NovelToon NovelToon
Dibuang Keluarga Ku,Dipilih Suamiku

Dibuang Keluarga Ku,Dipilih Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami / Nikahmuda
Popularitas:11.2k
Nilai: 5
Nama Author: sopiakim

Diasingkan keluarga sendiri dan dituntut menopang hidup sang kakak yang seorang model, Aruna terbiasa mengalah hingga dijebak orang tuanya ke dalam pernikahan paksa dengan Kaivan Adikara. Kaivan yang dingin dan perfeksionis terlanjur menuduh Aruna sebagai wanita licik yang sengaja menjebaknya demi menumpang hidup, membuat hari-hari Aruna di rumah itu terasa makin kelam dan penuh prasangka.

​Di tengah dinginnya dinding rumah Kaivan dan tekanan dari keluarga yang terus merendahkannya, Aruna perlahan belajar berhenti mengemis kasih sayang. Namun tepat saat Aruna mulai menyerah dan menutup hatinya rapat-rapat, Kaivan justru baru menyadari luka mendalam yang disimpan sang istri-memaksa pria itu berjuang dari nol untuk menebus kesalahannya sebelum semuanya terlambat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sopiakim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14.Dingin dan sakit

Keheningan malam di rumah megah itu terasa makin pekat dan menekan. Cahaya rembulan yang menerobos masuk lewat celah tirai besar di ruang tengah hanya mampu menerangi sebagian lantai marmer yang mengkilap—lantai yang tadi pagi menjadi saksi bisu hancurnya sisa-sisa harapan Aruna.

Di dalam kamarnya yang gelap di ujung koridor lantai dua, Aruna meringkuk di atas kasur tanpa menyalakan lampu sama sekali. Selimut tipis membungkus tubuh ringkihnya yang tak berhenti bergetar pelan. Suara derap langkah kaki Kaivan yang tadi sempat berhenti beberapa detik di depan pintunya sebelum akhirnya berjalan menjauh masih teringat jelas di benak Aruna.

Setiap kali bayangan wajah Kaivan yang merah padam oleh amarah muncul, dada Aruna terasa menyempit. Sesak yang mencekik itu datang bertubi-tubi. Rasa sakit fisik dari cipratan air kopi panas di tangannya yang kini membengkak kemerahan kalah jauh dari perih di ulu hatinya.

"Harusnya aku biarkan saja kau mati pingsan di atas lantai hari itu..."

Kalimat dingin dan beracun dari mulut Kaivan berputar berulang-ulang seperti kaset rusak di kepalanya. Aruna memejamkan mata erat-erat, menahan terpaan air mata baru yang kembali meleleh membasahi bantalnya.

Kenapa kebaikan kecil yang sempat ia rasakan tiga hari lalu harus dibayar dengan luka yang jauh lebih dalam? Mengapa setiap kali ia mencoba mempercayai bahwa dunia ini masih memiliki sedikit rasa iba untuknya, takdir selalu menyeretnya kembali ke dalam kubangan penderitaan?

Gadis itu tidak bisa menyalahkan Kaivan sepenuhnya. Pria itu adalah korban dari ketamakan keluarga Rasyara keluarga yang kebetulan melahirkannya namun tak pernah menganggapnya ada. Ibunya, Rosmala, dan ayahnya, Rendra Rasyara, selalu menjadikan dirinya sebagai bidak martir yang siap dikorbankan demi menyelamatkan nama baik dan harta mereka.

Dalam pekatnya malam, Aruna memeluk dirinya sendiri. Ia merasa sangat terasing, sangat sendirian di dalam sangkar emas yang dingin ini.

Sementara itu, di kamar utamanya yang luas dan serba mewah, Kaivan berdiri di depan jendela kaca setinggi langit-langit. Pria itu bertelanjang dada, hanya mengenakan celana kain hitam dengan kedua tangan terbenam di saku. Tatapannya menembus kegelapan malam, mengarah ke pepohonan rimba di pekarangan belakang rumahnya.

Rasa kantuk sama sekali tidak menyapa mata Kaivan. Pikiran pria itu kacau balau, dipenuhi rasa gusar yang tidak rasional.

