Impian Amara untuk bersatu dengan kakak angkatnya akhirnya terwujud juga. Keduanya terikat dalam sebuah pernikahan yang disatukan oleh Abi mereka sendiri.
Sayangnya, Apa yang Amara bayangkan tidak sesuai dengan yang ia inginkan. Dalam pernikahan ini, Hanya Amara yang menginginkannya. Tapi tidak dengan Fadli Adiputra. Dia tidak pernah menginginkan pernikahan ini sama sekali.
Sikap perhatian yang selalu Fadli berikan berubah menjadi sikap dingin tanpa alasan.
Amara sadar, Bahwa dia bukan pilihan pria itu..
Hingga pada akhirnya, Amara mundur dalam pernikahannya.
Apakah Fadli bahagia atas kemunduran Amara? Atau justru terkurung dalam penyesalan?
•••••
"Kalau pernikahan ini tidak bertahan atas pilihan Abi.. Nanti, Aku akan pertahankan pernikahan ku atas pilihanku sendiri..." Amara Alfhatunnisa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El Viena2106, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan Amara
Tok
Tok
Ceklek...
Pintu terbuka, Sosok perempuan tersenyum lebar ketika orang yang baru saja dia kirimi pesan akhirnya datang.
"Fadli.. Kamu beneran datang? " Fadli tersenyum.
"Iya...
"Ayo masuk.. Ibu udah masak banyak loh.. Dia sengaja masak banyak karena emang niat undang kamu makan malam bareng.." Ucap Lidya. Raut wajahnya terlihat sangat bahagia sekali. Jauh berbeda dengan raut wajah sedihnya siang tadi dikantor..
Dengan tidak tahu malunya, Lidya menggandeng lengan Fadli. Membawa pria itu masuk kedalam rumahnya. Sedangkan Fadli menurut saja dan tidak membantah atau protes apapun.
"Ayah, Ibu, Adek... Lihat siapa yang datang?" Semua keluarga Lidya muncul. Mereka tersenyum senang karena akhirnya Fadli benar-benar datang. Pria itu hanya tersenyum saja, Keluarga Lidya memang selalu menyambutnya dengan dengan baik.
"Nak Fadli, Kirain kamu gak bakalan datang.. Ibu udah masak banyak.." Fadli mengangguk, Pria itu mendekati Keluarga Lidya yang berada didalam ruangan tersebut.
"Fadli pasti datang bu.. " Ucap pria itu. Bahkan pria itu mencium punggung tangan Bu Nur, Ibu Lidya dan Pak Beni, Ayah Lidya. Tak lama, Seorang remaja laki-laki juga muncul. Dia adalah Kaffa, Adik Lidya yang saat ini masih duduk dikelas satu SMA.
Tidak seperti Kakak dan kedua orangtuanya yang senang akan kedatangan Fadli. Entah kenapa Kaffa tak suka.
Bukan tak suka atas kebaikan yang Fadli berikan. Akan tetapi tak suka dengan Fadli yang terlalu memanjakan kakak, Ibu dan ayahnya.
Kaffa juga kadang berpikir, Punya hubungan apa kakaknya dengan pria itu? Kalau hanya sering datang tapi tak ada kepastian, Untuk apa?
Terlebih sejak kejadian itu, Seluruh keluarganya seakan bergantung pada Fadli. Apalagi Fadli punya kedekatan khusus dengan Lidya. Entah itu murni rasa cinta atau sekedar rasa ketertarikan saja, Tidak ada yang tahu..
"Nak.. Diminum dulu tehnya, Kita ngobrol bentar aja ya.. Ibu tahu, Kamu pasti capek.. " Ucap Ibu Nur, Fadli mengangguk. Demi menghargai sang Tuan rumah, Fadli mengambil cangkir yang berisikan teh itu kemudian menyesapnya.
"Terima kasih Bu.." Bu Nur tersenyum, Dia melirik suaminya yang duduk dikursi roda.
"Kondisi Bapak, baik kan?" Tanya Fadli mengenai ayah Lidya yang memang katanya sedang sakit.
"Baik sih.. Tapi kamu tahu sendiri lah ya? Ayah Lidya sering kambuh.. Kemarin aja, Lidya harus membawa ayahnya kerumah sakit.." Kata Ibu Nur. Fadli yang mendengarnya pun terkejut. Wajah wanita paruh baya itu terlihat sedih sekali.
"Apa? Bapak masuk rumah sakit?" Ibu Nur mengangguk. Fadli langsung menatap Lidya seolah meminta penjelasan.
