NovelToon NovelToon
Suami Kredit

Suami Kredit

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Nikah Kontrak / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Desau

Jangankan barang, bahkan suami pun bisa dibayar kredit!

Ya, itulah yang dialami Tia. Dia nekat membayar seorang lelaki tampan bernama Sam untuk dijadikan suaminya. Namun karena uang Tia belum cukup, dia terpaksa meminta pembayaran sistem kredit. Bagaimana kocaknya kisah cinta mereka?

"Gaji saya cuma staf admin biasa, Mas. Jadi... tiga juta itu mau saya bayar secara kredit. Cicilan sepuluh kali, tiga ratus ribu per bulan, bunga nol persen. Bagaimana?" - Tiana Anjani.

"Hah?! Mbak bercanda ya?!" - Sam alias Samsudin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 14 - Merahasiakan

Pagi harinya, suasana di lorong kost kumuh tempat Sam tinggal mendadak hening seketika. Sebuah mobil Rolls-Royce Phantom berwarna hitam mengilap, yang harganya setara dengan seluruh bangunan kost beserta tanah gangnya, terparkir anggun di jalanan sempit.

Mbak Nani yang baru saja keluar kamar membawa baskom cucian sampai melongo lebar, hingga gayung plastik di tangannya jatuh memantul di ubin.

"A-apaan ini? Ada presiden mau berkunjung ke kamar Sam?!" bisik Nani histeris.

Pintu mobil terbuka. Hendra, beserta dua pria berjas hitam tebal dengan kacamata hitam ala pengawal pribadi, melangkah tegap menuju kamar nomor 4.

Tok! Tok! Tok!

"Mas Samsudin, kami sudah siap menjemput," panggil Hendra sopan.

Pintu tripleks terbuka. Samsudin keluar dengan santai. Pria itu mengenakan celana jins bersih, kaus oblong hitam yang melekat ketat memamerkan otot dadanya, dan membopong tas ransel lusuh berisi baju-baju kerjanya.

"Mas Hendra..." kata Sam menahan langkah di depan pintu. "Terima kasih atas bantuan seratus juta untuk ayah tiri saya kemarin. Tapi saya punya satu permintaan lagi."

"Apa itu, Mas Sam?"

"Saya mau identitas saya sebagai pewaris Papa dirahasiakan rapat-rapat. Jangan ada satu orang pun yang tahu, termasuk teman-teman saya, apalagi calon istri saya, Mbak Tia," tegas Sam. "Saya masih butuh waktu untuk belajar dan terbiasa dengan semua kekayaan ini. Dan yang paling penting, saya tidak mau buru-buru resign dari kebun binatang. Saya masih cinta sama pekerjaan saya dan Si Bejo."

Hendra tertegun sejenak, lalu tersenyum kagum melihat kerendahan hati sang putra tunggal. "Baik, Mas Sam. Keputusan Mas akan kami jaga rapat-rapat."

Nani yang melihat Sam melangkah masuk ke dalam mobil sedan super mewah itu langsung berlari-lari kecil menjatuhkan baskomnya. "Sammy! Kamu mau ke mana?! Kamu ikutan pesugihan ya, Sam?! Kok dijemput mobil mentereng?!" teriak Nani cemburu sekaligus shock berat.

Sam hanya melambaikan tangan santai dari jendela mobil yang diturunkan sedikit. "Permisi ya, Mbak Nani! Titip salam buat Pak RT! Saya cuma mau pergi urusan keluarga sebentar!"

Sementara itu, di tempat lain, situasi di ruang kerja staf administrasi kantor Tia benar-benar sibuk.

Tia duduk di depan kubikelnya dengan mata menghitam mirip panda kurang tidur. Jemarinya menari-nari ganas di atas kalkulator kantor. Di layar komputernya, bukannya rekapitulasi laporan keuangan perusahaan, melainkan spreadsheet khusus bertajuk "PROYEK PERNIKAHAN SUAMI KREDIT - OPSI HEMAT BALIK MODAL".

"Oke... pinjol lima juta rupiah sudah cair," gumam Tia berbisik pada dirinya sendiri. "Kulkas laku dijual ke tetangga tujuh ratus ribu. Tinggal TV LED yang belum laku... Kalau aku jual dua belas bulan cicilan ke Sam, berarti..."

"Tia! Lagi sibuk apa kamu?" panggil Pak Bambang, kepala divisinya, yang tiba-tiba melintas di belakang kubikel.

Tia secepat kilat menekan tombol Alt + Tab berpindah ke dokumen laporan keuangan bulanan. "Eh, Pak Bambang! Ini Pak, lagi merekap laporan anggaran operasional divisi!" alibi Tia sambil mengumbar senyum profesional yang dipaksakan.

"Bagus, bagus! Bekerja yang rajin ya! Soalnya saya dengar kamu mau menikah bulan depan sama spesialis penakluk buaya?" ledek Pak Bambang terkekeh lalu berlalu pergi.

