Kalau seorang suami yang dikenal sebagai laki- laki romatis terhadap istrinya, sayang terhadap anaknya dan patuh kepada kedua orang tuanya saja bisa membuat noda hitam di dalam perkawinannya, lalu laki- laki yang seperti apa yang bisa dipercaya untuk menjaga kesetiaan rumah tangga...? Lalu apakah hati seorang istri yang sudah retak akibat pengkhinantan suami bisa pulih kembali, hanya dengan kata ''maaf...?"...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mommy Almira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14. Semua karena sikap papa
Nyonya Hartanto menghela nafas.
"Bagas... Kenapa kamu jadi menyalahkan mama...? Kamu juga tidak mengerti bagaimana perasaan mama yang sering kali dihina oleh papamu..." ucap nyonya Hartanto dengan mata berkaca- kaca.
"Sudah puluhan tahun mamamu ini menderita karena sikap dan perlakuan papamu sama mama. Mama sakit hati Bagas.... Mama sakit hati..." sambung nyonya Haryanto sambil menunjuk dadanya sendiri.
"Mama tidak gila aja sudah beruntung. Kalau mama tidak kuat dan sabar menghadapi sikap semena- mena papamu, mama tidak tahu apa yang terjadi sama mama. Mungkin mama sudah mati bunuh diri..." lanjut nyonya Hartanto.
Bagas menghela nafas. Iya, Bagas memang paham bagaimana sikap tuan Hartanto terhadap istrinya. Bagas tidak menyalahkan sang mama jika dia berbuat sesuatu yang membuat hatinya senang dan bisa mengalihkan rasa sakit hatinya akibat ulah sang suami.
Namun di sisi lain Bagas juga tidak suka jika sang mama mencampuri urusannya dengan Casandra. Karena menurut Bagas, kalau mamanya saja bisa berbuat sesuka hatinya, kenapa dia tidak. Toh keduanya sama- sama untuk mencari kesenangan dan ketengangan akibat perlakukan tidak adil yang mereka rasakan.
"Bagas tidak perduli apapun yang akan mama lakukan demi membuat hati mama senang. Tapi Bagas minta, mama juga jangan ikut campur urusanku dengan Casandra...." ucap Bagas.
"Kalau mama bisa nyaman dengan berondong mama, Bagas juga sama mah, Bagas merasa nyaman dengan Casandra..." sambung Bagas.
Dan nyonya Hartanto hanya diam setelah mendengar ucapan sang putra.
"Sayang..." panggil Suzan yang tiba- tiba datang ke ruangan tersebut.
Bagas dan nyonya Hartanto menoleh ke arah Suzan yang sudah memakai baju tidur.
"Iya sayang..." jawab Bagas sedikit gugup karena takut Suzan mendengar pembicaraannya dengan sang mama.
Begitu juga dengan nyonya Hartanto yang sedikit merasa was- was.
"Kamu ngapain di sini sayang...?'' tanya Suzan.
"Ah... Nggak... Aku lagi ngobrol aja sama mama..." jawab Bagas sambil melirik sekilas ke arah sang mama.
Suzan pun menoleh ke arah Bagas dan mama mertuanya secara bergantian. Tentu saja Suzan sedikit heran kenapa wajah keduanya sedikit tegang.
"Ayo sayang, kita ke kamar... Aku sudah ngantuk..." Bagas menggandeng tangan Suzan lalu mengajaknya masuk ke kamar.
🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇
"Sayang..." ucap Suzan yang sudah berbaring di sebelah Bagas.
Iya, Suzan nampak heran melihat sikap sang suami yang sejak masuk ke kamar lebih banyak diam.
"Hem..." jawab Bagas sambil menoleh ke arah Suzan yang juga sedang menatap ke arahnya.
"Tadi kamu ngomongin apa sama mama...?'' tanya Suzan.
"Ehm... Nggak... Mama cuma ngobrolin tentang sikap papa..." jawab Bagas.
