Setiap hari aku difitnah mertuaku.
_"Kamu pembawa sial! Perempuan boros!"_
Aku berharap suamiku, Arman, membelaku. Tapi ia hanya diam.
_"Maafkan Ibu, Alya. Aku gak mau jadi anak durhaka."_
Sampai akhirnya aku diusir dan diceraikan di depan anak-anakku.
_"Talak satu aku jatuhkan padamu."_
Kini aku janda dua anak, hidup dari jualan kue sambil menahan gunjingan.
Saat aku mulai bahagia dengan Farhan, mantan suamiku datang ingin rujuk.
Bukan aku yang jahat, Mas. Kenapa semua menyalahkanku?
Note :
Dilarang boom like ❌
Dilarang lompat bab ❌
Jika kalian suka dengan cerita ini,jangan lupa tinggalkan jejak dengan like ,komen dan jangan pelit-pelit untuk kasih vote & kotak hadiahnya 🥰🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atha Diyuta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3 Genit
Setelah kejadian uang seratus ribu itu, aku pikir Ibu Ratna akan sedikit diam. Aku pikir rasa malunya karena kebohongan kecilnya terbongkar oleh Nisa akan membuatnya menahan diri.
Ternyata aku salah lagi.
Justru setelah itu, ia semakin menjadi-jadi. Semakin menyebalkan,semakin banyak drama.
Mungkin karena ia tau, apapun yang dilakukan, Arman akan selalu membelanya. Dan apapun yang aku lakukan, aku akan selalu salah.
Pagi itu, hari Jumat. Uang belanja dari Arman tinggal dua puluh ribu. Dua puluh ribu untuk makan bertiga, untuk susu Raffi, untuk jajan Nisa. Aku bingung harus bagaimana.
Aku teringat kue lapis buatan ibuku di kampung. Ibu sering membuatkan untukku kalau aku pulang. Kuenya enak, lembut, manisnya pas.
Aku punya ide. Bagaimana kalau aku membuat kue dan menjualnya keliling komplek? Lumayan untuk tambah-tambah beli susu Raffi.
Siang itu, setelah menyuapi Raffi dan menidurkan Nisa, aku membuat kue lapis dari resep ibuku. Tepung beras, santan, gula merah. Aku membuatnya dengan penuh hati-hati. Tanganku yang pecah-pecah perih terkena adonan panas, tapi merasa aku senang dan tetap semangat. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku melakukan sesuatu untuk diriku sendiri.
Sore jam tiga, kue lapis itu jadi. Dua loyang besar. Harumnya memenuhi dapur kecilku. Nisa bertepuk tangan senang.
"Wah, Mama bikin kue! Enak, Ma?"
"Enak dong sayang. Nanti kita jual ya, biar bisa beli susu buat Raffi."
Aku potong kue itu menjadi potongan-potongan kecil, kubungkus plastik satu per satu. Kumasukkan ke dalam baskom besar yang kututup kain bersih.
Aku pamit pada Ibu Ratna yang sedang nonton TV di ruang tamu.
"Bu, saya izin mau jualan kue keliling komplek sebentar ya Bu. Titip Nisa dan Raffi sebentar."
Ibu Ratna melirikku dari ujung mata. Dari atas sampai bawah. Tatapannya menghina.
"Jualan kue? Kamu? Bisa bikin kue memangnya kamu? Jangan-jangan kue basi yang kamu jual ke orang nanti bikin orang sakit perut!"
"Kuenya baru jadi Bu, masih hangat. Resep dari Ibu saya Bu."
"Alah, Ibu kamu itu siapa? Bisa bikin kue enak memangnya? Sudah sana, jualan sana, jangan lama-lama. Rumah masih berantakan!"
Aku mengangguk dan keluar dengan baskom di kepala. Panas sore itu menyengat. Jalanan komplek berdebu. Aku berjalan dari rumah ke rumah.
"Bu, beli kue lapisnya Bu, seribu satu Bu, enak Bu, baru matang..."
