NovelToon NovelToon
Gadis Desa Diremehkan Ternyata Tabib Legendaris

Gadis Desa Diremehkan Ternyata Tabib Legendaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Mengubah Takdir
Popularitas:9.4k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Astiana Larasati turun ke ibu kota dengan ilmu bela diri kuno, pengobatan ajaib, dan kemampuan mendengar niat jahat untuk mencari orang tua kandungnya. Berpandukan liontin yang bisa menyala hijau, Astiana menavigasi intrik para elit kota sambil mati-matian menekan kekuatannya demi mematuhi amanat kakek angkatnya untuk hidup rendah hati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Matahari sore menyinari pekarangan belakang rumah keluarga Darma.

Angin berhembus cukup kencang membuat daun-daun kering berserakan di atas rumput.

Cittt.

Suara decit ban mobil yang mengerem mendadak memecah ketenangan sore itu.

Mobil sport merah milik Raka berhenti tepat di depan pintu masuk paviliun belakang.

Brak.

Raka keluar dari mobil dengan wajah dingin dan langsung membuka paksa pintu bagasi belakangnya.

"Ampun, Tuan Muda Raka, tolong jangan bunuh saya."

Terdengar suara rintihan ketakutan dari dalam bagasi yang gelap tersebut.

Raka menarik kerah kemeja seorang pria paruh baya dengan sangat kasar dan melemparnya ke atas rumput.

Bruk.

Pria itu adalah Dokter Handoko yang kini wajahnya sudah babak belur dan kemeja putihnya kotor oleh tanah.

"Bangun, dasar anjing pengkhianat."

Raka menendang perut dokter itu hingga dia terbatuk-batuk menahan sakit.

Uhuk uhuk.

Astiana yang sedang duduk bersantai di teras paviliun hanya menatap adegan kekerasan itu dengan tenang.

Dia sedang menikmati secangkir teh melati sambil memegang ponsel baru yang baru saja dibelikan oleh Raka siang tadi.

"Kau bekerja sangat cepat, Tuan Muda Raka."

Astiana meletakkan cangkir tehnya di atas meja kecil dan berdiri menghampiri mereka.

"Tentu saja, aku mengerahkan puluhan orang kepercayaanku untuk menyisir seluruh pintu keluar kota."

Raka menyisir rambutnya yang berantakan ke belakang dengan jari tangannya.

"Bajingan ini hampir saja naik pesawat ke luar negeri, tapi untung orang-orangku berhasil menyergapnya di bandara."

Dokter Handoko merangkak perlahan dan memegang sepatu Astiana dengan tangan bergetar.

"Nona Astiana, tolong saya, Nona."

"Saya khilaf, saya dijebak, tolong suruh Tuan Muda melepaskan saya."

Astiana menunduk menatap dokter palsu itu dengan sorot mata yang sangat kosong.

"Waktu kau memberikan kapsul berisi ekstrak oleander itu, apakah kau ingat pada sumpah doktermu."

Suara datar Astiana membuat Dokter Handoko semakin gemetar ketakutan.

"Aku tidak akan menolong orang yang berniat membunuh kakek tua tidak bersalah."

Astiana menendang pelan tangan dokter itu agar menjauh dari sepatunya.

"Katakan padaku sekarang, siapa yang membayarmu untuk meracuni Kakek Darma."

Raka ikut berjongkok dan menjambak rambut Dokter Handoko hingga pria itu mendongak ke atas.

"Jawab pertanyaannya, atau aku akan mematahkan semua jari tanganmu sekarang juga."

Ancaman Raka sama sekali tidak main-main, kilat matanya memancarkan aura membunuh yang nyata.

"Saya sungguh tidak tahu siapa bos besarnya, Tuan Muda."

Dokter Handoko menangis tersedu-sedu sambil menahan sakit di kulit kepalanya.

"Pembohong."

Bugh.

Raka melayangkan satu pukulan keras ke wajah dokter itu hingga sudut bibirnya robek dan berdarah.

"Ampun, Tuan Muda, saya bersumpah saya tidak pernah bertemu bos besar itu secara langsung."

Dokter Handoko memohon ampun dengan suara yang semakin melemah.

"Saya hanya dihubungi lewat telepon rahasia dan uangnya selalu dikirim dalam bentuk tunai ke dalam loket stasiun."

