Bagaimana jadinya jika seorang dokter bedah dan ahli toksikologi jenius dari abad ke-21 bertransmigrasi ke tubuh seorang Permaisuri yang lemah dan dibuang?
Anran, seorang dokter genius masa depan, tewas dalam insiden laboratorium dan terbangun di tubuh Permaisuri Kerajaan Great Yan. Tak hanya dibuang ke Istana Dingin karena fitnah kejam, tubuh Permaisuri ini juga diracuni secara perlahan oleh musuh-musuhnya di istana belakang.
Permaisuri lama yang penakut dan mudah menangis telah lenyap. Kini, Anran bangkit membawa kecerdasan medis modern, keahlian racun yang mematikan, dan keberanian tanpa batas!
Satu per satu racun dibongkar, fitnah selir licik dipatahkan, dan intrik politik kerajaan dihancurkan. Seluruh istana dibuat gempar oleh perubahan drastis sang Permaisuri yang kini anggun, cerdas, dan tidak bisa diintimidasi oleh siapa pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aldolado, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
lanjut bab 3
. dihancurkan. Tidak ada lagi rasa penyesalan, tidak ada lagi permohonan belas kasihan. Wanita di depannya ini bagaikan sosok asing yang bersembunyi di balik kulit permaisuri yang terbuang.
Kaisar Tian mengibaskan jubah hitamnya yang bersulamkan benang emas mewah, membalikkan tubuhnya yang tegap membelakangi ranjang batu yang dingin. Hawa dingin malam berembus menembus celah lorong, membuat nyala lilin di sudut ruangan kembali bergoyang temaram.
"Kasim Zhao!" panggil Kaisar Tian dengan suara yang bergaung rendah namun dipenuhi dominasi yang tak terbantahkan.
Dalam hitungan detik, seorang kasim tua dengan jubah abu-abu bergegas masuk dari balik pintu kayu. Tubuhnya membungkuk dalam-dalam, dadanya naik turun akibat rasa cemas yang menghimpit. "Hamba di sini, Yang Mulia."
"Bawa sisa mangkuk obat ini ke Balai Pengobatan Kerajaan," perintah Kaisar Tian seraya menunjuk mangkuk tanah liat di meja kayu lapuk dengan ujung jarinya. "Panggil Tabib Zhou secara pribadi. Perintahkan beliau memeriksa kandungan obat ini dengan air perak dan ekstrak daun cendana sebelum fajar menyingsing. Jika ada satu tetes pun racun Bunga Malam Biru di dalamnya... bawa Tabib Zhou menghadapku di Kediaman Utama."
Kasim Zhao menelan ludahnya yang terasa kaku. Dengan kedua tangan yang bergetar pelan, ia membungkus mangkuk tersebut menggunakan kain sutra hitam lalu membungkuk hormat. "Hamba laksanakan perintah Yang Mulia!"
Setelah langkah kaki Kasim Zhao menghilang di kegelapan lorong istana, suasana di dalam ruangan Istana Dingin kembali mencekam. Keheningan merayap perlahan, hanya diselingi oleh desir angin malam dan deru napas halus Lian yang masih berlutut gemetar di ubin batu.
Kaisar Tian kembali memutar tubuhnya. Langkah kakinya yang mantap terdengar bergetar lembut di atas lantai kayu yang kusam. Ia berhenti tepat di samping ranjang, menundukkan pandangannya untuk menatap Anran yang masih duduk menyandar dengan posisi tubuh yang begitu tenang.
"Kau sangat yakin dengan ucapanmu, Anran," ujar Kaisar Tian dengan nada meneliti. "Jika Tabib Zhou tidak menemukan jejak racun seperti yang kau tuduhkan, tuduhan palsu terhadap Kediaman Barat akan menjadi alasan yang sah bagiku untuk mencabut gelar Permaisurimu secara permanen."
Anran tidak berkedip. Senyum tipis yang sarat akan kecerdasan terukir di bibirnya yang pucat. Ia merapikan lipatan gaun sutranya yang berdebu dengan gerakan yang sangat anggun, seolah-olah tempat lapuk ini adalah ruang tahta kerajaan.
"Yang Mulia bisa mencabut gelar Saya kapan saja Anda mau," sahut Anran dengan suara halus namun tajam. "Namun, Anda tidak akan pernah bisa menghapus fakta bahwa ada seorang pembunuh yang sedang berkeliaran di samping Anda, tersenyum manis seraya menyuapkan racun sedikit demi sedikit ke dalam cangkir teh Anda."
Mendengar kalimat itu, sepasang mata Kaisar Tian memicing tajam. "Apa maksudmu?"
Anran mendongak, menatap lurus ke dalam manik mata sang kaisar tanpa ada sekerat pun rasa ragu. "Akar Salju yang dikonsumsi Selir Mei bukan hanya pemicu racun Bunga Malam. Jika dicampurkan dengan aroma kayu cendana dari jubah naga yang Anda kenakan setiap hari, racun itu akan menguap dan terhirup oleh siapa pun yang berada di dekatnya. Bukankah dalam dua minggu terakhir, Yang Mulia sering merasakan nyeri tumpul di pelipis setiap kali bangun di pagi hari?"
Kaisar Tian mematung kaku. Otot-otot di rahangnya mengencang secara drastis.