NovelToon NovelToon
Tubuhku Milik Sang Mafia

Tubuhku Milik Sang Mafia

Status: tamat
Genre:Mafia / One Night Stand / Single Mom / Anak Genius / Hamil di luar nikah / Dokter / Teman lama bertemu kembali / Tamat
Popularitas:451
Nilai: 5
Nama Author: Karina Garcia

Satu malam yang tak pernah ia inginkan mengubah seluruh hidupnya.

Saras Danuarta—putri sebuah dinasti perhiasan ternama, calon dokter yang hanya bermimpi menyelamatkan nyawa orang lain—dikhianati oleh keluarganya sendiri. Demi menyelamatkan sang adik, ia terpaksa menyerahkan diri semalam kepada pria paling ditakuti di Paris: Nael Hendarto, raja bawah tanah berjuluk "Bayangan Maut". Pria yang kejam, dingin, dan tak mengenal kata cinta.

Pagi itu Saras pergi tanpa menoleh, membawa satu rahasia yang akan ia jaga dengan nyawanya.

Tujuh tahun kemudian, ia telah menjelma menjadi dokter yang dipuja seantero rumah sakit—seorang ibu tunggal yang membesarkan si kembar dengan tangannya sendiri di sudut kota yang keras. Sampai takdir kembali mempertemukannya dengan pria itu. Dan kali ini, Nael menemukan sesuatu yang tak pernah ia tahu ia miliki: sepasang mata cokelat keemasan yang sama persis dengan matanya.

Pria yang selama ini hanya mengenal darah dan kuasa kini bertekad merebut kembali segalanya—istrinya, anak-anaknya, keluarga yang tak pernah ia impikan. Tapi cinta tak bisa dibeli, tak bisa dipaksa, dan tak bisa direbut dengan ancaman. Untuk memiliki hati Saras, sang mafia harus belajar menjadi sesuatu yang jauh lebih sulit daripada seorang penguasa: seorang pria yang layak dicintai.

Di antara dendam masa lalu, musuh yang mengintai, dan rahasia keluarga yang mematikan, mampukah luka yang dulu berubah menjadi cinta yang sesungguhnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karina Garcia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25. Darah di Ambang Pintu

Nael mulai merasa pusing. Ia sudah kehilangan banyak darah dan tahu betul seharusnya ia langsung ke rumah sakit, bukan datang ke sini. Namun keinginannya untuk melihat perempuan itu jauh lebih kuat, hingga tanpa berpikir panjang, kakinya membawanya sampai ke tempat ini. Saat itu ia mengangkat tangannya, mencoba meraih tangan Saras, lalu berkata dengan suara lemah.

"Saras, maafkan aku, aku…"

Kalimatnya tak sempat selesai. Tubuhnya ambruk ke lantai, tak sadarkan diri. Saras yang ketakutan berlari ke pintu kamar. Terlintas di benaknya untuk menggendong kedua anaknya lalu kabur dari sini. Namun saat tangannya sudah menyentuh pintu, hampir membukanya, ia mendengar bisikan lirih.

"Maafkan aku."

Saras terpaku, menatap gagang pintu, bingung harus berbuat apa. Dengan ragu ia menoleh ke arah Nael, dan saat itulah matanya menangkap genangan darah. Pemandangan itu membuatnya cemas. Bagaimanapun juga ia seorang dokter, dan sebagai dokter ia tak bisa membiarkan siapa pun mati begitu saja. Ia harus menyelamatkan pria itu, menolongnya. Setelah berpikir sejenak, dengan langkah bimbang ia menghampiri Nael, membalikkan tubuhnya hingga telentang, melepas jaketnya, lalu melihat darah yang mengucur dari bahu kanannya.

