**Perjodohan Pembunuh Naga dan Putri Naga**
Veronica, seorang naga setengah manusia, harus menikah dengan Altres Vanguard, kesatria terkenal yang dijuluki pembunuh naga. Pernikahan mereka merupakan syarat perdamaian antara bangsa naga dan manusia yang telah lama bermusuhan. Namun, menyatukan dua makhluk dari ras berbeda bukanlah perkara mudah. Veronica yang tidak memahami kehidupan manusia sering berselisih dengan Altres, sementara Altres sulit menerima kenyataan bahwa wanita yang menjadi istrinya adalah seekor naga.
Di balik pertentangan mereka, tersimpan luka masa lalu yang perlahan terungkap. Veronica kehilangan ibunya yang seorang manusia, menyaksikan bagaimana usia singkat sang ibu memisahkan mereka untuk selamanya. Sementara itu, Altres kehilangan ayah dan kedua kakaknya dalam perang melawan bangsa naga, meninggalkan kebencian yang sulit dihapuskan.
Seiring waktu, keduanya mulai memahami kesedihan dan ketakutan masing-masing. Di antara perbedaan, dendam, dan luka masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EMPIRE RAJA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 wilayah skypia
Pagi itu Veronica tampak sibuk di balik meja kerjanya yang dipenuhi tumpukan tagihan rumah. Ia mencatat dengan teliti kebutuhan yang harus dibeli, dari perlengkapan tukang kebun, perawatan kuda, hingga peralatan para pelayan, sementara ujung penanya bergerak cepat di atas kertas dan keningnya berkerut serius setiap kali menjumpai angka yang tak masuk akal. Cahaya pagi yang masuk dari jendela jatuh tepat di atas kertas-kertasnya, membuat tinta basah itu berkilat. Erin duduk tak jauh darinya dengan secangkir teh, memperhatikan menantunya yang mulai memahami tugasnya dengan baik, sementara Emma sesekali datang membawakan dokumen pengeluaran rumah yang perlu diperiksa dan meletakkannya di sisi meja dengan hati-hati.
"Yang ini kelebihan tiga puluh keping perak," gumam Veronica sambil mengetuk-ngetuk sebuah lembar tagihan dengan pena. "Kenapa harga pakan kuda naik begitu banyak dalam sebulan?"
"Itu bisa kau tanyakan pada pengurus kandang nanti," sahut Erin sambil tersenyum bangga. "Catat dulu, tandai dengan lingkaran, lalu kita periksa bersama sebelum kau menyetujui pembayarannya. Kau sudah mulai membaca angka dengan baik, Veronica."
Tak lama kemudian seorang pelayan datang menyerahkan sepucuk surat bersegel pada Erin. Erin membuka segelnya perlahan, membaca isinya dengan alis sedikit terangkat, lalu menghela napas lega sambil melipat kertas itu kembali. Ia bangkit dan menghampiri meja Veronica dengan langkah ringan. "Kabar baik, Veronica. Kita bisa berangkat untuk meninjau hasil panen."
Mata Veronica langsung berbinar dan ia menjatuhkan pena begitu saja di atas kertas. "Sungguh? Kalau begitu aku akan bersiap sekarang juga!" serunya sambil setengah berdiri dari kursi.
"Itu tidak mungkin, melihat pekerjaanmu yang menumpuk di meja ini," balas Erin sambil menunjuk setumpuk berkas yang tingginya hampir menyentuh bahu Veronica. "Selesaikan dulu semuanya."
Veronica terduduk kembali dengan bahu merosot dan bibir mengerucut seperti anak yang gagal membujuk, menatap tumpukan kertas itu seakan menatap musuh yang tak ada habisnya. "Pekerjaan ini tidak akan pernah selesai," keluhnya sambil memegangi perutnya yang mulai berbunyi pelan. "Dan aku sudah lapar. Aku ingin menikmati daging kesukaanku."
Erin tertawa pelan melihat wajah memelas itu, lalu menarik kursi dan duduk di samping menantunya. Ia mengambil separuh berkas dari tumpukan dan membukanya dengan cekatan. "Kalau begitu kita kerjakan bersama, supaya kita bisa berangkat setelah makan siang. Kita akan menginap di sana sebentar untuk melihat keadaan wilayah itu."
Wajah Veronica langsung cerah, dan ia meraih penanya lagi dengan semangat baru, tulisan tangannya mendadak jauh lebih cepat. Emma yang berdiri di dekat pintu melangkah maju sambil membungkuk sedikit. "Duchess, perlukah saya meminta pelayan menyajikan makanan ringan sambil Anda bekerja?"
"Tidak perlu yang ringan, Emma," jawab Veronica tanpa mengangkat kepala dari kertasnya, lalu menambahkan dengan suara tegas. "Aku ingin daging untuk makan siang. Yang banyak."
Emma mengangguk sambil menahan senyum, lalu mengangkat rok dan bergegas menuju dapur untuk menyampaikan permintaan itu pada para pelayan. Tak lama aroma daging panggang mulai menyebar di sepanjang lorong hingga membuat Veronica menegakkan kepala seperti anjing pemburu yang mencium jejak, lalu ia menyantap hidangannya sambil terus mengerjakan tugasnya, sesekali menandatangani dokumen dengan tangan kiri sementara tangan kanannya memegang garpu. Erin hanya bisa menggeleng melihat kebiasaan itu sambil menahan tawa, tetapi tak menegurnya kali ini, karena pekerjaan itu memang selesai jauh lebih cepat. Begitu pekerjaan selesai, Veronica langsung meminta Emma membantunya bersiap agar mereka bisa segera berangkat.
