Adam Lorenzo Maxnore, bos mafia paling kejam di Asia Tenggara, kehilangan calon istrinya tepat pada hari pernikahan mereka akibat kecelakaan tragis. Giana Bianca Conti, wanita yang berada di mobil penabrak, dituduh sebagai pelaku, padahal kakak angkatnya, Amerda, adalah orang yang sebenarnya mengemudi dan melarikan diri.
Terjebak dalam amarah Adam, Gia harus menanggung kebencian pria yang menganggapnya sebagai pembunuh calon istrinya. Sementara itu, Amerda justru mengambil kesempatan untuk menggantikan Gia menikah dengan Ricardo Dominic demi menyelamatkan kehormatan keluarga.
Mampukah Gia membuktikan dirinya tidak bersalah? Dan apa yang akan terjadi ketika Adam mengetahui bahwa wanita yang dibencinya ternyata hanyalah korban pengkhianatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17
Malam itu, suasana kediaman Adam Lorenzo Maxnore terasa begitu mencekam. Hujan turun membasahi halaman luas kediaman tersebut, sementara kilatan petir sesekali menerangi jendela-jendela besar yang menghadap ke taman.
Di ruang kerjanya, Adam duduk di balik meja dengan wajah dingin. Kemeja hitam yang dikenakannya memiliki dua kancing teratas yang terbuka, sementara kedua lengan bajunya tergulung hingga siku. Sebatang rokok terselip di antara jemarinya, tetapi sejak tadi ia lebih banyak menatap layar ponsel daripada mengisapnya.
Sudah berjam-jam ia menunggu kabar dari Marco. Adam telah memerintahkan anak buah kepercayaannya itu untuk membawa Amerda Conti ke hadapannya. Ia ingin mendengar langsung penjelasan perempuan tersebut mengenai anting yang ditemukan di lokasi kecelakaan Veronika.
Namun, hingga malam tiba, Marco belum juga kembali membawa orang yang diperintahkannya.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan terdengar dari pintu ruang kerja.
"Masuk!"
Pintu terbuka, Marco melangkah masuk dengan wajah tertunduk. Ia berhenti beberapa langkah di hadapan meja kerja Adam, lalu menundukkan kepalanya sedikit.
"Tuan..."
Adam mengangkat pandangan. Matanya yang tajam langsung menelusuri wajah bawahannya.
"Mana wanita jalang itu?"
Marco terdiam sejenak sebelum menjawab.
"Maaf, Tuan. Saya tidak berhasil membawa Nona Amerda."
Mendengar itu, Adam perlahan meletakkan rokoknya ke dalam asbak. Gerakannya begitu tenang, tetapi justru itulah yang membuat suasana terasa semakin menakutkan.
"Apa katamu?"
"Saya tidak menemukan Nona Amerda di kediaman keluarga Conti."
Adam bangkit dari kursinya.
"Jadi, setelah ku beri kau satu tugas sederhana, kau bahkan berani kembali dengan tangan kosong?" Suaranya rendah, sarat amarah yang ditahan. "Aku memintamu membawa seorang perempuan ke hadapanku, Marco! Bukan memintamu memburu seluruh mafia di Asia!"
Marco tetap menunduk, "Maaf, Tuan."
"Persetan dengan kata maaf!" Adam menyapu beberapa berkas di atas meja hingga berjatuhan ke lantai.
"Di mana perempuan jalang itu sekarang?"
"Menurut informasi yang saya dapatkan, Nona Amerda berada di kediaman keluarga Dominic."
Mendengar nama itu, wajah Adam seketika berubah. Rahangnya mengeras. Urat di lehernya menegang, sementara jemari yang bertumpu pada meja perlahan mengepal.
"Keluarga Dominic?" ulangnya dengan nada tidak percaya.
"Benar, Tuan."
Adam tertawa pendek tanpa sedikit pun menunjukkan kegembiraan.
"Jadi, dia bersembunyi di rumah keluarga suaminya?" Ia menggeleng pelan. "Perempuan itu benar-benar menganggap dirinya tidak tersentuh."
"Tuan, saya—"
"Dan kau membiarkannya tetap berada di sana?!" Bentakan Adam membuat Marco menghentikan ucapannya.