"Lalu dari mana kau mendapatkan racun bunga oleander itu."

Astiana mulai mengambil alih interogasi sebelum Raka benar-benar membunuh saksi kunci ini.

"Racun itu dikirim oleh seorang perantara bernama Tuan Kusuma."

"Tuan Kusuma."

Raka mengernyitkan dahinya mendengar nama yang terdengar asing di telinganya.

"Siapa dia, apakah dia pesaing bisnis kakekku."

"Saya tidak tahu profesi aslinya, Tuan Muda."

Dokter Handoko menjawab dengan cepat karena takut dipukul lagi.

"Tapi Tuan Kusuma itu selalu memakai cincin perak dengan ukiran lambang burung elang dan ular."

Deg.

Astiana langsung memfokuskan pendengarannya untuk membaca isi kepala dokter tersebut.

"Aku hanya pernah melihat Tuan Kusuma itu turun dari mobil sedan hitam di dekat pelabuhan."

Suara hati Dokter Handoko bergema sangat jelas di dalam telinga Astiana.

"Mobil sedan hitam dengan plat nomor belakang huruf BZ."

Mata Astiana sedikit melebar saat menangkap petunjuk visual dari ingatan dokter tersebut.

Mobil sedan hitam.

Apakah itu mobil yang sama dengan yang dia lihat di depan Stasiun Gambir kemarin sore.

"Raka, lepaskan dia sebentar."

Astiana memberikan perintah pada Raka dengan nada suara yang serius.

Raka segera melepaskan jambakannya dan berdiri mundur satu langkah dengan patuh.

"Kau bilang kau sudah mendapatkan rekaman CCTV dari stasiun kan."

Astiana menatap Raka yang langsung menganggukkan kepalanya dengan cepat.

"Benar, Nona Astiana, aku sudah menyuruh orang mengecek rekaman lalu lintas di sekitar Stasiun Gambir."

Raka mengeluarkan sebuah tablet tipis dari dalam mobilnya dan menyerahkannya pada Astiana.

"Mobil sedan hitam yang Nona lihat kemarin sore terekam sangat jelas di kamera lampu merah."

Astiana mengambil tablet itu dan melihat layar yang menampilkan foto hasil tangkapan CCTV.

Sebuah mobil sedan hitam mewah melaju di tengah jalanan yang padat.

Kaca jendela belakangnya sedikit terbuka, menampilkan siluet wajah seorang wanita paruh baya.

Astiana memperbesar gambar plat nomor mobil tersebut.

"B 1980 BZ."

Astiana membaca plat nomor itu dengan suara pelan namun terdengar sangat tajam.

Huruf belakang BZ.

Ini sangat kebetulan jika dihubungkan dengan ingatan Dokter Handoko barusan.

"Kau sudah mencari tahu siapa pemilik mobil ini, Raka."

"Sudah, Nona Astiana."

Raka melipat kedua tangannya di depan dada dengan ekspresi wajah yang sedikit tegang.

"Mobil itu terdaftar atas nama sebuah perusahaan cangkang bernama PT Bintang Zamrud."

"PT Bintang Zamrud."

Astiana menaikkan sebelah alisnya menunggu penjelasan lebih lanjut.

"Itu bukan perusahaan biasa, Nona."

Raka menurunkan nada suaranya seolah takut ada yang menguping pembicaraan mereka.

"Perusahaan itu adalah salah satu anak perusahaan gelap yang dikendalikan penuh oleh Keluarga Adibrata."

Dug dug dug.

Jantung Astiana kembali berdetak lebih cepat mendengar nama keluarga itu disebut untuk kedua kalinya hari ini.

Semuanya mulai terhubung menjadi satu garis merah yang sangat jelas.

Orang tua kandungnya memiliki ikatan dengan Keluarga Adibrata.

