Astiana Larasati turun ke ibu kota dengan ilmu bela diri kuno, pengobatan ajaib, dan kemampuan mendengar niat jahat untuk mencari orang tua kandungnya. Berpandukan liontin yang bisa menyala hijau, Astiana menavigasi intrik para elit kota sambil mati-matian menekan kekuatannya demi mematuhi amanat kakek angkatnya untuk hidup rendah hati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Matahari sore menyinari pekarangan belakang rumah keluarga Darma.
Angin berhembus cukup kencang membuat daun-daun kering berserakan di atas rumput.
Cittt.
Suara decit ban mobil yang mengerem mendadak memecah ketenangan sore itu.
Mobil sport merah milik Raka berhenti tepat di depan pintu masuk paviliun belakang.
Brak.
Raka keluar dari mobil dengan wajah dingin dan langsung membuka paksa pintu bagasi belakangnya.
"Ampun, Tuan Muda Raka, tolong jangan bunuh saya."
Terdengar suara rintihan ketakutan dari dalam bagasi yang gelap tersebut.
Raka menarik kerah kemeja seorang pria paruh baya dengan sangat kasar dan melemparnya ke atas rumput.
Bruk.
Pria itu adalah Dokter Handoko yang kini wajahnya sudah babak belur dan kemeja putihnya kotor oleh tanah.
"Bangun, dasar anjing pengkhianat."
Raka menendang perut dokter itu hingga dia terbatuk-batuk menahan sakit.
Uhuk uhuk.
Astiana yang sedang duduk bersantai di teras paviliun hanya menatap adegan kekerasan itu dengan tenang.
Dia sedang menikmati secangkir teh melati sambil memegang ponsel baru yang baru saja dibelikan oleh Raka siang tadi.
"Kau bekerja sangat cepat, Tuan Muda Raka."
Astiana meletakkan cangkir tehnya di atas meja kecil dan berdiri menghampiri mereka.
"Tentu saja, aku mengerahkan puluhan orang kepercayaanku untuk menyisir seluruh pintu keluar kota."
Raka menyisir rambutnya yang berantakan ke belakang dengan jari tangannya.
"Bajingan ini hampir saja naik pesawat ke luar negeri, tapi untung orang-orangku berhasil menyergapnya di bandara."
Dokter Handoko merangkak perlahan dan memegang sepatu Astiana dengan tangan bergetar.
"Nona Astiana, tolong saya, Nona."
"Saya khilaf, saya dijebak, tolong suruh Tuan Muda melepaskan saya."
Astiana menunduk menatap dokter palsu itu dengan sorot mata yang sangat kosong.
"Waktu kau memberikan kapsul berisi ekstrak oleander itu, apakah kau ingat pada sumpah doktermu."
Suara datar Astiana membuat Dokter Handoko semakin gemetar ketakutan.
"Aku tidak akan menolong orang yang berniat membunuh kakek tua tidak bersalah."
Astiana menendang pelan tangan dokter itu agar menjauh dari sepatunya.
"Katakan padaku sekarang, siapa yang membayarmu untuk meracuni Kakek Darma."
Raka ikut berjongkok dan menjambak rambut Dokter Handoko hingga pria itu mendongak ke atas.
"Jawab pertanyaannya, atau aku akan mematahkan semua jari tanganmu sekarang juga."
Ancaman Raka sama sekali tidak main-main, kilat matanya memancarkan aura membunuh yang nyata.
"Saya sungguh tidak tahu siapa bos besarnya, Tuan Muda."
Dokter Handoko menangis tersedu-sedu sambil menahan sakit di kulit kepalanya.
"Pembohong."
Bugh.
Raka melayangkan satu pukulan keras ke wajah dokter itu hingga sudut bibirnya robek dan berdarah.
"Ampun, Tuan Muda, saya bersumpah saya tidak pernah bertemu bos besar itu secara langsung."
Dokter Handoko memohon ampun dengan suara yang semakin melemah.
