Tuan!, kau masih saja ya setampan dulu, suara itu menyapa dengan senyum lembut .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lili Pinarsih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Satoshi Katagiri tidak lagi memedulikan waktu. Sejak Lily diculik, ia hampir tidak pernah meninggalkan ruang kendali. Setiap laporan dibacanya dengan teliti, setiap rekaman diperiksa berulang kali, dan setiap petunjuk yang mengarah pada keberadaan istrinya segera ditindaklanjuti.
Namun, hingga malam tiba, hasil pencarian masih belum memberikan jawaban yang memuaskan.
“Periksa kembali kendaraan yang melintasi jalur hutan pada hari penculikan,” perintah Satoshi kepada bawahannya.
“Sudah kami lakukan, Tuan. Sebagian besar rekaman kamera di sekitar kawasan itu telah dihapus sebelum tim kami tiba.”
Satoshi mengangkat wajah. “Dihapus?”
“Benar. Pelakunya menggunakan perangkat khusus untuk menghilangkan rekaman dari beberapa kamera sekaligus. Mereka juga memutus komunikasi di sekitar kediaman selama beberapa menit.”
Rahang Satoshi mengeras.
Penculikan itu direncanakan oleh seseorang yang memahami sistem keamanan keluarga Katagiri. Orang tersebut bukan hanya mengetahui lokasi persembunyian Lily, tetapi juga memahami jalur rahasia yang seharusnya hanya diketahui oleh orang-orang tertentu.
“Periksa siapa saja yang pernah memiliki akses terhadap informasi kediaman itu,” katanya. “Jangan mengecualikan siapa pun, termasuk orang-orang yang telah bekerja untuk keluarga kita selama puluhan tahun.”
“Baik, Tuan.”
Setelah bawahannya pergi, Satoshi berdiri di depan jendela. Lampu-lampu kota terlihat berkilauan, tetapi pikirannya sama sekali tidak tertuju pada pemandangan tersebut.
Ia teringat wajah Lily ketika perempuan itu memintanya pergi dari kamar. Ia teringat tatapan dingin yang diberikan Lily setiap kali dirinya mencoba mendekat.
Dahulu, ia tidak pernah memedulikan perasaan perempuan itu. Kini, ketika Lily berada di tangan orang lain, ia baru menyadari betapa sedikitnya yang ia ketahui tentang kehidupan istrinya.
Ia bahkan tidak mengetahui seluruh rahasia keluarga Lily.
Satoshi menatap pantulan wajahnya di kaca.
“Kalau begitu, aku akan mencari dari sisi lain. Aku ingin mengetahui siapa yang menculik Lily sebenarnya."
Lily sedang berdiri di hadapan ayahnya dan mendengarkan sebuah rahasia yang akan mengubah seluruh pemahamannya tentang masa lalu.
---
Lorong menuju ruang tahanan terasa lembap dan dingin.
Lily berjalan mengikuti Gento. Dua penjaga mengiringi mereka dari belakang, sedangkan beberapa lelaki bersenjata berjaga di persimpangan lorong. Bangunan yang terlihat seperti kediaman mewah dari luar ternyata memiliki bagian bawah tanah yang luas, lengkap dengan pintu-pintu baja dan sistem pengamanan berlapis.
Semakin jauh mereka berjalan, semakin kuat aroma obat-obatan dan logam berkarat yang tercium.
Lily menahan napas ketika Gento berhenti di depan sebuah pintu besi.
“Dia berada di dalam,” katanya.
Lily segera memandang pintu tersebut.
“Apakah ayah saya masih sadar?”
“Dia masih hidup. Namun, jangan berharap kondisinya baik-baik saja.”
"Ini pakailah, tidak mungkin kau bertemu ayahmu dengan kondisi leher penuh tanda merah itu."
Gento menyerahkan syal coklat pada Lily dari dalam sakunya.
Lily mengambil dan memakainya tanpa berkata apapun.
Gento memberi isyarat kepada penjaga untuk membuka pintu.
Suara engsel yang berat terdengar ketika pintu itu bergerak. Di baliknya terdapat sebuah ruangan sempit dengan lampu putih yang menyala redup. Sebuah meja kecil terletak di sudut, sementara kursi besi berada tepat di tengah ruangan.
Seorang lelaki kurus terkulai di atas kursi tersebut.