Di atas meja kerjanya yang tak jauh dari tempat tidur, secarik kertas kecil tulisan tangan Aruna yang tadi ia bawa dari meja makan tergeletak di sana.

Kertas itu seolah memancarkan energi tak kasat mata yang terus menerus menarik perhatian Kaivan.

Saya tidak akan menampakkan diri di hadapan Pak Kaivan lagi.

Kaivan mendengus kasar, membuang napas panjang lewat mulutnya. "Bagus kalau tahu diri," gumamnya dengan nada suara kaku dan dingin, mencoba meyakinkan hatinya sendiri.

"Perempuan Rasyara memang harus diajar bersikap seperti itu supaya tidak melunjak."

Namun, di balik kata-kata tegas yang dilontarkan pikirannya, ada suara kecil di sudut hatinya yang terus mengusik.

Kenapa ia merasa begitu terganggu ketika Aruna benar-benar menuruti perintahnya? Bukankah ia yang menyuruh gadis itu mematuhinya dan menghilang dari pandangannya? Kenapa rumah ini mendadak terasa makin hampa dan mencekik tanpa kehadiran bayangan gadis polos yang biasanya lalu-lalang menyeduh kopi atau menyapu lantai?

Kaivan mengepalkan tangannya kencang-kencang. Rahangnya menegang. Ia membenci perasaan tidak berdaya ini. Ia membenci kenyataan bahwa kehadiran seorang Aruna—yang ia anggap barang jaminan dan anak dari musuh bisnisnya—mulai mengusik ketenangan emosional yang selama bertahun-tahun ini ia jaga dengan ketat.

Dia cuma akting, Kaivan membentak nuraninya sendiri. Semua ketundukan dan tulisan tangan menyedihkan itu cuma taktik manipulasi supaya aku merasa bersalah. Aku tidak boleh jatuh ke dalam lubang yang sama.

Dengan langkah kaku dan ego yang kembali membatu, Kaivan berjalan menuju tempat tidurnya, mematikan lampu kamar, dan mencoba memaksakan matanya terpejam di dalam kegelapan.

Keesokan harinya, sinar matahari pagi menusuk masuk ke seluruh penjuru rumah Adikara Group. Suasana pagi itu berjalan dengan sangat hening, begitu steril dan kaku.

Kaivan turun ke lantai dasar pukul tujuh pagi tepat. Pria itu sudah rapi dalam balutan setelan jas abu-abu gelap buatan Italia. Sorot matanya tajam dan tidak bersahabat, siap menghadapi hari berat di kantor untuk memulihkan stabilitas saham perusahaannya akibat skandal foto tersebut.

Saat Kaivan melangkah ke ruang makan, meja makan tampak sudah bersih dan rapi. Sebuah cangkir kopi hitam panas yang uapnya masih mengepul lembut sudah menanti di atas tatakan, lengkap dengan sarapan berupa roti panggang dan telur mata sapi yang tertata sempurna.

Namun, tidak ada Aruna di sana.

Sesuai janji di kertas kecilnya dan perintah ketat Kaivan kemarin pagi, Aruna benar-benar menyembunyikan dirinya. Tidak ada cicitan suara minta maaf, tidak ada sapaan takut-takut, dan tidak ada sosok ringkih yang berdiri menunduk di dekat konter dapur.

Kaivan memandangi cangkir kopi panas itu selama beberapa detik. Ada riak kejengkelan yang muncul di matanya, meski ia sendiri tidak tahu apa yang membuat dirinya jengkel. Pria itu menarik kursi kayu dengan agak kasar, lalu duduk di atasnya.

Ia menyambar cangkir kopi itu dan menyesapnya sedikit. Rasanya pas—pahit, hangat, dengan sedikit jejak manis alami yang biasa ia sukai. Namun hari ini, kopi favoritnya itu terasa hambar di tenggorokan Kaivan.

Puk.

Kaivan meletakkan kembali cangkir keramik itu ke atas meja dengan bunyi ketukan kaku. Pria itu menyambar roti panggangnya, mengunyahnya dengan cepat tanpa selera, lalu bangkit berdiri. Ia bahkan tidak menghabiskan separuh dari sarapan yang sudah disiapkan dengan susah payah oleh Aruna.

