Di kota London yang basah dan dingin, Hans Lorte bertahan hidup dari ketajaman otaknya. Baginya, kegaiban hanyalah alasan bagi orang bodoh yang malas berpikir.
Namun, sebuah kasus misterius memaksa Hans berhadapan dengan teka-teki paling berbahaya dalam kariernya. Tanpa saksi, tanpa tanda-tanda pembobolan, dan bukti fisik yang janggal, Hans harus berpacu dengan waktu sebelum sang pelaku menghilangkan jejaknya secara permanen.
Sebuah kisah investigasi gelap tentang obsesi, konspirasi, dan batas akhir dari akal sehat manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ashciel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15. Celah di Mayfair
Pukul 05.00 pagi. Kabut dingin Mayfair merayap di antara lorong-lorong belakang. Gerobak pasokan susu pertama melintas pelan di atas jalanan batu.
Hans Lorte berdiri bergeming di celah bangunan marmer. Tangan kirinya terangkat, meraba anting perak bulan sabit di telinga kirinya. Lensa mata kelabunya meneliti pergerakan dua penjaga berjas hitam di sudut jalan.
"Tuan Lorte, menyusup di kawasan Mayfair waktu fajar begini bukannya terlalu nekat?" bisik Pip dari balik bahu Hans, tangannya memeluk kantong kain berisi dokumen Finch. "Polisi atau penjaga rumah bangsawan di sini bisa langsung menembak kita tanpa bertanya."
"Semua sistem pengamanan diciptakan oleh manusia, Pip," sahut Hans datar tanpa berpaling. "Artinya, semua sistem memiliki kalkulasi celah psikologis."
Pip mengernyitkan keningnya. "Celah psikologis?"
"Penjaga shift malam telah bertugas selama delapan jam dalam suhu empat derajat Celsius," papar Hans dingin. "Fungsi kognitif dan refleks mata mereka menurun tiga puluh persen saat mendekati fajar. Ditambah lagi, gerobak susu yang berhenti di lorong ini menciptakan sudut buta seluas empat meter."
Hans menepuk bahu Pip pelan. "Logika sederhana. Gerak sekarang."
Keduanya menyusup cepat di balik bayangan gerobak kayu. Langkah mereka tanpa suara melintasi batu basah.
Sret...
Hans menggetok Pintu Pelayan No. 3 kediaman keluarga Finch. Dua ketukan pendek, satu ketukan panjang.
Selot besi berputar pelan dari dalam. Pintu kayu berderit terbuka beberapa sentimeter.
Wajah pucat Lady Evelyn Finch muncul dari balik celah. Matanya sembab dengan lingkaran hitam tebal.
"Tuan Lorte!" bisik Evelyn tercekat. "Saya mendengar rumor dari kereta pabean... Ada baku tembak di Rotherhithe! Apakah ayah saya...?"
"Ayah Anda selamat, Lady Finch," potong Hans cepat. "Dia berada di lokasi aman di Greenwich."
Evelyn menangkupkan tangan ke mulutnya, menghembuskan napas lega yang bergetar. "Terima kasih Tuhan..."
"Simpan lega Anda," ujar Hans seraya menerobos masuk bersama Pip. "Kita tidak punya banyak waktu untuk selebrasi emosional."
Klek.
Hans memutar kembali selot pintu dari dalam, lalu mengisyaratkan mereka berpindah ke ruang kerja pribadi Dr. Finch di lantai dasar.
"Kenapa? Apa yang terjadi di Rotherhithe?" tanya Evelyn terburu-buru seraya menyusul langkah Hans.
Hans membentangkan sketsa pipa uap di atas meja ek. "Laboratorium ayah Anda hancur akibat reaksi anomali. Dan Lord Sterling punya rencana yang jauh lebih gila."
Evelyn mengernyitkan keningnya. "Rencana gila?"
"Sterling membangun mesin pemancar frekuensi tinggi di bawah Menara Air Pusat London," jawab Hans dingin.
"Menara Air Pusat?" Evelyn tersentak.
"Dia berniat menyebarkan frekuensi abyssal itu ke seluruh pipa uap kota saat puncak perayaan Kerajaan," lanjut Hans.
Evelyn terhuyung mundur. Tangannya mencengkeram tepi meja ek untuk menahan tubuhnya yang mendadak lemas.
"Pantas saja..." suara Evelyn gemetar. "Dua minggu lalu Sterling membeli saham mayoritas London Steam & Water Works."
"Artinya kecurigaan ayah Anda terbukti secara komersial," sahut Hans.
"Tangki tekanan tinggi di menara itu terhubung ke seluruh saluran uap utama kota!" seru Evelyn. "Gedung pemerintah, pabrik, bahkan pemukiman warga!"
"Jika frekuensi itu meledak di tangki utama," sela Pip dengan wajah pucat, "apakah fenomena air mengapung dan retakan ruang di Rotherhithe bakal menelan seluruh kota?"
"Akal sehat tidak mengenal istilah kota tertelan sihir, Pip," potong Hans tegas, menjadi jangkar rasionalitas di tengah ketakutan kedua orang di dekatnya. "Anomali ini terbuat dari frekuensi. Dan frekuensi adalah gelombang fisik. Artinya, sama seperti gelombang suara atau uap panas, ia tunduk pada hukum alam: bisa diredam, dikunci, atau dialirkan balik jika kita memutus pemicunya."
