Alya Kirana menerima Arga Pratama sebagai suaminya dengan harapan membangun rumah tangga yang bahagia. Namun, dia tidak pernah tahu bahwa sebelum menikah dengannya, Arga telah lebih dahulu memiliki seorang istri bernama Nadira Permata. Di antara rahasia yang disembunyikan, janji yang tak kunjung ditepati, dan cinta yang terbagi, Alya dihadapkan pada kenyataan pahit yang tak pernah dia bayangkan. Dia tidak ingin menjadi musuh bagi perempuan lain. Namun, apakah itu berarti dia harus mengorbankan kebahagiaannya sendiri? Sementara Arga berusaha mempertahankan dua pernikahannya, seorang pria dari masa lalu Alya kembali hadir membawa perasaan yang tak pernah benar-benar padam. Ketika cinta terasa manis di awal, siapa yang harus menanggung pahitnya di akhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nittagiu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Waktu Untuk Berpikir
Nadira masih berdiri di dekat sofa ketika Arga tidak lagi mampu memberikan jawaban atas pertanyaannya. Laki-laki itu hanya menunduk, seolah-olah dengan begitu ia bisa menghindari tatapan kecewa yang terus diarahkan kepadanya.
Namun, Nadira tidak membutuhkan Arga untuk menunduk. Ia membutuhkan penjelasan yang masuk akal, sesuatu yang bisa membuatnya memahami mengapa laki-laki yang selama ini dipercayainya tega mengambil keputusan sebesar itu tanpa memberitahunya.
Sayangnya, sampai saat ini, tidak ada satu pun alasan Arga yang mampu membuat hatinya lebih tenang.
“Kamu tahu apa yang paling menyakitkan buatku, Ga?” tanya Nadira setelah beberapa saat.
Arga mengangkat wajahnya.
“Bukan karena kamu menikah dengan perempuan lain saja. Tapi karena kamu bisa menjalani semuanya tanpa memberitahuku. Kamu bisa pergi, mempersiapkan pernikahan, lalu menikah dengannya, sementara aku di sini masih menganggap hubungan kita baik-baik saja.”
Suara Nadira terdengar tenang, tetapi justru itulah yang membuat Arga semakin gelisah. Ia lebih siap menghadapi kemarahan Nadira daripada mendengar perempuan itu berbicara dengan nada seperti sekarang.
“Aku tahu aku salah,” jawabnya pelan. “Aku seharusnya memberitahumu sejak awal.”
“Lalu kenapa kamu tidak melakukannya?”
Arga terdiam sesaat sebelum menjawab, “Aku takut kamu pergi meninggalkanku.”
Nadira tersenyum tipis. Bukan senyum bahagia, melainkan senyum seseorang yang tidak habis pikir mendengar alasan seperti itu.
“Kamu takut aku pergi, tetapi kamu justru melakukan sesuatu yang bisa membuatku benar-benar pergi. Kamu pikir aku tidak akan terluka kalau mengetahui kamu sudah menikah dengan perempuan lain?”
“Aku tidak pernah berpikir kamu akan mengetahui semuanya dengan cara seperti ini.”
“Jadi, kalau aku tidak melihatmu bersama Alya tadi, kamu masih akan menyembunyikannya dariku?”
Pertanyaan itu membuat Arga terdiam cukup lama.
Nadira memperhatikan wajah laki-laki itu. Ia tidak membutuhkan jawaban panjang untuk memahami bahwa Arga belum tentu akan memberitahunya dalam waktu dekat. Kenyataan itu membuat dadanya semakin sesak.
Nadira berjalan menuju sofa, kemudian duduk dengan tubuh bersandar. Ia merasa lelah. Sejak mengetahui pernikahan Arga, pikirannya terus bekerja, mencoba menyusun kembali semua kejadian beberapa minggu terakhir. Setiap kali ia mengingat alasan Arga pergi, kebohongan itu terasa semakin nyata.
Selama ini, ia tidak pernah meminta Arga memberikan kehidupan mewah kepadanya. Ia juga tidak pernah menuntut agar laki-laki itu selalu berada di sisinya setiap saat. Ia hanya menginginkan hubungan yang jujur, hubungan yang membuatnya merasa bahwa dirinya memang memiliki tempat dalam kehidupan Arga.
Namun, sekarang ia justru harus mempertanyakan tempatnya sendiri.
“Bagaimana dengan pernikahanmu bersama Alya?” tanyanya kemudian.
Arga yang berdiri di hadapannya kembali mengangkat wajah.