"Baguslah kalau dia mengerti bahasa manusia," omel Kaivan sendirian dengan nada ketus, melangkah keluar meninggalkan ruang makan menuju pintu utama.

"Tidak usah menampakkan wajah sekalian selamanya."

Namun, tepat saat jemari Kaivan menyentuh gagang pintu utama rumahnya untuk berangkat ke kantor, suara dering ponsel dari saku jasnya memecah kesunyian.

Kaivan merogoh ponselnya. Begitu melihat nama yang tertera di layar digitalnya, alis tebal pria itu bertaut tajam. Matanya membeku, memancarkan aura permusuhan yang sangat pekat.

Rendra Rasyara.

Pria tua serakah itu akhirnya memberanikan diri meneleponnya secara langsung setelah berbagai panggilannya ke sekretaris kantor diabaikan kemarin.

Kaivan menggeser tombol hijau di layar dengan gerakan kaku dan angkuh. Ia menempelkan ponsel itu ke telinganya tanpa mengucapkan sepatah kata pun, membiarkan keheningan mengintimidasi pihak di ujung telepon.

"H-halo? Kaivan? Nak Kaivan?" suara Rendra Rasyara terdengar agak gemetar di ujung telepon, mencoba terdengar ramah dan akrab dengan nada yang sengaja dibuat-buat. "Akhirnya kamu mengangkat telepon dari Papa..."

"Saya tidak punya waktu untuk obrolan tidak berguna, Pak Rendra," potong Kaivan dingin dan tajam seperti mata pisau, tanpa memberi penghormatan sedikit pun pada pria tua itu. "Sampaikan maksud Anda dalam sepuluh detik sebelum saya memblokir nomor ini."

Di ujung telepon, Rendra terdengar berdehem canggung, terkejut oleh ketegasan dan nada bicara Kaivan yang begitu menusuk. Namun, kesombongan dan kebutuhan finansial Rendra mengalahkan rasa malunya.

"Begini, Nak Kaivan... Soal Berita di media kemarin... Papa yakin kamu sudah lihat," ujar Rendra dengan suara yang diusahakan sehalus mungkin.

"Rosmala—ibunya Aruna—memang agak ceroboh memposting foto akad kalian. Tapi bagaimanapun juga, publik sekarang sudah tahu kalau keluarga kita sudah berbesan. Ini kesempatan bagus untuk Adikara Group dan Rasyara Group!"

Sudut bibir Kaivan terangkat, membentuk ulasan senyum sinis yang sarat akan kehinaan luar biasa. "Kesempatan bagus? Maksud Anda, kesempatan bagi perusahaan bangkrut Anda untuk menumpang hidup pada nama Adikara?"

Rendra tertahan sebentar, suaranya terdengar panik dan sedikit tersinggung. "Kaivan! Tolong jaga bicaramu! Bagaimanapun Aruna sekarang adalah istri sahmu! Kamu sudah memberikan jaminan tiga puluh miliar itu pada kami, dan Aruna sudah ada di rumahmu! Bukankah sudah sewajarnya Adikara Group menyuntikkan dana investasi tambahan lima puluh miliar lagi untuk proyek Rasyara Group yang baru?"

Mendengar angka lima puluh miliar yang dilontarkan Rendra dengan begitu santai dan tanpa rasa malu, darah di tubuh Kaivan seketika mendidih kembali. Kemarahan yang tadi pagi sempat mereda kini meledak luar biasa di dalam dadanya.

Pria tua ini... tidak hanya menjual anak kandungnya sendiri sebagai barang jaminan tiga puluh miliar, tetapi kini mencoba memerasnya lebih jauh menggunakan berita murahan di media sosial!

"Dengar baik-baik, Rendra Rasyara," desis Kaivan dengan nada suara melengking rendah yang sangat mengerikan, menekan setiap kata dari balik giginya yang mengatup rapat. "Jangan pernah berani menyebut kata 'istri' atau 'keluarga' di hadapanku. Aruna di rumah ini bukan siapa-siapa! Dia hanyalah barang yang Anda gadaikan untuk menutupi utang busuk Anda!"

