Di mata masyarakat, keluarga Valerius adalah keluarga pengusaha terpandang dan salah satu keluarga terkaya di kota. Namun di balik kemewahan mansion mereka, keluarga Valerius merupakan salah satu keluarga mafia paling berkuasa dan ditakuti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mona28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENGKHIANAT DI DALAM KELUARGA
Keheningan menyelimuti ruang perlindungan bawah tanah mansion Valerius.
Di atas meja, sebuah foto lama tergeletak di antara surat peninggalan Elena Ravencroft dan gelang serigala hitam yang melingkar di pergelangan tangan Aren. Foto itu memperlihatkan dua pria yang berdiri berdampingan di depan sebuah bangunan megah. Salah satunya adalah Armand Ravencroft, ayah kandung Aren. Sementara pria di sebelahnya adalah seseorang yang selama ini hanya dikenal melalui cerita keluarga Valerius.
Kakek mereka.
Pria yang telah meninggal bertahun-tahun lalu.
Namun, tulisan tangan Elena di bawah foto itu membuat seluruh keluarga mempertanyakan semua yang mereka yakini selama ini.
Orang yang menghancurkan keluarga kita adalah orang yang kalian semua panggil keluarga.
Aren menatap foto tersebut tanpa berkedip.
“Kenapa Kakek ada di foto bersama Ayah?” tanyanya akhirnya.
Tidak ada yang langsung menjawab.
Adrian Valerius berdiri di dekat meja dengan kedua tangan mengepal. Wajahnya yang biasanya tenang tampak jauh lebih tua malam itu. Seolah-olah sebuah kenangan yang telah ia kubur selama bertahun-tahun kembali muncul dan memaksanya menghadapi sesuatu yang tidak pernah ingin ia bicarakan.
“Kakekmu dan Armand pernah memiliki hubungan yang sangat dekat,” kata Adrian.
Raka menoleh kepada ayahnya.
“Ayah tidak pernah menceritakan itu kepada kami.”
“Karena hubungan mereka berakhir dengan tragedi.”
“Tragedi seperti apa?” tanya Darren.
Adrian menghela napas panjang.
“Tujuh belas tahun lalu, keluarga Valerius dan keluarga Ravencroft belum menjadi musuh seperti sekarang. Ayahku, Alistair Valerius, dan Armand Ravencroft pernah bekerja sama untuk menghentikan sebuah organisasi rahasia yang memperjualbelikan informasi, memanipulasi konflik antarkeluarga, dan mengambil keuntungan dari peperangan.”
Kian segera mengangkat wajah.
“Proyek Serigala Hitam.”
Adrian mengangguk pelan.
“Nama itu muncul setelah beberapa operasi mereka diketahui. Kami menduga organisasi tersebut telah menyusup ke dalam jaringan bisnis, keamanan, bahkan lingkaran orang-orang kepercayaan keluarga besar.”
“Lalu apa hubungannya dengan kehancuran keluarga Ravencroft?” tanya Raka.
“Suatu malam, terjadi serangan terhadap kediaman Ravencroft. Bukti yang ditemukan menunjukkan bahwa keluarga Valerius telah membocorkan lokasi dan jadwal keamanan mereka. Armand mengira ayahku mengkhianatinya.”
“Apakah Kakek memang melakukannya?” tanya Aren.
Pertanyaan itu membuat Adrian terdiam cukup lama.
“Aku tidak tahu.”
Raka menatap ayahnya dengan tajam. “Ayah, kita sedang membicarakan seseorang yang mungkin menyebabkan dua keluarga saling membunuh selama bertahun-tahun. Kita tidak bisa berhenti pada jawaban ‘tidak tahu’.”
“Aku mengerti, Raka.” Suara Adrian terdengar berat. “Namun, ketika aku mencoba menyelidikinya dahulu, semua dokumen penting menghilang. Beberapa saksi meninggal, sementara yang lainnya menghilang tanpa jejak. Tidak ada bukti yang cukup untuk memastikan siapa pengkhianat sebenarnya.”
Viktor Soren, yang sejak tadi berdiri di sudut ruangan, akhirnya berbicara.
“Ada satu orang yang mengetahui seluruh rangkaian kejadian malam itu.”
Semua mata beralih kepadanya.
“Siapa?” tanya Darren.
Viktor memandang foto di atas meja.