Melihat darah sebanyak itu, kekhawatirannya makin memuncak. Dengan cepat ia masuk ke kamar, mengambil tas medisnya, dan berkata kepada kedua anaknya agar kembali tidur, bahwa semuanya baik-baik saja. Saras lalu kembali ke sisi Nael, menggunting kemejanya, merebus air, membersihkan luka itu, memastikan peluru tak bersarang di dalam. Setelah memeriksanya, ia menyadari peluru itu masuk dan langsung keluar lagi, tanpa menyentuh saraf penting mana pun.

Ia membersihkan luka itu, mula-mula dengan air hangat, kemudian menuangkan sedikit cairan antiseptik, dan terakhir menjahitnya. Ia bisa melakukan semua ini karena Klaudia, sahabat sekaligus atasannya di rumah sakit, yang mengajarinya.

Setelah selesai menjahit dan membersihkan luka, Saras mengamati tubuh Nael dari atas ke bawah. Ia tak bisa menahan diri untuk tidak memperhatikan bahwa tubuh itu masih sesempurna dulu, wajahnya masih setampan dulu. Sejenak ia terhanyut oleh apa yang dilihatnya, sampai akhirnya akal sehatnya kembali dan ia berpikir, Saras, jangan bodoh, bagaimana bisa kau memikirkan hal seperti itu. Kau ini dokter, kau tak boleh memandangnya sebagai lelaki. Ingat apa yang telah ia lakukan padamu, ingat bahwa karena dialah hidupmu jadi neraka, dialah yang membawa sial dalam hidupmu. Ia hendak bangkit, namun tiba-tiba Nael mencengkeram tangannya.

Saras terkejut dan buru-buru menoleh. Mata Nael baru terbuka sedikit. Saat itu ia mendengar pria itu berbisik dengan suara lemahnya.

"Terima kasih sudah menolongku, istriku yang cantik."

Saras terus menatapnya, dan entah karena alasan apa, ia merasa jengkel. Ia sama sekali tak suka dengan apa yang baru saja didengarnya. Dengan nada ragu ia berkata.

"Apa-apaan yang kau katakan tadi? Apa maksudmu istrimu yang cantik?"

Saras menatapnya sejenak, lalu berpikir, tenang, Saras, pasti kau salah dengar, tak mungkin ia mengatakan itu. Aku sudah gila. Sebaiknya kubawa saja ia ke kamar, aku tak bisa membiarkannya tergeletak di sini. Tapi anak-anakku, apa yang harus kukatakan pada mereka? Saat itu lamunannya terputus oleh putrinya yang keluar dari kamar.

Gadis kecil itu menghampiri Nael dengan wajah cemas, memandangi darah dan mata pria itu yang terpejam, lalu berkata panik.

"Mama, apa yang terjadi pada papa pinjamanku? Kenapa banyak sekali darahnya?"

Saras menoleh ke arah putrinya, tak percaya dengan apa yang didengarnya. Bagaimana mungkin anaknya mengenal pria ini—itulah yang berkecamuk di kepalanya. Ia benar-benar tak dapat mempercayainya, lalu dengan nada bimbang berseru.

"Lia, kau mengenalnya? Kau tahu siapa dia? Kenapa kau memanggilnya papa? Jawab Mama, Nak."

Lia tak henti-hentinya menatap Nael, dan begitu mendengar pertanyaan mamanya, ia menjawab dengan tenang.

"Dia teman Om Karlo. Hari ini kami menghabiskan waktu seharian bersamanya. Dia membelikan kami semua mainan, juga baju, dan mengajari kami naik sepeda."

Wajah Saras memucat mendengarnya. Ini tak mungkin benar. Pasti pria itu akan merebut anak-anaknya, dan itu tak boleh ia biarkan terjadi. Ia harus berbuat sesuatu. Saat itu terdengar suara putranya.

"Kak, kita sudah janji pada Om Karlo untuk tidak memberitahu siapa pun soal temannya, terutama tidak boleh cerita pada Mama, karena itu akan membuatnya khawatir. Lia, kau ini tukang bocor. Makanya kau tak boleh diberi tahu apa-apa, kau selalu bicara tanpa berpikir dulu. Kau tak pantas jadi kakakku."