Suzan menghela nafas. Sebagai seorang menantu yang tinggal bersama kedua mertuanya, Suzan sering kali mendengar bahkan melihat perselisihan yang terjadi antara mama dan papa mertuanya. Dan dari perselisihan itu tak jarang papa mertuanya yang selalu memojokkan istrinya. Suzan sering melihat papa mertuanya menghina sang istri dan menganggapnya sebagai perempuan yang tidak berguna.
Iya, di mata tuan Hartanto, wanita yang hanya santai- santai di rumah, bergaya hidup mewah, kerjanya hanya arisan dan belanja ,itu adalah wanita yang tidak berguna. Dan itulah yang dilakukan oleh nyonya Hartanto. Dia tidak punya skil untuk ikut terjun dalam mengurus perusahaan. Ditambah lagi nyonya Hartanto tidak paham jika tuan Hartanto mengeluh soal pekerjaan kantor.
Yang ada tuan Hartanto akan marah jika dia curhat dengan sang istri soal bagaimana pusingnya mengurus bisnis besar. Karena nyonya Hartanto tidak bisa membuat suaminya lebih tenang saat menghadapi masalah bisnis.
Akhirnya tuan Hartanto sering menganggap sang istri sebagai istri yang bodoh dan tidak bisa diajak bicara.
"Sayang... Apa mama sama papa bertengkar lagi...?" tanya Suzan.
"Yaa... Biasalah begitu..." jawab Bagas.
Suzan menghela nafas.
"Kasihan mama ya sayang..." ucap Suzan.
"Ya... Tapi kalau dipikir- pikir mereka berdua sama- sama keras kepala..." jawab Bagas.
Suzan terdiam beberapa saat.
"Sudah yuk tidur... Sudah malam..." Bagas mengusap kepala Suzan.
Bagas lalu membalikkan badannya memunggungi Suzan.
"Tapi sayang..." sahut Suzan.
"Apa...?''Bagas menoleh ke arah Suzan.
"Kita nggak...
"Nggak apa...?'' tanya Bagas.
"Sayang...kita sudah menunda- nunda malam kita untuk ...
Bagas tersenyum. Iya, tentu saja dia paham apa maksud Suzan. Memang sudah cukup lama mereka tidak melakukan hubungan selayaknya suamu istri.
Bagas lalu memeluk Suzan sambil menatap wajah cantiknya. Suzan yang ditatap oleh sang suami tersipu malu. Bagas terkekeh dan langsung mendaratkan bibirnya pada bibir Suzan. Dan tanpa menunggu waktu lebih lama lagi mereka berdua pun larut dalam aktifitas panas di atas ranjang.
🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇
Pagi- pagi sekali Suzan bangun dan langsung membersihkan diri di kamar mandi. Dan tanpa membangunkan sang suami, Suzan langsung bersiap memakai baju kantor dan berhias serta menyisir rambutnya dengan cepat.
Setelah selesai, Suzan langsung mengambil tas dan kunci mobil lalu keluar dari kamar. Tak lupa Suzan menghampiri Alvaro di kamarnya.
"Mami..." ucap Alvaro yang baru saja selesai mandi.
"Sayang... Mami nggak bisa nganter Varo ke sekolah, nanti Varo berangkat sama sus Yeni dan pak Kodir ya ..." ucap Suzan sambil mengusap kepala putra semata wayangnya.
"Yaaahh.... Mami..." Alvaro nampak kecewa.
"Mama harus buru- buru ke kantor... Nggak papa ya sayang..." Suzan mengusap pipi Alvaro.
"Sus... Titip Alvaro ya..." ucap Suzan pada sus Yeni.
"Iya nyonya..." jawab sus Yeni.
"Mami berangkat ya sang... " Suzan mengecup kening Alvaro.
Suzan segera keluar dari kamar Alvaro lalu menuruni anak tangga menuju lantai bawah.
