Desa Langgur gempar. Tanah yang sudah basah, sumur berubah air merah, dan galian di bawah pohon mangga menemukan sesuatu yang seharusnya tidak ditemukan.
Ara tidak tahu, di bawah rumahnya ada tambang, di bawah pohon keramat Revan ada peti emas berdarah yang dijaga arwah leluhur.
Sejak peti itu dibuka, teror datang. Rumah Ara dibakar, sidang adat di kota, dan Langgur harus merdeka dari kutukan.
Pohon Revan yang tidak mau mati itu menuntut tumbal.
Apa isi peti emas di bawah akar itu? Dan kenapa bayi Revani bisa melihat Revan?
Kisah horor thriller tanah Maluku yang bikin merinding dari Bab 1 sampai Bab 35 Tamat!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Una Lam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 Sidang Adat Di Kota
Jam lima subuh, Langgur masih gelap dan bau kayu terbakar masih menyengat dari rumah-rumah yang setengah hangus semalam. Tapi di depan balai desa yang atapnya sudah hitam terbakar, sudah berkumpul dua puluh orang warga dengan wajah serius. Di tengah mereka ada Pak RT Unus, Bapak Simon yang sudah tobat, Mama Ino, Ara, Jali, dan Edo. Di tangan Pak RT ada karung goni kecil yang berisi Batu Tulis Leluhur yang sudah dibungkus kain adat Kei berwarna merah dan kuning, biar tidak terlihat menyala.
Hari ini mereka akan ke kota Tual, ibu kota Maluku Tenggara, untuk sidang adat di kantor Dewan Adat. Jarak Langgur ke kota Tual sekitar tiga jam naik kapal motor kayu, karena Langgur adalah desa pesisir kecil di Pulau Kei Kecil.
Kapal motor kayu milik Pak Karim yang tidak terbakar semalam sudah siap di pantai. Mesin dieselnya sudah dinyalakan, asap putihnya mengepul.
"Ingat, di kota jangan bicara sembarangan. Di sana banyak orang perusahaan tambang. Batu ini jangan sampai direbut. Ini nyawa kita," pesan Pak RT Unus sambil menepuk karung goni yang berisi batu itu.
Ara yang masih memakai jaket hitam Revan yang sobek dan berlumuran darah pohon kering dan bekas terbakar, mengangguk. Matanya bengkak karena semalaman menangis menjaga rumahnya yang setengah hangus.
Mama Ino memeluk Ara erat sebelum naik kapal. "Mama tidak ikut, Mama jaga pohon keramat kita di rumah. Kamu hati-hati di kota, nak. Jangan percaya sama orang kota yang pakai baju rapi."
Kapal motor kayu itu berangkat pelan meninggalkan pantai Langgur yang penuh puing-puing rumah terbakar. Warga yang tinggal di desa melambaikan tangan dari pantai, beberapa ibu-ibu menangis karena takut rombongan ini tidak akan kembali kalau kalah di pengadilan.
Perjalanan tiga jam di laut terasa sangat lama bagi Ara. Ombak pagi itu agak besar, kapal bergoyang-goyang. Di tengah laut, Ara melihat ke belakang, melihat Langgur yang semakin kecil, dan melihat asap hitam tipis yang masih membubung dari desanya. Dia mengepalkan tangannya.
Setibanya di pelabuhan kota Tual jam delapan pagi, suasana kota sangat berbeda dengan Langgur. Banyak mobil, banyak motor, gedung-gedung tinggi, dan banyak orang memakai baju rapi dan sepatu mengkilap. Bau solar dan bau ikan campur jadi satu.
Di depan pelabuhan, sudah menunggu seorang laki-laki tua berambut putih memakai pakaian adat Kei lengkap, dia adalah Paman Tua Theo, paman jauh Pak RT Unus yang bekerja sebagai staf di Dewan Adat Maluku Tenggara. Paman Tua Theo yang akan bantu mereka masuk ke sidang.
"Wah, kalian datang juga akhirnya. Saya dengar Langgur diserang perusahaan tambang. Cepat ikut saya, sidang sudah mau mulai jam sembilan. Lawan kalian sudah datang dari jam tujuh pagi dengan pengacara mahal," kata Paman Tua Theo dengan suara cemas sambil membawa mereka naik angkot ke kantor Dewan Adat.
