NovelToon NovelToon
ISTRI YANG DISINGKIRKAN DI HARI ULANG TAHUN PERNIKAHAN

ISTRI YANG DISINGKIRKAN DI HARI ULANG TAHUN PERNIKAHAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:211.3k
Nilai: 5
Nama Author: Barra Ayazzio

Di hari yang seharusnya menjadi perayaan cinta, dia justru disingkirkan dari hidup mereka.

Ketika seorang istri setia berharap mendapat kejutan di hari ulang tahun pernikahannya, yang ia terima justru pengkhianatan dari orang-orang yang paling ia percayai.

Suami yang berubah. Pelakor yang datang tanpa rasa bersalah. Serta ibu mertua dan ipar yang mendukung semuanya.

Akankah ia bertahan demi rumah tangganya?

Atau memilih pergi dan membuktikan bahwa dirinya mampu hidup tanpa mereka?

Siapkan hati kalian, karena kisah ini akan menghadirkan banyak air mata, kemarahan, penyesalan, dan tentunya balas karma yang memuaskan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

34. Saat Kesombongan Dibungkam Angka

Arini menyambut mereka dengan sikap yang tetap sopan, meski raut wajahnya tampak menahan keengganan. Belum sempat ia mempersilakan duduk, Bu Sumarni sudah lebih dulu menarik kursi di depan meja kerja Arini, lalu menjatuhkan tubuhnya dengan santai seolah-olah tempat itu adalah ruang tamu rumahnya sendiri.

Tatapannya menyapu ruangan yang dipenuhi rak-rak berisi sampel produk, komputer, serta beberapa karyawan yang lalu-lalang membawa paket.

"Lumayan juga kantormu," gumamnya singkat.

Tanpa sedikit pun merasa canggung, Bu Sumarni menyilangkan kaki. "Rin, siapkan sarapan dulu! Kami berangkat pagi-pagi, belum sempat makan di rumah."

Ucapan itu terdengar seperti perintah, bukan permintaan.

Arini hanya menghela napas pelan. Bagaimanapun juga, perempuan di hadapannya masih menjadi mertuanya. Ia masih berusaha menjaga sopan santun.

"Iya, Bu." Ia hendak menekan bel di meja untuk memanggil salah seorang karyawan agar membeli makanan.

Namun baru saja tangannya bergerak, suara Hani memotong dengan tegas. "Tujuan Ibu ke sini mau apa, ya?" katanya sambil melipat kedua tangan di dada. "Ini bukan resto, jadi tidak ada sarapan gratis."

Ruangan mendadak hening. Beberapa karyawan saling berpandangan, tetapi mereka tetap berpura-pura sibuk agar tidak terlihat memperhatikan.

Bu Sumarni menoleh tajam ke arah Hani. "Kamu siapa? Kurang ajar sekali."

Hani membalas tatapan itu tanpa gentar. "Saya saudaranya Arini. Saya yang akan melindungi Arini dari para benalu seperti kalian."

Wajah Bu Sumarni langsung memerah. "Kurang ajar banget kamu. Arini itu menantu saya. Wajar dong kalau saya minta sarapan."

Hani justru tersenyum tipis, senyum yang sama sekali tidak menunjukkan keramahan. "Percaya diri sekali bilang Arini menantu Ibu."

"Apa maksudmu?"

"Mana ada mertua yang menyakiti menantunya sampai seperti itu?" Hani menggeleng pelan. "Jangan pura-pura, deh. Menantu idaman Ibu itu bukan Arini." Tatapan Hani berubah semakin tajam. "Tapi Mayang. Yang tinggi semampai, putih, dan seksi."

Kalimat itu membuat wajah Bu Sumarni menegang.

"Nah, sekarang kenapa malah datang ke Arini? Minta sarapan pula. Kenapa nggak ke Mayang saja? Apa Ibu nggak malu?"

Bu Sumarni mendengus kesal. "Kenapa harus malu? Arini memang menantuku."

"Iya," balas Hani cepat. "Menantu yang tidak pernah diharapkan."

Suasana semakin panas. Arini hanya menundukkan kepala. Ia tahu sahabatnya sedang membelanya, tetapi tetap saja ia merasa tidak enak melihat pertengkaran itu terjadi di kantornya.

Hani kemudian mengembuskan napas panjang sebelum kembali berkata dengan nada datar.

"Sudahlah. Sebutkan saja tujuan kalian datang ke sini!"

Ia menunjuk sekeliling ruangan. "Bagi Arini, waktu adalah uang. Gangguan kalian bisa mengurangi pendapatan toko ini sampai puluhan juta."

"Hah?" Bu Sumarni spontan tertawa terbahak-bahak.

