Dara adalah gadis dari keluarga kelas bawah yang dijebak oleh pemuda kaya bernama Riko yang berujung kehamilan Dara. Riko menolak untuk bertanggung jawab karena mempertahankan status sosial dan nama baik keluarga.
Keputusan Dara memilih untuk mempertahankan kehamilannya yang menyebabkan dirinya dibuang dari keluarganya sendiri karena dianggap sebagai sebuah aib.
Kisah Dara yang berjuang sendiri dalam kehamilannya begitu pilu dan penuh perjuangan hingga melahirkan seorang anak perempuan yang sangat lucu dan jenius yang diberi nama Juwita.
Kehidupan Jiwita tak kalah menyedihkan, dia selalu dikucilkan dan dijauhi karena dicap sebagai anak haram, bahkan setiap prestasi yang didapatkan selalu tak dianggap oleh siapapun kecuali ibunya yang selalu memberikan semangat dan dukungan. Kesabaran dan tekad Dara dan Juwita diuji dengan banyaknya lika-liku kehidupan yang harus dijalani.
Mampukah mereka bertahan, membalikan keadaan dan membalas rasa sakit yang dialami ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Topeng Senyum di Balik Air Mata dan Jalan Buntu yang Menyesakkan
Hari-hari setelah pencabutan beasiswa itu berubah menjadi neraka berjalan bagi Juwita. Di sekolah, ia bukan lagi sekadar siswi yang dikucilkan, melainkan target utama perundungan yang dilakukan secara terang-terangan. Kursinya sering kali disiram tinta, buku-buku catatannya disembunyikan di tempat sampah, dan bisikan-bisikan beracun mengikutinya ke mana pun ia melangkah di lorong-lorong marmer itu. Kevin Aditama memastikan seluruh isi sekolah tahu bahwa Juwita sedang menunggu waktu kehancurannya, tinggal menghitung hari sebelum gadis miskin itu diusir secara tidak hormat karena tidak mampu membayar uang sekolah sebesar tujuh puluh juta rupiah.
Namun, yang jauh lebih menyiksa Juwita bukanlah hinaan fisik atau tatapan merendahkan di sekolah, melainkan beban batin yang harus ia pikul setiap kali malam tiba dan ia melangkah pulang ke bilik reot di bantaran rel kereta api.
Di dalam ruangan sempit berukuran dua kali tiga meter itu, Dara baru saja melewati masa pemulihannya. Meskipun tubuhnya masih sangat lemah dan wajahnya masih sepucat kapas, wanita paruh baya itu selalu berusaha duduk menyambut kepulangan putrinya dengan senyuman paling hangat yang ia miliki. Dara tidak tahu apa-apa tentang pencabutan beasiswa atau ancaman pengusiran dari sekolah elit itu. Juwita dengan sengaja menyembunyikan rapat-rapat bencana besar tersebut dari ibunya. Ia tahu, jika Dara sampai tahu, beban pikiran itu bisa merenggut sisa-sisa umur ibunya.
Malam itu, seperti biasa, sebelum menyentuh gagang pintu rumahnya, Juwita berhenti sejenak di depan cermin kecil yang retak. Ia menarik napas dalam-dalam, merapikan seragamnya yang tampak semakin usang, menghapus sisa air mata di pipinya, lalu melukiskan sebuah senyuman lebar nan ceria di wajahnya. Senyuman yang dipaksa keluar dari ulu hatinya yang tengah berdarah-darah.
"Assalamualaikum, Ibu..." ucap Juwita begitu membuka pintu, suaranya dibuat riang, penuh semangat seolah tidak ada beban di dunia ini.
Dara mendongak dari atas kasur tipisnya, menyambut putrinya dengan tatapan penuh cinta. "Waalaikumsalam, Nduk. Tumben pulangnya agak malam? Belajar kelompok?"
Juwita mengangguk mantap, melepaskan tas ranselnya yang berat dan mendekati ranjang ibunya. Ia langsung merengkuh tubuh kurus Dara, memeluknya erat-erat untuk menyembunyikan matanya yang basah. "Iya, Bu. Di sekolah tadi seru banget. Juwita dapet pujian dari guru matematika karena berhasil nyelesaiin soal paling susah se-angkatan."
Dara mengusap rambut putrinya dengan penuh kelembutan, meski matanya yang jeli sempat menangkap bayangan kelelahan yang luar biasa di balik senyuman Juwita. "Alhamdulillah... Ibu bangga banget sama kamu, Nak. Kamu memang anak yang hebat. Tapi jangan terlalu diforsir ya belajarnya, kesehatanmu juga harus dijaga."
