NovelToon NovelToon
Jiwa Yang Tertukar

Jiwa Yang Tertukar

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: jihan dwi

Lexa, seorang siswi populer yang terbiasa menindas siapa saja yang menghalangi jalannya, terbangun di sebuah kamar sempit yang asing. Saat memandang cermin, ia tersentak menemukan sosok Maya gadis lugu dan pendiam yang saban hari ia jadikan sasaran rundungan di sekolah. Karna suatu kejadian, jiwanya terperangkap dalam tubuh korban yang paling ia benci.
Terjebak dalam kehidupan Maya, Lexa kini harus merasakan dinginnya lantai kamar mandi tempat ia dulu menyiram Maya, pedasnya cemoohan teman-temannya sendiri, hingga kejamnya rasa terisolasi. Demi bertahan hidup dan mencari cara kembali ke tubuh aslinya, Sephia terpaksa membalas balik intimidasi kelompoknya sendiri—kali ini menggunakan akal dan keberanian yang tak pernah dimiliki Maya sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jihan dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Malam itu, beberapa hari sebelum suasana hangat di ruang keluarga terjadi, sebuah drama menegangkan sebenarnya telah berlangsung di balik dinding megah rumah keluarga Lexa. Malam di mana rencana licik Lexa pertama kali disusun, justru diawali oleh sebuah kegagalan yang hampir saja meruntuhkan seluruh rasa percaya dirinya.Saat itu, hujan deras mengguyur kota, menciptakan ketukan konstan di kaca jendela ruang kerja Papa Lexa. Lexa melangkah masuk dengan senyum paling manis yang bisa ia ukir di wajah cantiknya. Ia membawa secangkir teh hangat, berpura-pura menjadi putri tunggal yang penuh perhatian. Di balik meja mahoni yang megah, papanya tampak sibuk meneliti dokumen-dokumen penting perusahaan."Papa... sibuk banget ya?" sapa Lexa lembut, meletakkan cangkir teh itu di sudut meja.Pria paruh baya itu mendongak, tersenyum hangat melihat kehadiran putri kesayangannya. "Eh, Lexa. Ada apa, Sayang? Jam segini kok belum tidur?"

Lexa mengitari meja, menyandarkan tubuhnya di lengan kursi kerja papanya seraya memijat pelan bahu pria itu. "Lexa cuma mau ngobrol sebentar. Papa tahu kan kalau minggu depan Lexa ikut Olimpiade Sains?"

"Tentu saja Papa tahu. Papa bangga sekali kamu mau ikut," jawab papanya dengan nada penuh kasih sayang. "Perusahaan Papa bahkan jadi sponsor utama tunggal untuk acara itu. Nanti nama kamu dan nama keluarga kita bakal terpampang jelas di panggung."Mendengar respons itu, Lexa merasa angin segar berhembus. Ia memanfaatkan momen tersebut untuk melancarkan langkah pertamanya. "Nah, justru karena Papa jadi sponsor utamanya... Lexa mau minta tolong sedikit, Pa.""Tolong apa, Sayang? Mau minta fasilitas belajar tambahan? Atau mau Papa panggilkan tutor privat terbaik se-kota?"Lexa menggeleng pelan, lalu mencondongkan tubuhnya dan berbisik pelan, "Bukan, Pa... Lexa cuma mau minta bocoran soal atau kunci jawabannya. Kan semua berkasnya ada di bawah pengawasan perusahaan Papa. Lexa mau belajar dari situ aja biar makin pasti menang dan nggak bikin malu nama Papa di depan media."Seketika itu juga, kehangatan di raut wajah Papa Lexa meredup total. Pria itu menghentikan gerakan tangannya, lalu melepaskan kacamata bacanya dengan perlahan. Wajahnya berubah menjadi sangat serius sebuah ekspresi ketegasan sebagai seorang pengusaha yang memegang teguh integritas, raut yang jarang sekali ia tunjukkan pada putri tunggalnya.

"Lexa," suara papanya terdengar berat dan dalam, tanpa ada celah untuk dibantah. "Papa memang selalu menuruti semua keinginan kamu. Papa kasih kamu uang, pakaian mahal, mobil, dan apa pun yang kamu mau. Tapi untuk hal yang satu ini... tidak akan pernah Papa izinkan."

"Tapi, Pa! Ini kan cuma olimpiade sekolah!" potong Lexa dengan nada mulai merajuk, rasa terkejut mulai merayapi dadanya."Bukan masalah olimpiade sekolah atau bukan, Lexa," tegas papanya seraya menatap lurus ke dalam mata putrinya. "Integritas itu tidak bisa dibeli. Papa membiayai acara itu untuk mendukung anak-anak muda yang jujur dan berprestasi. Jika Papa memberikan bocoran soal itu ke kamu, itu artinya Papa mengajarkan kamu jadi penipu. Kalau kamu mau menang, belajarlah yang rajin seperti siswa-siswa lainnya. Usaha kamu sendiri yang harus membawa kamu ke panggung itu". "Papa pelit banget sih! Lexa kan anak tunggal Papa!" jerit Lexa frustrasi.

"Keputusan Papa sudah bulat. Jangan pernah bahas masalah ini lagi," pungkas papanya dingin, kembali memakai kacamatanya dan melanjutkan pekerjaannya.