1
Was pray
katanya tempat paling berbahaya adalah tempat paling aman untuk bersembunyi, tapi nyatanya seba si jagal bisa melacak keberadaan astiana di tempat lelang bawah tanah gudang obsidian
Was pray
kalau otaknya waras ya pasti panik lah . Raka gak punya kemampuan beladiri secuilpun...
Was pray
cip nya gak ditukar dengan uang tunai dulu sebelum kabur astiana? cip itu gak laku dijual ..... ya elah dasar penjudi amatir .. ya buang duit sia2..... capek deh. ..
Was pray
kok main kartunya cuma kartu yg dibagikan bandar doang untuk menentukan jumlah angka nya? terus kelihaian bermain kartunya di mana nih?
Was pray: emang benar astiana bisa mendengar pikiran bandar. .biasanya kartu pertama dibagikan kan dua , pemain nambah satu kartu, jika angkanya lebih besar dari bandar dia menang.
total 2 replies
Was pray
tindakan tanpa perhitungan mu menyeret keluarga kakek darma dalam konflik yg membahayakan keselamatan seluruh keluarga kakek darma jasa mengobati kakek darma bukan menyelamatkan tapi menunda kematian. tiada guna pertolonganmu astiana. karena dihatimu terselip niat terselubung yg resikonya lebih berat
Was pray
kamu masuk kawasan be💪bahaya tanpa memahami dulur jalur evakuasi yg aman dulu astiana, kamu dari awal terlalu banyak merepotkan keluarga darma, jasa kamu mengobati kakek Darna dijadikan pijakan untuk menyelesaikan urusan pribadimu. kamu seorang tabib tapi jiwa mu bukan penyembuh dan penolong, tapi penodong , kamu memang tidak langsung minta imbalan harta. tapi menodong kesetiaan
Was pray
ngapainn membocorkan identitasmu pada tuan Kusuma sih astiana? kan itu beresiko buat keluarga darma... jamu gak berbakat jadi agen rahasia/ intelijen. kemampuanotakmu gak memenuhi syarat
Was pray
yeee ... jangan samakan kita metropolitan dengan kampung di puncak gunung yg primitif astiana... makanya punya HP gunakan untuk update pengetahuan bukan cuma buat ngisi kantong bututmu.... biar kuoeng... 🤣
Was pray: kampung it's oke.... tapi jangan sampai rampungan... malu maluin orang asal pedesaan .
total 4 replies
kiyoe
okeii Kaka terima kasih yaaa 🥰
Diana Lely
lanjut thor...makin rame aja...
Was pray
ternyata astiana benar-benar bodoh... seharusnya jam tangan bima jangan dia yang ambil .. bisa minta agar Raka yg mengambil jam itu dari semak2, kalau jam itu ditangan astiana ya otomatis menjadi bukti bahwa astiana benar2 mencuri .. dan bima juga tolol, udah jelas barang bukti ada ditangan astiana seharusnya itu jadi bukti kalau tuduhan mencuri itu benar..ha... ga... ga.... alur ceritanya jadi aneh.
Was pray
buat masalah tapi gak becus menyelesaikan masalah yg ditimbulkannya, idan menyeret orang lain dalam lingkaran permasalahan itu ciri-ciri pengecat
Was pray
hatimu penuh empati tapi otakmu tebal astiana
Was pray
astiana terlalu berani apa bodoh sih sebenarnyar? keberanian tanpa berpikir panjang bukan menyelesaikan masalah , tapi memicu permasalahan yg lebih besar resikonya, tujuan utama dikesampingkan cuma gara sok bijak dengan ikut campur urusan yg bukan urusannya
Was pray
emang burung elangnya terbuat dari karet?, kok bisa melilit ? kecuali kalau burung elang ya lagi lapar ... terus perut elang melilit .. karena perut si elang lapar. .🤭🤭🤣
🟡🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya☕︎⃝❥ 💎
rasakan, akhirnya tempat kasino itu hancur 🤣

selamat untuk memperbaiki semua kerusakannya pak manajer 🤣🤣
Anisa
gila² thor😄
kiyoe: Hehehe 🤭
total 1 replies
Was pray
jakarta jadi surga buat orang kaya, tapi neraka bagi orang miskin
kiyoe: heheheh iyaa bener Kak
total 3 replies
Was pray
hati manusia bisa sekeras baja jika privasinya terusik, tapi bisa jadi selembut salju jika hatinya tersentuh oleh hutang Budi / nyawa
kiyoe: iyaa bener kak 🤭
total 1 replies
🟡🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya☕︎⃝❥ 💎
Astiana yang menyamar, tapi, aku malah ikut deg degan /Scream/
kiyoe: wkwkw tembak tembak dor dor dor
total 5 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!