Alvierra Zea Khanza atau biasa dipanggil Zea rela menjadi gubernur demi mewujudkan impian sang nenek. Tapi sejak menjabat, berbagai teror dan ancaman mulai mengincarnya.
Demi keselamatan Zea, sang kakek mengirim seorang pengawal pribadi bernama Sagara Arya, kapten dingin yang ternyata menyimpan misi rahasia yaitu membunuh Zea.
Sayangnya, menghadapi gubernur yang bar-bar, keras kepala, tetapi begitu tulus mencintai rakyatnya membuat Kapten Sagara perlahan melupakan misinya.
Di antara ancaman, rahasia, dan perasaan yang tak seharusnya tumbuh, sang kapten justru jatuh cinta kepada perempuan yang seharusnya menjadi targetnya.
Ketika tugas dan cinta berada di dua sisi yang berlawanan, akankah Sagara memilih perintah atau melindungi perempuan yang telah mencuri hatinya?
Yuk stay tune ya. Yang gak suka silakan skip.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ditabrak
Brak!
Suara benturan keras terdengar tiba-tiba, membuat mobil dinas gubernur berguncang cukup kuat.
Zea yang duduk di kursi belakang spontan memegang sandaran kursi di depannya, sementara Intan yang duduk di sampingnya hampir saja kehilangan keseimbangan.
"Ah! Aduh! Siapa yang menabrak?!" seru Zea dengan wajah terkejut. Ia segera menoleh ke belakang, berusaha melihat kendaraan yang baru saja menghantam mobil mereka.
Sopir langsung memperlambat kendaraan dan menepikannya di sisi jalan. "Maaf, Bu Gubernur. Sepertinya kita ditabrak dari belakang."
"Dari belakang?" Zea mengulang dengan nada tidak percaya. "Maksudnya, ada orang yang baru saja menabrak mobil dinas gubernur?"
Intan menghela napas melihat ekspresi sahabatnya. Ia sudah bisa membayangkan Zea akan membuat keributan jika pelakunya tidak bertanggung jawab.
"Tenang dulu, Zea. Kita turun dan lihat kerusakannya," ujar Intan sambil membuka pintu.
Tapi Zea sudah lebih dahulu turun dengan melompat cepat. Gadis berjilbab putih dengan seragam dinas gubernur itu berjalan cepat ke bagian belakang mobil dan langsung memeriksa kerusakan.
"Astaga!" Zea menatap bagian belakang mobil yang penyok. "Dia benar-benar menabrak kita!"
Intan baru saja turun ketika terdengar suara mesin kendaraan dari belakang mereka. Sebuah mobil hitam yang tampaknya baru saja menghantam mobil dinas itu mendadak menyalakan mesin mobil.
"Hei!" Zea berteriak keras. "Kamu yang menabrak, cepat turun ganti rugi?!"
Mobil hitam itu langsung memutar setir. Zea menatapnya dengan mata melotot, sementara Intan buru-buru berdiri di sampingnya.
"Zea, sudah! Biarkan saja dulu, kita catat—"
"Biarkan saja bagaimana?" potong Zea kesal. "Dia menabrak kita lalu kabur begitu saja!"
Intan mencoba menarik lengannya. "Kita ada rapat sebentar lagi. Ayo kembali ke mobil."
Tetapi Zea sudah melihat sesuatu di pinggir jalan. Sebuah batu bata tergeletak tidak jauh dari kakinya.
Mata Zea langsung tertuju pada benda itu. Tanpa berpikir panjang, ia membungkuk dan mengambilnya.
"Zea ...." suara Intan mulai terdengar cemas.
"Orang itu harus diberi pelajaran."
"Jangan macam-macam!"
Mobil hitam itu sudah menancap gas. Jalanan yang saat itu cukup sepi membuat Zea merasa memiliki kesempatan untuk melampiaskan kekesalannya.
"Berhenti!" teriak Zea sambil mengangkat batu bata itu.
"Zea, jangan dilempar!"