“Orang yang mengatur pertemuan terakhir antara Alistair Valerius dan Armand Ravencroft.”
“Namanya,” desak Raka.
Viktor menelan ludah sebelum menjawab.
“Gabriel Soren.”
Kian segera mengetik nama itu pada tabletnya.
“Gabriel Soren? Apa dia anggota keluargamu?”
Viktor mengangguk.
“Dia kakak kandungku.”
Keheningan kembali memenuhi ruangan.
Riven, yang sejak tadi berdiri di samping Aren, menyilangkan kedua lengannya.
“Jadi, kau baru sekarang memberi tahu kami bahwa kakakmu mungkin terlibat dalam kehancuran keluarga Ravencroft?”
“Aku tidak mengatakan bahwa dia pelakunya,” jawab Viktor tegas. “Aku mengatakan bahwa dia mengetahui sesuatu. Gabriel adalah penasihat kepercayaan Alistair Valerius sekaligus orang yang mengatur pertemuan rahasia antara kedua keluarga. Setelah tragedi itu, dia menghilang.”
“Dan kau tidak pernah mencarinya?” tanya Raka.
“Aku mencarinya selama bertahun-tahun. Aku menemukan beberapa jejak, tetapi semuanya berakhir buntu. Sampai tiga bulan lalu, ketika aku menerima pesan dari nomor yang tidak dikenal.”
Viktor mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan sebuah pesan yang telah disimpan.
Anak serigala masih hidup. Jika kau ingin menebus kesalahan masa lalu, temukan dia sebelum mereka melakukannya.
Aren merasa tenggorokannya mengering.
“Anak serigala itu aku?”
“Ya,” jawab Viktor.
“Siapa yang mengirim pesan itu?”
“Aku tidak tahu. Pesan tersebut dikirim melalui beberapa jaringan berbeda dan sulit dilacak. Tetapi setelah menerimanya, aku mulai menyelidiki keberadaanmu. Aku baru mengetahui bahwa Adrian telah mengadopsimu beberapa tahun lalu.”
Aren menoleh kepada Adrian.
“Ayah tahu semua ini sejak awal?”
Adrian mendekatinya dan duduk di kursi di sampingnya.
“Aku mengetahui bahwa ibumu berusaha menyelamatkanmu dari sesuatu yang berbahaya. Aku juga mengetahui bahwa keluarga Ravencroft telah berada dalam ancaman besar. Namun, aku tidak mengetahui bahwa Proyek Serigala Hitam masih beroperasi sampai Kian menemukan arsip tersebut.”
“Kenapa Ayah tidak pernah menceritakan semuanya kepadaku?”
“Karena saat itu kamu masih kecil, Aren. Aku ingin memberimu kesempatan untuk tumbuh tanpa harus menanggung dosa, permusuhan, dan rahasia orang dewasa.”
Aren menunduk.
“Aku mengerti Ayah ingin melindungiku. Tapi sekarang orang-orang itu menyerang rumah kita. Mereka tahu namaku, wajahku, bahkan gelang ini. Aku tidak bisa terus berpura-pura bahwa masa laluku tidak ada.”
Adrian memandangnya dengan mata yang dipenuhi penyesalan.
“Kamu benar.”
Raka mengalihkan pandangannya kepada Kian.
“Cari semua informasi tentang Gabriel Soren. Riwayat pekerjaan, koneksi bisnis, catatan perjalanan, dan hubungan terakhirnya dengan organisasi itu. Jangan tinggalkan satu pun petunjuk.”
“Baik.”
“Darren, periksa transaksi lama perusahaan yang mungkin berkaitan dengan Proyek Serigala Hitam. Kalau ada dana yang dialihkan secara mencurigakan, aku ingin laporan lengkap.”
Darren mengangguk.
“Leon, pastikan seluruh keluarga dan para pelayan yang terluka mendapatkan perawatan. Setelah itu, bantu tim keamanan memeriksa kondisi para penjaga.”
“Dimengerti.”
Raka kemudian menatap Riven.
“Perketat pengawasan di sekitar Aren. Jangan biarkan dia pergi sendirian, bahkan untuk ke sekolah.”
Riven mengangkat alis.
“Tidak perlu menyuruhku dua kali.”
Aren langsung mengangkat wajah.
