DENDAM BERSELIMUT TAWA
Bagaimana jika pemuda paling santai di desa ternyata adalah pewaris takhta yang seharusnya sudah mati?
Namanya Raka. Hidupnya sederhana, hobinya bercanda, dan ia paling tidak suka berurusan dengan masalah orang lain. Baginya, hidup terlalu singkat untuk dihabiskan dengan memikirkan hal-hal yang merepotkan.
Namun, kematian seseorang yang telah membesarkannya mengubah segalanya.
Perjalanan untuk mengungkap kebenaran justru menyeret Raka ke dalam rahasia kelam kerajaan Sangkara—sebuah kerajaan yang kini dipimpin oleh raja yang dicintai rakyatnya, tetapi menyimpan dosa berdarah di balik mahkotanya.
Raka tidak tahu bahwa masa lalu yang selama ini tersembunyi perlahan sedang mengejarnya.
Terlebih lagi, di balik senyumnya yang jahil, tersimpan kekuatan misterius dalam kedua matanya: merah seperti kegelapan yang menuntut balas, dan biru seperti cahaya yang melindungi.
Bersama Kirana, sahabat masa kecilnya yang memiliki sihir bayangan langka, Raka harus menghadapi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CICAK rawa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4-MEMAR
"Raka, Kirana... Bangun.."
Raka membuka matanya perlahan.
"ada apa bang Tito....?"
"lebih baik kita menginap di sini dulu, pengawal yang lain sudah mendirikan tenda."
Raka mengangguk, lagi pula malam kemarin para pengawal sudah tak tidur karena perjalanan jadi tak ada salahnya jika mereka beristirahat dulu.
"baik bang, dululah aku akan membangunkan Kirana."
"Raka... Ada apa? Apa sudah sampai.?" tanya Kirana yang baru tersadar dari tidurnya.
"belum..."
Raka mendekat, membantu Kirana bangun.
"para pengawal sudah mendirikan tenda, lebih baik kita tidur di tenda. Tidur di kursi kurang nyaman."
Kirana menurut, ia yang masih setengah sadar di bantu Raka masuk ke tendanya.
Setelah memastikan Kirana nyaman, Raka keluar tenda.
Saat ingin masuk ke tenda miliknya, Raka melihat Tito melamun di depan perapian.
"ada apa bang..." tanya Raka setelah mendekat.
Tito yang awalnya memasang raut sedih tiba tiba langsung mengubah ekspresinya menjadi datar seperti biasanya.
Raka ikut duduk di perapian, tepat berhadapan dengan tito.
"kamu kenapa belum tidur ka..?" tanya tito.
"aku sudah puas tidur bang... Tapi kenapa Abang ngelamun di sini..? Apa ada masalah.?"
tito buru buru menggeleng...
"tidak, aku di sini cuma mau ngangetin tubuh aja. Bukan ngelamun."
Raka menggeleng, ia mengambil beberapa kayu dan memasukkannya ke api.
"ngak usah bohong bang, kita udah kenal lama. Aku tau gimana Abang."
Tito terdiam, ia memilih bersandar ke batang yang ada di dekatnya.
"apa ini ada hubungannya dengan Mbah, atau hubungan dengan perjalanan kita"
Tito langsung menoleh, ia terdiam sesaat. Lalu menggeleng.
"tentu tidak, kenapa kamu berfikir ke sana.?"
"enggak bang... Cuma aneh aja, Abang biasanya selalu ikut Mbah kalo mau pergi. Kebetulan dalam waktu dekat Mbah kan ada acara pertemuan di kerajaan, tapi dia malah memerintahkan Abang ke sini."
"tentu karena Mbah menghawatirkan kalian berdua, kalian sudah seperti cucu kandung Mbah sendiri. Apa lagi ini pemburuan pertama kalian, mana sampai 2 bulan. Tentu Mbah khawatir, lagi pula kita hanya dengan beberapa pengawal saja, masih banyak pengawal lain di desa yang bisa ikut dengan Mbah ke kerajaan." jawab tito.
"tapi bang, kenapa harus pengawal utama. Jelas jelas keselamatan Mbah lebih utama, kami juga tak selemah itu"
"sudah, kamu kembali dan tidurlah. Besok kita akan melanjutkan perjalanan, Abang mau keliling mastiin tempat ini aman" ucap tito yang langsung berdiri pergi.
"bang..."panggil Raka.
Tapi tito tanya melambai, tanpa menghentikan langkahnya.
Sedangkan Raka tak langsung kembali ke tendanya, ia malah terdiam menatap api di depan.
Srek....
Raka langsung menoleh.
"siapa..."
namun tak ada jawaban, namun samar samar ia masih mendengar suara dari balik semak.
dengan mengendap, Raka mendekat ke semak.
Namun tak ada siapapun di sana.
Raka kembali menajamkan pendengarannya, tangannya mulai meraih tas belati.
dengan sekali ayunan, belati langsung melesat membelah dedaunan.
jleb.
aing.....