Kedua tangannya terikat pada sandaran. Kepalanya tertunduk, rambutnya telah memutih di beberapa bagian, dan wajahnya tampak jauh lebih tua daripada yang Lily ingat. Pakaiannya kusut, sementara kulit di sekitar pergelangan tangannya memperlihatkan bekas ikatan.
Lily membeku.
“Ayah?”
Lelaki itu tidak bergerak.
Lily melangkah cepat, tetapi seorang penjaga menghalanginya. Gento mengangkat tangan, memerintahkan penjaga itu mundur.
Lily segera menghampiri kursi tersebut dan berlutut di hadapan ayahnya.
“Ayah, ini Nariku.”
Jari-jari lelaki itu bergerak perlahan. Beberapa detik kemudian, ia mengangkat kepala dengan susah payah.
Sepasang mata yang telah kehilangan sebagian ketajamannya menatap wajah Lily.
“Nariku…?”
Suara itu begitu lemah hingga hampir tidak terdengar.
Air mata langsung menggenang di mata Lily.
“Ayah, ini benar-benar aku.”
Suzuki Yahiko menatap putrinya seakan tidak percaya bahwa perempuan yang selama bertahun-tahun hanya hidup dalam ingatannya kini berada tepat di hadapannya.
“Anakku…”
Lily menggenggam tangannya.
“Ayah, apa yang mereka lakukan kepadamu?.”
Suzuki berusaha menggerakkan tubuhnya, tetapi ikatan pada pergelangan tangannya membatasi gerakannya. Lily menoleh kepada Gento.
“Lepaskan ikatan ini!”
Gento tidak langsung menjawab.
“Aku tidak akan membiarkannya pergi.”
“Saya tidak meminta Anda membebaskannya. Saya hanya ingin berbicara dengannya tanpa melihatnya terikat seperti seorang penjahat!”
Gento menatap Lily beberapa saat, kemudian memberi isyarat kepada penjaga. Salah seorang dari mereka membuka ikatan pada tangan Suzuki, tetapi tetap berdiri di dekat pintu.
Lily membantu ayahnya duduk lebih tegak.
Suzuki menarik napas dengan susah payah sebelum memandang Gento.
“Jadi, kau akhirnya membawa putriku ke sini.”
“Dia meminta untuk bertemu denganmu,” jawab Gento. “Aku hanya memenuhi permintaannya.”
Suzuki tertawa lemah, tanpa sedikit pun kegembiraan.
“Kau selalu pandai menyembunyikan niatmu di balik alasan yang terdengar masuk akal.”
Tatapan Gento mengeras, tetapi ia tidak membalas.
Lily memandang keduanya bergantian.
“Ayah, apa yang sebenarnya terjadi? Gento mengatakan bahwa Ibu adalah ibunya juga. Ia menyalahkan keluarga kita atas kematian ayahnya.”
Suzuki memejamkan mata sejenak.
“Ada banyak hal yang belum kau ketahui, Lily. Dan aku tidak tahu berapa lama lagi aku mampu menceritakannya.”
“Ayah jangan berkata begitu.”
Suzuki mengusap punggung tangan putrinya dengan jemari yang gemetar.
“Aku akan menceritakan semuanya. Namun, kau harus mendengarkan sampai selesai, sekalipun kebenarannya akan membuatmu membenci orang-orang yang selama ini kau kenal.”
Lily terdiam.
Suzuki kemudian mengangkat wajah dan memandang Gento.
“Termasuk dirimu.”
Untuk pertama kalinya, Gento tidak segera memberikan tanggapan.
Suzuki kembali menatap Lily.
“Pembantaian keluarga Yahiko dua belas tahun lalu bukan hanya dilakukan oleh organisasi Gento. Ada organisasi lain yang bekerja sama dengan mereka. Organisasi itu jauh lebih kuat, memiliki jaringan yang luas, dan dipimpin oleh seseorang yang tidak pernah muncul ke permukaan.”
Lily merasakan genggaman tangannya mengendur.
“Jadi, Gento bukan satu-satunya orang yang bertanggung jawab?”
“Benar.”
Suzuki menarik napas panjang.
“Gento memang ingin membalas dendam. Saat itu, ia mengincar ibumu karena percaya bahwa keluarga kita telah menghancurkan kehidupannya. Namun, berdasarkan informasi yang berhasil kukumpulkan, tujuan awalnya bukan membantai seluruh keluarga Yahiko. Ia hanya ingin membunuh Siumei.”