Tidak ada yang membeli. Satu rumah menolak, dua rumah menolak. Keringatku bercucuran. Kakiku mulai terasa pegal.
Sampai di ujung komplek, ada seorang bapak-bapak tukang ojek yang mangkal.
"Bu, kuenya berapa?"
"Seribu satu Pak, mau berapa Pak?"
"Beli lima ribu deh Bu, buat anak di rumah."
Alhamdulillah. Akhirnya ada penglaris pertamaku.Lima ribu pertamaku, tanganku gemetar menerima uang itu.
Aku melanjutkan perjalanan. Sampai hampir maghrib, baru laku dua belas ribu. Tidak banyak, tapi cukup untuk beli susu Raffi yang paling kecil.
Aku pulang dengan hati sedikit lega. Setidaknya aku berusaha.
Tapi lega itu hanya bertahan sampai di depan gerbang.
Di depan rumahku, Ibu Ratna sudah berdiri dengan dua tetangga. Bu RT dan Bu Yuni. Wajahnya merah padam seperti sedang menahan amarah.
Dan Arman sudah ada di sana juga. Baru pulang kerja, masih memakai seragam kerjanya.
"Alya! Sini kamu!" teriak Ibu Ratna dengan suara yang sangat kencang sampai satu komplek mendengar.
Aku kaget. Baskom di kepalaku hampir jatuh.
"Ya Bu?"
"Kamu dari mana saja hah! Jualan kue katanya? Jualan kue dari jam tiga sampai hampir maghrib? Jualan kue apa keluyuran!"
"Bu, saya jualan keliling Bu, jalannya jauh Bu, jadi lama..."
"Bohong! Bu RT lihat sendiri! Tadi kamu ngobrol lama sama tukang ojek di ujung komplek! Genit! Kamu itu genit ya! Sudah punya suami masih genit sama laki-laki lain!"
Darahku seakan berhenti mengalir.
"Bu, itu tadi pembeli Bu, bapak ojek beli kue lima ribu."
"Pembeli,alasan pembeli! Kamu pikir Ibu bodoh! Jualan kue cuma alasan! Kamu dandan cantik-cantik pakai lipstik, pakai bedak, mau cari laki-laki lain ya! Mau menggoda laki-laki diluar sana iya?Pantas saja Arman rezekinya seret, karna kelakuan istrinya tidak benar!"
Aku tidak memakai lipstik. Aku tidak memakai bedak. Wajahku penuh keringat dan debu.
Bu RT dan Bu Yuni berbisik-bisik sambil menatapku dengan tatapan jijik.
Aku menatap Arman, tatapan penuh permohonan.Andai aku bisa mengatakan,aku ingin katakan.Tolong mas bela aku kali ini saja!" Namun itu hanya sebatas ucapan yang tak bisa keluar dari mulutku.
"Mas, percaya sama aku.Aku keluar untuk jualan kueh karna susu rafii habis mas.Aku sudah keliling dan aku hanya mendapatkan 12.000 saja dari jam 3 sore tadi.
Arman menatapku dengan tatapan yang tidak pernah kulihat sebelumnya. Tatapan malu, Tatapan jijik dan mungkin penuh rasa curiga.
"Alya, kamu mau mempermalukan saya ya!" katanya dengan suara keras. "Jualan keliling komplek seperti pengemis! Apa kamu tidak melihat bagaimana tetangga menatap kamu bagaimana! Kamu bikin malu saya di depan orang-orang!"
"Mas, aku cuma mau bantu kamu Mas, uang belanja tinggal dua puluh ribu Mas sementara susu Raffi habis."
"Uang belanja habis itu kamu tinggal bilang! Jangan jualan keliling seperti itu! Kamu itu istriku, aku malu Al malu!"
Ibu Ratna langsung menyambar.
"Lihat, Man! Istrimu selalu melawan! Mama bilang juga apa! Dia tidak pernah mau nurut sama kamu .Dia memang perempuan tidak benar! Tadi dia mulai genit sama tukang ojek! Bu RT melihat sendiri!"
