Kisah ini menceritakan tentang kisah seorang gadis desa yang gaptek dan dalam keadaan mendesak dia dipaksa menikah dengan CEO muda Arga Mahendra, seorang pengusaha muda yang tengah mencari istri sebagai jaminan kesehatan neneknya.
Mereka terpaksa menikah,disatu sisi Arga membutuhkan istri atas keinginan terahir neneknya dan disisi lain safa terpaksa harus mengorbankan masa mudanya demi mendapatkan uang karna ibunya terlilit hutang pada rentenir dan dia juga butuh biaya untuk berobat.
akankah cinta mereka bersemi diatas kertas kontrak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atha Diyuta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 23
Tanpa terasa mobil Arga masuk ke lobby Hotel Langham.
Hotel bintang 5 di SCBD ini memang salah satu bisnis keluarga Mahendra. Jadi dari satpam depan sampai manajernya sudah sangat mengenal Arga.
Begitu mobil berhenti di lobi utama, Arga mematikan mesin dan langsung turun lebih dulu. Ia membukakan pintu untuk Safa dengan tangan kirinya, tangan kanannya menahan pintu agar tidak mengenai Safa.
"Pelan-pelan sayang," ucapArga lembut.
Safa turun pelan sambil merapikan kerudungnya. Wajahnya terlihat sedikit gugup. "Nenek pasti sudah menunggu kita terlalu lama ya Mas?"
"Iya. Tadi GM hotel sudah chat Mas, katanya Nenek Ratna sudah menunggu di suite dari jam 1 siang. Nenek sudah tidak sabar ketemu kita," jawab Arga sambil menggandeng tangan Safa erat,mereka masuk ke dalam lobby.
Para staf yang melihat mereka langsung menunduk hormat. Arga hanya mengangguk kecil membalasnya, tapi genggaman tangannya pada Safa tidak pernah lepas.
Mereka masuk ke lift private yang langsung menuju ke Presidential Suite di lantai paling atas. Lift itu memang hanya bisa diakses dengan kartu khusus milik keluarga.
Sepanjang di dalam lift, Safa terus meremas tangan Arga.
"Mas, aku gugup," bisik Safa pelan.
Arga menoleh, tersenyum dan mengusap punggung tangan Safa dengan ibu jarinya. "Kenapa gugup?"
"Takut Nenek marah karena kita cerita semuanya sekarang," jawab Safa dengan suara hampir tidak terdengar.
Arga menggeleng. "Nenek tidak akan marah. Nenek justru sudah menunggu kabar ini. Percaya sama Mas."
Pintu lift terbuka. Di depan pintu suite, seorang butler hotel sudah berdiri menunggu dengan sikap sangat sopan.
"Selamat sore Mr. Arga, Mrs. Safa. Mrs. Ratna Mahendra sudah menunggu di dalam suite," kata butler itu sambil membukakan pintu yang besar.
Begitu pintu terbuka, hawa hangat langsung menyambut. Suite itu sangat luas dengan kaca besar yang menampilkan pemandangan kota Jakarta. Aromanya harum, ada vas bunga segar di sudut ruangan dan ada teh hangat yang sudah disiapkan di meja tengah. Tidak ada kesan hotel yang kaku, karena Nenek Ratna memang sudah lama tinggal di sini selama di Indonesia, jadi suasananya sudah seperti rumah.
Dan di sofa tengah, Nenek Ratna terlihat sedang duduk menunggu.
Begitu melihat Safa dan Arga masuk, Nenek Ratna langsung berdiri dari duduknya.
"Ya Allah, akhirnya cucu-cucu Nenek datang juga," kata Nenek Ratna dengan suara lembut dan penuh rindu.
Safa langsung berjalan cepat dan memeluk Nenek Ratna. "Nenek!"
Nenek Ratna memeluk Safa erat sekali, mengusap punggung Safa dengan penuh kasih sayang. "Cantiknya cucu Nenek, Masya Allah."
Arga menyusul, ia langsung salim dan mencium tangan Nenek Ratna cukup lama. "Nenek sehat?"