Gento mengatupkan rahang.
“Jangan bertindak seolah-olah kau mengetahui seluruh niatku, Suzuki.”
Suzuki menoleh kepadanya.
“Aku tidak mengatakan kau tidak bersalah. Kau tetap memilih bekerja sama dengan orang-orang yang berniat menghancurkan keluargaku. Namun, pihak lain memiliki tujuan yang berbeda. Mereka tidak sekadar menginginkan kematian Siumei atau balas dendam terhadap keluarga Yahiko.”
“Apa yang mereka inginkan?” tanya Lily.
Suzuki memandang putrinya lama.
“Mereka ingin aku mati.”
Ruangan itu mendadak terasa lebih dingin.
"Semua berkaitan dengan keluarga Katagiri."
Lily menunduk, berusaha memahami setiap perkataan ayahnya.
"Aku dibawa kemereka dan disembunyikan olah kakek Mahito."
“Benar. Mahito membawamu pergi sebelum Gento berhasil menemukanmu.”
"Aku berbaik hati ingin menyiksa kalian, itu rencanaku namun orang malam itu sangat banyak sedangkan perintahku hanya 2000 orang saja, ada yang aneh makanya aku langsung membawa Suzuki yang sudah terkapar waktu itu, ingin membawamu namun kau sudah hilang entah kemana."
Suzuki terdiam sejenak. Kemudian, sorot matanya berubah, seolah sebuah ingatan lama baru saja muncul kembali.
“Namun, ada kejadian lain yang berlangsung jauh sebelum pembantaian itu. Kejadian yang mungkin menjadi alasan mengapa semua ini dimulai.”
Lily mengangkat wajah.
“Kejadian apa, Ayah?”
Suzuki memandang Gento sekilas, kemudian kembali menatap putrinya.
“Ketika Satoshi berusia empat tahun, kau masih berada di dalam kandungan ibumu. Saat itu, orang tuanya, Shoto Katagiri dan Luna Clark, datang ke kediaman Yahiko tanpa sepengetahuanku.”
Nama itu membuat Lily terkejut.
“Orang tua Satoshi?”
Suzuki mengangguk.
“Mereka dahulu bukan hanya pewaris keluarga Katagiri. Keduanya merupakan peneliti yang memiliki kemampuan luar biasa. Mereka tertarik pada genetika, regenerasi sel, dan kemungkinan memperpanjang usia manusia. Aku mengenal mereka melalui hubungan antara keluarga kami, sehingga awalnya aku tidak mencurigai kedatangan mereka.”
Ia berhenti, menelan ludah dengan susah payah.
“Namun, ketika aku pulang, mereka sudah pergi. Aku menemukan ibumu terbaring di lantai dalam keadaan tidak sadarkan diri.”
Lily menutup mulutnya.
“Ayah membawa ibumu ke rumah sakit. Pada malam yang sama, kau dilahirkan.”
Suzuki menundukkan kepala. Suaranya bergetar ketika melanjutkan.
“Kelahiranmu sangat sulit. Tubuhmu membiru, dan kau tidak menangis. Para dokter berusaha menyelamatkanmu, tetapi mereka tidak memahami apa yang sedang terjadi. Aku marah kepada mereka, mengira mereka telah melakukan kesalahan. Namun, salah seorang dokter mengatakan bahwa ada sesuatu yang tidak wajar pada tubuhmu.”
Lily merasa jantungnya berdegup semakin cepat.
“Maksud Ayah?”
“Dalam beberapa hari pertama, tubuhmu mengalami perubahan yang tidak dapat dijelaskan oleh ilmu kedokteran saat itu. Sel-sel tubuhmu mengalami regenerasi berulang kali, tetapi proses itu juga disertai kematian sel dalam jumlah besar. Penampilanmu berubah dengan cara yang mustahil terjadi pada bayi biasa. Dalam waktu singkat, tubuhmu seolah-olah menua, lalu kembali muda.”
Lily menatap ayahnya tanpa berkedip.
Ia tidak pernah mendengar cerita tersebut sepanjang hidupnya.
“Aku kemudian memanggil para peneliti terbaik yang bekerja untuk keluarga Yahiko. Mereka memeriksa darahmu dan menemukan susunan DNA yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya.”
Suzuki mengangkat wajah.