Kantor Dewan Adat adalah gedung besar berwarna putih dengan ukiran-ukiran adat Kei di dindingnya. Di halaman gedung sudah parkir mobil hitam mewah yang sama dengan mobil Dion, dan di sampingnya ada mobil polisi.
Di dalam ruang sidang adat yang besar dan ber-AC dingin, sudah duduk banyak orang. Di sisi kanan ada Dion dengan ayahnya, Pak Hendra, bos besar PT. MALUKU EMAS SEJAHTERA, seorang laki-laki gemuk berkumis tebal memakai jas hitam mahal. Di samping mereka ada tiga orang pengacara berjas hitam dengan koper besar berisi dokumen, dan ada Kepala Dinas Pertambangan yang kemarin ke Langgur.
Di sisi kiri, hanya ada warga Langgur yang berpakaian sederhana, baju kaos oblong dan sarung, tidak punya pengacara, hanya bawa karung goni berisi batu.
Di tengah ruang sidang ada lima orang Tetua Adat yang sudah sangat tua, memakai mahkota bulu burung dan kain adat, wajah mereka serius dan keriput.
Sidang dimulai.
Pengacara perusahaan tambang langsung berdiri dan bicara dengan bahasa hukum yang tidak dimengerti warga Langgur.
"Yang Mulia Dewan Adat, klien kami PT. MALUKU EMAS SEJAHTERA sudah memiliki Izin Usaha Pertambangan resmi dari Provinsi Maluku, nomor 123/2025, seluas 500 hektar, yang mencakup Desa Langgur. Desa Langgur menurut data Badan Pertanahan adalah tanah negara kosong, bukan tanah adat, karena tidak ada bukti tertulis dan tidak ada sertifikat adat. Oleh karena itu, warga Langgur adalah penduduki liar dan harus digusur dengan ganti rugi wajar sebesar lima juta per kepala keluarga."
Mendengar kata penduduki liar dan lima juta, warga Langgur langsung ribut. Jali hampir berdiri mau memukul pengacara itu, tapi ditahan Pak RT.
Giliran Pak RT Unus bicara, dengan suara gemetar karena gugup di depan orang banyak dan di ruangan ber-AC dingin yang baru pertama kali dia masuk.
"Yang Mulia Tetua Adat... saya... saya RT dari Langgur... Langgur bukan tanah kosong... Langgur sudah ada sejak nenek moyang kami... ada pohon mangga raksasa yang umurnya ratusan tahun... itu bukti tanah kami tanah adat..."
Pengacara perusahaan tertawa kecil. "Pohon mangga? Pohon mangga bisa ditanam kapan saja. Mana bukti tertulisnya? Mana batu tulisnya? Mana peta adatnya? Kalau cuma cerita pohon, semua orang bisa klaim tanah negara jadi tanah adat."
Dion yang duduk di samping pengacaranya juga tertawa dan menatap Ara dengan tatapan mengejek.
Ara yang dari tadi diam, melihat pengacara itu mengejek pohon keramat mereka, darahnya mendidih. Dia berdiri dengan berani, masih memakai jaket hitam Revan yang sobek dan kotor.
"Kami punya bukti! Kami punya Batu Tulis Leluhur!" teriak Ara dengan suara keras, membuat seluruh ruang sidang yang ber-AC itu terdiam.
Pak RT Unus perlahan membuka karung goni dan mengeluarkan Batu Tulis Leluhur yang dibungkus kain adat merah kuning. Dia membuka kain itu pelan.
Batu kecil seukuran buku tulis itu terlihat biasa saja di dalam ruangan ber-AC terang, tidak menyala emas lagi seperti di hutan larangan, hanya batu hitam biasa dengan ukiran aksara kuno yang samar.
Pengacara perusahaan langsung tertawa lebih keras. "Itu? Batu hitam biasa? Itu bisa dibuat di mana saja! Itu bukan bukti sah! Itu bisa dipalsukan!"
Tetua Adat yang paling tua, yang duduk di tengah, yang rambutnya sudah putih semua dan matanya buta satu, tiba-tiba berdiri pelan dengan tongkatnya. Dia berjalan mendekati batu itu tanpa bantuan orang lain, meski matanya buta satu.
Tetua Adat itu menyentuh batu hitam itu dengan tangannya yang keriput.