"Saya hanya dihubungi lewat telepon rahasia dan uangnya selalu dikirim dalam bentuk tunai ke dalam loket stasiun."
"Lalu dari mana kau mendapatkan racun bunga oleander itu."
Astiana mulai mengambil alih interogasi sebelum Raka benar-benar membunuh saksi kunci ini.
"Racun itu dikirim oleh seorang perantara bernama Tuan Kusuma."
"Tuan Kusuma."
Raka mengernyitkan dahinya mendengar nama yang terdengar asing di telinganya.
"Siapa dia, apakah dia pesaing bisnis kakekku."
"Saya tidak tahu profesi aslinya, Tuan Muda."
Dokter Handoko menjawab dengan cepat karena takut dipukul lagi.
"Tapi Tuan Kusuma itu selalu memakai cincin perak dengan ukiran lambang burung elang dan ular."
Deg.
Astiana langsung memfokuskan pendengarannya untuk membaca isi kepala dokter tersebut.
"Aku hanya pernah melihat Tuan Kusuma itu turun dari mobil sedan hitam di dekat pelabuhan."
Suara hati Dokter Handoko bergema sangat jelas di dalam telinga Astiana.
"Mobil sedan hitam dengan plat nomor belakang huruf BZ."
Mata Astiana sedikit melebar saat menangkap petunjuk visual dari ingatan dokter tersebut.
Mobil sedan hitam.
Apakah itu mobil yang sama dengan yang dia lihat di depan Stasiun Gambir kemarin sore.
"Raka, lepaskan dia sebentar."
Astiana memberikan perintah pada Raka dengan nada suara yang serius.
Raka segera melepaskan jambakannya dan berdiri mundur satu langkah dengan patuh.
"Kau bilang kau sudah mendapatkan rekaman CCTV dari stasiun kan."
Astiana menatap Raka yang langsung menganggukkan kepalanya dengan cepat.
"Benar, Nona Astiana, aku sudah menyuruh orang mengecek rekaman lalu lintas di sekitar Stasiun Gambir."
Raka mengeluarkan sebuah tablet tipis dari dalam mobilnya dan menyerahkannya pada Astiana.
"Mobil sedan hitam yang Nona lihat kemarin sore terekam sangat jelas di kamera lampu merah."
Astiana mengambil tablet itu dan melihat layar yang menampilkan foto hasil tangkapan CCTV.
Sebuah mobil sedan hitam mewah melaju di tengah jalanan yang padat.
Kaca jendela belakangnya sedikit terbuka, menampilkan siluet wajah seorang wanita paruh baya.
Astiana memperbesar gambar plat nomor mobil tersebut.
"B 1980 BZ."
Astiana membaca plat nomor itu dengan suara pelan namun terdengar sangat tajam.
Huruf belakang BZ.
Ini sangat kebetulan jika dihubungkan dengan ingatan Dokter Handoko barusan.
"Kau sudah mencari tahu siapa pemilik mobil ini, Raka."
"Sudah, Nona Astiana."
Raka melipat kedua tangannya di depan dada dengan ekspresi wajah yang sedikit tegang.
"Mobil itu terdaftar atas nama sebuah perusahaan cangkang bernama PT Bintang Zamrud."
"PT Bintang Zamrud."
Astiana menaikkan sebelah alisnya menunggu penjelasan lebih lanjut.
"Itu bukan perusahaan biasa, Nona."
Raka menurunkan nada suaranya seolah takut ada yang menguping pembicaraan mereka.
"Perusahaan itu adalah salah satu anak perusahaan gelap yang dikendalikan penuh oleh Keluarga Adibrata."
Dug dug dug.
Jantung Astiana kembali berdetak lebih cepat mendengar nama keluarga itu disebut untuk kedua kalinya hari ini.
Semuanya mulai terhubung menjadi satu garis merah yang sangat jelas.
Orang tua kandungnya memiliki ikatan dengan Keluarga Adibrata.
selamat untuk memperbaiki semua kerusakannya pak manajer 🤣🤣