Terlambat, Zea sudah melempar batu tersebut. Batu bata itu melayang dari tangan Zea.
Prang!
Batu tersebut menghantam bagian belakang mobil hitam itu dengan keras. Salah satu kaca belakang pecah, membuat serpihan kaca berhamburan di dalam mobil.
"Aduh!"
Suara seseorang terdengar dari dalam kendaraan. Sosok yang duduk di kursi belakang, mengenakan pakaian gelap dan masker yang menutupi sebagian wajahnya, refleks menunduk ketika pecahan kaca berjatuhan di sekitarnya.
Tapi mobil itu tidak berhenti.
"Astaga ...." Intan mematung beberapa saat. "Kamu benar-benar melemparnya?"
Zea masih berdiri dengan tangan terangkat. "Aku cuma ingin membuat dia berhenti."
"Justru kamu membuat kaca mobilnya pecah!"
"Bagus!"
"Bagus dari mana?!"
Zea menunjuk mobil yang semakin menjauh. "Setidaknya sekarang dia tahu rasanya membuat orang lain kesal."
Intan menatapnya tidak percaya. "Zea, kamu itu gubernur, bukan penagih utang."
"Aku tahu."
"Kalau tahu, kenapa tingkahmu seperti itu?"
Zea terdiam sesaat, lalu mendengus. "Aku juga manusia, Tan. Baru beberapa hari menjabat, sudah ada yang menabrak mobil dinasku lalu kabur."
Intan memijat pelipisnya. "Aku tahu kamu kesal, tapi lain kali jangan lempar apa pun ke kendaraan orang."
Zea hendak menjawab, tetapi matanya kembali menemukan batu lain di dekat pinggir jalan. Tangannya perlahan bergerak hendak mengambilnya.
"Zea."
Zea berhenti.
"Jangan."
"Aku cuma mau lihat."
"Kamu mau ambil batu lagi."
Zea mengembuskan napas panjang lalu berdiri tegak. "Baiklah. Aku tidak lempar lagi."
Intan menatapnya curiga. "Janji?"
"Janji."
"Bagus. Sekarang kita kembali."
Zea berjalan menuju mobil sambil masih mengomel. "Benar-benar hari yang menyebalkan. Aku belum lama menjadi gubernur, sudah ada yang menabrak mobilku, kabur, lalu membuatku harus membuang tenaga mengejar mereka."
"Kita bahkan tidak mengejar mereka," sahut Intan polos.
"Itu hanya masalah istilah."
Intan menggeleng sambil mengikuti langkahnya. "Ayo, Bu Gubernur. Rapatmu dengan pak Presiden lima belas menit lagi."
Zea tiba-tiba berhenti. "Lima belas menit?"
"Iya."
"Waduh!"
Zea langsung panik. "Ayo cepat! Aku yang nyetir, kita ngebut sekarang!"
Mata Intan dan Pak Yanto langsung melotot bersamaan. Keduanya saling berpandangan seolah baru saja mendengar sebuah keputusan yang sangat berbahaya.
"Tapi, Bu—" Pak Yanto mencoba mencegah.
"Enggak ada waktu!" potong Zea.
Belum sempat Pak Yanto melanjutkan kalimatnya, Zea sudah berjalan cepat menuju kursi pengemudi. Ia membuka pintu, masuk, lalu menyalakan mesin mobil dengan gerakan penuh keyakinan.
"Bu Zea, serius?" Pak Yanto berdiri di samping pintu dengan wajah pucat.
"Serius." Zea menatapnya dari balik kemudi. "Ayo masuk."
Intan buru-buru menyusul masuk ke kursi belakang. "Zea, tolong jangan lakukan sesuatu yang membuatku menyesal menjadi sahabatmu."
"Tenang saja."
Pak Yanto akhirnya masuk ke kursi penumpang dengan wajah pasrah. Ia memasang sabuk pengaman secepat mungkin.
Zea melirik jam sekali lagi. "Ayo cepat! Nanti Pak Presiden menunggu!"