“Tunggu. Apa maksudnya aku tidak boleh pergi ke sekolah sendirian?”
“Artinya kamu akan diantar dan dijemput,” jawab Riven santai.
“Aku bisa menjaga diriku sendiri.”
“Bagus. Kalau begitu, kamu tidak akan keberatan kalau aku duduk di sampingmu sepanjang perjalanan.”
“Kak Riven!”
Riven menyeringai kecil. Untuk pertama kalinya sejak serangan tadi, ekspresi wajahnya kembali menyerupai dirinya yang biasa.
“Apa? Aku cuma ingin menghabiskan waktu dengan adikku.”
“Kalau Kakak mengantarku ke sekolah setiap hari, semua orang akan mengira aku anak kecil.”
“Memangnya kamu bukan adik kecilku?”
“Aku sudah cukup besar!”
“Menurutku, kamu tetap kecil.”
“Kak!”
Darren terkekeh pelan. Bahkan Leon yang biasanya paling serius tidak bisa menahan senyum.
Namun, Raka hanya menggelengkan kepala.
“Berdebatlah nanti. Kita masih punya masalah yang harus diselesaikan.”
Aren mengerucutkan bibir, sementara Riven menepuk kepalanya dengan puas.
Meski hanya sebentar, suasana itu membuat Aren merasa sedikit lebih baik. Ia menyadari bahwa kelima kakaknya tidak akan berubah hanya karena rahasia tentang keluarga kandungnya mulai terungkap.
Bagi mereka, ia tetap Aren.
Adik bungsu mereka yang harus dilindungi, dimarahi ketika melakukan kesalahan, dan disayangi tanpa syarat.
Pukul dua dini hari, Kian akhirnya menemukan sesuatu.
“Raka, kalian harus melihat ini.”
Kelima bersaudara itu berkumpul di ruang kerja kecil yang terhubung dengan ruang perlindungan. Adrian dan Viktor juga ikut masuk.
Pada layar besar di hadapan mereka, muncul sebuah dokumen lama dengan lambang serigala hitam di bagian atasnya. Sebagian besar tulisan telah rusak, tetapi Kian berhasil memulihkan beberapa bagian penting.
“Dokumen ini berasal dari tujuh belas tahun lalu,” jelas Kian. “Awalnya tersimpan di server perusahaan cangkang yang sudah tidak aktif. Aku menemukan tiga nama yang tercatat sebagai pengawas proyek.”
Ia menunjuk layar.
“Alistair Valerius. Armand Ravencroft. Dan Gabriel Soren.”
Darren mengerutkan kening.
“Ketiganya mengawasi proyek yang sama?”
“Menurut dokumen ini, mereka awalnya bekerja sama untuk menyelidiki organisasi yang menggunakan nama Serigala Hitam. Namun, beberapa bulan sebelum tragedi Ravencroft, ada perubahan struktur kepemimpinan.”
Kian memperbesar bagian bawah dokumen.
“Nama Alistair dan Armand dicoret dari daftar. Gabriel justru dipindahkan ke posisi pengendali utama.”
Viktor tampak terkejut.
“Itu tidak mungkin. Gabriel mengatakan kepadaku bahwa dia hanya membantu mengatur pertemuan.”
“Bisa jadi dia berbohong,” ujar Raka.
“Atau ada orang yang menggunakan identitasnya,” tambah Darren.
Kian menggeleng.
“Aku menemukan tanda tangan digital yang cocok dengan catatan lama milik Gabriel. Kemungkinan besar, dia memang terlibat dalam pengelolaan proyek tersebut. Tetapi itu belum membuktikan bahwa dia yang memulai pengkhianatan.”
Aren berdiri diam di belakang mereka.
“Apakah ada nama Ibu di sana?”
Kian berhenti mengetik.
“Ada satu berkas tambahan yang belum bisa kubuka sepenuhnya. Judulnya adalah ‘Subjek R-17: Pewaris Serigala’.”
Jantung Aren seolah berhenti sesaat.
“Subjek R-17?”
Kian memandang adiknya.
“Berkas itu dibuat beberapa bulan sebelum kamu lahir.”
Riven segera merangkul bahu Aren.
“Jangan panik, Dek. Kita akan mencari tahu semuanya.”
Namun, Aren tidak bisa mengalihkan pandangannya dari layar.