Bu RT yang dari tadi diam, akhirnya ikut bicara.
"Iya, Bu Ratna, tadi saya lihat memang Alya ngobrol agak lama sama tukang ojek itu."
Padahal ngobrol itu hanya satu menit untuk transaksi jual beli.
Tapi satu kalimat Bu RT itu sudah cukup untuk menghancurkan sisa harga diriku.
Arman langsung menarik baskom dari kepalaku dengan kasar. Kue-kue yang tersisa berjatuhan ke tanah bahkan diinjak-injak.
"Masuk kamu! Masuk! Jangan bikin malu di luar!"
Nisa yang melihat dari dalam rumah langsung berlari dan memelukku sambil menangis.
"Mama... Mama..."
Raffi yang ada di gendongan Ibu Ratna ikut menangis kencang karena melihat keributan.
Aku masuk ke dalam dengan kue-kue yang sudah kotor penuh debu di tanganku. Dua belas ribu hasil jualanku kugenggam erat.
Malamnya, Arman tidak bicara padaku. Ia duduk di ruang tamu bersama ibunya. Aku mendengar percakapan mereka.
"Man, Mama sudah tidak kuat punya menantu seperti itu. Genit sama laki-laki diluaran,tukang bohong, maling. Kasihan kamu man.Kamu kerja keras, istrimu keluyuran cari perhatian laki-laki lain."
"Sabar ya Bu, nanti Arman pasti nasehati Alya."
"Nasehati apa lagi? Ceraikan saja man! Mama carikan istri yang lebih baik. Yang cantik, yang nurut, yang tidak genit."
Jantungku berhenti.
Ceraikan.
Kata itu keluar begitu mudahnya dari mulut Ibu Ratna dan Arman hanya diam,tidak menolak, tidak juga membelaku.
"Astaga,apa mungkin Arman akan patuh dengan perintah ibunya?" gumamku pelan.
Aku masuk ke kamar. Mengunci pintu. Memeluk Nisa dan Raffi yang sudah tertidur dengan air mata yang masih basah di pipi mereka.
Kubuka genggaman tanganku. Dua belas ribu itu masih ada. Uang yang kudapat dengan berjalan kaki dua jam di bawah terik matahari. Uang yang kudapat dengan susah payah.
Kulipat uang itu dan kumasukkan ke dalam celengan ayam Nisa untuk membeli susu Raffi besok.
Di luar kamar, aku masih mendengar suara Ibu Ratna.
"Besok jangan kasih dia uang belanja, Man. Biar dia tahu rasa. Perempuan boros seperti itu tidak usah dikasih Dikasihani malah ngelunjak, sok-sokan mau cari uang.Cari uang apanya itu cuman alasan dia untuk keluyuran biar bisa cari perhatian laki-laki lain! Dasar mantu tidak tau diri!"
Sakit,hatiku rasanya sakit terlebih saat aku mendengar jawaban Arman yang lagi-lagi membuat dadaku seperti terhimpit.
"Iya Bu."
Satu kata , terdengar biasa tapi mampu menghancurkan seluruh sisa tenagaku.
"Iya Bu."
Aku menatap langit-langit kamarku yang bocor. Air mataku mengalir tanpa suara.
Ya Allah, sampai kapan aku harus bertahan di rumah ini? Sampai kapan aku harus menjadi bahan fitnah? Jualan kue untuk anakku saja dituduh mencari laki-laki lain.
Padahal aku, hanya ingin memiliki penghasilan sendiri agar aku tidak perlu meminta lagi pada Arman.
Apakah itu salah?
Apakah itu terlihat seperti perempuan tidak benar?
Malam itu aku tidak tidur. Aku hanya menatap dua wajah malaikat kecilku, Nisa dan Raffi, yang tidur memelukku erat, seolah tahu bahwa Mamanya sedang berada di ujung jurang.
Bersambung