“Setelah hampir sebulan melakukan penelitian, mereka menyimpulkan bahwa tubuhmu membawa materi genetik hasil rekayasa yang mereka sebut DNA Abadi.”
Lily menggeleng pelan.
“DNA Abadi?”
“Istilah itu digunakan untuk menggambarkan kemampuan regenerasi yang tidak normal. Namun, mereka belum memahami seluruh mekanismenya. Regenerasi tersebut bukan berarti kau tidak bisa mati. Tubuhmu justru mengalami proses pembaruan dan kerusakan sel secara bersamaan, sehingga membutuhkan keseimbangan tertentu agar tetap hidup.”
Suzuki menarik napas.
“Menurut laporan para peneliti, kemampuan itu berkaitan dengan serum eksperimental yang dikembangkan oleh Shoto dan Luna Katagiri.”
Gento yang sejak tadi berdiri diam akhirnya melangkah mendekat.
“Jadi, inilah rahasia yang selama ini kau sembunyikan?”
Suzuki menatapnya tajam.
“Ini bukan rahasia yang bisa kau gunakan untuk membenarkan pembantaian terhadap keluargaku.”
“Aku hanya ingin mengetahui kebenarannya.”
“Kalau begitu, dengarkan sampai selesai.”
Gento terdiam, tetapi tatapannya tidak pernah lepas dari Suzuki.
Sang ayah kembali menatap Lily.
“Para peneliti menemukan bahwa kau memiliki darah yang sangat langka. Ibumu juga membawa karakteristik genetik tersebut, tetapi kondisinya tidak lagi memungkinkan untuk dijadikan subjek penelitian. Karena kau masih berada dalam kandungan ketika mereka mengambil sampel dari ibumu, mereka memutuskan untuk menjadikanmu bagian dari eksperimen mereka.”
Wajah Lily kehilangan warna.
“Mereka menggunakan aku ketika aku bahkan belum lahir?”
Suzuki mengangguk perlahan. Matanya dipenuhi penyesalan.
“Aku tidak mengetahui hal itu saat mereka datang. Seandainya aku mengetahui apa yang mereka rencanakan, aku tidak akan pernah membiarkan mereka mendekati ibumu.”
Ia menundukkan kepala.
“Setelah laporan itu selesai, aku bertanya kepada para peneliti apakah ada cara untuk menghentikan kerusakan sel dalam tubuhmu. Mereka mengatakan bahwa serum tersebut dapat membantu mengendalikan proses regenerasi, tetapi dibutuhkan dosis besar untuk menstabilkan kondisimu.”
Lily memegang tangan ayahnya lebih erat.
“Lalu, apa yang Ayah lakukan?”
“Aku berusaha menghubungi pihak Katagiri. Aku ingin membeli serum itu secara baik-baik. Aku masih percaya bahwa Shoto dan Luna tidak akan mengorbankan seorang anak demi penelitian mereka.”
Suzuki tertawa pahit.
“Betapa bodohnya aku.”
Ia memejamkan mata sebelum melanjutkan.
“Aku pergi ke pusat penelitian keluarga Katagiri bersama beberapa anak buahku. Namun, sebelum memasuki ruangan utama, aku mendengar percakapan antara Shoto dan Luna.”
Suara Suzuki semakin pelan, tetapi setiap katanya terdengar jelas.
“Mereka membicarakan keadaanmu. Mereka mengatakan bahwa berdasarkan perkiraan mereka, tubuhmu hanya mampu bertahan sekitar satu bulan lagi jika proses kerusakan sel terus berlangsung. Mereka juga membicarakan rencana untuk mengambil darahmu setelah kau meninggal.”
Lily merasa seluruh tubuhnya membeku.
Suzuki menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
“Mereka mengatakan bahwa sepuluh tetes darahmu mungkin cukup untuk membuat seseorang memperoleh kemampuan hidup yang jauh lebih panjang. Mereka tertawa saat membicarakan rencana itu, seolah-olah nyawamu tidak lebih berharga daripada sebuah tabung percobaan.”
“Tidak…” bisik Lily.
“Aku kehilangan kendali saat mendengarnya. Aku tidak sanggup membiarkan mereka melakukan hal itu kepadamu.”
Suzuki menghela napas berat.