Tia mengelus dadanya yang berdebar kencang. "Hampir saja... Kalau Pak Bambang tahu aku merekap anggaran nikah sewaan pakai komputer kantor, bisa dipecat aku sebelum sempat pamer ke Tante Lies!"

Ponsel Tia di atas meja bergetAr nyaring. Sebuah pesan WhatsApp dari nomor Sam masuk:

Samsudin: Mbak Tia, nanti malam jadi ketemu di kontrakan Mbak jam 7 malam? Kita tanda tangan kontrak pernikahan sewaan yang baru.

Tia tersenyum puas, membalas dengan jemari secepat kilat:

Tia: Jadi! Jangan terlambat! Aku sudah siapkan draf addendum materi di atas materai sepuluh ribu. Bunga nol persen, tenor 24 bulan! Oya, jangan lupa pakai kemeja putih kemarin biar kelihatan berkelas pas tanda tangan!

Samsudin: Siap, Mbak. Saya bawakan martabak manis nanti.

Tia tertawa geli membaca pesan terakhir Sam. "Nah, gitu dong! Pawang buaya penurut!"

Malam harinya, tepat pukul 18.55 WIB, Tia sudah tampil rapi di dalam ruang tamu rumah kontrakannya yang sempit. Meja lipat kayu sudah disiapkan di tengah ruangan. Di atasnya, terhampar dua lembar dokumen Addendum Perjanjian Sewa Suami Kredit, satu buah pulpen hitam, dan materai sepuluh ribu yang masih baru.

Tia mengecek penampilannya di cermin. "Sempurna. Malam ini kesepakatan resmiku dengan pawang buaya bakal terkunci kencang."

Tepat pukul 19.00 malam, suara deru mesin motor matik tua terdengar berhenti di depan gang kontrakan Tia. Samsudin melangkah masuk ke halaman kontrakan dengan kemeja putih slim-fit yang sedikit lecek di bagian siku, celana jins, dan menenteng satu kotak martabak manis di tangan kirinya.

Meski di rekening pribadi rahasianya kini sudah mengalir dana tak terbatas dan saham perusahaan raksasa, Sam tetap memilih naik angkot dan berjalan kaki menuju rumah Tia demi menjaga penyamarannya.

Tok! Tok! Tok!

"Mbak Tia... ini aku, Sam," panggil Sam dari luar.

Tia membukakan pintu dengan senyum mengembang. "Masuk, Mas Sam! Tepat waktu ya, bagus!"

Sam melangkah masuk, mendudukkan tubuh tingginya di atas sofa kain Tia yang agak melesak. Ia meletakkan kotak martabak manis di samping lembaran kertas Addendum Perjanjian Sewa Suami Kredit.

"Ini martabak manis rasa keju cokelat, Mbak," ujar Sam tersenyum polos, menampilkan lesung pipinya. "Dibelikan pakai sisa uang muka kemarin."

"Wah, makasih ya!" Tia mengambil sepotong martabak dengan gembira, lalu menyodorkan pulpen ke tangan Sam. "Nah, sekarang mari kita bahas bisnis utama kita. Ini draf Addendum Kontrak Pernikahan Sewaan!"

Sam membaca lembaran kertas di atas meja dengan saksama. Di sana tertulis rincian yang sangat detail:

Jangka Waktu Sewa: Resmi menjadi suami pameran selama 24 bulan (sampai teror keluarga besar mereda).

Skema Pembayaran: Cicilan dinaikkan dari Rp300.000 menjadi Rp500.000 per bulan, dibayar setiap tanggal 5.

Fasilitas Tambahan: Mendapatkan jatah makan di acara keluarga, baju pengantin ditanggung penyewa (Tia), dan dilarang membawa bau pakan ular saat resepsi.

Klausul Sanksi: Jika Samsudin mogok kerja, uang muka hangus. Jika Tia terlambat bayar cicilan lebih dari 3 bulan, Samsudin berhak menyita kulkas satu pintu milik Tia.

Sam menahan tawa giginya agar tidak meledak membaca poin nomor empat. "Kulkas satu pintu, Mbak? Yang benar saja? Mbak tega bikin aku menyita kulkas bekas?"

"Iya dong! Itu jaminan finansial!" sahut Tia tegas sambil mengunyah martabak. "Biaya operasional nikah ini kan aku dapat dari pinjol lima juta sama hasil mau jual TV dan celengan ayam! Total sepuluh juta aku pertaruhkan, Mas Sam! Jadi kamu harus komitmen!"

Sam menatap wanita di hadapannya dengan perasaan campur aduk, antara kasihan, gemas, dan rasa kagum yang makin mendalam. Di dalam hatinya, Sam ingin sekali berteriak, 'Mbak Tia, tidak usah utang pinjol! Aku ini pewaris puluhan miliar!'

Namun, Sam tahu ini belum waktunya. Ia ingin menyelesaikan masalah ini secara bertahap sambil terus belajar memimpin perusahaan ayahnya secara diam-diam. Lagipula, melihat perjuangan gigih Tia yang rela berutang demi mempertahankan martabat di depan keluarganya terasa sangat manis dan menyentuh hati Sam.