Dengan hati yang bergemuruh oleh rasa kesal dan bentakan harga diri yang terluka, Lexa menghentakkan kakinya keras-keras, keluar dari ruangan itu dan membanting pintu. Langkah pertamanya telah gagal total. Sikap tidak kompromi dari papanya menutup rapat jalan pintas yang paling mudah.Namun, rasa tidak mau kalah dari Maya telah mengakar terlalu dalam di dalam jiwa Lexa. Baginya, mundur atau kalah dari gadis penjual sayur itu adalah sebuah kemunduran sosial yang jauh lebih mengerikan dibanding melanggar aturan papanya. Jika pintu depan ditutup, maka ia akan menerobos lewat pintu belakang. Aksi nekat pun mulai terencana di dalam benaknya.Keesokan harinya, kesempatan emas yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba.Pukul delapan pagi, suasana rumah megah itu sangat lenggang. Mamanya sedang pergi ke acara arisan keluarga, sementara papanya sudah berangkat ke kantor sejak subuh untuk menghadiri rapat luar kota. Para pekerja rumah tangga sedang sibuk membersihkan halaman belakang dan area dapur.

Lexa melangkah keluar dari kamarnya dengan berpakaian santai. Ia menyusuri lorong lantai satu dengan langkah sangat pelan, memastikan tak ada seorang pun yang mengawasinya. Jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya campuran antara ketakutan jika tertangkap basah dan dorongan nekat yang tak tertahankan.

Tiba di depan ruang kerja papanya, Lexa memutar kenop pintu kayu jati itu perlahan. *Klek.* Pintu tidak dikunci. Lexa menyelinap masuk, lalu segera mengunci pintu dari dalam.

Ruangan bernuansa kayu mahoni itu terasa begitu hening dan dingin oleh hembusan AC yang lupa dimatikan. Lexa berjalan cepat menuju meja kerja besar di tengah ruangan. Di sana, sebuah laptop kerja milik papanya tergeletak anggun dalam keadaan tertutup. Pria itu sengaja meninggalkan laptop khususnya untuk urusan sponsor dan yayasan karena membawa laptop lain untuk urusan bisnis luar kota.

Dengan tangan yang sedikit gemetar, Lexa membuka lipatan laptop tersebut. Layar menyala, menampilkan kolom kata sandi.

Lexa tersenyum tipis. Ia tahu betul kebiasaan papanya yang selalu menggunakan kombinasi tanggal lahir putri tunggalnya sebagai kata sandi untuk seluruh perangkat pribadinya. Jemari lentik Lexa dengan lincah menekan angka tanggal, bulan, dan tahun lahirnya di atas papan ketik.

Enter.

Layar laptop seketika terbuka, menampilkan halaman utama yang penuh dengan folder-folder rapi.

Rasa panik dan dorongan adrenalin membuat napas Lexa memburu halus. Ia harus bergerak cepat sebelum ada pelayan yang ketuk pintu. Dengan cekatan, ia membuka aplikasi penjelajah berkas, lalu mengetikkan kata kunci *Olimpiade Sains Distrik* di kolom pencarian.

Beberapa detik terasa bagaikan keabadian. Garis pemprosesan berputar, hingga akhirnya beberapa folder muncul di layar. Lexa mengklik folder paling atas bertajuk *Berkas Rahasia Rahasia Panitia - Soal & Kunci Jawaban Resmi*.

Mata Lexa berbinar tajam. Di dalam folder itu, tertera dua berkas format PDF: SATU BERKAS SOAL DAN SATU BERKAS KUNCI JAWABAN LENGKAP BIOLOGI DAN IPA. Tak butuh waktu lama bagi gadis cerdik namun licik itu untuk menemukan harta karun yang ia cari.

"Dapat..." bisik Lexa dengan cengiran puas yang merekah di bibirnya.

Tanpa membuang waktu untuk membaca isinya satu per satu, Lexa langsung membuka aplikasi surat elektronik (email) yang sudah terhubung dengan akun pribadi papanya di laptop tersebut. Ia membuat pesan baru, melampirkan kedua berkas dokumen rahasia itu, lalu memasukkan alamat email pribadinya di kolom penerima.

Dengan satu klik tegas pada tombol *Send*, berkas penting yang menjadi kunci nasibnya dan Maya resmi terkirim.

Untuk menghilangkan jejak kecurangannya, Lexa dengan sangat teliti menghapus riwayat pengiriman pesan di email papanya, membersihkan folder sampah (Recycle Bin), lalu menutup kembali laptop tersebut persis di posisi semula. Ia merapikan kembali tumpukan kertas di atas meja agar tak menimbulkan kecurigaan sedikit pun.

Lexa berjalan menuju pintu, membuka kuncinya dengan hati-hati, lalu melangkah keluar seolah tak terjadi apa-apa.Begitu kembali ke dalam kamarnya yang luas, Lexa melempar tubuhnya ke atas tempat tidur dan menyambar ponsel pintarnya. Ia membuka aplikasi surelnya. Sebuah notifikasi pesan masuk baru saja mendarat dari alamat surel papanya. Lexa mengunduh berkas tersebut dan membukanya. Ratusan soal rumit lengkap dengan pola abjad kunci jawaban A, B, C, D terhampar sempurna di layar ponselnya.

Lexa tertawa melengking dalam kegelapan kamarnya sebuah tawa kemenangan yang penuh kelicikan. Keputusannya untuk mengambil langkah nekat telah berhasil total. Rencana besar untuk menghancurkan Maya dan menyelamatkan gengsinya kini telah berada seratus persen di dalam genggamannya, siap untuk ia eksekusi tanpa ada seorang pun yang menyadari kebohongan besar di balik layar tersebut.

1
Hadi Mulyono
seru ceritanya
Hadi Mulyono
jaman sekarang jangankan anak orang kaya .anak orang biasa ga pny aja bnyk yg kelakuan gayanya kaya orang kaya .kasihan maknya jg
Hadi Mulyono
kapan nih pindah jiwa maya
Hadi Mulyono
di awal cerita SDH menarik semoga bab nya ga terlalu panjang yg penting pny kualitas isi yg bagus
lily
cerita yang menarik semoga sampai tamat..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!