"Hahaha... puluhan juta? Jangan ngelawak!"

Tawanya menggema memenuhi ruangan. Hani sama sekali tidak terpancing.

"Kenapa tertawa? Nggak percaya?"

"Tentu saja nggak percaya. Memangnya toko kecil begini bisa menghasilkan puluhan juta?"

Hani menoleh kepada Arini. "Perlihatkan saldo penjualanmu minggu ini, Rin! Biar orang-orang yang suka meremehkan ini sadar kalau mereka sedang berdiri di tempat yang salah."

Arini tampak ragu. "Tapi, Han..."

"Gak usah ragu," sela Hani mantap. "Sombong kepada orang yang sombong adalah sedekah."

Tanpa menunggu persetujuan lagi, Hani meraih laptop yang berada di atas meja kerja Arini.

Ia sudah hafal letak dashboard penjualan sahabatnya karena beberapa kali membantu mengecek pesanan.

Beberapa kali jarinya menekan touchpad.

Layar pun menampilkan halaman penjualan dari salah satu marketplace terbesar yang digunakan Arini.

Hani memutar laptop itu menghadap Bu Sumarni.

"Nih, lihat!"

Telunjuknya menunjuk angka total transaksi yang terpampang jelas di layar.

"Ini baru dari satu platform. Belum termasuk penjualan dari TokTok Shop, website resmi, reseller, dan marketplace lainnya."

Ruangan kembali sunyi. Mulut Bu Sumarni yang sejak tadi begitu lantang perlahan menganga.

Matanya membulat, berkali-kali memastikan bahwa angka yang dilihatnya bukan salah baca. Nominal dengan deretan digit yang begitu panjang membuat napasnya tercekat.

Tangannya yang semula bertumpu di meja perlahan mengepal. Untuk pertama kalinya sejak datang ke sana, kesombongan di wajahnya mulai luntur, berganti keterkejutan yang sulit disembunyikan.

Di sampingnya, Vera ikut menelan ludah. Ia tak menyangka kakak iparnya yang selama ini selalu dianggap tidak berguna ternyata mampu menghasilkan omzet yang bahkan jauh melampaui gaji tahunan banyak orang.

Melihat perubahan ekspresi keduanya, Hani menyunggingkan senyum puas.

Akhirnya, orang-orang yang selama ini gemar merendahkan Arini dipaksa menelan kenyataan bahwa perempuan yang mereka anggap tidak berharga itu ternyata telah membangun kerajaan bisnisnya sendiri.

Hani menutup laptop itu perlahan. Senyum tipis masih tersungging di bibirnya saat melihat wajah Bu Sumarni yang kini tak lagi setenang sebelumnya.

Tatapan perempuan paruh baya itu masih terpaku pada layar laptop, seolah tidak percaya dengan angka-angka yang baru saja dilihatnya.

Hani memanfaatkan keheningan itu. "Makanya, Bu," katanya dengan suara tenang, tetapi setiap katanya terdengar tajam, "jangan pernah merendahkan orang."

Bu Sumarni mengangkat wajahnya.

"Ibu kira putra kebanggaan Ibu itu, Galang, yang bekerja sebagai abdi negara, sanggup memenuhi semua kebutuhan keluarga Ibu setiap bulan?"

Bu Sumarni membuka mulut, tetapi Hani sama sekali tidak memberinya kesempatan untuk menyela. "Nggak akan sanggup."

Suasana ruangan mendadak sunyi.

"Termasuk membiayai kuliah Vera. Ibu pikir uangnya datang dari mana? Dari Galang?"

Hani tersenyum sinis. "Bukan."

Tatapannya bergantian mengarah kepada Vera dan Bu Sumarni. "Selama ini yang ikut menopang semua itu adalah Arini."

Vera spontan menundukkan kepala. Sementara Bu Sumarni tampak mulai kehilangan kata-kata.

"Arini nggak pernah cerita ke siapa-siapa. Dia juga nggak pernah mengungkit semua bantuan yang sudah diberikannya. Kenapa? Karena buat dia, Ibu adalah orang tua yang harus dihormati."

Nada bicara Hani mulai meninggi. "Dia memilih diam saat Ibu berkali-kali merendahkannya."

"Dia tetap menghormati Ibu saat setiap pemberiannya dianggap sebagai kewajiban."

"Dia tetap bersabar saat semua jerih payahnya seolah tidak pernah ada."

Hani menghela napas, tetapi kemarahannya belum juga mereda. "Tapi semua kesabaran itu justru Ibu balas dengan apa?"

Tatapannya menusuk tepat ke arah Bu Sumarni.

"Ibu sengaja membawa perempuan lain masuk ke rumah Arini."

"Ibu membiarkan pelakor itu tinggal di sana."