Bruum!
Begitu menginjak pedal gas, mobil dinas hitam itu langsung melesat meninggalkan tempat tersebut. Tubuh Intan terdorong ke belakang dan Pak Yanto spontan mencengkeram pegangan di atas pintu.
"Akkhh!" teriak Intan. "Zea! Pelan-pelan!"
"Sudah pelan ini!" jawab Zea santai.
"Ini bukan pelan!" Pak Yanto ikut berteriak.
Zea justru tersenyum lebar. "Kalau takut, baca doa saja!"
Intan langsung memegang erat sabuk pengamannya. "Aku bukan takut, aku cuma ingin pulang dalam keadaan masih bernyawa!"
"Tenang. Aku jago nyetir."
Pak Yanto menelan ludah. "Bu, biasanya orang yang mengatakan kalimat itu justru—"
"Pak Yanto!" Intan memotong dengan panik. "Jangan membuat suasana semakin buruk!"
Mobil terus melaju. Setiap kali Zea menambah kecepatan, Intan dan Pak Yanto kembali berteriak, sementara sang gubernur justru terlihat santai seolah sedang mengemudikan mobil di halaman rumah.
"Sudah, baca doa saja!" ujar Zea dengan senyum tengil. "Bismillah, semoga kita cepat sampai."
Pak Yanto yang sudah pasrah langsung mengangkat kedua tangannya. "Allahummalaka shumtu ...."
Intan langsung menoleh dengan wajah bingung. "Pak Yanto!"
"Iya?"
"Itu doa masuk WC, Pak!"
Pak Yanto terdiam. "Oh ...." Ia mengerjapkan mata. "Eh, iya, ya?"
"Ya ampun!" Intan menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Bukan itu!"
Zea yang mendengar percakapan mereka langsung memutar bola matanya. "Itu doa buka puasa, Pak."
Pak Yanto mengangguk cepat. "Nah, benar! Saya sebenarnya tahu, Bu."
Intan menatapnya tidak percaya. "Tahu dari mana?"
Pak Yanto terdiam beberapa detik. "Pokoknya tahu."
Zea terkekeh kecil. "Sudahlah, baca doa apa saja. Yang penting kalian jangan teriak-teriak terus."
"Yang membuat kami teriak itu kamu!" seru Intan.
"Benar, Bu!" sahut Pak Yanto.
Zea malah tertawa. "Kalian ini berisik sekali."
"Bu Zea!" Intan hampir menangis karena kesal. "Kamu sedang membawa dua orang yang masih ingin hidup sampai tua!"
Pak Yanto langsung mengangguk kuat-kuat. "Betul, Bu. Saya bahkan belum sempat pensiun."
Zea kembali tersenyum tengil sambil tetap fokus pada jalan di depannya. "Tenang saja. Kita pasti sampai."
Intan dan Pak Yanto saling berpandangan. Keduanya kemudian serempak menarik napas panjang.
"Ya Allah, lindungi kami ...." gumam Intan.
"Ya Allah, jangan sampai saya pensiun sebelum waktunya ...." sambung Pak Yanto.
Zea tertawa kecil mendengar doa mereka. "Lebay."
Namun beberapa detik kemudian, ketika Zea kembali menginjak pedal gas, teriakan Intan dan Pak Yanto kembali memenuhi isi mobil.
"Zeeaaa!"
"Bu Gubernur!"
Zea hanya tertawa sambil terus melaju menuju kantor kepresidenan.
#Note
Halo teman-teman, cerita ini sepenuhnya fiktif dan hasil imajinasi author. Segala kesamaan nama tokoh, tempat, jabatan, maupun peristiwa pemerintahan dalam cerita ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan dunia nyata. Mohon dinikmati sebagai hiburan semata dan tidak dikaitkan dengan situasi politik atau pemerintahan yang sebenarnya. Terima kasih.
pimter sekali mereka bikin si kanebo kereing mati kutu
mau bilang apa lagi coba hadeh
hadeh mulai deh ngeles nya