Di bawah judul berkas tersebut, terdapat sebuah foto kecil yang rusak. Foto itu menampilkan Elena Ravencroft sedang menggendong seorang bayi.
Bayi itu adalah dirinya.
Di samping foto terdapat beberapa baris tulisan yang berhasil dipulihkan Kian.
Subjek memiliki garis keturunan yang diperlukan untuk mengaktifkan protokol terakhir. Keberadaannya tidak boleh diketahui oleh pihak luar sebelum waktunya.
Darren mengepalkan tangan.
“Mereka menganggap Aren sebagai benda percobaan?”
“Sepertinya begitu,” jawab Kian. “Tapi aku belum tahu apa yang dimaksud dengan protokol terakhir.”
“Cari tahu,” kata Raka. “Apa pun caranya, kita harus memahami alasan mereka mengincar Aren.”
Aren memegang gelang hitamnya.
“Bagaimana kalau mereka tidak akan berhenti sebelum mendapatkan apa yang mereka inginkan?”
Raka menoleh kepadanya.
“Kalau begitu, kita akan mencari tahu apa yang mereka inginkan sebelum mereka sempat mengambilnya darimu.”
“Tapi bagaimana kalau jawabannya berbahaya bagi kalian?”
Raka berjalan mendekat, kemudian meletakkan kedua tangannya di bahu Aren.
“Dengarkan aku, Aren. Keluarga ini sudah menghadapi banyak musuh sebelum kamu datang. Kami masih berdiri di sini. Kami tidak akan membiarkan masa lalu seseorang menentukan masa depanmu.”
Darren mengangguk.
“Perusahaan, uang, dan semua yang kami miliki bisa dibangun kembali kalau hilang. Tapi kamu bukan sesuatu yang bisa digantikan.”
Leon menyambung dengan suara lembut, “Dan kalau kamu merasa kewalahan, kamu boleh beristirahat. Kamu tidak harus menyelesaikan semua misteri ini dalam satu malam.”
Kian mematikan layar yang menampilkan foto bayi tersebut.
“Aku akan mengurus penyelidikannya. Kamu cukup menjadi Aren.”
Riven meremas pelan bahu adiknya.
“Dan kalau ada orang yang berani mengganggumu lagi, dia harus berhadapan dengan kami berlima.”
Aren menatap mereka satu per satu. Air matanya akhirnya jatuh, tetapi kali ini bukan karena ketakutan semata.
Ia merasa bersyukur.
Di tengah rahasia yang semakin rumit, ia masih memiliki lima kakak yang berdiri di sisinya.
“Terima kasih,” bisiknya.
Raka mengusap rambutnya.
“Tidak perlu berterima kasih karena menjadi keluarga.”
Pagi mulai menyingsing ketika mansion Valerius akhirnya kembali tenang.
Para penjaga memperbaiki kerusakan di halaman, sementara petugas medis memeriksa beberapa orang yang terluka. Tim keamanan masih menyisir area sekitar mansion untuk memastikan tidak ada penyerang yang tertinggal.
Aren baru saja keluar dari kamar ketika mencium aroma roti panggang dan cokelat panas dari ruang makan.
Ia menemukan kelima kakaknya sudah berkumpul di sana.
Darren sedang membaca laporan perusahaan. Kian menatap layar laptop. Leon menyiapkan obat untuk salah satu penjaga yang mengalami luka ringan. Riven mengambil potongan roti dari piring Raka tanpa izin, sementara Raka menatapnya seolah sedang mempertimbangkan hukuman yang pantas.
“Selamat pagi, Putra Mahkota Ravencroft!”
Aren langsung berhenti di ambang pintu.
Riven menyeringai lebar.
“Kenapa? Gelarmu sudah terkenal, lho.”
“Kak Riven!”
“Apa? Aku cuma bercanda.”
Raka meletakkan cangkirnya.
“Riven, jangan mengganggu Aren sebelum dia sarapan.”
“Baik, Bos.”
Aren berjalan mendekat dan duduk di kursi kosong di antara Leon dan Darren.
Di hadapannya sudah tersedia sarapan kesukaannya.
Ia memandang makanan itu, lalu menatap kakak-kakaknya dengan curiga.
“Kenapa kalian semua sudah bangun?”
“Karena kami sedang bekerja,” jawab Darren.