“Aku memanggil anak buahku dan memerintahkan mereka mengepung pusat penelitian. Sekitar satu jam kemudian, seluruh pasukanku tiba. Kami memutus sistem pengawasan agar tidak ada rekaman yang dapat digunakan untuk melacak pergerakan kami. Pertempuran pecah, dan dalam kekacauan itu, semua orang yang berada di pusat penelitian tewas, termasuk Shoto dan Luna.”
Lily tertegun.
Satoshi telah kehilangan kedua orang tuanya sejak kecil.
Suzuki melanjutkan dengan suara berat.
“Setelah memastikan bahwa pusat penelitian tidak lagi dapat digunakan, aku mengambil serum yang mereka kembangkan. Aku juga memerintahkan anak buahku membakar bangunan itu dan menghancurkan sebagian besar dokumen penelitian. Aku ingin menghapus semua jejak yang dapat membawa orang lain kepadamu.”
“Serum itu yang membuatku tetap hidup?” tanya Lily.
“Aku tidak dapat memastikan apakah serum itu satu-satunya alasan. Sebagian catatan penelitian telah musnah, dan aku tidak pernah mengetahui seluruh proses yang dilakukan Shoto dan Luna kepadamu. Yang kutahu, sejak saat itu kondisimu perlahan stabil.”
Lily menunduk, mencoba menahan air mata.
“Lalu?”
Suzuki memandang ke arah pintu, seolah masih dapat melihat masa lalu di baliknya.
“Aku telah berusaha menghapus semua jejak yang mengarah kepadaku, tetapi aku melakukan satu kesalahan kecil. Saat meninggalkan pusat penelitian, aku menginjak tanah basah di dekat pintu samping Aku baru sadar setelah dimobil. Melihat telapak sepatu yang kotor, aku ingin kembali tapi mungkin pihak katagiri sudah berada disana."
Ia tersenyum getir.
“Sepatu yang kupakai memiliki pola khusus yang hanya digunakan keluarga Yahiko, hanya beberapa keluarga yang tau pola ini keluarga Katagiri, keluarga Hiden dan keluarga Morga. Namun keluarga Hiden dan Morga sedang berada diluar negeri.”
Lily terdiam.
“Mahito mengetahui kebenaran mengenai kematian orang tua Satoshi, tetapi ia tidak langsung membongkarnya. Ia memilih menyembunyikan kejadian tersebut. Ketika berita mengenai kebakaran pusat penelitian diumumkan kepada publik, Mahito membiarkan dunia percaya bahwa Shoto dan Luna masih hidup dan bahwa kebakaran itu hanyalah kecelakaan laboratorium.”
“Namun, bagaimana mungkin orang lain mengaku sebagai mereka?” Lily bertanya.
“Mahito memiliki pengaruh yang sangat besar. Ia mengatur agar beberapa orang menyamar sebagai Shoto dan Luna, sehingga dunia tidak mengetahui bahwa keduanya telah meninggal. Ia ingin menjaga nama keluarga Katagiri sekaligus menghindari penyelidikan yang dapat mengungkap keberadaanmu.”
Suzuki mengusap wajahnya.
“Selama bertahun-tahun, aku mengira rahasia itu telah terkubur bersama pusat peneliti. Dan aku mengira Mahito tidak mengetahuinya namun aku salah, dia sudah tau semuanya namun masih tetap menjaga rahasia itu.”
Lily memandang ayahnya dengan ketakutan yang semakin nyata.
"Itu sebabnya keluarga Yahiko dibantai?”
“Itulah yang mulai kucurigai. Selama ini tidak ada yang berani dengan Yakuza keluarga Yahiko, sekalipun kau mengajak orang membantai keluargaku Gento. Tetap saja aku akan menang, hanya satu yang dapat meratakan keluarga Yahiko yaitu adalah keluarga Katagiri yang memiliki organisasi lebih besar dari keluarga Yahiko.
Suzuki menoleh kepada Gento.
“Dan kau, Gento, mungkin telah dimanfaatkan oleh orang-orang yang jauh lebih berbahaya daripada dirimu sendiri.”
Gento mengepalkan tangan.
“Aku tidak pernah berniat membantu mereka menghancurkan seluruh keluarga Yahiko.”
“Namun, kau tetap membuka jalan bagi mereka.”
Gento terdiam.
Untuk pertama kalinya, ia tidak memiliki jawaban yang dapat digunakan untuk membantah perkataan Suzuki.