"Aku sudah memberimu perintah yang jelas. Bawa jalang itu kepadaku, hidup-hidup jika perlu, dan pastikan dia menjawab semua pertanyaanku. Tetapi kau bahkan tidak sanggup melakukan itu!"
Marco menarik napas perlahan, berusaha tetap tenang menghadapi kemarahan atasannya.
"Saya tidak bisa membawa Nona Amerda secara paksa dari kediaman keluarga Dominic tanpa mempertimbangkan akibatnya, Tuan."
Adam menoleh tajam, "Kau sedang mengajariku bagaimana cara menjalankan perintahku?"
"Tidak, Tuan."
"Lalu apa alasanmu?"
Marco mengangkat wajahnya. Ia tahu Adam tidak menyukai alasan, tetapi kali ini ia harus menjelaskan keadaan yang sebenarnya.
"Tuan Sagara bukan orang sembarangan. Beliau salah satu pebisnis paling licik di negara ini. Beliau memiliki pengaruh besar, jaringan luas, dan kemampuan untuk memutarbalikkan fakta demi kepentingannya sendiri."
Adam menyipitkan mata.
Marco melanjutkan, "Jika saya menyeret Nona Amerda keluar dari kediaman keluarga Dominic tanpa dasar hukum yang kuat, Tuan Sagara bisa menjadikan tindakan itu sebagai masalah besar. Beliau dapat menuduh kita melakukan penculikan atau intimidasi terhadap menantunya sendiri."
"Biarkan dia mencobanya kalau dia berani,"
"Beliau tidak akan berhenti di situ, Tuan. Dengan pengaruhnya, perkara ini bisa berkembang menjadi konflik antara keluarga Maxnore dan Dominic. Terlebih lagi, Tuan Sagara pasti akan membela Nona Amerda sebelum kita mendapatkan bukti yang lebih kuat. Saya takut, proyek baru Anda di selatan dapat terpengaruhi oleh masalah ini,"
Adam berjalan mengitari meja. Sepatu kulitnya mengeluarkan suara pelan di atas lantai marmer.
"Aku tidak peduli siapa suaminya. Aku juga tidak peduli seberapa besar pengaruh keluarga Dominic." Ia berhenti tepat di hadapan Marco. "Jika perempuan itu memang terlibat dalam kematian Veronika, tidak ada satu pun orang yang bisa melindunginya dariku."
"Saya memahami itu, Tuan."
"Kalau begitu, seharusnya kau pulang dengan membawa dia!"
Marco kembali menundukkan kepala.
"Saya akan menemukan cara untuk membawanya menghadap Tuan. Namun, ada satu hal lain yang perlu Tuan ketahui."
Adam menatapnya tajam, "Apa lagi?"
Marco ragu sejenak sebelum menjawab.
"Ketika saya menemui Tuan Sadam Conti, beliau sangat keras membela Amerda. Beliau menolak mempercayai bahwa putrinya mungkin terlibat dalam kecelakaan yang menewaskan Nona Veronika."
Adam mendengus sinis.
"Tentu saja, seorang ayah membela putrinya. Itu bukan hal yang mengejutkan."
"Namun, Tuan Sadam juga mengatakan sesuatu yang mungkin perlu Tuan ketahui."
"Apa?"
Marco menatap Adam dengan hati-hati, "Beliau justru mulai mencurigai Nona Gia."
Seketika, suasana di ruangan itu berubah.
ap Dy punya rencana sendri???
Qta semua membelanya,, mendukung nya...,, eh malah dia yg nawarin diri utk bertahan d rumahnya Sadam. Kecuali kalo dirimu kuat,, d jahatin bisa balas,, d pukul bisa balas memukul,, bisa mu hanya menangis saja...,, Qta perempuan memang makhluk lemah....,, tapi jangan melemahkan dirimu kayak gitu juga Gia. Kau berharap ayahmu Sadam akan terharu....,, hingga akhirnya menyayangimu....,, seperti berharap salju turun d tengah hutan yang terbakar....,, mustahil.
ngapain nyari amerda dirumah Adam GK langsung tempat mertuanya 🤔
berharap Adam membuka jati diri siapa amerda siih ,,
ayahmu saja menginginkan kematianmu,, tak usah lah jadi orang yang terlalu baik,, karna pada akhirnya hanya akan d injak2 saja .