Mendengar ucapan kembarannya, Lia menggigit bibir, lalu berkata dengan suara gelisah.

"Maafkan aku, Lian. Aku hanya cemas pada papa pinjamanku, dan aku tak bisa berbohong pada Mama, makanya kujawab apa yang ditanyakannya."

Saras punya banyak sekali pertanyaan, tapi ia tak ingin kedua anaknya bertengkar. Ia harus menunggu Karlo untuk bertanya padanya, atau menunggu Nael sadar lalu bertanya langsung. Namun pilihan terakhir itu justru membuatnya takut. Ia bahkan tak sudi berada di dekat pria itu. Yang ia rasakan hanyalah keinginan untuk menggendong anak-anaknya dan lari sejauh mungkin dari lelaki ini, lelaki yang hanya membangkitkan rasa jijik, takut, dan sama sekali tak ia inginkan hadir dalam hidupnya.

Saras menarik tangannya, melepaskan diri dari genggaman lemah Nael, dan saat itu ia merasakan betapa panas tubuh pria itu. Ia jengkel. Tadi ia sudah berniat pergi dari sini, kabur bersama anak-anaknya. Namun hati nuraninya tak mengizinkan ia pergi. Ia tak bisa membiarkan Nael begitu saja, tak bisa membiarkannya mati, apalagi ketika anak-anaknya menatapnya penuh kecemasan terhadap pria itu, sementara putri kecilnya memohon agar ia menyembuhkannya, mengingatkan bahwa ia seorang dokter.

Ia melihat ke dalam tas medisnya, mengeluarkan sebutir pil untuk infeksi, mengambil gelas, menuang air, lalu berjongkok, mengangkat kepala Nael, menyandarkannya ke tubuhnya, dan membuatnya menelan kedua pil itu. Setelah itu, dengan susah payah ia memapahnya berdiri. Nael nyaris tak sadarkan diri, namun ia sempat melihat bagaimana Saras dan kedua anaknya membopongnya ke tempat tidur, membaringkannya. Ia hampir tak menyadari betapa berat tubuhnya sendiri, tapi ia bisa melihat Saras membersihkan tubuhnya dengan kain lembap, sementara putri kecilnya berusaha membantu.

Nael merasa bahagia bisa berada di sini, dirawat oleh perempuan itu dan anak-anaknya, meski seluruh tubuhnya terasa sakit dan kesadarannya nyaris hilang. Namun Saras sama sekali tak bahagia. Ia hanya berharap pria itu segera pulih lalu menjauh darinya, tapi terlebih lagi menjauh dari anak-anaknya. Tiga puluh menit berlalu, dan Saras memutuskan untuk membaringkan kedua anaknya di kasur tipis, ketika ia mendengar keributan di gedung.

Saras keluar dari apartemennya, menuju tepi gedung, melihat ke bawah, dan pemandangan itu membuatnya membeku. Ada beberapa pria bersenjata di sana. Ia berbalik, menuju tangga, turun beberapa anak tangga, lalu mendengar mereka sedang mencari seorang pria. Saras tahu mereka mengincar Nael, dan dari yang ia dengar, mereka tampaknya bukan anak buah pria itu.

Saras berbalik, masuk ke apartemennya, menutup pintu, dan bersandar sejenak. Terlintas di benaknya untuk menyerahkan Nael, menyingkirkannya untuk selamanya, mengakhiri rasa takut yang mencengkeramnya sejak hari ia tahu dirinya hamil—takut bahwa pria itu suatu hari akan datang merebut anak-anaknya.

Ia berbalik, menyentuh gagang pintu, jantungnya berdebar kencang. Gagasan untuk menyerahkan Nael terasa seperti sebuah jalan keluar baginya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!