Lily menatap ayahnya. Pikirannya dipenuhi pertanyaan yang saling bertumpuk. Jika tubuhnya membawa DNA hasil eksperimen, apakah seluruh hidupnya selama ini hanya bagian dari penelitian orang lain? Apakah keluarga Katagiri menyembunyikannya demi keselamatannya, atau karena mereka takut rahasia itu terbongkar?
Dan apakah Satoshi mengetahui sesuatu mengenai penelitian tersebut?
Ia belum dapat menjawab satu pun pertanyaan itu.
Namun, satu hal kini menjadi jelas: pembantaian keluarga Yahiko bukan sekadar akibat dendam pribadi Gento. Namun itu juga merupakan dendam dari Mahito.
Suzuki menggenggam tangan putrinya dengan sisa tenaga yang dimilikinya.
“Lily, dengarkan Ayah baik-baik. Jangan percaya begitu saja kepada siapa pun yang mengatakan bahwa mereka ingin melindungimu. Bahkan orang yang terlihat paling dekat denganmu mungkin memiliki rahasia yang belum kau ketahui.”
Lily mengangguk perlahan.
“Ayah, apa mungkin Satoshi mengetahui tentang DNA itu?”
Suzuki tidak segera menjawab.
“Aku tidak tahu apa yang diketahui Satoshi sekarang. Saat kejadian itu berlangsung, dia masih seorang anak kecil. Namun, jika Mahito benar-benar menyembunyikan kematian orang tuanya selama bertahun-tahun, maka Satoshi mungkin tumbuh dengan cerita yang telah direkayasa.”
Lily menundukkan kepala.
Ia tidak ingin membela Satoshi. Lelaki itu telah menyakitinya dengan cara yang tidak dapat dihapus hanya dengan penyesalan. Namun, mengetahui bahwa masa kecil Satoshi mungkin dibangun di atas kebohongan membuat persoalan tersebut jauh lebih rumit daripada yang ia bayangkan.
Tiba-tiba, Gento berbicara dari dekat pintu.
”Jadi maksudmu dia dalangnya?."
Suzuki mengangkat wajah.
“Benar.”
“Jadi maksudmu pemimpin organisasi itu adalah Mahito Katagiri yang ingin balas dendam dan mengamankan penemuan yang ditinggalkan oleh anak menantunya?"
"Ya."
Gento memandang lantai dengan wajah tegang.
Selama bertahun-tahun, ia membangun hidupnya berdasarkan kebencian kepada keluarga Yahiko. Ia percaya bahwa kematian ayahnya dan kepergian ibunya merupakan akibat dari tindakan Suzuki dan orang-orang di sekelilingnya.
Namun, jika organisasi lain telah memanfaatkan dendamnya, mungkin ada bagian dari masa lalunya yang sengaja disembunyikan.
Mike benar.
Catatan pembantaian itu memang tidak lengkap.
“Lily,” panggil Suzuki, membuat putrinya kembali menoleh.
“Apa pun yang terjadi setelah ini, jangan biarkan siapa pun mengambil keputusan mengenai hidupmu. Kau bukan benda penelitian, bukan alat balas dendam, dan bukan warisan yang dapat diperebutkan."
Air mata Lily akhirnya jatuh.
“Aku hanya ingin hidup dengan tenang, Ayah.”
“Aku tahu, Nak.”
Suzuki mengusap tangannya.
Gento berdiri diam di dekat pintu. Untuk pertama kalinya, ia melihat Lily bukan sebagai putri musuh yang dapat digunakan untuk membalas dendam, melainkan sebagai seseorang yang sejak lahir telah menjadi korban perebutan kepentingan orang-orang dewasa.
Namun, kesadaran itu tidak serta-merta membuatnya membebaskan Lily.
Ia masih terikat pada dendam, rasa kehilangan, dan ketakutan bahwa jika ia melepaskan perempuan itu, ia akan kehilangan satu-satunya hal yang selama ini dianggapnya penting.
Sementara itu, di tempat lain, Satoshi masih mengerahkan seluruh kekuatannya untuk mencari istrinya tanpa mengetahui bahwa orang tuanya telah meninggalkan rahasia yang jauh lebih mengerikan daripada yang pernah ia bayangkan.
“Dan seharusnya sejak awal itulah yang menjadi hakmu.”
mampir juga yuk kak ke new sc akuu😁