Cinta Terhalang Dinding Pesantren
Muthi'ah Azzahra hanya ingin menjalani hidupnya sebagai santriwati dengan tenang. Namun, semuanya berubah ketika dia mengetahui bahwa dirinya telah dijodohkan dengan Jay, putra pengasuh pesantren yang selama ini terasa begitu jauh dari kehidupannya.
Bagi Muthi'ah, perjodohan itu adalah keputusan yang tidak pernah dia minta. Bagi Jay, itu adalah janji keluarga yang perlahan berubah menjadi sebuah pilihan.
Di tengah aturan pesantren, gosip, bullying, tekanan keluarga, dan perasaan yang tumbuh diam-diam, mereka harus belajar mengenal satu sama lain tanpa kehilangan hak untuk menentukan masa depan.
Sebab, cinta yang sebenarnya bukan tentang siapa yang menjodohkan mereka, tetapi tentang apakah mereka mampu memilih satu sama lain dengan hati yang benar-benar ikhlas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja Juliani Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1 - Putra Pengasuh dan Santri Pendiam
Pesantren Darul Hikmah paling ramai kalau sudah jam setengah empat sore.
Habis Ashar, santri putri biasanya ngumpul di serambi masjid. Ada yang ngulang hafalan, ada yang sibuk jemur mukena. Tapi Muthi'ah Azzahra tidak pernah ada di sana.
Dia pasti ada di tempat yang sama. Perpustakaan.
Perpustakaan putri itu kecil, pengap, raknya dari kayu semua dan bau kitab lama. Tapi buat Muthi'ah, itu tempat paling aman sedunia. Dari kelas, ke kamar, ke perpustakaan. Sudah. Itu saja rutenya dari tsanawiyah sampai sekarang, akhir aliyah.
"Muth, kamu nggak capek apa?"
Dina Nadira Hanifah nongol dari balik rak, ngos-ngosan habis lari dari asrama. Jilbabnya miring.
"Juara musabaqah kitab kuning kok malah ngumpet di sini. Di depan ramai tau, ada pengumuman penting," kata Dina.
Muthi'ah cuma senyum tipis, tidak mengangkat kepala dari kitab Fathul Qarib yang dia baca. Dia emang gitu. Pendiam. Kalau tidak ditanya, tidak bakal jawab panjang.
"Pengumuman apa?" tanya Zahra Juwairiyah, menyusul di belakang Dina. Beda sama Dina yang heboh, Zahra jalannya pelan, suaranya pelan.
Salsabila Jannati yang terakhir masuk langsung nyeletuk, "Gus Jay balik! Tadi mobil Kiai udah di depan ndalem. Fix!"
Tangan Muthi'ah yang lagi membuka halaman kitab itu berhenti.
Jay.
Putra pengasuh.
Di Darul Hikmah, nama itu kayak punya gema sendiri. Jay itu anak tunggal Kiai Hasyim dan Nyai Maryam. Dari kecil pintar, hafalannya kuat, disekolahkan ke pesantren cabang di Jawa Tengah untuk mengasuh santri di sana selama dua tahun. Sekarang dia balik.
Buat santri putra, Jay itu panutan. Tegas, disiplinnya tidak main-main, kalau ngajar sorogan tidak pernah pakai basa-basi. Buat santri putri, Jay itu... ya, yang dibisik-bisikin.
Banyak yang bilang dia dingin. Susah didekati. Kalau jalan nunduk, tidak pernah lihat kanan-kiri. Tapi justru itu yang bikin semua orang segan.
"Kamu nggak penasaran, Muth?" Dina duduk di sebelah Muthi'ah, menyenggol lengannya. "Katanya tambah ganteng, tinggi. Kata anak putra sih jenggotnya udah mulai tumbuh tipis."
"Sst, Dina!" Zahra melotot kecil. "Jaga omongan."
Muthi'ah cuma menggeleng. "Aku mau nyelesain ini dulu. Nanti ketinggalan setoran."
Padahal bukan itu alasannya. Dia tidak enak saja kalau ikut ngerumpiin putra Kiai. Rasanya tidak sopan.
Tiba-tiba dari luar terdengar suara mic masjid putra dinyalakan.
"Assalamualaikum, untuk seluruh santri Darul Hikmah diharapkan berkumpul di halaman utama. Ada pengarahan dari pengasuh."
Tiga sahabatnya langsung heboh. Dina menarik tangan Muthi'ah.
"Ayo, Muthi'ah. Sekali-sekali nongol lah. Masa juara terus nggak kelihatan."
Akhirnya Muthi'ah terpaksa ikut. Dia merapikan jilbab putihnya yang sudah agak kusut, membawa kitabnya sekalian biar kalau bosan bisa baca di pojokan.
Halaman utama sore itu penuh. Santri putra di kanan, santri putri di kiri, dipisah pembatas bambu yang sudah jadi aturan dari dulu. Di depan, Kiai Hasyim berdiri pakai jubah putih, di sampingnya ada Nyai Maryam, dan di samping Nyai...
Jay.
Muthi'ah baru pertama kali lihat Jay sejelas itu. Sebelumnya cuma sekilas kalau papasan.
Dia pakai koko putih, peci hitam, sarungnya rapi. Wajahnya memang tegas seperti yang orang-orang bilang. Tidak banyak senyum. Matanya lurus ke depan. Dari jauh saja sudah kelihatan wibawanya beda. Bukan karena dia anak Kiai, tapi memang pembawaannya begitu. Tenang tapi menekan.