"Sehat, sayang. Sehat sekali kalau sudah melihat kalian berdua datang seperti ini. Duduk, duduk sini dekat Nenek," kata Nenek Ratna sambil menarik tangan mereka berdua. Safa duduk di sebelah kanan Nenek, Arga di sebelah kiri, jadi Nenek berada di tengah-tengah mereka.
Butler segera menuangkan teh hangat untuk mereka bertiga lalu mundur pelan dan menutup pintu, memberikan mereka privasi.
Nenek Ratna memegang tangan Safa dan tangan Arga, menatap mereka bergantian dengan tatapan yang hangat.
"Bagaimana? Tumben sore-sore begini mau ketemu Nenek? Katanya ada yang sangat penting yang mau dibicarakan? Sampai Arga bilang jangan sampai Nenek keluar hotel dulu," tanya Nenek Ratna dengan nada penasaran.
Safa dan Arga saling pandang. Safa langsung menunduk, wajahnya memerah, tidak berani memulai.
Arga menarik napas pelan, ia menguatkan diri dan menggenggam tangan Safa semakin erat agar Safa merasa aman dan tidak gugup.
"Nek, Arga sama Safa kesini memang mau ngomong jujur sama Nenek," Arga mulai membuka pembicaraan. Suaranya tenang tapi terdengar sangat serius. "Selama ini kan pernikahan Arga sama Safa itu pernikahan kontrak ya Nek. Nenek tahu sendiri dari awal bagaimana ceritanya."
Nenek Ratna mengangguk pelan, mendengarkan dengan seksama tanpa memotong.
"Sekarang kami memutuskan sudah tidak ada kontrak lagi Nek," lanjut Arga. Ia menatap mata Nenek Ratna dalam. "Sudah beberapa hari ini, Arga dan Safa sudah menjadi suami istri seutuhnya. Beneran, Nek. Bukan lagi pura-pura,kami melakukannya atas dasar suka sama suka,bukan karna keterpaksaan atau karna ancaman nenek tempo hari." Arga mejeda ucapannya.Menetrlakan kembali degup jantungnya yang berdetak begitu kencang.
Safa yang masih menunduk, menambahkan dengan suara yang sangat pelan dan terdengar malu-malu, "Iya Nek kami sudah,sudah sah seutuhnya sebagai suami istri."
Seketika ruangan menjadi hening beberapa detik.
Mata Nenek Ratna langsung berkaca-kaca. Tangannya yang memegang tangan Safa sedikit bergetar. Nenek Ratna mengusap tangan Safa perlahan.
"Ya Allah..." bisik Nenek Ratna pelan, suaranya hampir tidak terdengar. "Benar ini?"
"Benar Nek," jawab Arga dengan mantap.
"Alhamdulillah,Alhamdulillah Ya Allah." kata Nenek Ratna sambil mengusap air mata yang hampir jatuh di sudut matanya. "Nenek sudah mendoakan ini setiap malam, Arga, Safa. Setiap malam Nenek berdoa agar Allah meluluhkan hati kalian berdua. Nenek tahu kalian pasti sudah ditakdirkan untuk berjodoh."
Arga tersenyum, lalu melanjutkan.
"Dan satu lagi Nek, karena kami sudah menjadi suami istri seutuhnya, kami sudah siap untuk memberikan cicit untuk Nenek. Kami mohon doanya ya Nek, semoga Allah segerakan," pinta Arga dengan tulus.
Mendengar itu, Nenek Ratna tidak bisa lagi menahan senyum bahagianya. Wajah tuanya terlihat sangat bersinar. Di dalam hatinya, Nenek Ratna sedang bersorak dengan kencang. Rencananya berhasil,rencana yang sudah ia susun rapih olehnya akhirnya berhasil.
"Ya Allah, Nenek bahagia sekali mendengarnya. Tentu Nenek doakan, setiap waktu Nenek doakan," jawab Nenek Ratna.
Setelah itu Arga melanjutkan ke tujuan keduanya yang paling penting. Wajahnya berubah sedikit tegang.
"Nek, ada satu lagi yang mau Arga minta tolong dari nenek."ucap Arga.