Tak lama kemudian ia sudah mengenakan pakaian perjalanan yang praktis dan nyaman, dengan jubah panjang yang menutupi pundak dan punggungnya. Setelah menyantap habis makan siangnya, Veronica dan Erin berangkat dengan kereta kuda, ditemani Emma dan beberapa prajurit berkuda yang berderap di depan serta belakang. Roda kereta bergemuruh di atas jalan tanah dan debu tipis beterbangan di belakang iring-iringan, dan Veronica menempelkan wajahnya di jendela sambil memperhatikan ladang-ladang yang berganti-ganti di kejauhan, petani yang menegakkan punggung untuk melambai pada iring-iringan mereka, dan anak-anak yang berlari mengejar roda kereta sampai tertinggal di belakang.
"Bagaimana wilayah Skypia itu, Ibu?" tanyanya sambil menoleh dengan rasa ingin tahu yang tak berubah sejak pagi tadi. "Katanya sangat subur."
"Skypia dipimpin oleh Count Regurd," jawab Erin sambil membetulkan duduknya di bangku kereta. "Ladangnya menjadi hasil utama di sana, dan menjadi salah satu penyuplai kebutuhan Kekaisaran Uddine. Selain itu mereka juga memiliki tambang batu mulia. Karena itulah pendapatan terbesar Brune berasal dari Skypia yang begitu subur."
"Jadi kalau Skypia gagal panen, Brune akan kesulitan?" tanya Veronica dengan dahi berkerut.
"Itu sebabnya kita harus merawatnya baik-baik," jawab Erin sambil menepuk tangannya.
Veronica mengangguk-angguk takjub, membayangkan hamparan gandum emas dan tumpukan batu mulia berkilau di dasar tambang. Setelah beberapa jam perjalanan yang diselingi obrolan ringan, kereta akhirnya berhenti di depan sebuah kediaman besar berpagar batu putih. Taman di depan pintu tertata rapi dengan deretan bunga yang mekar, dan seorang pria paruh baya berpakaian rapi beserta istrinya sudah berdiri di depan pintu, menyambut dengan senyum ramah yang terlihat tulus.
Namun keramahan itu mulai retak begitu Veronica turun dari kereta dan jubahnya tersingkap tertiup angin. Mata naganya yang tajam tak bisa disembunyikan. Senyum di wajah sang count mengeras, dan istrinya menahan napas sambil tanpa sadar mundur setengah langkah. Para pelayan yang berbaris di belakang mereka saling melirik dengan raut tegang, dan salah satu dari mereka bahkan menjatuhkan nampan kecil yang dipegangnya hingga berdenting di lantai batu.
"Perkenalkan, ini Veronica Vanguard, istri Duke Vanguard, putraku," ucap Erin dengan suara tenang namun tegas sambil menggandeng lengan menantunya.
Beberapa orang saling berpandangan sebelum akhirnya menunduk memberi salam pada keduanya, meski gerak mereka terlihat kaku dan tak nyaman. Veronica menyadari tatapan itu, dan untuk sesaat dadanya terasa sesak, tetapi ia mengingat pelajaran Erin dan menegakkan punggung dengan tenang. "Aku tidak akan menyakiti siapa pun di sini," ujarnya dengan nada lembut, "karena aku tidak ingin dianggap jahat. Aku memang seekor naga, tetapi aku juga seorang duchess, istri penguasa wilayah Brune."
Count itu tampak terkejut, lalu saling melirik dengan istrinya sebelum membungkuk dalam-dalam dengan wajah memerah. "Mohon maafkan sikap kami yang kurang pantas, Duchess. Itu tidak seharusnya terjadi." Ia menegakkan badan dan memperkenalkan diri dengan suara yang lebih mantap. "Nama saya Damian Regurd, dan ini istri saya, Layla Regurd. Kami bertanggung jawab atas wilayah Skypia dan akan selalu setia kepada keluarga Vanguard."
Layla menunduk dengan senyum yang kini lebih hangat. "Kami sudah menyiapkan kamar terbaik untuk Duchess dan Duchess Erin, juga hidangan yang pasti akan Anda sukai," ucapnya ramah. Mendengar kata hidangan, mata Veronica seketika berkilat, dan ia mengangguk lebih cepat dari seharusnya, lalu berdehem dan menegakkan punggung. "Aku yakin kalian orang-orang yang setia pada suamiku, dan itu sudah cukup bagiku," ucapnya sambil memandang berkeliling ke arah ladang di balik pagar. "Dan aku ingin melihat sendiri seberapa baik wilayah yang terkenal paling subur di Brune ini."
Veronica menoleh ke arah hamparan ladang yang tampak keemasan di bawah matahari sore dan tanpa sadar melangkah setengah langkah ke arah pagar, sampai Erin menahan lengannya. "Sabarlah, Veronica," bisik Erin sambil menyentuh lengannya. "Kita akan beristirahat di kediaman Count Regurd dulu, dan baru besok kita meninjaunya."
Veronica menghela napas pelan dan wajahnya sedikit murung, tetapi ia tahu mertuanya benar. Mereka sudah berada di kereta selama lima jam, dan Erin pasti kelelahan. Berbeda dengan dirinya yang naga, yang masih terasa kuat dan segar seakan baru bangun tidur. Ia menatap punggung Erin yang berjalan perlahan menuju pintu kediaman, lalu menyusul dengan langkah yang sengaja diperlambat agar sejajar, menyesuaikan diri dengan ritme mertuanya.