NovelToon NovelToon
THE VAMPIR BRIDE

THE VAMPIR BRIDE

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Misteri / Vampir
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: crowell

hayyyyy hayyyy hayyyyy semuanya jangan lupa follow aku dulu biar enak ahayyyy !!! 👋🤍


Siapa sangka, di kehidupan yang cuma sekali ini, kamu malah harus dipaksa menikah sama seseorang yang bahkan nggak kamu kenal?

Itulah yang terjadi sama Ema.

Awalnya Ema pikir pernikahan ini cuma urusan bisnis antara keluarganya dan keluarga Damian. Setelah menikah, mereka bisa menjalani kehidupan masing-masing seperti biasa.

Tapi ternyata, Ema salah besar.

Semenjak tinggal bersama Damian dan keluarganya, Ema mulai merasa ada yang aneh.

Mereka terlalu banyak menyimpan rahasia.

Dan semakin Ema mencoba mencari tahu, semakin ia sadar kalau keluarga yang sekarang menjadi keluarganya itu... sama sekali bukan keluarga biasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon crowell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

chapter 23

“Di mana Nyonya Emma?! Nyonya, apakah Anda terluka?!”

Suara Vandes terdengar lantang dari luar kamar. Ia bahkan tidak bisa menyembunyikan kepanikannya saat mencari keberadaan Emma.

“Nyonya Emma!”

Mendengar namanya dipanggil berulang kali, Emma yang masih duduk di tepi ranjang sontak mengangkat kepala. Matanya langsung berbinar, lalu sebuah senyum lebar terukir di wajahnya.

Vandes!

Namun, sedetik kemudian, pikirannya langsung tertuju pada seseorang yang sangat dirindukannya.

Jangan-jangan Damian sudah pulang!

Entah mengapa, hanya dengan mendengar suara Vandes saja, Emma sudah merasa begitu bahagia. Ia bahkan sampai melupakan rasa perih di kakinya.

“Sonya, ayo keluar! Sepertinya Damian sudah pulang!” seru Emma antusias sambil buru-buru berusaha turun dari ranjang.

“Eh, Nyonya, tunggu dulu! Kaki Anda masih terluka!” Sonya segera menahan lengan Emma agar gadis itu tidak berdiri terlalu cepat.

“Tapi, aku ingin melihat Damian!” rengek Emma sambil menatap Sonya dengan wajah memohon.

Sonya menghela napas kecil, lalu membantu Emma berdiri dengan hati-hati.

“Baiklah, Nyonya. Tapi, tolong berjalan pelan-pelan.”

Emma mengangguk cepat. Senyumnya tak kunjung hilang, bahkan ia terus melangkah dengan penuh semangat meskipun kakinya masih terasa sakit.

Di dalam pikirannya, ia sudah membayangkan akan berlari menghampiri Damian dan memarahinya karena tidak membalas pesan-pesannya selama beberapa hari terakhir.

Dasar vampir menyebalkan! Kalau memang sudah pulang, awas saja kau! Aku akan memarahimu dulu sebelum memelukmu!

Pipi Emma mengembung saat membayangkan hal itu, tetapi senyum bahagia tetap menghiasi wajahnya Tanpa Emma sadari, orang yang sedang mencarinya bukanlah Damian, melainkan Vandes yang datang membawa kabar tentang keadaan suaminya Dan kali ini, kedatangan Vandes sama sekali bukan untuk menyampaikan kabar baik.

“Vandes, mana Damian? Mana tuan galakmu itu?” tanya Emma begitu melihat Vandes muncul di hadapannya.

Emma menoleh ke kanan dan kiri, berharap bisa menemukan sosok suaminya. Namun, setelah beberapa saat mencari, ia tidak juga melihat Damian.

Senyum di wajahnya perlahan memudar.

“Lho? Damian mana? Kau sudah pulang, kok tuan mu malah tak ada?” gerutunya sambil menatap Vandes dengan wajah kecewa.

Vandes menundukkan kepalanya. Rasa bersalah kembali menyelimuti hatinya karena harus terus berbohong kepada Emma. Namun, ketika hendak berbicara, pandangannya justru menangkap kaki Emma yang terbalut perban.

Ia tertegun.

“Tu-tunggu, Nyonya. Kaki Anda kenapa?” tanyanya sambil menunjuk perban tersebut.

Emma spontan mengikuti arah pandangan Vandes, lalu buru-buru menutupi kakinya dengan ujung gaunnya.

“Kenapa kau menatap kakiku seperti itu?!” serunya panik.

Vandes mengerutkan kening, kebingungan menghadapi reaksi Emma.

“Bukan begitu, Nyonya. Saya hanya ingin tahu bagaimana Anda bisa terluka.”

Emma menyipitkan matanya, lalu mundur selangkah sambil memeluk boneka di tangannya.

“Jangan-jangan kau ingin mengisap darahku, ya?! Astaga, Vandes! Aku memang tahu kalian vampir, tapi setidaknya jangan terang-terangan begitu!” tuduh Emma dengan wajah waswas.

“Bukan, Nyonya!” Vandes langsung menggeleng cepat. “Saya tidak berniat mengisap darah Anda!”

“Benarkah?”

“Tentu saja, Nyonya.”

Emma masih menatapnya curiga sebelum akhirnya mengembuskan napas lega Vandes kembali melirik kaki Emma. Wajahnya yang semula kebingungan perlahan berubah serius.

“Kalau begitu, izinkan saya bertanya sekali lagi. Siapa yang membuat Anda terluka, Nyonya?” tanyanya dengan nada lebih tegas.

Emma mengedipkan mata, tidak menyangka Vandes akan seserius itu hanya karena luka kecil di kakinya.

