Ia mengenal dunia ini sebagai permainan. Kini, setiap kesalahan bisa merenggut nyawanya.
Setelah meninggal saat mengejar quest rahasia, Lin Feng terbangun di dunia Eternal Heaven Online, game kultivasi yang telah ia mainkan bertahun-tahun. Pengetahuannya tentang peta, sekte, dungeon, dan alkimia memberinya bekal untuk bertahan. Namun, dunia ini nyata: tak ada tombol keluar atau kesempatan respawn.
Lebih buruk lagi, peristiwa mulai menyimpang dari ingatannya. Orang-orang yang dulu ia anggap karakter permainan memiliki kehendak sendiri, dan setiap pilihan membawa konsekuensi. Untuk bertahan dan mengungkap misteri dunia barunya, Lin Feng menempuh jalan alkimia—dari meracik pil sederhana hingga mengejar puncak yang disebut Pill Sovereign.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uranenantios, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5 - TANGAN YANG BELUM KUINGAT
Ayahnya pulang ketika matahari mulai turun.
Lin Feng mendengar langkah berat di halaman, disusul suara ember diletakkan di tanah. Ibunya sedang menambal baju di dekat pintu. Jarum di tangannya berhenti bergerak.
“Dia sudah sadar?” tanya seorang lelaki dari luar.
“Sudah. Jangan masuk dengan sepatu berlumpur.”
“Kalau begitu dia sudah lebih kuat dariku.”
Pintu terbuka. Lelaki berbahu lebar itu menunduk melewati ambang. Bajunya berdebu dan bagian bawah celananya basah oleh lumpur. Sebuah kapak kecil terselip di ikat pinggang. Ia tampak lebih muda daripada yang Lin Feng bayangkan dari kata ayah—mungkin baru melewati empat puluh—tetapi garis lelah di wajahnya membuat umur sulit ditebak.
Tatapan mereka bertemu.
Dalam dada Lin Feng ada tarikan aneh, sebuah keakraban yang tak sampai menjadi ingatan. Tubuhnya mengenali lelaki itu. Pikirannya tidak.
“Ayah,” katanya.
Lelaki itu mengembuskan napas panjang. Ia menghampiri Lin Feng, lalu berjongkok agar wajah mereka sejajar. “Bisa melihat dengan jelas? Kepalamu pusing?”
“Sedikit.”
“Bisa menggerakkan jari?”
Lin Feng melakukannya.
“Bagus.” Ayahnya memeriksa goresan di telapak, lalu rusuknya tanpa menekan. “Tidak ada darah di telinga. Itu kabar baik.”
“Kau bukan tabib,” kata ibunya.
“Tidak. Tapi aku cukup sering jatuh dari tangga untuk tahu kapan tulangku masih utuh.”
Jawaban itu membuat ibunya mendengus kecil. Ketegangan di bahunya berkurang sedikit. Lin Feng memperhatikan pertukaran mereka. Tidak ada yang berpura-pura tenang demi dirinya. Mereka lelah, khawatir, dan masih menjalankan urusan rumah. Dunia tetap bergerak di luar rasa takutnya.
“Aku minta maaf sudah membuat kalian khawatir,” katanya.
Ayahnya berhenti memeriksa. “Kau ingat kenapa pergi ke bukit?”
“Aku ingat hendak mencari kerja di kota. Bagian setelah itu agak kabur.”
“Jalan pintas di lereng?”
“Mungkin.”
Ayahnya menatap istrinya sejenak. “Dia memang melewati sana.”
Lin Feng mengangguk, menyembunyikan kenyataan bahwa ingatannya bukan kabur biasa. Ada ruang besar yang kosong. Ia tahu ia tinggal di rumah ini, mengenal suara ibunya, bahkan mengenali rasa malu yang muncul ketika namanya disebut di hadapan orang lain. Namun ia tidak bisa mengingat wajah ayahnya dengan jelas sampai lelaki itu berdiri di depannya.
“Aku bisa mengingat beberapa hal, tapi urutannya kacau,” ujarnya. “Tabib bilang kepalaku terbentur.”
“Tabib belum memeriksamu,” kata ibunya.
“Aku hanya ingin mencegahmu memaksa diri.” Ayahnya menepuk bahunya sekali, ringan. “Kau tak perlu mengingat semuanya malam ini.”
Lin Feng mengamati tangan ayahnya. Telapak tangannya lebar, kulitnya menebal di pangkal jari. Tangan yang sama, pikirnya, mungkin pernah mengangkatnya ke punggung saat masih kecil. Pikiran itu bukan miliknya, tetapi ada jejak hangat yang tertinggal ketika ia membayangkannya.
“Ayah,” katanya setelah ragu sejenak, “aku pernah mencoba berkultivasi?”
Ibunya mengangkat pandangan dari jahitan.
Ayahnya tidak langsung menjawab. “Kau pernah ikut pemeriksaan bakat ketika utusan sekte datang ke desa. Kau masih kecil.”
“Apa hasilnya?”
“Biasa.” Ia mengatakannya tanpa mengejek, seakan itu sekadar ukuran panen. “Tidak cukup buruk untuk membuatmu sakit, tidak cukup baik untuk menarik perhatian sekte. Orang itu bilang kalau kau ingin belajar, kau bisa mulai menguatkan tubuh, tapi tak ada jaminan akan pergi jauh.”