“Maksudmu?”
“Kamu sudah menikah dengannya, Ga. Aku ingin tahu bagaimana kamu memandang pernikahan itu sekarang. Apakah kamu berniat menjalani kehidupan rumah tangga dengannya seperti suami istri pada umumnya?”
Arga mengusap tengkuknya. “Aku belum memikirkan semuanya sampai sejauh itu.”
“Belum memikirkan?” Nadira mengulang pelan. “Kamu sudah menikah, tetapi belum memikirkan bagaimana kamu akan menjalani pernikahan itu?”
“Aku tahu ini sulit dijelaskan. Pernikahan itu terjadi karena desakan orang tuaku. Aku tidak pernah berniat menggantikanmu dengan Alya.”
Nadira mengalihkan pandangan. Kalimat itu mungkin terdengar meyakinkan bagi Arga, tetapi tidak baginya. Bagaimanapun, Alya kini adalah perempuan yang secara nyata telah dinikahi laki-laki ini. Nadira tidak bisa menganggap pernikahan tersebut sebagai sesuatu yang tidak berarti hanya karena Arga mengatakan bahwa laki-laki ini masih mencintainya.
“Bisa jadi kamu memang tidak berniat menggantikanku,” ucap Nadira. “Tapi kamu tetap menikah dengannya. Aku tidak bisa menganggap pernikahan itu tidak ada hanya karena kamu bilang perasaanmu kepadaku masih sama.”
Arga melangkah mendekat, berniat duduk di samping Nadira. Namun, perempuan itu segera mengangkat wajah.
“Jangan dulu, Ga. Aku ingin sendiri.”
Langkah Arga terhenti. “Ra, aku tidak ingin kita seperti ini.”
“Aku juga tidak ingin semuanya menjadi seperti ini.” Nadira menatapnya dengan mata berkaca-kaca. “Aku tidak pernah membayangkan suatu hari nanti harus duduk di hadapanmu dan mendengar pengakuan bahwa kamu sudah menikah dengan perempuan lain.”
Arga mengepalkan tangan. Ia ingin meraih Nadira, memeluknya, dan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Akan tetapi, ia mulai menyadari bahwa sentuhan dan kata-kata manis tidak akan menyelesaikan persoalan yang telah dibuatnya sendiri.
“Apa yang harus kulakukan supaya kamu bisa memaafkanku?” tanyanya.
Nadira menggeleng pelan. “Aku belum tahu.”
“Apakah kamu ingin aku membatalkan pernikahan itu?”
Pertanyaan tersebut membuat Nadira terdiam.
Untuk sesaat, ia membayangkan Arga benar-benar membatalkan pernikahannya dengan Alya. Mungkin dengan begitu, ia tidak perlu menghadapi kenyataan bahwa laki-laki yang dicintainya memiliki istri lain. Namun, semakin lama ia memikirkannya, semakin ia menyadari bahwa persoalan mereka tidak sesederhana itu.
Arga sudah mengambil keputusan tanpa melibatkannya. Jika sekarang ia memintanya membatalkan pernikahan itu, apakah Arga akan melakukannya karena benar-benar memahami kesalahannya, atau hanya karena takut kehilangan Nadira?
Ia tidak ingin mengambil keputusan hanya untuk menghentikan rasa sakit yang sedang dirasakannya.
“Aku tidak mau menjawab pertanyaan itu sekarang,” katanya akhirnya.
Arga terlihat semakin gelisah. “Lalu bagaimana dengan kita?”
“Itulah yang sedang ingin kupikirkan.”
Nadira menarik napas panjang sebelum melanjutkan perkataannya.
“Aku mencintaimu, Ga. Perasaanku tidak bisa hilang begitu saja hanya karena aku mengetahui semua ini. Tapi mencintaimu bukan berarti aku bisa langsung menerima pernikahanmu dengan Alya. Aku butuh waktu untuk memikirkan semuanya, termasuk apakah aku masih sanggup menjalani hubungan ini setelah apa yang kamu lakukan.”
Arga menatapnya tanpa berkedip. Kalimat itu terdengar seperti sesuatu yang selama ini paling ditakutinya. “Aku tidak ingin kehilanganmu, Ra.”
“Jangan terus mengatakan itu seolah-olah hanya kamu yang punya perasaan dalam hubungan ini.” Nadira mengusap sudut matanya. “Aku juga takut kehilanganmu. Tapi aku lebih takut jika aku memaksakan diri menerima semuanya sekarang, lalu suatu hari nanti aku justru membenci diriku sendiri karena mengabaikan rasa sakit yang sedang kurasakan.”