Evelyn menatap Hans dengan matanya yang membelalak. Keteguhan sang detektif mendadak menyuntikkan keberanian di dadanya.
"Tunggu di sini," ujar Evelyn tegas.
Ia berjalan cepat ke arah dinding kayu, memutar selot rahasia pada lemari besi tersembunyi.
Klek.
Evelyn mengeluarkan gulungan cetak biru tua berlapis kain dan seikat kunci kuningan raksasa.
"Ini cetak biru sistem katup menara air buatan ayah," kata Evelyn seraya membentangkannya di atas meja. "Dan ini kunci akses ke ruang pompa bawah tanah."
Hans merunduk, memindai denah tersebut dengan mata kelabunya yang analitis. Jemarinya menelusuri garis-garis tinta tebal pada peta arsitektur tersebut.
"Ruang mesin bundar berdiameter tiga puluh meter di kedalaman lima belas meter," gumam Hans. "Diapit empat pilar pipa uap utama. Tempat ini dirancang dengan isolasi kedap suara yang tebal."
"Artinya jika terjadi pertempuran di dalam, suara tembakan tidak akan terdengar hingga ke permukaan," tambah Pip seraya mengintip denah.
"Kalkulasi yang akurat, Pip," sahut Hans. "Dan untuk sistem pengamanannya, Hallowell dan pasukannya saat ini sedang menyisir selokan pelabuhan. Mereka menduga kita masih bersembunyi di Thames. Fokus pengamanan di menara justru berada pada titik paling longgar pagi ini."
"Saya ikut dengan Anda," potong Evelyn mendadak.
Hans mendongak, menatap mata wanita muda itu secara dingin. "Ini bukan lagi kasus penyelidikan di atas kertas, Lady Finch. Di bawah sana ada pasukan bersenjata dan pemicu anomali yang berbahaya."
"Dan di bawah sana ada katup pengunci darurat buatan ayah saya!" balas Evelyn tidak mau kalah.
"Saya bisa meretas selot pintunya sendiri," ujar Hans datar.
"Tapi Anda tidak bisa mengunci katup daruratnya dengan benar!" tembak Evelyn cepat. "Sistem katup uap buatan ayah memakai mekanisme pengunci tiga tahap!"
Evelyn mendekatkan tubuhnya ke meja, menatap Hans lurus.
"Jika Anda memutar katup itu secara asal atau memotong pipanya secara kasar," lanjut Evelyn, "tekanan uap justru akan melonjak ekstrem dan memicu ledakan frekuensi seketika!"
Hans diam selama tiga detik. Tangan kerjanya mengetuk meja ek secara konstan. Otak rasionalnya menimbang argumen teknis Evelyn.
"Kalkulasi Anda masuk akal secara mekanis," aku Hans singkat. "Namun jika Anda ikut, Anda harus mematuhi tiga aturan taktis saya tanpa bantahan."
"Sebutkan," tantang Evelyn.
"Aturan pertama: emosi adalah beban fisik," tegas Hans, menatap mata Evelyn dengan tajam. "Di bawah sana, kepanikan akan membunuh kita lebih cepat daripada peluru pasukan Hallowell. Hilangkan ketakutan Anda."
Evelyn mengangguk cepat. "Diterima."
"Aturan kedua: kepatuhan mutlak pada komando," lanjut Hans. "Jika saya memerintahkan Anda tiarap, Anda harus tiarap di atas lumpur dalam waktu kurang dari satu detik. Jika tembakan meletus, segera cari perlindungan di balik pilar besi berdinding tebal."
"Aturan ketiga?" tanya Evelyn.
"Aturan ketiga: fokus pada tugas mekanis Anda," ujar Hans seraya menunjuk katup tiga tahap pada denah. "Abaikan pertarungan di sekeliling Anda. Tugas Anda murni mengunci katup tersebut sesuai kalkulasi teknis ayah Anda. Serahkan ancaman fisik kepada saya."
Evelyn menghembuskan napas panjang, mengepalkan kedua tangannya rapat-rapat. "Saya mengerti, Tuan Lorte. Saya setuju."
"Bagus," puji Hans singkat tanpa senyum. "Ganti gaun Anda dengan pakaian kerja wol. Sembunyikan rambut dan wajah Anda di balik topi pelayan."
"Beri saya waktu tiga menit," jawab Evelyn seraya berbalik cepat menuju kamar dalam.
Hans meraba anting perak bulan sabitnya kembali, lalu melangkah ke dekat jendela.
Cahaya fajar mulai menembus kabut Mayfair. Pendaran keemasan memantul tajam di puncak Menara Air Pusat yang menjulang gagah di garis langit Kota London.
"Pip, siapkan artefak terbungkus," ujar Hans seraya menggenggam erat pegangan tongkat jalan berkepala besinya.
"Siap, Tuan!" sahut Pip mantap seraya mengencangkan ikatan tas kainnya.
"Pagi ini," bisik Hans dingin seraya mengunci pandangannya pada puncak menara air. "Kita matikan mesin uap Lord Sterling dengan kalkulasi yang presisi."