Sambil membawa surat hasil pemeriksaan kehamilannya, Kinan berlari menuju ruangan suaminya. Dia tidak sabar menyampaikan pada suaminya kalau dia hamil. Tapi saat akan membuka pintu,
"Bima, istriku mengantarkan istrimu ke rumah sakit. Katanya ke dokter kandungan, mungkin Kinan hamil. Lantas bagaimana dengan Agnes?"
"Bagaimana apanya? tiga tahun ini baik-baik saja kan? tinggal 2 tahun lagi, Agnes tidak perlu lagi sembunyi di luar negeri!"
Deg
Mata Kinan memerah, wanita yang telah menabrak ibunya hingga tewas. Dan mendapatkan hukuman selama lima tahun di penjara, bagaimana bisa berada di luar negeri?
"Kamu keterlaluan, kalau sampai Kinan mengetahuinya. Dia akan sangat marah padamu! jangan bawa-bawa aku ya, Bella itu sahabat baik Kinan. Kalau dia tahu, habislah aku!"
Hati Kinan hancur mendengar suaminya malah tertawa.
"Dia tidak akan tahu, kalaupun tahu dia bisa apa? Kinan sudah tidak punya siapa-siapa selain aku. Satu kata dariku, dia akan patuh!"
'Tega kamu mas' batin Kinan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Agnes yang melihat mobil melaju dengan cepat meninggalkan kediaman Dirgantara, sempat tertegun diam. Dia kaget, penjaga gerbang bahkan mendorongnya tadi.
"Hehh, kenapa di tutup lagi? aku mau masuk!"
Agnes mencoba mencegah penjaga gerbang, untuk mengunci pintu gerbang lagi. Tapi penjaga gerbang itu bersikeras menutup pintu gerbang.
"Saya tidak pernah melihat nona sebelumnya. Kalau memang tidak ada janji, tidak bisa masuk!"
Mata Agnes tentu saja melotot. Kedua tangannya di letakkan di pinggang, dan Agnes mendengus kesal.
"Kamu mau dipecat ya? cepat buka! aku bilang kan aku ini adalah calon nyonya muda Dirgantara. Kalau masih menginginkan pekerjaanmu. Maka cepat buka pintu gerbang sialan ini!" nada suara Agnes mulai meninggi.
Hanya saja, penjaga gerbang itu juga tak mudah percaya. Mana ada calon nyonya muda keluarga Dirgantara datang dengan taksi.
"Telepon dulu siapa yang punya janji denganmu, nona. Yang tinggal disini bukan sembarangan orang! sudahlah, kalau mau menipu, pergi sana! di sini bukan tempatnya!"
"Kamu..."
Bahkan penjaga gerbang itu segera pergi meninggalkan pintu gerbang menuju pos penjagaan.
"Hehhh... buka!"
Agnes mendorong pagar baja itu, tapi percuma saja. Apalah dia yang hanya seonggok daging kerempeng di depan besi baja yang bertanya puluhan kilo.
Agnes mendengus kesal, dia segera meraih ponselnya dan mencoba menghubungi Bima.
'Maaf, nomor yang anda tuju untuk sementara tidak bisa menjawab panggilan ini. Silahkan hubungi beberapa saat lagi'
Beberapa kali mencoba menghubungi Bima, selalu saja terdengar notifikasi yang sama. Agnes menghentakkan kakinya kesal, dia bahkan tidak bisa menghubungi Leo. Nomor Leo juga sibuk.
Karena sudah mulai merasa panas terik, Agnes memilih angkat kaki saja dari tempat itu. Berteriak juga percuma, penjaga gerbang tidak mau membuka pintu.
Sementara itu di dalam kediaman Dirgantara. Nenek Ningsih yang mendengar kalau Bima pingsan. Duduk terdiam di dekat jendela kamarnya. Nenek Ningsih juga sangat sedih, dia sebenarnya mana tega menyakiti keturunannya sendiri. Hanya saja, Bima memang sudah keterlaluan.
"Nyonya, apa mau menyusul ke rumah sakit? saya akan minta supir siapkan mobil" kata bibi Utami dengan suara yang sangat pelan.
Saat ini majikannya sedang dalam kondisi yang kurang baik. Masih sangat marah dan sedih juga. Bukan hal mudah bagi wanita yang usianya sudah lebih dari setengah abad seperti nenek Ningsih, menghadapi masalah yang sekarang sedang terjadi di keluarga Dirgantara.
"Tidak usah, Bi. Ada Leo, ada juga Galih disana. Belum lagi kalau wanita murahan itu datang kesana. Aku bisa-bisa tidak sanggup menahan diri dan memukulnya dengan tongkat ku. Yang ada, aku hanya akan menambah dosa. Ambil ponselku saja, aku mau telepon Kinan. Anak itu yang saat ini lebih kasihan!"
