Di usianya yang baru menginjak 25 tahun, Rania mengambil keputusan besar dalam hidupnya. Ia menerima pinangan Arkan, seorang duda kaya raya berparas rupawan yang berusia 38 tahun. Kehidupan barunya tidak hanya membawanya pada gelimang kemewahan, tetapi juga menuntut Rania untuk beradaptasi dengan peran barunya sebagai ibu sambung bagi dua putra Arkan yang memiliki kepribadian sangat bertolak belakang.
Zidan, putra sulung Arkan ternyata bersahabat baik dengan keponakannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan Bareng
Rania makan dengan anggun. Gerakannya rapi, tak belepotan, bahkan tanpa suara. Hal sederhana itu saja cukup membuat Arkan diam-diam kagum.
"Kenapa sih???" tanya Rania, menghentikan aktivitas makannya. Ia menatap Arkan dengan dahi sedikit berkerut.
"Kenapa apanya?" Arkan balik bertanya, tetap tenang.
"Kamu curi-curi pandang ke aku, kan." tebak Rania, sedikit kepedean. Meski kenyataannya memang begitu.
"Nggak boleh." sahut Arkan santai, kali ini disertai senyum tipis, senyum sialan yang sukses bikin jantung Rania gelagapan.
"Boleh... nih tatap aja sampai puas. Nggak usah diem-diem." balas Rania sambil terkekeh. "Kasihan kalau curi-curi pandang gitu. Orang yang nggak tahu bisa ngira kamu lagi fall in love with me."
"Mungkin." jawab Arkan singkat.
Rania langsung membeku. Suapan yang hampir masuk ke mulutnya pun tertahan di udara.
Rania menatap Arkan tanpa berkedip, mencoba mencerna jawaban barusan.
"Mungkin." ulangnya pelan, nyaris berbisik, seolah memastikan ia tak salah dengar.
Arkan hanya mengangkat bahu ringan, seolah tak perlu menjelaskan lebih jauh. Ia kembali fokus pada makanannya, tapi ekspresi wajahnya santai, terlalu santai untuk orang yang baru saja menjatuhkan bom kecil.
Rania, di sisi lain, sibuk menenangkan degup jantungnya yang makin tak karuan.
"Bapaknya Zidan..." panggilnya pelan.
Arkan mengangkat wajahnya. "Hm."
Rania menatap serius. "Aku tuh... gampang kepedean. Jangan asal jawab pakai kata mungkin kalau maksudnya cuma bercanda."
Arkan tersenyum tipis lagi. "Siapa bilang saya bercanda."
Rania langsung menunduk. Suapan yang semula tertahan akhirnya masuk ke mulut, tapi jelas rasanya jadi berbeda. Ada yang mendadak manis dan bukan karena makanannya.
Arkan kembali makan dengan tenang, tapi dari sudut matanya, ia masih memperhatikan Rania. Sementara Rania menunduk dalam, pura-pura sibuk mengunyah padahal otaknya sudah memutar ulang kalimat barusan berkali-kali.
"Siapa bilang saya bercanda."
Duh, niatnya cuma bercanda biar suasana cair, kok malah dibalas serius?
"Minumnya pelan-pelan. Nanti keselek." ucap Arkan tiba-tiba saat melihat Rania meneguk air agak terburu-buru. Suaranya datar tapi terasa perhatian.
"Ya ampun, ini duda kenapa makin bikin hati nggak stabil sih." gumam Rania dalam hati, lalu meletakkan gelasnya perlahan.
Arkan bersandar santai di kursinya, lalu menatap Rania dengan tatapan yang membuat gadis itu makin salah tingkah.
"Saya suka lihat kamu kayak gini." katanya akhirnya.
Rania mengernyit. "Kayak gimana???"
"Natural. Apa adanya. Dan... Anggun sekali."
Rania otomatis menutup mulut dengan telapak tangan. "You sengaja bikin I malu, ya." Dumel Rania dengan suara khasnya.
"Nggak usah malu. Kamu itu menarik."
Rania langsung menoleh ke jendela, pura-pura menikmati pemandangan luar. Tapi pipinya jelas merah, senyum kecil di bibirnya tak bisa disembunyikan.
Arkan tersenyum sendiri. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia menikmati makan siang bukan hanya karena makanannya... tapi karena orang yang duduk di seberangnya.
"Berhenti bikin baper anak orang, gak." semprot Rania dengan nada sok galak, meski jelas ada senyum tertahan di sudut bibirnya.
Arkan menoleh santai, menatapnya tanpa ragu. "Yang bikin baper siapa, Rania? Saya nggak main-main. Saya serius."
Rania terdiam. Matanya menatap Arkan, mencoba mencari tanda bahwa pria itu hanya bercanda. Tapi tidak ada. Tatapan Arkan tenang, tulus dan tanpa permainan. Dan entah kenapa, justru itu yang membuat jantung Rania makin berdetak lebih cepat.
"Serius apanya? " tanyanya, mencoba terdengar santai meski suaranya sedikit goyah.
