NovelToon NovelToon
ISTRI YANG DISINGKIRKAN DI HARI ULANG TAHUN PERNIKAHAN

ISTRI YANG DISINGKIRKAN DI HARI ULANG TAHUN PERNIKAHAN

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:582.4k
Nilai: 5
Nama Author: Barra Ayazzio

Di hari yang seharusnya menjadi perayaan cinta, dia justru disingkirkan dari hidup mereka.

Ketika seorang istri setia berharap mendapat kejutan di hari ulang tahun pernikahannya, yang ia terima justru pengkhianatan dari orang-orang yang paling ia percayai.

Suami yang berubah. Pelakor yang datang tanpa rasa bersalah. Serta ibu mertua dan ipar yang mendukung semuanya.

Akankah ia bertahan demi rumah tangganya?

Atau memilih pergi dan membuktikan bahwa dirinya mampu hidup tanpa mereka?

Siapkan hati kalian, karena kisah ini akan menghadirkan banyak air mata, kemarahan, penyesalan, dan tentunya balas karma yang memuaskan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

34. Saat Kesombongan Dibungkam Angka

Arini menyambut mereka dengan sikap yang tetap sopan, meski raut wajahnya tampak menahan keengganan. Belum sempat ia mempersilakan duduk, Bu Sumarni sudah lebih dulu menarik kursi di depan meja kerja Arini, lalu menjatuhkan tubuhnya dengan santai seolah-olah tempat itu adalah ruang tamu rumahnya sendiri.

Tatapannya menyapu ruangan yang dipenuhi rak-rak berisi sampel produk, komputer, serta beberapa karyawan yang lalu-lalang membawa paket.

"Lumayan juga kantormu," gumamnya singkat.

Tanpa sedikit pun merasa canggung, Bu Sumarni menyilangkan kaki. "Rin, siapkan sarapan dulu! Kami berangkat pagi-pagi, belum sempat makan di rumah."

Ucapan itu terdengar seperti perintah, bukan permintaan.

Arini hanya menghela napas pelan. Bagaimanapun juga, perempuan di hadapannya masih menjadi mertuanya. Ia masih berusaha menjaga sopan santun.

"Iya, Bu." Ia hendak menekan bel di meja untuk memanggil salah seorang karyawan agar membeli makanan.

Namun baru saja tangannya bergerak, suara Hani memotong dengan tegas. "Tujuan Ibu ke sini mau apa, ya?" katanya sambil melipat kedua tangan di dada. "Ini bukan resto, jadi tidak ada sarapan gratis."

Ruangan mendadak hening. Beberapa karyawan saling berpandangan, tetapi mereka tetap berpura-pura sibuk agar tidak terlihat memperhatikan.

Bu Sumarni menoleh tajam ke arah Hani. "Kamu siapa? Kurang ajar sekali."

Hani membalas tatapan itu tanpa gentar. "Saya saudaranya Arini. Saya yang akan melindungi Arini dari para benalu seperti kalian."

Wajah Bu Sumarni langsung memerah. "Kurang ajar banget kamu. Arini itu menantu saya. Wajar dong kalau saya minta sarapan."

Hani justru tersenyum tipis, senyum yang sama sekali tidak menunjukkan keramahan. "Percaya diri sekali bilang Arini menantu Ibu."

"Apa maksudmu?"

"Mana ada mertua yang menyakiti menantunya sampai seperti itu?" Hani menggeleng pelan. "Jangan pura-pura, deh. Menantu idaman Ibu itu bukan Arini." Tatapan Hani berubah semakin tajam. "Tapi Mayang. Yang tinggi semampai, putih, dan seksi."

Kalimat itu membuat wajah Bu Sumarni menegang.

"Nah, sekarang kenapa malah datang ke Arini? Minta sarapan pula. Kenapa nggak ke Mayang saja? Apa Ibu nggak malu?"

Bu Sumarni mendengus kesal. "Kenapa harus malu? Arini memang menantuku."

"Iya," balas Hani cepat. "Menantu yang tidak pernah diharapkan."

Suasana semakin panas. Arini hanya menundukkan kepala. Ia tahu sahabatnya sedang membelanya, tetapi tetap saja ia merasa tidak enak melihat pertengkaran itu terjadi di kantornya.

Hani kemudian mengembuskan napas panjang sebelum kembali berkata dengan nada datar.

"Sudahlah. Sebutkan saja tujuan kalian datang ke sini!"

Ia menunjuk sekeliling ruangan. "Bagi Arini, waktu adalah uang. Gangguan kalian bisa mengurangi pendapatan toko ini sampai puluhan juta."

"Hah?" Bu Sumarni spontan tertawa terbahak-bahak.

"Hahaha... puluhan juta? Jangan ngelawak!"