"Juwita sehat kok, Bu. Ibu tenang saja," jawab Juwita, melepaskan pelukan itu sambil tersenyum manis. "Oh ya, malam ini Juwita masak nasi goreng pakai telur sisa kemarin ya. Ibu makan yang banyak, biar cepat sehat."
Di balik senyuman dan nada bicara yang ceria itu, tidak ada yang tahu bagaimana hancurnya hati Juwita setiap kali ia melihat tangan ibunya yang kasar, atau saat ia menyadari bahwa waktu yang ia miliki untuk menyelamatkan sekolahnya tinggal menghitung hari.
Begitu jam menunjukkan pukul dua belas malam, ketika Dara sudah tertidur lelap diiringi suara napasnya yang teratur, Juwita bangkit dari tidurnya. Ia berjalan jinjit keluar kamar menuju sudut ruangan yang gelap, hanya diterangi cahaya rembulan yang menembus celah atap seng. Di situlah ia menyalakan lampu senter kecil, membuka kotak kaleng biskuit usang tempat ia menyimpan seluruh hasil kerja kerasnya.
Juwita menghitung uang di dalam kotak itu untuk kesekian kalinya dengan tangan yang gemetar hebat.
Lembaran uang ribuan yang lecek, uang logam pecahan lima ratusan, hasil ia bekerja sambilan mengetik makalah teman-temannya di sekolah, ditambah sisa uang dari upah kecil yang ia dapatkan dari warnet tempat ia membantu merawat komputer. Total seluruhnya... tidak sampai satu juta rupiah. Tepatnya, sembilan ratus delapan puluh ribu rupiah.
Juwita menatap tumpukan uang yang sangat sedikit itu, lalu memejamkan matanya rapat-rapat.
Tujuh puluh juta rupiah.
Angka itu bagaikan dinding tembok raksasa setinggi langit yang memisahkan dunianya dengan dunia luar. Sembilan ratus ribu rupiah dibandingkan dengan tujuh puluh juta rupiah ibarat sebutir pasir di tengah gurun Sahara. Tidak ada artinya sama sekali.
Pertahanan Juwita akhirnya jebol. Di dalam kegelapan malam yang sunyi, diapit oleh dinding triplek yang reyot, gadis remaja itu memeluk kedua lututnya dan menangis tanpa suara. Ia tidak boleh berteriak, ia tidak boleh membangunkan ibunya. Ia hanya bisa membiarkan air matanya mengalir deras, membasahi lutut celananya, menumpahkan segala keputusasaan yang meremukkan rongga dadanya.
"Ya Allah... jalan buntu apa ini..." bisik Juwita di sela isak tangisnya yang tertahan, tubuhnya bergetar hebat. "Kenapa begitu sulit bagi kami untuk sekadar hidup dan sekolah dengan tenang? Apa salahku? Apa salah ibuku?"
Bayangan wajah Kevin Aditama yang menertawakannya, tatapan dingin kepala sekolah yang mengusirnya, dan surat peringatan pembayaran yang terpampang nyata di kepalanya berputar-putar tanpa henti, menghantam kewarasannya. Pikirannya sempat melayang pada jurang keputusasaan yang paling gelap. Bagaimana kalau aku berhenti saja? Bagaimana kalau aku robek seragam ini dan menyerah pada takdir?
Namun, begitu ia menoleh ke arah tempat tidur dan melihat wajah ibunya yang sedang tidur lelap—wajah seorang ibu yang telah mengorbankan seluruh hidup, harga diri, dan tenaganya demi melihat putrinya berdiri tegak—Juwita langsung menggelengkan kepalanya keras-keras.
Tidak. Ia tidak boleh menyerah. Jika ia menyerah, maka habislah sudah. Siapa yang akan melindungi ibunya? Siapa yang akan membuktikan bahwa mereka bukan sampah?
Juwita menghapus air matanya dengan kasar menggunakan lengan bajunya. Ia menarik napas panjang, menelan bulat-bulat rasa sakit dan kepedihan itu, lalu menatap kotak kaleng berisi uang sembilan ratus ribu rupiah tersebut dengan tatapan nanar. Esok adalah hari terakhir batas pembayaran dari pihak sekolah. Batas akhir sebelum namanya resmi dihapus dan ia diseret keluar dari gerbang sekolah dengan hina. Di ujung malam yang kelam itu, Juwita merasa dirinya berdiri seorang diri di tepi jurang yang siap runtuh, tanpa ada satu pun tangan yang menolong.