"Lidya? Bener yang ibu kamu bilang?" Lidya tersenyum..
"Eum.. Itu..
"Emang kapan mbak bawa Ayah kerumah sakit, Bu? Perasaan dari kemarin Ayah dirumah deh. Kondisi juga baik-baik aja..." Celetukan Kaffa langsung membuat atensi Bu Nur teralihkan. Mata wanita paruh baya itu menatap putranya sedikit tajam.
"Loh.. Emangnya kamu kemarin gak tahu kalau.."
"Nak Fadli.. Kaffa kan, Dia lagi sekolah.. Jadi mungkin sudah lupa.. Ya, Kan karena anak sekolah itu banyak pikiran tentang pelajaran. Jadi gak tahu.." Ucapan Bu Nur memotong perkataan Fadli barusan.
"Iya, Namanya juga anak-anak.." Sambung Pak Beni. Pria itu juga menatap putranya yang asal bicara. Dasar tidak bisa diajak kompromi..
Bu Nur terdiam, Wanita paruh baya itu tersenyum. Tubuhnya membenarkan posisi duduknya yang sepertinya kurang nyaman itu.
"Ohya, Nak.. Kamu dan Lidya kan, Cukup dekat.. Apa kamu tidak punya pikiran untuk menikah?" Fadli mengernyit..
"Maksud ibu?
"Ya kan, Ibu perhatikan.. Hubungan kalian cukup dekat, Bagaimana kalau kalian menikah saja. Tetangga sini banyak yang tanya, Kenapa Lidya belum juga menikah.. Apalagi mereka sering melihat kamu yang ada disini. Jadi mereka ngira kalau kamu itu calon suami Lidya.. Kan gak enak kalau kamu sering kesini, Tapi hubungan kalian belum ada apa-apa.. Jadi ibu kasih saran, Bagaimana kalau kalian menikah, Seperti itu.." Fadli tidak menjawab apapun, Dia memang tertarik pada Lidya. Entah tertarik karena suka atau karena terbiasa. Tapi soal pertanyaan yang tadi, Dia sekarang sudah menikah.
Lidya hanya diam saja. Wanita itu tidak menyangka sama sekali apa yang dikatakan oleh ibunya. Walaupun sebenarnya Lidya sudah tahu kalau Fadli telah menikah. Tapi ibu dan ayahnya kan tidak tahu, Apa salahnya ibunya memberikan pendapat.. Andai Fadli mau menikahinya, Tidak apa-apa. Dia juga mau jadi istri yang kedua.
"Eum.. Bu, Untuk masalah ini..
"Sepertinya apa yang dikatakan ibu ada benarnya juga. Ayah sudah sakit-sakitan, Gak bisa kerja.. Disini yang kerja cuma Lidya.. Kalau Nak Fadli bersedia menikahi Lidya, Kan Lidya gak perlu kerja lagi. Karena sudah ada Nak Fadli.. Dan juga kalau Ayah periksa selali ada yang mau bantu.. " Sama seperti tadi, Pak Beni selalu mendukung apa yang dikatakan oleh Istrinya.
"Pak, Bu.. Bukannya saya..
Tok
Tok
"Siapa?
"Biar aku yang buka.." Lidya bangkit dari duduknya. Wanita itu segera membuka pintu untuk melihat siapa yang bertamu malam-malam begini.
Ceklek ..
"Ka.. Kamu?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Assalamualaikum...
"Wa... Walaikum salam...
Lidya menelan salivanya dengan cukup susah payah. Ternyata tamu yang dia bukakan pintu adalah Amara, Istri dari tamu pria yang baru saja datang.
"Aku kesini mau cari suamiku, Ada?" Lidya sedikit gelagapan.
"A.. Ada.. Pak Fadli ada didalam.." Ucap Lidya dengan terbata-bata. Mau bilang Fadli tidak ada. Amara sudah terlanjur sampai dan langsung bertanya pada intinya.
"LIDYA, SIAPA TAMUNYA??" Teriakan Ibu dari wanita itu terdengar.
"E...I.. Itu, Bu.. " Lidya menatap Amara. "Silahkan masuk dulu.. Pak Fadli ada didalam.." Tanpa mengatakan apapun, Amara langsung masuk begitu saja.
Semua yang ada disana kaget dengan kedatangan Amara tak terkecuali Fadli. Pria itu tidak menyangka kalau istrinya akan menyusulnya sampai disini.
Bahkan Amara tidak terlihat malu apapun canggung. Wanita itu masuk begitu saja seperti masuk dirumah sendiri..