Tawanya menggema memenuhi ruangan. Hani sama sekali tidak terpancing.

"Kenapa tertawa? Nggak percaya?"

"Tentu saja nggak percaya. Memangnya toko kecil begini bisa menghasilkan puluhan juta?"

Hani menoleh kepada Arini. "Perlihatkan saldo penjualanmu minggu ini, Rin! Biar orang-orang yang suka meremehkan ini sadar kalau mereka sedang berdiri di tempat yang salah."

Arini tampak ragu. "Tapi, Han..."

"Gak usah ragu," sela Hani mantap. "Sombong kepada orang yang sombong adalah sedekah."

Tanpa menunggu persetujuan lagi, Hani meraih laptop yang berada di atas meja kerja Arini.

Ia sudah hafal letak dashboard penjualan sahabatnya karena beberapa kali membantu mengecek pesanan.

Beberapa kali jarinya menekan touchpad.

Layar pun menampilkan halaman penjualan dari salah satu marketplace terbesar yang digunakan Arini.

Hani memutar laptop itu menghadap Bu Sumarni.

"Nih, lihat!"

Telunjuknya menunjuk angka total transaksi yang terpampang jelas di layar.

"Ini baru dari satu platform. Belum termasuk penjualan dari TokTok Shop, website resmi, reseller, dan marketplace lainnya."

Ruangan kembali sunyi. Mulut Bu Sumarni yang sejak tadi begitu lantang perlahan menganga.

Matanya membulat, berkali-kali memastikan bahwa angka yang dilihatnya bukan salah baca. Nominal dengan deretan digit yang begitu panjang membuat napasnya tercekat.

Tangannya yang semula bertumpu di meja perlahan mengepal. Untuk pertama kalinya sejak datang ke sana, kesombongan di wajahnya mulai luntur, berganti keterkejutan yang sulit disembunyikan.

Di sampingnya, Vera ikut menelan ludah. Ia tak menyangka kakak iparnya yang selama ini selalu dianggap tidak berguna ternyata mampu menghasilkan omzet yang bahkan jauh melampaui gaji tahunan banyak orang.

Melihat perubahan ekspresi keduanya, Hani menyunggingkan senyum puas.

Akhirnya, orang-orang yang selama ini gemar merendahkan Arini dipaksa menelan kenyataan bahwa perempuan yang mereka anggap tidak berharga itu ternyata telah membangun kerajaan bisnisnya sendiri.

Hani menutup laptop itu perlahan. Senyum tipis masih tersungging di bibirnya saat melihat wajah Bu Sumarni yang kini tak lagi setenang sebelumnya.

Tatapan perempuan paruh baya itu masih terpaku pada layar laptop, seolah tidak percaya dengan angka-angka yang baru saja dilihatnya.

Hani memanfaatkan keheningan itu. "Makanya, Bu," katanya dengan suara tenang, tetapi setiap katanya terdengar tajam, "jangan pernah merendahkan orang."

Bu Sumarni mengangkat wajahnya.

"Ibu kira putra kebanggaan Ibu itu, Galang, yang bekerja sebagai abdi negara, sanggup memenuhi semua kebutuhan keluarga Ibu setiap bulan?"

Bu Sumarni membuka mulut, tetapi Hani sama sekali tidak memberinya kesempatan untuk menyela. "Nggak akan sanggup."

Suasana ruangan mendadak sunyi.

"Termasuk membiayai kuliah Vera. Ibu pikir uangnya datang dari mana? Dari Galang?"

Hani tersenyum sinis. "Bukan."

Tatapannya bergantian mengarah kepada Vera dan Bu Sumarni. "Selama ini yang ikut menopang semua itu adalah Arini."

Vera spontan menundukkan kepala. Sementara Bu Sumarni tampak mulai kehilangan kata-kata.

"Arini nggak pernah cerita ke siapa-siapa. Dia juga nggak pernah mengungkit semua bantuan yang sudah diberikannya. Kenapa? Karena buat dia, Ibu adalah orang tua yang harus dihormati."

Nada bicara Hani mulai meninggi. "Dia memilih diam saat Ibu berkali-kali merendahkannya."

"Dia tetap menghormati Ibu saat setiap pemberiannya dianggap sebagai kewajiban."

"Dia tetap bersabar saat semua jerih payahnya seolah tidak pernah ada."

Hani menghela napas, tetapi kemarahannya belum juga mereda. "Tapi semua kesabaran itu justru Ibu balas dengan apa?"

Tatapannya menusuk tepat ke arah Bu Sumarni.

"Ibu sengaja membawa perempuan lain masuk ke rumah Arini."

"Ibu membiarkan pelakor itu tinggal di sana."