"Nyonya Suzan... Nyonya tidak sarapan dulu...? Sarapannya sudah siap...'' tanya Marti karena melihat Suzan langsung menuju ruang depan dan tidak ke ruang makan terlebih dulu.
"Nggak ... Saya nggak sempat sarapan... Saya buru- buru... " jawab Suzan sambil terus berjalan ke luar rumah.
"Tumben nyonya Suzan tidak sarapan dulu. Ada apa ya...? Sikapnya juga beda nggak seperti biasa. Apa dia sedang ada masalah..." ucap Marti bicara sendiri.
Iya, Marti dan semua para pekerja di rumah kediaman keluarga Hartanto tentu paham bagaimana cara Suzan bicara pada semua orang. Dia selalu ramah, dan selalu senyum jika bicara sama mereka. Tapi kali ini Marti tidak melihat itu dari diri Suzan. Wajah Suzan juga terlihat seceria biasanya.
"Hei... Melamun saja..." Marti kaget saat seseorang menepuk pundaknya dari belakang.
"Ish... bi Ati...kamu mengagetkan saja..." Marti nampak kesal
"Lagian, pagi- pagi sudah melamun, ayo kita ke ruang makan. Sebentar lagi tuan besar sama nyonya besar mau sarapan..." ucap bi Ati.
"Eh tapi itu tadi kok nyonya Suzan sudah jalan duluan....? Nyonya Suzan nggak sarapan dulu..." tanya bi Ati.
"Itulah yang sedang saya pikirkan..." jawab Marti.
"Maksudnya...?'' tanya bi Ati.
Lalu Marti memberitahu Marti kalau dia melihat sesuatu yang beda dari menantu satu- satunya keluarga Hartanto.
"Nyonya Suzan kok terlihat sedih ya..." ucap Marti.
"Sedih bagaimana...? Lha wong tadi malam baru saja merayakan ulang tahun pernikahan kok, harusnya hati nyonya Suzan dan tuan Bagas sedang berbunga- bunga..." sahut bi Ati.
"Ya memang seharusnya begitu, makanya saya heran melihat wajah nyonya Suzan yang murung, tidak seperti biasanya. Seperti orang yang sedang sedih..." jawab Marti.
"Dan satu lagi, tuan Bagas belum juga turun. Kan biasanya mereka selalu turun berdua... Atau jangan- jangan mereka bertengkar...?'' tanya Marti.
"Kamu ini sukanya Suudzon saja... Kita semua kan tahu kalau nyonya Suzan itu orangnya sibuk dengan ukuran kantor . Kalau nyonya Suzan berangkat lebih dulu, pasti sedang ada klien yang menunggunya, atau mungkin ada rapat pagi ini...." jawab Ati.
"Iya sih...tapi..."
"Sudahlah, jangan mikir macam- macam. Ayo kita ke ruang makan, sebentar lagi tuan dan nyonya besar mau sarapan, kalau kita tidak ada di sana, nanti kita kena tegur ..." ucap bi Ati yang paling anti bergosip.
Marti menghela nafas lalu mengikuti bi Ati ke ruang makan. Dan tak lama kemudian tuan dan nyonya Hartanto masuk ke ruang makan.
"Cucu kesayanganku mana ini, apa dia belum turun...?" tanya tuan Hartanto karena biasanya yang paling pertama duduk di kursi meja makan adalah Alvaro.
"Tuan muda belum turun tuan, mungkin sebentar lagi..." jawab bi Ati.
"Suzan dan Bagas belum turun juga...? Atau mereka bangun kesiangan karena pesta tadi malam...?" tanya tuan Hartanto.
Lalu Marti memberitahu tuan Hartanto kalau Suzan sudah berangkat ke kantor lebih dulu sedangkan Bagas masih belum keluar dari kamarnya.
"Kenapa Suzan tidak sarapan dulu...?'' tanya nyonya Hartanto.
"Katanya buru- buru, nyonya...." jawab Marti.
Tuan dan nyonya Hartanto lalu mulai makan sarapannya. Sementara itu Marti menuang air minum untuk kedua majikannya. Sedangkan bi Ati berdiri tak jauh dari meja makan.