"Siapa ini Lid? Teman kamu?" Tanya Bu Nur. Wanita paruh baya tersebut terasa asing dengan wajah cantik Amara, Makanya ia bertanya.
"Selamat malam, Paman dan Bibi.." Dengan sopan Putri bungsu Abi Rafa dan Umma Zakia itu menyapa serta menyalami tangan keduanya.
"Selamat malam.. Ini?
"Perkenalkan, Nama saya Amara.. Saya istri dari Kak Fadli..
Deg!
Kaget?
Tentu saja..
Mereka semua saling pandang, Baru tadi sepasang suami istri itu membicarakan tentang pernikahan. Dan yang dibicarakan adalah pernikahan Fadli dan Lidya. Eh, Sekarang tiba-tiba saja ada sosok wanita cantik bertamu dan mengaku sebagai istri dari Fadli.
"Nak Fadli.. Yang dikatakan wanita ini?" Fadli langsung mengangguk.
"Iya Bu.. Dia Amara, Dia adalah istri saya..." Aku Fadli dihadapan semua orang. Amara mengangkatnya salah satu sudut bibirnya. Mana mungkin Fadli tidak akan jujur, Sementara disini ada dirinya.
"Saya tidak dipersilahkan duduk nih?
"Oh.. Ya, Ya silahkan duduk..." Amara pun akhirnya duduk. Wanita itu menatap Fadli yang mulai tidak tenang.
"Jadi ini alasan kamu gak mau makan malam sama aku? Bilang ada urusan? Urusan apa?" Fadli mengangkat kepalanya menatap Amara. Pria itu ingin menjelaskan, Tapi bingung ingin menjelaskan apa.
"Nanti aku akan jelaskan.. Tapi jangan ribut disini. Ini rumah orang.." Amara melipat kedua tangannya didada, Wanita itu terkekeh.
"Lagian siapa juga yang mau ribut, Kak? Kok kayaknya kamu takut banget aku ngamuk disini? Aku bukan wanita bar bar.. Lagian, Kamu terlihat gugup sekali? Seperti suami yang kepergok datang kerumah selingkuhannya.. Atau jangan-jangan, Kamu dan...
"Amara! Jangan menuduh sembarangan.. Aku datang kesini memang ada keperluan. Bukan seperti yang kamu tuduhkan!.." Ucap Fadli dengan nada bicara sedikit meninggi. Amara hanya tersenyum..
" Emangnya aku nuduh? Kok kamu tiba-tiba bilang gitu? Dengar, Kedatangan aku kesini.
Yang pertama, Kamu itu adalah suami aku, Dan aku berhak menyusul suami aku yang tanpa izin datang kerumah wanita. Dan yang kedua, Kamu bohongi aku.. Sebagai seorang istri aku memastikan apakah benar kamu pergi karena ada urusan? Dan inilah urusannya? " Fadli menatap satu persatu yang berada disana, Tak terkecuali Lidya yang bersedih.
"Aku minta kamu iku aku pulang, Sekarang!
"Amara, Dek.. Sebelum pergi, Kita makan malam dulu.. Kasihan Ibunya Lidya, Dia udah masak banyak.." Amara menghela nafas panjang.
"Bibi juga masak dirumah.. Sekarang pulang. Kalau Kakak gak mau pulang, Aku terpaksa..
"Okey! Kita pulang.." Fadli akhirnya mengalah. Pria itu beranjak dari duduknya. Pria itu juga meraih dompetnya kemudian mengambil beberapa lembar uang merah.
"Ini Bu.. Maaf saya gak bisa ikut makan malam.. Karena ibu sudah masak banyak, Ini saya ganti uangnya.." Fadli memberikan uang tersebut pada Bu Nur, Wanita itu hendak menerimanya namun..
"Pria yang sudah beristri, Semua harta, Baik itu uang, Barang, Dan apapun itu. Istri juga berhak.. Jadi kak Fadli aku larang memberikan apapun itu tanpa izin dariku.. Kalau sampai kakak tetap memberikannya.. Sungguh dunia akhirat aku tidak ikhlas.."
"Maaf Bu.." Terpaksa Fadli kembali memasukan uang tersebut kedalam sakunya. Lalu pria itupun langsung pamit untuk pulang, Meninggalkan keluarga tidak punya malu itu.
•
•
•
TBC
hayo tamatlah riwayatmu Lidya
dan kamu Fadli siap siap datang kepengadilan untuk pembatalan pernikahan. 🤣🤣🤣🤣🤣🤣 senangnya hatiku melihat mereka berdua terpojok