Bibi Utami pun segera menganggukkan kepalanya. Wanita itu mengambil ponsel yang letaknya di atas meja. Cukup jauh dari tempat tidur dan sofa yang saat ini di duduki nenek Ningsih.
"Ini, nyonya"
Nenek Ningsih menerima ponsel itu dan menghubungi Kinan.
Hanya dua kali terdengar nada notifikasi berdering, panggilan dari nenek Ningsih itu segera di terima oleh Kinan.
[Halo, nek. Selamat pagi, ada apa?]
Wajah tegang dan sedih nenek Ningsih berubah, sedikit melunak. Amarahnya sedikit hilang mendengar suara Kinan di seberang sana.
"Nak, bagaimana kabarmu hari ini? apa semua baik-baik saja?"
Bibi Utami mendengarkan dengan seksama di samping nenek Ningsih. Sejak dulu, hubungan antara nenek Ningsih dengan Kinan memang sangat baik. Lebih baik daripada pada menantunya Yunita, dan Viona. Mungkin karena Kinan juga sangat pandai mengurus orang tua. Tidak segan memijat kaki, dan bangun pagi-pagi sekali hanya untuk memasak semangkuk bubur herbal untuk nenek Ningsih. Pakaiannya juga sederhana, tidak suka belanja barang mahal seperti menantu lainnya.
[Aku baik nenek. Nenek sendiri bagaimana? apa nenek merasa tidak enak badan? suara nenek sedikit serak]
Bahkan perhatian kecil seperti itu, hanya dari suara nenek Ningsih yang sedikit berbeda. Kinan bisa sangat memperhatikan.
Senyum pun terukir di wajah nenek tua itu. Tapi matanya malah kembali berkaca-kaca.
"Nenek sudah menghukumnya nak, nenek sudah cambuk dia 100 kali. Dia pantas mendapatkan semua itu. Dia sudah membuatmu sedih, kecewa dan sakit hati..."
Nenek Ningsih menjeda ucapannya, ada setitik air mata tiba-tiba mengalir di salah satu sudut matanya.
Tak ada juga suara dari seberang sana. Kinan masih diam, dan tidak berkomentar untuk apa yang nenek Ningsih lakukan. Bagi Kinan, masalah keluarga Dirgantara. Dia sudah tidak mau ikut campur lagi, gugatan itu sudah di ajukan. Proses perceraiannya juga akan segera berlangsung. Masalah di keluarga Dirgantara, Kinan sungguh tak mau masuk campur ke dalamnya lagi.
[Nenek, aku tidak bisa mengatakan apapun. Proses perceraiannya akan segera berlangsung, aku sungguh menghargai sekali apa yang nenek lakukan karena memikirkan aku. Aku juga akan selalu mengingat semua kebaikan nenek selama tiga tahun ini padaku. Tapi nek, aku sungguh tak mau lagi berurusan dengan Bima]
Kalimat itu semakin membuat nenek Ningsih merasa sedih. Tapi mau membujuk Kinan, untuk memberikan Bima kesempatan satu kali lagi. Dia bahkan sangat malu. Tak bisa mengatakannya. Meski dia sudah menghukum Bima, tapi mungkin rasa sakit akibat 100 cambukann itu sama sekali tidak ada apa-apanya dibandingkan rasa sakit Kinan, saat tahu kalau Bima menipunya selama tiga tahun. Bahkan niat menikahi Kinan itu juga bohong. Sandiwara belaka.
Nenek Ningsih butuh waktu beberapa detik, untuk bisa kembali bicara dengan Kinan.
"Iya nak, nenek tahu. Bima yang salah, jika saja nenek tahu lebih awal. Nenek adalah orang pertama yang akan menentang pernikahan kalian, jika nenek tahu niatnya sejak awal hanya memanfaatkan kamu"
Di seberang sana terdiam sejenak. Sepertinya ada helaan nafas berat.
[Aku percaya pada nenek. Aku sungguh tidak akan pernah melupakan nenek dan semua kebaikan nenek padaku. Aku harus pergi menjemput Sasha, nek. Aku tutup dulu ya, nenek jaga kesehatan. Selamat pagi]
Nenek Ningsih tampak kembali sedih. Dia meletakkan ponselnya di pangkuannya. Melihat layar ponselnya sudah kembali ke menu utama, padahal dia belum menutup panggilan itu. Dia benar-benar merasa kehilangan, mana ada cucu menantu seperti Kinan. Kinan selalu menganggapnya seperti nenek sendiri, mengurusnya dengan sepenuh hati. Sekarang, dia akan kehilangan cucu menantu baik itu. Rasanya nenek Ningsih tidak rela. Tapi mau bagaimana lagi? kalau Kinan cucu kandungnya, dia juga tidak sudi kalau Kinan masih mempertahankan rumah tangga dengan seseorang yang sudah menipunya selama tiga tahun. Penipuan yang sangat fatal, menyembunyikan seseorang yang telah menghancurkan keluarganya. Membuatnya kehilangan ayah dan ibunya.
***
Bersambung...