"Apa sayang? Bilang saja sama Nenek," jawab Nenek.
"Yang soal kenalan Nenek yang mau Nenek jodohkan sama Safa, yang tempo hari Nenek ceritakan itu." jelas Arga, suaranya mulai terdengar nada cemburu. "Tolong digagalkan saja ya Nek. Batalkan saja semuanya,jangan diteruskan."
Safa langsung menunduk semakin dalam karena malu mendengar Arga berbicara seperti itu.
Terdengar helaan nafas panjang dari Arga,lalu Arga kembali menatap wajah neneknya "Arga tidak rela Nek, Safa itu istri Arga sekarang, istri sah Arga seutuhnya. Arga tidak mau Safa dijodohkan dengan siapapun, meskipun itu kenalan baik Nenek. Arga mohon Nek."
Mendengar kecemburuan cucunya yang biasanya terkenal sangat dingin dan cuek itu, Nenek Ratna justru tersenyum dan tertawa kecil.
"Ya Allah Arga, kamu cemburu ya?" goda Nenek Ratna.
Arga tidak mengelak sama sekali, ia menjawab dengan tegas. "Ya cemburu lah Nek. Sangat cemburu. Safa kan milik Arga."
Jawaban itu membuat Safa yang menunduk langsung semakin merah wajahnya sampai ke telinga. Ia mengusap ujung kerudungnya karena gugup.
Nenek Ratna tertawa melihat tingkah mereka berdua. Nenek lalu memeluk Safa dari samping.
"Nenek bahagia sekali, Nduk," kata Nenek Ratna sambil memeluk Safa. "Sebenarnya rencana perjodohan itu memang sengaja Nenek buat."
Arga dan Safa langsung mengangkat kepala bersamaan karna kaget.
"Sengaja Nek?" tanya Arga heran.
Nenek Ratna mengangguk dan mengedipkan matanya. "Iya, sengaja. Nenek tahu Arga itu keras kepala. Kalau tidak dipancing untuk cemburu, Arga tidak akan bergerak. Makanya Nenek buat cerita ada kenalan yang mau dijodohkan sama Safa. Nenek ingin melihat apakah Arga masih diam saja atau akan menjaga istrinya,dan ternyata rencana nenek berhasil."
Di dalam hati Nenek Ratna, beliau benar-benar bersorak bahagia, merasa kemenangannya sempurna. Dua bulan beliau memilih tinggal di hotel milik keluarga Mahendra ini di Jakarta, bukan di rumah besarnya, hanya untuk memantau dan menyusun rencana agar kedua cucunya ini bersatu.
"Jadi dari awal Nenek memang...?" tanya Arga, masih tidak percaya.
"Sudah, itu rahasia Nenek," potong Nenek Ratna sambil tersenyum penuh kemenangan. "Yang terpenting sekarang adalah kalian sudah bahagia. Kalian sudah menjadi suami istri yang sebenarnya. Itu yang Nenek tunggu-tunggu selama ini."
Sore itu di dalam suite hotel milik keluarga Mahendra itu, suasana terasa sangat hangat dan penuh kebahagiaan. Nenek Ratna tidak berhenti tersenyum sambil terus mengusap tangan Safa, sesekali mengusap kepala Arga seperti saat Arga masih kecil.
Safa yang awalnya gugup, sekarang sudah mulai tersenyum lega karena melihat Nenek Ratna sangat bahagia.
Sampai akhirnya suara adzan Maghrib terdengar sayup-sayup dari kejauhan, masuk melalui celah jendela kaca yang besar.
Nenek Ratna melihat jam tangannya.
"Sudah Maghrib," kata Nenek. "Kita sholat dulu ya di sini. Nenek sudah siapkan mukena untuk Safa dan sarung serta baju koko untuk Arga di kamar sebelah. Nenek sudah minta GM menyiapkan mushola private di lantai ini agar kita bisa sholat berjamaah dengan tenang. Setelah sholat baru kalian pulang."
Safa dan Arga mengangguk bersamaan.
"Iya Nek," jawab mereka kompak.
Bersambung...