“Tidak ada yang membuatku terluka. Aku tidak sengaja menabrak vas, lalu vasnya jatuh dan melukai kakiku. Memangnya kenapa?” jawab Emma santai.

Vandes terdiam.

Matilah aku.

Itulah satu-satunya kalimat yang terlintas di benaknya Selama hampir sebulan pernikahan Damian dan Emma, Vandes sudah menyaksikan sendiri betapa protektifnya tuannya terhadap sang istri. Meskipun pernikahan mereka pada awalnya tidak didasari cinta, Damian tidak pernah membiarkan Emma terluka sedikit pun.

Bahkan, jika Emma hanya mengeluh sakit kepala, Damian bisa langsung memerintahkan seluruh pelayan untuk mencari obat terbaik.

Sekarang, bagaimana mungkin ia menjelaskan kepada tuannya nanti bahwa Emma sampai terluka hingga berdarah?

Vandes menelan ludah.

Habislah aku. Kalau Tuan Damian tahu Nyonya Emma terluka saat beliau tidak ada, bisa-bisa aku kehilangan pekerjaanku!

Namun, sesaat kemudian, ia teringat alasan sebenarnya mengapa dirinya datang mencari Emma Wajahnya kembali muram ada masalah yang jauh lebih besar daripada luka kecil di kaki Emma.

“Vandes?” panggil Emma sambil melambaikan tangannya di depan wajah pria itu. “Kenapa kau malah melamun? Kau ini kenapa, sih? Aneh sekali!”

Vandes tersentak dari lamunannya.

“Maaf, Nyonya.”

Emma memiringkan kepalanya, lalu kembali menanyakan hal yang sejak tadi memenuhi pikirannya.

“Sudahlah, sekarang jawab pertanyaanku. Damian ada di mana? Kenapa dia tidak ikut pulang bersamamu?”

Vandes terdiam.

Kali ini, ia benar-benar tidak tahu bagaimana harus menjawabnya Bagaimana mungkin ia mengatakan bahwa suami yang begitu dirindukan Emma kini sedang terbaring tak berdaya, berjuang mempertahankan hidupnya?

Sementara Emma masih menunggu kepulangan Damian dengan senyum penuh harap, Vandes justru harus mengumpulkan keberanian untuk menyampaikan kabar yang mungkin akan menghancurkan senyum itu.

Vandes menarik napas panjang sebelum akhirnya memberanikan diri menatap Emma.

“Nyonya, Tuan Damian tertembak,” ucapnya pelan.

Senyum yang sejak tadi menghiasi wajah Emma seketika menghilang.

“Apa?” tanyanya lirih, seolah tidak yakin dengan apa yang baru saja didengarnya.

“Tuan sedang membutuhkan Anda sekarang, Nyonya. Sudah tiga hari beliau terbaring tak sadarkan diri,” lanjut Vandes dengan kepala tertunduk. “Saya datang untuk menjemput Anda karena keadaan Tuan semakin memburuk.”

Emma terdiam. Boneka yang dipeluknya perlahan terlepas dari genggamannya, jatuh ke lantai tanpa ia sadari.

“Ti-tidak sadar?” ulangnya dengan suara bergetar.

Vandes mengangguk pelan.

“Maafkan saya karena baru memberi tahu Anda sekarang, Nyonya.”

Emma menggeleng berkali-kali. Matanya mulai berkaca-kaca, sementara pikirannya berusaha mencerna semua perkataan Vandes.

Tiga hari?

Selama tiga hari itu, Damian terbaring tak sadarkan diri, sementara dirinya justru mengira suaminya sedang sibuk dengan urusan pekerjaan?

“Kenapa ... kenapa kau baru memberitahuku sekarang?” tanyanya dengan suara tercekat. “Kenapa Damian tidak menghubungiku? Kenapa dia tidak bilang kalau dia terluka?”

Vandes tidak mampu menjawab. Rasa bersalah membuatnya hanya bisa menundukkan kepala Emma buru-buru mengusap air matanya, lalu mencengkeram lengan Vandes dengan kedua tangannya.

“Antarkan aku kepadanya sekarang!” pintanya panik. “Aku ingin bertemu Damian! Aku ingin melihat suamiku!”

“Baik, Nyonya. Saya akan mengantar Anda sekarang juga,” jawab Vandes tegas.

Tanpa membuang waktu lagi, Vandes segera membantu Emma bersiap untuk berangkat Namun, di balik kepanikannya, Emma tidak bisa menghentikan satu pertanyaan yang terus berputar di kepalanya.

Damian, kau harus baik-baik saja. Kau belum membalas satu pun pesanku. Kau bahkan belum mendengar aku mengatakan bahwa aku mulai menyukaimu.

Air matanya akhirnya jatuh juga.

Jadi, jangan berani-berani meninggalkanku sebelum aku mengatakannya langsung kepadamu.

1
@Bella45
lanjut thor sayang jangan lupa istirahat 😍
chelsea~♡
suka dan naksir banget sama carita nya jelas banget 😘🤗
Fiar
puas banget baca nya up nya bir atu bab tapi banyak suka

eh thor update gih utusan istrahat nanti di akhirat 😍🤭
miooo😻
cerita KK ngak pernah mengecewakan yah Mangat KK makasih udah mau buat cerita lagi 🥰🥰💪
KEISHA 72_
suka banget sama karya nya kakak semangat KK ❤️❤️💪🤭
Alethea
wahhh cerita nya Karen 💪❤️
Marsya 🌼
ngakak bet hahahaha 🤣
Chloe
Diamian lupa kah sama perjanjiannya sama ayah nya ?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!