"Katanya sahabat masa kecil itu cuma masa lalu, tapi kenapa kehadirannya bisa menghancurkan masa depanku?"
Bagi Nawang, Timy adalah segalanya—cowok yang berjanji melindunginya di bawah inisial kalung T&N. Tapi segalanya berubah saat Kanaya, teman masa kecil Timy yang rapuh dan penuh trauma, kembali hadir. Demi alasan kemanusiaan, Timy perlahan melangkah terlalu jauh hingga melupakan janji-janjinya pada Nawang.
Saat Nawang memilih mundur karena lelah dianaktirikan, Rendy—Ketua OSIS berhati es—hadir menawarkan sandaran baru.
Di saat Timy tersadar dirinya hanya dijadikan pelampiasan egois oleh Naya, semuanya sudah terlambat. Penyesalan Timy membawanya pada Jihan, gadis misterius yang diam-diam membalut lukanya.
Ini bukan sekadar cerita tentang cinta segitiga, melainkan tentang melepaskan yang sia-sia, menyembuhkan luka, dan menemukan kedewasaan di koridor sekolah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makin Terang-terangan 16.
Empat hari kemudian...
Ruang rapat OSIS berbau gabungan antara sisa AC semalaman, kertas fotokopi hangat, dan minyak kayu putih yang entah milik siapa.
Di ujung meja oval, Rendy duduk dengan laptop terbuka. Jemarinya bergerak efisien di atas papan ketik, menyusun proposal kegiatan Dies Natalis sekolah. Pakaian seragamnya rapi tanpa cela, tipikal ketua OSIS yang perfeksionis dan minim ekspresi.
Pintu ruangan terbuka agak kasar, memecah keheningan. Nawang masuk duluan, disusul oleh tiga anggota tim cheerleader-nya yang tampak lesu. Efek kurang tidur karena latihan fisik seminggu penuh mulai terlihat dari lingkaran hitam di bawah mata mereka.
Nawang langsung meletakkan bundel laporan anggaran di depan Rendy. "Evaluasi koreografi kelar. Sisa dana kostum masih aman, tapi gua butuh tanda tangan lu buat pencairan sewa matras tambahan."
Rendy tidak langsung mengambil pulpen. Dia mendongak, menatap Nawang. Bukan tatapan menilai yang mengintimidasi, melainkan tatapan observasi yang tajam.
Rendy memperhatikan cara Nawang berdiri—sedikit bertumpu pada kaki kiri, menyembunyikan fakta bahwa pergelangan kaki kanannya sebenarnya masih agak ngilu akibat salah pendaratan kemarin sore saat latihan cheers.
"Duduk dulu, Wang," kata Rendy. Suaranya rendah, tapi punya otoritas yang membuat semua orang di ruangan itu langsung patuh.
Rendy berdiri, berjalan ke arah dispenser di sudut ruangan. Dia mengambil sebuah gelas kertas, mengisinya dengan air hangat, lalu meletakkannya tepat di depan tempat duduk Nawang.
"Minum. Lu habis lari dari aula ke sini," ujar Rendy lembut, sebuah kontras yang cukup kentara dibanding nada datarnya saat memimpin rapat pleno tadi pagi.
Nawang agak tertegun, tapi dia menarik kursi dan duduk. "Thanks. Gua keburu waktu karena jam satu ada kelas tambahan."
"Matras lu bakal dikirim besok pagi jam delapan," kata Rendy sambil kembali ke kursinya, lalu membubuhkan tanda tangan dengan tarikan garis yang tegas pada berkas Nawang. "Gua udah telepon vendornya tadi subuh. Mereka dapet potongan harga sepuluh persen karena OSIS pakai jalur kemitraan tahun lalu. Sisa dananya bisa lu alokasikan buat suplemen tim lu."