Tak lama kemudian Alvaro turun bersama sus Yeni. Alvaro nampak cemberut dan tidak bersemangat
"Lho...cucu opa kenapa...? Kok manyun gitu...?'' tanya tuan Hartanto sambil menatap sang cucu kesayangan.
Alvaro hanya diam saja dan tetap manyun.
"Sini... Duduk di sini dekat opa..." tuan Hartanto menuntun tangan Alvaro lalu mendudukkan dia di sampingnya.
"Alvaro makan ya..." ucap tuan Hartanto.
Alvaro menggelengkan kepalanya.
"Kenapa sayang...?'' tanya nyonya Hartanto sambil mengusap kepala sang cucu.
Lagi- lagi Alvaro hanya menggelengkan kepala. Nyonya Hartanto menoleh ke arah sang suami.
"Ada apa dengannya...?'' bisik nyonya Hartanto pada sang suami. Dan tuan Hartanto pun menggelengkan kepala.
"Cucu opa yang paling ganteng, ada apa sayang...? Kenapa kamu cemberut...? Katakan pada opa, apa ada yang nakal sama cucu kesayangan opa...? Katakan siapa yang nakal sama kamu, nanti biar opa yang pukul dia..." tanya tuan Hartanto.
"Alvaro nggak mau ngomong..." jawab Alvaro sambil melipat kedua tangannya di depan dada dan bibirnya masih terus manyun.
Tuan dan nyonya Hartanto tersenyum karena gemas melihat tingkah sang cucu.
"Sus... Cucu saya kenapa...? Apa yang membuat dia marah...?'' tanya nyonya Hartanto.
Lalu sus Yeni memberitahu kedua majikannya kalau Alvaro ngambek gara- gara sang mama tidak mengantarnya ke sekolah. Sang mama sudah berangkat ke kantor lebih dulu lima belas menit yang lalu.
"Astaga ... Jadi itu yang membuat cucu kesayangan opa ngambek..." ucap tuan Hartanto sambil terkekeh.
"Bagaimana kalau opa dan oma yang antar Alvaro ke sekolah, Alvaro mau kan di antar opa sama oma...?'' tanya tuan Hartanto.
"Yeee... Beneran opa...? Oma...?'' tiba- tiba Alvaro tidak ngambek lagi
"Beneran dong...'' jawab tuan Hartanto. Nyonya Hartanto pun mengangguk tanda setuju.
"Yeeee..... Asik..." Alvaro terlihat senang.
"Tapi Alvaro sarapan dulu ya sayang..." ucap nyonya Hartanto.
"Iya oma..." jawab Alvaro.
Dan tak berselang lama Bagas ikut bergabung di meja makan.
"Bi Ati... istri saya mana...?'' tanya Bagas.
Lalu bi Ati memberitahu Bagas kalau Suzan sudah berangkat kantor tiga puluh menit yang lalu.
Tentu saja Bagas merasa heran. Iya, pagi ini banyak pertanyaan di benak Bagas mengenai Suzan. Pertama Suzan tidak membangunkannya, kedua, dia juga tidak menyiapkan pakaian kantor. Dan sekarang dia dikasih tahu oleh bi Ati kalau Suzan berangkat ke kantor lebih awal tanpa pamit dengannya.
"Bagas...kenapa kamu melamun...? Cepat sarapan, nanti kamu kesiangan berangkat ke kantor..." ucap tuan Hartanto.
"Iya pah...." jawab Bagas.
Sedangkan nyonya Hartanto belum berani bicara apapun pada sang putra. Iya, akibat perkataan Bagas yang ternyata mengetahui hubungannya dengan Darma, nyonya Hartanto jadi malu pada sang putra. Dan tadi malam nyonya Hartanto tidak bisa tidur dengan nyenyak. Tak heran jika pagi ini nyonya Haryanto merasa tubuhnya kurang fit.
Bersambung....