Saat jarinya menyentuh ukiran aksara kuno di batu itu, batu itu tiba-tiba bergetar pelan dan menyala terang berwarna emas, sangat terang, sampai seluruh ruang sidang yang ber-AC dingin itu menjadi hangat dan berbau tanah basah seperti hutan larangan.
Semua orang di ruang sidang terkejut dan menutup mata karena silau, termasuk Dion dan pengacara mahalnya.
Dari dalam cahaya emas terang itu, muncul asap putih yang membentuk siluet seorang perempuan tua berambut putih panjang, nenek moyang keluarga Ara, dan di sampingnya muncul siluet Revan dengan kaos putih dan jaket hitam.
Dua arwah itu muncul di tengah ruang sidang adat kota Tual, di depan lima Tetua Adat, di depan polisi, di depan pengacara mahal, dan di depan Pak Hendra bos tambang.
Nenek moyang itu bicara dengan suara yang menggema di seluruh ruang sidang, suaranya terdengar seperti suara angin hutan dan suara ombak laut bersamaan.
"Tanah Langgur adalah tanah adat Kei. Garis batasnya dari Batu Karang Berlubang di pantai timur sampai Hutan Larangan di utara, sampai Pohon Mangga Raksasa di tengah desa. Siapa yang berani tambang tanah ini tanpa izin darah keturunan penjaga, akan ditelan tanah. Batu ini adalah saksi darah kami. Kami tulis dengan darah kami ratusan tahun lalu."
Setelah berkata itu, cahaya emas itu meredup, asap putih itu masuk kembali ke dalam batu hitam, dan batu itu kembali menjadi batu hitam biasa, tidak menyala lagi.
Seluruh ruang sidang hening total. Tidak ada yang berani bicara. Pengacara mahal yang tadi tertawa, sekarang wajahnya pucat pasi dan keringat dingin bercucuran, jas mahalnya basah.
Tetua Adat yang buta satu itu kembali ke kursinya dan memukul meja kayu dengan tongkatnya keras.
"SAH! Batu Tulis Leluhur itu sah! Itu batu asli! Saya kenal tulisan nenek moyang Kei! Tanah Langgur adalah TANAH ADAT yang dilindungi! Perusahaan tambang tidak boleh masuk tanpa izin adat Langgur! Sidang saya putuskan, Izin Usaha Pertambangan PT. MALUKU EMAS SEJAHTERA di atas tanah adat Langgur DICABUT dan TIDAK SAH! Warga Langgur MENANG!"
Warga Langgur langsung bersorak keras, berpelukan, menangis bahagia. Ara menangis dan memeluk batu hitam itu erat.
Di sisi lain, Pak Hendra bos tambang langsung berdiri marah, wajahnya merah. "Tidak bisa! Ini tidak adil! Kami sudah bayar lima miliar untuk izin itu! Kami akan banding ke pengadilan tinggi! Kami akan bawa tentara!"
Dion menarik tangan ayahnya. "Ayah, sudah, ayah. Kita kalah. Hantunya ikut ke kota. Kita tidak bisa lawan hantu di sidang adat."
Pak Hendra masih marah, tapi akhirnya dia dan pengacaranya pergi meninggalkan ruang sidang dengan wajah malu, membawa koper-koper dokumen mereka yang tidak berguna lagi.
Sidang adat selesai. Langgur menang secara hukum adat.
Pak RT Unus mengangkat Batu Tulis Leluhur tinggi-tinggi di depan kantor Dewan Adat, warga Langgur bersorak lagi.
Tapi Ara tahu, ini belum selesai. Pak Hendra bilang akan banding ke pengadilan tinggi di Ambon, pengadilan negara, bukan pengadilan adat. Di pengadilan negara, hantu dan batu tulis tidak akan dianggap bukti, yang dianggap bukti hanya uang dan pengacara mahal.
Perang selanjutnya akan ada di kota Ambon, di pengadilan tinggi, dan mereka harus siap lagi.
Sambil menuruni tangga kantor Dewan Adat, Ara melihat di parkiran, Dion menatapnya dari dalam mobil hitamnya dengan tatapan dendam yang sangat dalam, bukan tatapan takut lagi, tapi tatapan orang yang akan balas dendam dengan cara yang lebih licik.
Dion melambaikan tangan pelan ke Ara, seperti bilang, sampai jumpa lagi di Ambon.