"Bahkan Ibu ikut menyakiti hati menantu yang selama ini sudah banyak membantu keluarga Ibu."

Setiap kalimat yang keluar dari mulut Hani membuat wajah Bu Sumarni semakin sulit dipertahankan.

"Aku ini saudaranya Arini." Suara Hani kini terdengar lebih dalam.

"Dan sebagai saudaranya, aku nggak akan tinggal diam melihat dia diperlakukan semena-mena."

Bu Sumarni mencoba membuka mulut. "Kamu jangan—"

"Belum selesai, Bu."

Potongan kalimat Hani membuat Bu Sumarni kembali terdiam.

"Selama ini Arini memilih diam karena menghormati Ibu. Tapi jangan salah artikan diamnya sebagai kelemahan."

Hani berdiri dari kursinya. "Mulai hari ini, kalau Arini memilih tetap diam, biar aku yang bicara."

Ia menatap Bu Sumarni tanpa sedikit pun gentar.

"Karena orang-orang seperti Ibu memang perlu diingatkan bahwa menghormati orang tua bukan berarti membiarkan diri sendiri terus-menerus diinjak."

_______________________________

Hai Readers, makasih ya, novel ini terpilih menjadi 20 bab terbaik. Support terus, biar terpilih kembali menjadi 40 bab terbaik. jangan lupa mampir ke novel aku yang lainnya ya!

Rahasia Masa Lalu Suami dan Sang Ipar (sudah tamat).

Ditalak Sesaat Setelah Akad (sudah tamat)

Benang Putus Karena Cinta Pertama. (Up)

Oh iya jangan lupa beri masukan dan kritikan yang membangun yah, biar makin semangat up novelnya. Terimakasih banyak Readers setiaku. 🥰🥰🥰 🙏🏼🙏🏼🙏🏼

1
Jamayah Tambi
Gila kau Mayang.Tak takut dosa dan HIV
Jamayah Tambi
Bagus ,biar Bu Fatmabyg halau mereka keluar dari rumah itu.Tidak alasan mereka menolak kerana rumah itu dah bertukar pemilik
Jamayah Tambi
Lanjutkan ceritanya mbak.
Jamayah Tambi
Tak sabarnya tunggu keputusan hakim
Jamayah Tambi
Orang macam Mayang dan Pak Hardi tu harus kena sula di khalayak rama.Melakukan zina di rumah suaminya Kononnya tp rumah Arini
Cici Mamatoni
lah ..ini kattanya ayahnya Galang dah ninggal lalu siapa pak Hardi? suami barunya di ibu kah?
Jamayah Tambi
Geli - geleman aku baca.Pak mertua dgn menantu buat zina.Apa Mayang tak ada selera ya.Orangbtua pun kau layan.Lagian Pak Hardi tu ada apo.Harapkan batang tua saja.Uang lagi la tak ada.
Jamayah Tambi
Jangan malu jadi janda Arini.Kau janda ada kelas.
Jamayah Tambi
Esok ke pengadilan mu Arini.Siap2 jangan jadi lembik.Senangkan diri mu sendiri.Buka dosa jadi janda
Jamayah Tambi
Hah, Galang kamu dan ibunta ternyata ngak tau diri.Mau palsa Arini batalkan gugatan cerai.Jangan harap.Tak ada pulak nak suruh Galang ceraikan Mayang yg tak suna sekupang pun itu.
Handayani Tety
nah kek gini aku suka..anti ditindas
Jamayah Tambi
Kalau Galang berkeras tidak menceraikan Arini,nanti pengadilan yg akan memberikan kata putus
Jamayah Tambi
Kau mesti tegas Arini.Jangan lembik dgn pujuk rayu Galang.Lelaki tu tak guna
Anisa Sudarwanto
kok bu sualstri thor???
Jamayah Tambi
Bagus Arini bercerai dgn Galang supaya tidak terus dimanafaatkan oleh keluarga benalu itu.Isteri muda pun nak tumpang sekaki
Jamayah Tambi
Kenapa kau baik sangat jadi orang Arini.Laporkan saja.Beri vide itu pada pengacaramu,agarbproses perceraian lebih mudah.Bukan untuk balas dendam tp untuk lebih mudah prosesnya agar Galang tak berani tidak menceraikan mu
Jamayah Tambi
Kenapa masa tu tak menikahi Mayang.Kata cinta pertama.
Jamayah Tambi
Masa tu Galang tau ke Arini ada butik,restoran dan jualan online
Jamayah Tambi
Semoga cepat selesainya Arini
Jamayah Tambi
Apa yg kau harapkan tak mungkin terjadi Galang.Kau lelaki lembik telur.Mengharapkan uang dari perempuan yg kau jadikan isteri,tapi kau dan keluarga menguras uangnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!