Anak-anak cheerleader di belakang Nawang saling sikut, berbisik pelan tentang betapa taktisnya ketua OSIS mereka. Nawang hanya bisa mengembuskan napas lega. Berurusan dengan Rendy selalu melelahkan secara mental karena cowok itu terlalu pintar, tapi sekaligus menenangkan karena semuanya selalu terstruktur dengan jelas. Tidak ada janji manis, hanya eksekusi.
Tepat saat Nawang hendak meraih gelasnya, kebisingan dari koridor luar menembus pintu ruang OSIS. Suara langkah kaki yang rusuh, teriakan beberapa anak cowok, dan suara benturan fisik yang cukup keras.
Ada siswa yang berantem di dekat loker koridor barat.
Rendy langsung menutup laptopnya dengan satu gerakan cepat. Dia berdiri, tapi sebelum melangkah keluar, dia menatap Nawang. "Tetap di sini. Jangan ada yang keluar sampai koridor steril."
Namun, imbauan Rendy terlambat untuk meredam kekacauan yang lebih besar. Dari arah lapangan basket yang terletak persis di seberang koridor, terdengar pekikan histeris yang melengking.
Suara jeritan seorang cewek yang terdengar sangat ketakutan, disusul suara benda jatuh.
Nawang mengenali suara itu. Itu suara Naya.
Dari balik kaca besar ruang OSIS, mereka semua bisa melihat apa yang terjadi di pinggir lapangan. Dua orang siswa kelas sebelas sedang baku hantam di koridor, saling cengkeram kerah baju dengan wajah merah padam. Dan di dekat pembatas lapangan, Naya sudah terduduk di lantai selasar, menutup kedua telinganya dengan telapak tangan, wajahnya pucat pasi sementara tubuhnya bergetar hebat.
Trauma Naya kambuh lagi. Suara benturan fisik, teriakan, dan kekerasan selalu memicu memorinya tentang kecelakaan fatal yang merenggut nyawa papanya beberapa tahun lalu.
Dan seperti yang sudah bisa ditebak, Timy ada di sana.
Timy, yang masih memakai jersi basketnya, langsung menjatuhkan bola di tangannya begitu mendengar jeritan Naya.
Dia melompati pembatas pendek tanpa memedulikan anak-anak lain yang berkerumun menonton perkelahian.
"Naya! Naya, lihat gua!" Suara Timy menggema, panik dan penuh proteksi. Dia langsung berlutut di depan Naya, menarik kedua tangan cewek itu dari telinganya, lalu mendekap kepalanya ke dadanya. "Aman, Nay. Ada gua di sini. Jangan dilihat, tutup mata lu."
Naya menangis makin kencang, meremas kaus jersi Timy hingga lecek, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher cowok itu.
Timy mengusap punggung Naya dengan gerakan konstan, menggumamkan kata-kata penenang yang berulang-ulang, seolah-olah seluruh dunia di sekitar mereka sudah runtuh dan hanya ada mereka berdua.
Dari dalam ruang OSIS, Nawang menyaksikan pemandangan itu dalam diam. Tangannya yang memegang gelas kertas agak mengetat, membuat permukaannya sedikit penyok.
Beberapa anak cheerleader melirik Nawang dengan tatapan cemas sekaligus kasihan.
Semua orang di sekolah tahu status Nawang adalah pacar Timy. Dan semua orang juga tahu bagaimana panggilan 'Aa' dan 'Neng' yang dulu terasa eksklusif bagi mereka berdua, kini perlahan luntur karena Timy terlalu sibuk menjadi pahlawan penyelamat bagi teman masa kecilnya.
"Gua urus yang berantem," suara Rendy memecah lamunan Nawang. Cowok itu sudah berada di ambang pintu, melirik sekilas ke arah lapangan, lalu beralih menatap Nawang. Tatapan Rendy dingin, tapi ada kilat ketegasan di sana. "Lu nggak perlu keluar kalau nggak mau."
