertawa terbahak-bahak di teras Paviliun Mawar, dengan mahkota emas murni yang tergeletak di dalam kotak di sampingku, dengan teh asin di depanku, dan dengan Kaisar Cinta Mati yang wajahnya merah padam karena salah memasukkan garam ke dalam teh.

"Gusti Kaisar, tidak apa-apa. Teh asin ini enak kok. Asinnya seperti pelukan pertama Gusti di lumbung padi, canggung tapi hangat," kataku sambil tetap tertawa dan meminum lagi teh asin itu dengan lahap, agar dia tidak malu.

Segara menatapku yang meminum teh asin buatannya dengan lahap, dengan tatapan yang sangat lembut.

"Kahiyang," panggilnya pelan.

"Ya, Gusti Kaisar?"

"Besok, bolehkah aku mengajarimu cara membuat teh mawar yang tidak asin? Dan... bolehkah aku memelukmu lagi, tapi tidak canggung seperti di lumbung padi?"

Aku tersenyum dan mengangguk, dengan bibir yang masih terasa asin karena teh buatannya.

"Boleh, Gusti Kaisar. Tapi janjinya, mahkota emas ini Gusti yang simpan ya. Karena kalau saya yang simpan, nanti saya pakai untuk menumbuk padi karena berat."

Segara tertawa lagi, tawa lepas yang jarang sekali terdengar di istana.

Sore itu, di Paviliun Mawar yang harum mawar dan teh asin, Permaisuri Sejati dengan mahkota emas murni di dalam kotak, dan Kaisar Cinta Mati dengan teh asin di tangan, duduk bersama dengan santai, tanpa Sistem, tanpa buku masa depan, tanpa gerbang pulang.

Hanya ada teh asin yang diminum bersama, dengan tawa yang ngena sampai ke jantung.

Dan jauh di dalam kotak P3K ku yang sudah kosong karena semua obatnya habis untuk menolong anak desa dan penari, tersisa satu benda terakhir: satu batang lipstik merah delima yang baru, hadiah terakhir dari Sistem sebelum buku putih itu terbakar.

Aku mengambil lipstik itu dan mengoleskannya tipis di bibirku.

Untuk merayakan hari pertama ku sebagai Kahiyang Gayatri Ayuningtyas selamanya, Permaisuri Sejati dengan teh asin dan mahkota emas.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!