"Bahkan Ibu ikut menyakiti hati menantu yang selama ini sudah banyak membantu keluarga Ibu."

Setiap kalimat yang keluar dari mulut Hani membuat wajah Bu Sumarni semakin sulit dipertahankan.

"Aku ini saudaranya Arini." Suara Hani kini terdengar lebih dalam.

"Dan sebagai saudaranya, aku nggak akan tinggal diam melihat dia diperlakukan semena-mena."

Bu Sumarni mencoba membuka mulut. "Kamu jangan—"

"Belum selesai, Bu."

Potongan kalimat Hani membuat Bu Sumarni kembali terdiam.

"Selama ini Arini memilih diam karena menghormati Ibu. Tapi jangan salah artikan diamnya sebagai kelemahan."

Hani berdiri dari kursinya. "Mulai hari ini, kalau Arini memilih tetap diam, biar aku yang bicara."

Ia menatap Bu Sumarni tanpa sedikit pun gentar.

"Karena orang-orang seperti Ibu memang perlu diingatkan bahwa menghormati orang tua bukan berarti membiarkan diri sendiri terus-menerus diinjak."

_______________________________

Hai Readers, makasih ya, novel ini terpilih menjadi 20 bab terbaik. Support terus, biar terpilih kembali menjadi 40 bab terbaik. jangan lupa mampir ke novel aku yang lainnya ya!

Rahasia Masa Lalu Suami dan Sang Ipar (sudah tamat).

Ditalak Sesaat Setelah Akad (sudah tamat)

Benang Putus Karena Cinta Pertama. (Up)

Oh iya jangan lupa beri masukan dan kritikan yang membangun yah, biar makin semangat up novelnya. Terimakasih banyak Readers setiaku. 🥰🥰🥰 🙏🏼🙏🏼🙏🏼

1
Herdian Arya
karma buat mayang dan bapak mertua kapan ya, penasaran eyyy
Cicih Sophiana
wah wah wah Arini keren👍... aq kira Arin akan tertipu...
Cicih Sophiana
wah Arini mudah di tipu... dia bukan Indra Rin...Indra mungkin ada di hotel atau di kamar dgn istri nya...
Cicih Sophiana
mungkin om nya di ganti orang lain yg mirip dgn om Indra... bisa aja kan demi sukses rencana dia...
Cicih Sophiana
loh kok Hani gak ada... apa Hani gak jd ikut yah.
Cicih Sophiana
bener tebakan aq Rin... dia bilang mau minta maaf krn dia sakit parah padahal dia mau memaksa mu untuk tanda tangan... biar rumah dan restoran jd milik dia... licik
Cicih Sophiana
ada apa yah kok om Rahman menyuruh balik ke bandung...
Cicih Sophiana
wah om nya Arin mau menipu rupa nya... mungkin warisan nya banyak sekarang minta tanda tangan Arini... biar dia dan anak anak nya yg menguasai..
Cicih Sophiana
loh knp baru datang sekarang gak dari dari dulu... udah delapan belas tahun baru bilang menyesal...kata nya menyesal seumur hidup... kemarin kemarin kemana aja pak... apa krn harta nya udah habis sekarang... aneh banget
Nolis Karmini
suka dech ga menye2
Cicih Sophiana
Rin ada kluarga mu yg membuang mu dan mengambil harta kamu tuh... udah merebut harta nya anak yatim piatu... anak nya malah di buang ke panti setelah kenyang baru nyari setelah 18 tahun... 🫢
Cicih Sophiana
ya Rin semoga mendapat suami yg terbaik... yg tulus dan meratukan kamu
Cicih Sophiana
keluarga yg menghancurkan diri nya sendiri...
Cicih Sophiana
udah hancur baru sadar ya bu...
Cicih Sophiana
yah tinggal menikmati aja Galang atas perbuatamu... dlm rumah tangga yg paling menyakit kan perselingkuhan... yg susah di maafkan
Cicih Sophiana
akhirnya kamu udah bercerai Galang... nikmati kehancuran mu
Cicih Sophiana
semoga ada karma untuk mereka berdua...
Sinta Dewi
Terima kasih othor yg baik sehat selalu , dilimpahkan rezeki yg banyak & berkah 🙏
Sinta Dewi
waaaww , apakah kecurangan nya udah bertahun tahun , kalo iya berarti hasil dari korupsi itu udah bisa bikin 1 resto lg tuh , penyelewengan dana & jabatan ini emang dimana mana gak pandang tempat 🤭🤭
Sinta Dewi
itulah kehidupan , alam mengajarkan bagaimana hukum tabur tuai berlaku semua ada konsekuensinya , ada harga yg harus dibayar .... terima kasih othor yg baik 🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!