Serek.... Serek....
Suara daun terinjak semakin kencang.
"jangan lari..."
Raka mengejar, tubuhnya ringan membelah rerumputan tinggi yang menghalangi.
Tak membutuhkan waktu lama Raka berhasil mengejar.
"anjing....?"
arka menunduk memperhatikan anjing yang telah tergeletak dengan belati menancap di tubuhnya.
"kenapa ada anjing di sini, apa ada perumahan di sekitar sini" gumamnya.
Raka menunduk, mengambil belatinya yang tetap di anjing itu, namun saat mengambil belati ini.
Matanya tak sengaja menangkap liontin emas di kalung anjing.
"ini...? Bukankah ini lambang kerajaan, kenapa ada di anjing ini...? Atau ada pasukan kerajaan di daerah sini..?"
"Raka... Ka..." suara Tito terdengar.
Raka berdiri, ia mengambil kalung itu dan memasukkan di dalam tas belatinya.
"ya bang .. Tunggu.." teriaknya.
Ia menghampiri sumber suara.
"ada apa ka, kenapa kamu masuk ke hutan sendirian.?" tanya tito.
Raka tersenyum sambil menggaruk kepalanya.
"maaf bang, tadi aku kebelet kencing. Malu mau ngasih tau pengawal jadi aku berangkat sendiri."
Tito menggeleng, dan mengajak Raka kembali.
"lain kali setidaknya ajak pengawal, kita sedang ada di hutan. Dan belum tau apa yang ada di sini."
"ya maaf bang, lagian aku udah besar gak enak kalok kencing di liatin".
mereka kembali, kali ini Raka benar benar masuk ke dalam tendanya.
Di dalam Raka kembali mengeluarkan liontin emas dari tas belati.
"kerajaan lagi... Kenapa mereka kemari.? apa ada sesuatu.? Atau ada hal lain." gumamnya.
tiba tiba buliran air mata Raka menetes setelah memperhatikan liontin itu cukup lama.
Ia mengelap air mata itu, lalu mengepalkan tangan.
"tenang, sekarang belum waktunya." gumamnya.
Setelah itu, ia tertidur.
Seperti rutinitas di desa, Raka bangun sejak jam 5 pagi.
Ia bangun, sedikit melakukan peregangan lalu keluar.
"pagi yang indah." ucapnya sambil menguap saat keluar tenda.
"jangan terlalu besar membuka mulut, kamu belum gosok gigi"
Raka menolah.
"Rana... Tumben amat."
mendengar ini Kirana langsung melotot.
"apa maksudmu, apa kau mau mengatakan aku jarang bangun pagi."
Raka menggeleng...
"bukan aku yang ngomong.." ucapnya sambil menatap ke arah lain.
"Raka...!"
bogeman Langung mengayun, beruntungnya Raka cepat menghindar.
"tenang, jangan marah marah."
namun walau begitu, Kirana tak berhenti. tangannya terus mengayun.
Sedangkan Raka langsung lari.
"tunggu, jangan lari." ucap Kirana mengejar.
Saat di meja makan, beberapa pengawal menahan tawa melihat Raka yang sedari tadi menunduk dengan mata sedikit memar.
Ingin tertawa tapi saat melihat tatapan Kirana membuat para pengawal tak memiliki nyali.
Sedangkan Tito yang baru datang, menatap Raka dengan bingung.
"matamu kenapa ka..? Apa saat kamu kencing tadi malam kamu gak sengaja nabrak pohon..?"
"udah bang biarin aja lelaki kayak dia.... Dia itu memang pantes kayak gitu." ucap Kirana.
Mendengar Kirana yang menjawab, Tito langsung tau situasi.
"sudah makan terlebih dahulu, perjalanan kita masih panjang"
semua menurut, satu per satu mengambil nasi beserta lauknya.
Sedangkan Raka masih duduk terdiam, sesekali memegang memar di sekitar matanya.
"ambil..." ucap Kirana menyodorkan sepiring nasi.
Raka mendongak, ia mulai menyunggingkan bibir namun.
"aw..." Raka langsung memegang area di sekitar matanya.
wajahnya masih terasa sangat sakit terkena bogem mentah dari Kirana. Bahkan untuk merubah ekspresinya saja terasa nyeri.
"udah, nanti ku kompres. Cepatlah makan, gak lucu kalo kamu mati karena ngambek. Nanti aku bingung ngejelasinnya ke Mbah"
Raka mengambil, piring yang Kirana sodorkan.
Para pengawal yang melihat ini hanya bisa menggeleng.
Setelah mereka selesai makan, mereka kembali melanjutkan perjalanan dengan kereta kuda.
Tak lama dari kepergian mereka, muncul 2 orang berziarah.
namun hanya sebentar sebelum mereka pergi.
Tak lama, orang itu muncul lagi.
Tapi kali ini mereka tak hanya berdua, ada beberapa orang lagi yang mengikuti, bahkan ada pemuda dengan zirah emas.