"Serius soal kamu." jawab Arkan tanpa jeda. "Saya tahu ini mungkin terasa terlalu cepat. Tapi saya bukan tipe yang suka tarik ulur. Kalau saya tertarik pada seseorang, saya akan jujur. Dan saya tertarik sama kamu."
Rania terkesiap pelan. Sisa makanan di piringnya mendadak tak lagi menarik. Ia menatap Arkan, ada keterkejutan, kebingungan, sekaligus kehangatan yang merayap diam-diam di dadanya.
"Duda anak dua ngomong gini tuh... bahaya tahu nggak." gumamnya, setengah bercanda.
Arkan tersenyum kecil. "Kalau kamu ngerasa ini bahaya, jauhi saya."
Rania mengangkat wajahnya, menatap Arkan tak percaya.
"Tapi kalau kamu juga penasaran... ya jangan ke mana-mana."
Ia terdiam. Matanya belum berpaling dari pria di hadapannya.
Arkan menatapnya dalam, senyumnya masih menggantung. "Mau coba kenal saya lebih dekat."
Rania mencoba menahan senyum yang nyaris lolos. Ia menunduk sejenak, mengaduk-aduk minumannya yang sudah tak sedingin tadi. Lalu kembali mengangkat pandangan, menatap Arkan lekat-lekatan.
"Kalau ternyata kamu nyebelin gimana?" tanyanya pelan, tapi nadanya setengah menggoda.
"Ya berarti kamu harus tahan banting" sahut Arkan enteng.
Rania mengerutkan bibir. "Hih... belum apa-apa udah nyebelin."
"Mau???"
Hening sejenak. Tapi bukan hening yang canggung. Justru ada ketenangan di antara mereka.
Rania akhirnya mengangguk kecil. "Boleh. Kita coba kenal lebih dekat. Tapi pelan-pelan ya. Jangan buru-buru."
Arkan tersenyum, kali ini lebih lebar, lebih hangat. "Iya. Pelan-pelan, tapi jangan lepasin."
Rania menahan senyum sambil menatap ke luar jendela restoran. Hatinya hangat. Entah ini akan ke mana, tapi untuk pertama kalinya... dia tak ingin buru-buru menolak.
Dan untuk pertama kalinya, dia membiarkan perasaannya tumbuh perlahan, tapi nyata.
Setelah selesai makan, Arkan membayar semuanya tanpa banyak bicara. Rania sempat protes kecil tapi langsung dibungkam dengan tatapan datarnya.
"Anggap aja balasan karena udah nyuri waktu kamu hari ini." ucap Arkan sambil berjalan di sampingnya menuju parkiran.
"Nyuri waktu." Rania menoleh. "Aku kan juga pengen ketemu." lanjutnya pelan tanpa sadar, membuat Arkan menoleh cepat.
Tatapan pria itu dalam, nyaris membuat Rania ingin mengalihkan pandangan, tapi ia bertahan. Arkan tersenyum sedikit, lalu membukakan pintu mobil untuknya seperti sebelumnya.
Di dalam mobil, suasana jadi lebih tenang. Tak ada obrolan berat, hanya percakapan ringan yang membuat mereka sama-sama nyaman.
"Boleh nanya satu hal?" tanya Rania pelan di tengah perjalanan.
Arkan melirik sekilas. "Boleh."
"Kamu beneran gapapa buka hati lagi?"
Mengenal lebih deket artinya buka hati, kan?
Arkan tidak langsung menjawab. Tapi ekspresinya tetap tenang.
"Saya nggak pernah nutup hati. Saya cuma nunggu waktu yang pas dan orang yang tepat." jawabnya akhirnya. "Dan sekarang, saya ngerasa... mungkin waktunya udah datang."
Rania diam. Kata-kata Arkan terlalu tulus untuk tidak membuat hatinya goyah.
"Gimana kalau akunya yang takut." tanyanya, jujur.
Arkan menatap lurus ke depan. "Kalau kamu takut, saya pelan-pelan jalanin bareng kamu. Kamu cukup seperti biasa aja."
Rania menatap pria itu lama. Tak menjawab. Tapi diamnya adalah iya yang tersirat.
Dan sore itu, meski jalanan macet dan langit mendung, hati mereka seolah menemukan satu ruang nyaman yang tak ingin segera ditinggalkan.
Sementara suasana di mobil Arkan and Rania terasa hangat dan tenang, suasana di depan gerbang sekolah justru sebaliknya. Langit mendung menggantung berat, angin mulai berembus dingin, dan suara gemuruh pelan terdengar dari kejauhan.
Zidan and Galang berdiri di bawah atap kecil dekat gerbang sekolah, sama-sama merengut.
"Duh, kenapa tadi gue nggak cek cuaca dulu sih..." gerutu Zidan sambil melirik ke langit yang semakin gelap.
Galang menghela napas panjang, memeluk tasnya. "Gue udah bilang tadi pagi, bakal hujan. Tapi lo nggak percaya."