Arga tidak lagi menyela.
“Untuk sementara, aku ingin kita menjaga jarak,” lanjut Nadira. “Aku ingin punya waktu untuk berpikir tanpa harus melihatmu setiap hari dan berpura-pura bahwa semuanya masih sama.”
“Berapa lama?” tanya Arga cepat.
“Aku tidak tahu, Ga. Aku tidak bisa menentukan berapa hari yang kubutuhkan untuk memahami semua ini.”
“Lalu aku harus tinggal di mana?”
Nadira menatapnya sebentar sebelum menjawab, “Kamu kembali ke apartemen Alya.”
Arga langsung menggeleng. “Ra, aku tidak ingin meninggalkanmu dalam keadaan seperti ini.”
“Aku tidak menyuruhmu meninggalkanku selamanya. Aku hanya meminta waktu untuk diriku sendiri.” Suara Nadira mulai bergetar. “Kamu sudah memiliki apartemen tempat kamu tinggal bersama Alya. Untuk sementara, kembalilah ke sana. Aku belum sanggup melihatmu di sini dan menjalani hari-hari seperti biasa setelah mengetahui semuanya.”
“Tapi aku ingin menyelesaikan masalah kita.”
“Kalau begitu, hormati permintaanku kali ini.”
Arga terdiam. Ia ingin menolak. Ia ingin mengatakan bahwa meninggalkan Nadira sekarang justru akan membuat hubungan mereka semakin jauh. Namun, ia juga menyadari bahwa selama ini dirinya terlalu sibuk memikirkan apa yang ingin dipertahankannya tanpa benar-benar mendengarkan apa yang dibutuhkan Nadira.
Akhirnya, ia mengangguk pelan. “Baiklah. Aku akan kembali ke apartemen Alya untuk sementara waktu.”
Nadira memejamkan mata sejenak. Mendengar Arga menyebut nama perempuan itu membuat hatinya kembali terasa sakit, tetapi ia berusaha tidak memperlihatkannya.
“Aku tidak tahu bagaimana akhirnya nanti, Ga,” ucapnya. “Aku tidak bisa menjanjikan bahwa aku akan menerima pernikahanmu. Aku juga belum bisa mengatakan bahwa hubungan kita selesai. Aku hanya ingin kamu menggunakan waktu ini untuk memikirkan semuanya dengan sungguh-sungguh.”
Arga menatap perempuan di hadapannya. “Aku akan memikirkan semuanya. Aku janji.”
“Jangan hanya berjanji. Kali ini, pikirkan baik-baik apa yang sebenarnya kamu inginkan dan apa akibat dari keputusan yang sudah kamu ambil.”
Arga mengangguk lagi. Tidak ada pelukan perpisahan. Tidak ada ciuman di kening seperti yang biasanya mereka lakukan sebelum berpisah. Nadira hanya duduk di sofa, sementara Arga mengambil kunci mobilnya dari atas meja.
Sebelum melangkah menuju pintu, Arga sempat menoleh. “Ra, aku masih mencintaimu.”
Nadira tidak menjawab. Ia hanya menatap Arga dengan mata yang masih sembap, lalu mengalihkan pandangan ketika laki-laki itu membuka pintu.
Beberapa saat kemudian, suara pintu tertutup terdengar di dalam apartemen.
Nadira tetap duduk di tempatnya. Ia mendengar langkah Arga menjauh, kemudian semuanya kembali sunyi. Air matanya akhirnya jatuh lagi. Ia belum memutuskan untuk meninggalkan Arga. Namun, untuk pertama kalinya, ia juga tidak tahu apakah cinta yang selama ini dipertahankannya masih cukup kuat untuk membuatnya bertahan.
Sementara itu, Arga berdiri beberapa saat di depan pintu apartemen sebelum akhirnya melangkah menuju lift. Malam itu, ia harus kembali ke apartemen Alya, perempuan yang kini berstatus sebagai istrinya. Namun, pikirannya masih tertinggal pada Nadira, perempuan yang selama ini ingin dipertahankannya.
Arga baru menyadari satu hal: ia tidak bisa meminta Nadira menerima keputusannya hanya karena ia sendiri belum siap kehilangan perempuan itu.
Untuk sementara, mereka harus menjalani kehidupan masing-masing. Dan ia tidak tahu apakah setelah masa itu berakhir, Nadira masih akan memilihnya.