Sam diam-diam bertekad, melalui bantuan tim pengacaranya besok, ia akan mengurus pelunasan pinjol Tia secara anonim atas nama "Sponsor Misterius Kebun Binatang" agar Tia tidak perlu terjerat bunga, tanpa membocorkan rahasianya.

"Baik, Mbak Tia. Saya terima dan setuju sama kontrak ini," ujar Sam tegap.

Sam menyambar pulpen hitam di atas meja, menempelkan jemarinya pada materai sepuluh ribu, lalu menandatangani dokumen Addendum Sewa Suami Kredit itu dengan coretan tangan yang sangat mantap dan gagah.

Tia menepuk tangannya girang. "Yes! Resmi! Kamu sekarang sah jadi calon suami kreditku sampai dua tahun ke depan!"

Sam terkekeh pelan, menyandarkan punggungnya di sofa sambil menatap Tia dengan senyuman hangat.

"Selamat ya, Mbak Tia. Semoga cicilan lima ratus ribu per bulannya lancar jaya," ledek Sam bersedekap dada. "Btw, besok aku tetap harus kerja di kandang buaya jam delapan pagi. Jangan lupa jemput pakai motor matik merah jambumu ya!"

Tia menepuk jidatnya sambil tertawa lepas. "Siap, Pawang! Mulai besok, kita matangkan skenario buat membungkam mulut Aris si Branch Manager belagu itu pas resepsi katering warteg kita!"

Di balik kesederhanaan kontrakan sempit itu, dua orang dengan rahasia dan beban hidup masing-masing kini telah terikat resmi dalam satu kesepakatan kocak.

1
ˢ⍣⃟ₛ ERti ˢ⍣⃟ₛ.
tambahin up dong tor lagi seru lo torr
sampai ikut nangis er baca tadi malam kasihan tia diposisinya nyesek banget gitu

udah dipecat, hutang banyak, barang² dirumah habis, suami kreditnya kalau g mau menerima keadaan lalu kabur apa gak tambah nelangsa Tia
bayangin aja melasssssss bener
Ass Yfa
Sam...kalo belum mau jujur...bilang sja ke Tia...aku siap nafkahi mb tiSd. lahir batin🤭🤭
Ass Yfa
mereka itu miskom..belum ada kejujuran diantara mereka
Ardan
Sam kamu lelaki sejati, tambahin dong kalimat, "aku sudah ada rasa ama Mba Tia" 😍
dan selain membuka hati, juga sampaikan juga bahwa kamu sekarang yang akan menafkahi,
tapi jangan dulu terbuka Sam yang Miliuner, bisa² Mba Tia pingsan sambil melotot, wkwkwk 🤣
Arin
Hayo..... mau cari alasan apa Mas Sam?? Sudah diterima kerja kantoran??? Tapi dalam hati bilang dengan gaji milyaran🤣🤣🤣🤣
Hary Nengsih
lom tau suami nya sultan
Arin
Cobalah saling terbuka, biarpun hanya suami-istri kontrak sementara.
Ida Khalifah: lanjut Thor 💪
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
Khaira Almahendra
lanjoot thoor...mkn gregetan ni cerita nya😄,,,💪💪💪othor
Faidah Ida
lucu dan gemes thor,... 🤣🤣🤣

turunin gengsi nya dong Tia agar sam gercep,
tidak sabar liat mereka bucin akut thor... 😄
Ass Yfa
Samsudi...gara2 grogi..mlh bikin dapur berantakan🤭
Ass Yfa
mb Tia suruh nglamar ditempat Sam
Ardan
sing sabar mbar, bojo mu si pawang buaya, udah jadi milyader loh, utang mu wis pasti dilunasin
Rommy Wasini Khumaidi
ini pasti mimpi,gk mungkin mereka secepat kilat melakukanya
❀ ⃟⃟ˢᵏ Eʀᴛɪ
itu akibatnya main nikah² an jadi serbasalah kalau ada adegan dewasa dikit udah tegang😁
ini baru sehari lohhh kalau tiap hari apa gak tambah bingung ularnya.
er yakin kalau sering ada godaan gini gak akan lama mereka udah praktek malam pertama beneran
Ardan
makin lucu aja tingkah berdua🤣
Arin
Hayo lo..... Mba Tia. Sampai umur 35 baru ngelihat bentuk "ular ponton"?? 🤣🤣🤣 Apa lagi punya Mas Sam sang suami " kredit" Apa gak pengin di cicil dulu coba-coba kenalan dulu biar akrab🤭🤭🤭🤭
Hary Nengsih
ada2 ajs🤣🤣
Ass Yfa
😄😄😄😄ular piton...besar ya Tia...nggk pengin kamu🤭🤭
Rommy Wasini Khumaidi
sayang udah disewain kamar kalau dianggurin mas Sam,gas aja daripada nanggung,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!