Lin Feng menunggu rasa kecewa atau marah. Ia hanya merasakan ruang kosong yang kembali berdenyut. Dalam ingatan tubuh, hari pemeriksaan itu penuh suara anak-anak, bau keringat, dan tatapan orang dewasa yang menunggu keputusan. Ada rasa malu karena seorang anak lain dipuji sementara ia diminta mundur.
“Aku tidak pernah belajar teknik?”
“Tidak ada guru di dusun ini,” jawab ayahnya. “Dan buku teknik bukan barang yang bisa kita beli begitu saja. Kau bisa berlatih tubuh seperti pemuda lain, tapi kau lebih tertarik bekerja di kota.”
“Jadi aku belum mencapai Body Tempering?”
“Aku tidak tahu istilah yang kau pakai.” Ayahnya mengernyit. “Kalau yang kau maksud latihan untuk menguatkan otot dan tulang, kau pernah mencoba. Kau berhenti setelah beberapa minggu karena merasa itu tak akan membawamu ke mana-mana.”
Keterangan itu terasa masuk akal, tetapi bukan kepastian. Lin Feng pernah memainkan kultivasi dengan menekan pilihan latihan dan melihat angka atribut meningkat. Ia tidak tahu bagaimana rasanya menguatkan tulang melalui latihan harian, apalagi membedakan tubuh sehat dari tubuh yang benar-benar menyerap Qi.
“Sepertinya aku harus belajar lagi dari awal.”
“Belajar apa?”
“Banyak hal.”
Ayahnya mempelajari wajahnya, barangkali mencari tanda demam. “Kalau kepalamu masih sakit, istirahat dulu. Urusan kota bisa menunggu beberapa hari.”
“Paman Wu bilang jalan belum akan pindah.”
Ayahnya tertawa pendek. “Untuk sekali ini, dia benar.”
Ia duduk di bangku berseberangan. Ibunya menuangkan air hangat untuknya. Mereka membicarakan pekerjaan di ladang Zhao, kerusakan kecil di pagar barat, dan gerobak yang tertahan di jalan berlumpur. Lin Feng mendengarkan lebih banyak daripada bicara. Beberapa nama tempat tak ia kenal. Yang lain—Azure Cloud City, sungai, gerbang utara—membuat ingatan game-nya berusaha menyusun peta di balik kata-kata itu.
Ia menahan diri untuk tidak menyela setiap kali ada nama yang terasa penting. Orang-orang ini tidak berkewajiban menjawab pertanyaannya seperti karakter yang menunggu pemain memilih dialog. Jika ia bertanya terlalu banyak, mereka mungkin cemas atau curiga. Ia harus belajar kapan diam.
Saat ayahnya bercerita tentang perjalanan lama ke kota, gambaran samar muncul: tembok tinggi kelabu, gapura dengan genting biru, dan pasar yang berbau minyak serta rempah. Lin Feng pernah melihat gerbang itu dari sudut pandang pemain. Ia tidak yakin apakah ingatan ini milik tubuh atau miliknya sendiri, tetapi kemiripannya cukup untuk membuat tengkuknya meremang.
“Aku pernah ke sana waktu kecil?” tanyanya.
“Pernah. Kau tak berhenti bertanya kenapa temboknya tinggi.” Ayahnya menyeringai. “Kau bilang kalau semua orang bisa memanjatnya, tembok itu tidak berguna.”
“Aku mengatakan itu?”
“Kau mengatakan banyak hal yang membuat orang dewasa pusing.”
Kali ini Lin Feng sungguh tersenyum. Ada sesuatu yang melegakan dari cerita itu. Ia tidak bisa mengingatnya, tetapi lelaki di hadapannya mengingat. Kenangan itu tidak perlu ia rebut atau pura-purakan. Ia bisa mendengarnya sebagai cerita tentang anak yang pernah hidup di tubuh ini.
Malam turun. Ibunya menyuruhnya berbaring sebelum ia terlalu lelah. Ayahnya mengangkat bungkusan kain dari meja dan menaruhnya di dekat dipan.
“Uangmu tinggal enam keping,” katanya. “Jangan habiskan untuk membeli barang yang belum kau pahami di kota.”
“Aku akan berhati-hati.”
“Bagus. Dan jangan kembali ke jalan bukit sendirian.”
Lin Feng mengangguk. “Aku tidak akan pergi sebelum pulih.”
Ayahnya mengamatinya sejenak, lalu menerima janji itu tanpa memaksa. Ia tidak meminta sumpah. Ia hanya percaya secukupnya untuk membiarkan anaknya beristirahat.
Dalam gelap, Lin Feng berbaring dan memikirkan pemeriksaan bakat yang pernah dilalui tubuh ini. Tidak ada keistimewaan yang menunggu untuk dibuka. Tidak ada sekte yang datang menjemputnya. Hanya keluarga biasa, enam keping tembaga, dan tubuh muda yang belum pernah belajar mengolah Qi.
Ia merasa lega sekaligus takut.
Di game, karakter biasa bisa menjadi kuat karena pemain tahu jalur yang benar. Di dunia ini, ia bahkan belum tahu apakah latihan yang ia ingat akan bekerja pada tubuh manusia sungguhan.
Untuk pertama kalinya, ia tak ingin langsung mencari jalan pintas.
Ia ingin tahu siapa anak yang hidup di tubuh ini sebelum dirinya datang—dan apakah ia masih memiliki sesuatu yang bisa disebut miliknya.