"K-Kaivan... tapi Aruna—"

"Satu rupiah pun dari Adikara Group tidak akan pernah mengalir lagi ke kantong Anda!" bentak Kaivan, suaranya menggelegar di pelataran pintu depan.

"Jika dalam dua puluh empat jam berita sampah di media itu tidak diturunkan dan nama perusahaanku tidak dibersihkan dari keterlibatan busuk Anda, aku pastikan besok pagi sisa-sisa aset Rasyara Group akan kubeli dan kulelang sampai Anda tidak punya tempat tinggal!"

"Jangan, Kaivan! Tolong! Kita bisa bicarakan ini baik-baik! Pikirkan nasib Aruna di sana kalau kamu menghancurkan keluarganya!" seru Rendra panik dari ujung telepon.

"Nasib Aruna?!" Kaivan tertawa sumbang—sebuah tawa dingin yang tidak memiliki kehangatan sedikit pun. "Tanyakan pada diri Anda sendiri saat Anda membiarkan anak Anda tinggal di sini sebagai jaminan! Anda yang menghancurkan hidupnya, Rendra! Bukan aku!"

TUT.

Kaivan mematikan sambungan telepon itu secara sepihak dengan napas memburu kasar. Pria itu memegangi ponselnya erat-erat, matanya menyala-nyala oleh amarah murni. Rasa jijik dan kebenciannya pada keluarga Rasyara kini mencapai puncaknya.

Kaivan berbalik secara mendadak, membatalkan niatnya untuk melangkah keluar pintu. Sepatu kulit mewahnya berderak kencang di atas lantai saat ia berjalan kembali menuju arah tangga lantai dua dengan langkah lebar yang sarat akan bahaya.

Prasangka buruk yang tadi malam sempat goyah kini kembali membakar seluruh logikanya. Di pikiran Kaivan yang sedang dibutakan amarah, Rendra berani menelepon dan meminta lima puluh miliar lagi pasti karena ada dorongan atau informasi dari dalam rumah ini. Siapa lagi kalau bukan Aruna yang membocorkan bahwa Kaivan sempat bersikap 'lunak' padanya beberapa hari lalu?

"Aruna!" geram Kaivan pelan saat ia menaiki anak tangga dengan cepat.

Pria itu menyusuri koridor lantai dua yang sepi, melangkah mantap menuju kamar di ujung lorong. Tanpa mengetuk pintu dan tanpa peringatan apa pun, Kaivan mendorong pintu kayu kamar Aruna dengan tebasan tangan yang kuat.

BRAK!

Pintu kayu itu terhempas menghantam dinding kamar.

Aruna yang saat itu sedang duduk di tepi tempat tidur sambil mencoba mengobati punggung tangannya yang melepuh dengan salep murah seketika terlonjak kaget.

Botol salep kecil di tangannya terjatuh ke lantai. Wajah gadis itu yang masih pucat pasrah langsung berubah semakin putih bersih bak mayat karena syok.

Kaivan berdiri menutupi ambang pintu, tubuh tingginya membayangi kamar yang remang-remang itu dengan aura kegelapan yang pekat. Matanya yang memerah menatap Aruna dengan kepenuhan amarah dan cemoohan yang mematikan.

"Gadis manis yang penurut, hm?" bisik Kaivan dengan suara yang begitu dingin hingga mampu membekukan udara di dalam ruangan. Pria itu melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya dengan hempasan kencang.

_Bersambung

1
Diki Nd
👍👍👍👍
Diki Nd
💪💪💪
dinda aja
sukaaa lanjutkan yahhh
dinda aja
🤭🤭🤭🤭
Pendi Gudung
lanjuttt min
Fadillah Langsa
lanjut napa kak
Ijal Messi
ngakak 🤭🤭
Ijal Messi
lanjuttt
Ijal Messi
🤣🤣🤣
li za
mana kelanjutan nya min
Lenovo A
lanjuttt
Bambang Suanto
duhhh ngakak keciduk
Bambang Suanto
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Bambang Suanto
sedihh
Industri Kreatif
asli seruuu
sosa
Seruu parah
sosa
Sukaa
Rian Moontero
lanjooott👍👍
Isannn
😍😍😍
Alle Salsa
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!