“Sejak kapan Kakak bekerja sambil sarapan?”
“Sejak adikku memiliki kebiasaan bertanya terlalu banyak.”
Aren mendengus kecil.
Leon mendorong segelas susu hangat ke arahnya.
“Minum dulu. Kamu kurang tidur semalam.”
“Aku tidak mengantuk.”
“Kamu menguap tiga kali sejak masuk ruangan,” sahut Kian tanpa mengalihkan pandangan dari laptop.
“Itu karena bosan melihat kalian bekerja!”
Riven langsung tertawa.
“Wah, adik kita mulai berani melawan. Aku bangga.”
Aren mengambil bantal kecil dari kursi di sebelahnya dan melemparkannya ke arah Riven. Bantal itu mengenai dada kakaknya, membuat Darren tertawa lebih keras.
Untuk beberapa saat, mansion Valerius terasa seperti rumah biasa.
Tidak ada ancaman. Tidak ada ledakan. Tidak ada suara orang asing yang meminta Aren diserahkan.
Hanya ada sebuah keluarga yang mencoba menikmati sarapan bersama setelah malam yang hampir menghancurkan ketenangan mereka.
Namun, kedamaian itu tidak berlangsung lama.
Ponsel Kian berbunyi.
Ia membaca pesan yang masuk, lalu perlahan mengangkat wajah.
“Ada seseorang yang mengirimkan lokasi kepada kita.”
Raka segera berdiri.
“Lokasi siapa?”
Kian memutar layar laptopnya ke arah mereka.
Sebuah alamat muncul bersama satu kalimat pendek.
Jika kalian ingin mengetahui siapa yang mengkhianati keluarga Valerius, datanglah ke rumah tua di Bukit Arvantis. Datanglah sebelum tengah malam. Bawa Aren seorang diri.
Aren merasakan perutnya mengencang.
Riven langsung mengambil ponsel Kian.
“Siapa pun yang mengirim pesan ini, dia benar-benar bodoh kalau mengira kami akan membiarkan Aren pergi sendirian.”
Raka membaca pesan itu sekali lagi.
“Jangan balas. Kian, lacak sumbernya.”
“Sudah kucoba. Pesan itu melewati beberapa server berbeda, tetapi aku menemukan satu petunjuk. Pengirimnya menggunakan perangkat yang terakhir terhubung ke jaringan di sekitar Bukit Arvantis.”
Darren menyipitkan mata.
“Bukit Arvantis?”
Viktor, yang baru saja memasuki ruang makan, mendadak berhenti ketika mendengar nama tempat itu.
Wajahnya berubah pucat.
“Apa yang kalian ketahui tentang tempat itu?” tanya Adrian yang berjalan di belakangnya.
Viktor menatap layar laptop, lalu mengalihkan pandangan kepada Aren.
“Rumah tua di Bukit Arvantis adalah tempat pertemuan terakhir Alistair Valerius dan Armand Ravencroft sebelum keluarga mereka terpecah.”
Aren menatap surat ibunya yang masih berada di dalam saku bajunya.
Malam ketika keluarga Ravencroft runtuh.
Tempat pertemuan terakhir kedua keluarga.
Dan sekarang seseorang meminta dirinya datang seorang diri.
Raka segera menutup laptop Kian.
“Tidak ada yang pergi ke sana tanpa rencana.”
Namun, jauh di dalam hati Aren, sebuah pertanyaan mulai tumbuh.
Bagaimana jika orang yang mengirim pesan itu benar-benar mengetahui kebenaran tentang ibunya?
Bagaimana jika di rumah tua itu terdapat jawaban yang selama ini ia cari?
Aren memandang kelima kakaknya. Ia tahu mereka tidak akan pernah mengizinkannya menghadapi bahaya sendirian.
Tetapi ia juga tahu bahwa rahasia masa lalunya tidak akan terbongkar jika mereka hanya terus bersembunyi di mansion.
Untuk pertama kalinya, Aren mulai berpikir bahwa mungkin suatu hari nanti ia harus ikut melangkah menuju kebenaran itu sendiri.
Dan ketika malam tiba, seseorang di Bukit Arvantis akan menunggu kedatangannya.
Seseorang yang mengetahui siapa pengkhianat sebenarnya.
Seseorang yang mungkin juga mengetahui alasan mengapa Aren harus tetap hidup.