"Gua kapten cheers, Ren. Anggota gua ada di lapangan juga," jawab Nawang datar. Dia meletakkan gelasnya, menarik napas dalam-dalam untuk menata emosinya yang sempat berantakan, lalu berjalan menyusul Rendy keluar ruangan.
Di koridor, Rendy bergerak seperti mesin yang efisien. Bersama dua anggota seksi keamanan OSIS, dia langsung memisahkan dua siswa yang berantem. Rendy tidak berteriak. Dia hanya mencengkeram lengan salah satu siswa dengan tenaga yang cukup kuat untuk membuat cowok itu meringis, lalu menatap keduanya bergantian.
"Ke ruang BK. Sekarang. Gua nggak butuh alasan siapa yang mulai," kata Rendy, pendek dan mutlak. Kedua siswa itu, yang tahu reputasi Rendy kalau sudah melaporkan pelanggaran ke kepala sekolah, langsung menunduk dan berjalan menjauh dengan kawalan anak OSIS.
Setelah koridor agak sepi, Timy baru menyadari keberadaan Nawang. Dia masih merangkul bahu Naya yang sesenggukan, menuntun cewek itu untuk berdiri.
Timy menatap Nawang dengan ekspresi bersalah yang buru-buru dia tutupi dengan wajah defensif. "Neng... maaf, tadi Naya tiba-tiba histeris pas dengar orang berantem. Aa nggak bisa tinggalin dia gitu aja. Lu paham, kan?"
Panggilan 'Neng' itu sekarang terdengar aneh di telinga Nawang. Seperti sebuah kewajiban moral yang dipaksakan agar hubungan mereka terlihat baik-baik saja.
Nawang menatap Timy, lalu beralih ke Naya yang matanya sembap. Tidak ada kemarahan yang meledak-ledak di wajah Nawang. Hanya ada kekosongan yang melelahkan.
"Iya, A. Paham," jawab Nawang. Singkat. Tanpa intonasi.
Timy tampak agak kikuk dengan respons dingin itu. "Aa bawa Naya ke UKS dulu ya Neng, nanti habis ini Aa samperin neng ke aula."
"Nggak usah. Neng ada kelas tambahan habis ini," kata Nawang, langsung berbalik memunggungi Timy tanpa menunggu balasan cowok itu lagi.
Rendy, yang sejak tadi berdiri tidak jauh dari sana menyaksikan interaksi tersebut, melangkah mendekati Nawang yang sedang berjalan kembali ke ruang OSIS.
Rendy menyamai langkah kaki Nawang, menjaga jarak yang sopan agar tidak terkesan mengintrusu privasi, tapi cukup dekat untuk memastikan cewek itu baik-baik saja.
"Wang," panggil Rendy pelan saat mereka sudah berada di dalam ruangan yang sepi.
Nawang berhenti, menatap ujung sepatunya. "Gua kelihatan menyedihkan banget ya, Ren?"
Rendy diam sejenak, memasukkan kedua tangannya ke saku celana abu-abunya. "Lu cuma kelihatan kayak orang yang terlalu lama bertahan di tempat yang salah."
Nawang mendongak, menatap mata hitam pekat Rendy.
"Evaluasi anggaran lu udah gua setujui," lanjut Rendy, nadanya kembali melembut, memberikan pengalihan yang sangat dibutuhkan Nawang saat ini. "Sore ini nggak ada latihan fisik buat tim lu. Gua udah minta pihak sarana prasarana buat kunci aula jam empat sore. Lu harus istirahat. Itu perintah ketua OSIS."
Nawang tertegun, lalu sebuah senyum tipis—kali ini tulus, bukan sinis—muncul di wajahnya. "Diktator banget ya lu."
"Hanya memastikan aset organisasi tidak tumbang sebelum hari H," balas Rendy lempeng, meski sudut bibirnya sedikit terangkat.
Di luar, gerimis tipis kembali turun membasahi lapangan sekolah, pelan tapi pasti, mulai menghapus jejak-jejak sisa ketegangan siang itu.
......................
...****************...
Tbc,