hayyyyy hayyyy hayyyyy semuanya jangan lupa follow aku dulu biar enak ahayyyy !!! 👋🤍
Siapa sangka, di kehidupan yang cuma sekali ini, kamu malah harus dipaksa menikah sama seseorang yang bahkan nggak kamu kenal?
Itulah yang terjadi sama Ema.
Awalnya Ema pikir pernikahan ini cuma urusan bisnis antara keluarganya dan keluarga Damian. Setelah menikah, mereka bisa menjalani kehidupan masing-masing seperti biasa.
Tapi ternyata, Ema salah besar.
Semenjak tinggal bersama Damian dan keluarganya, Ema mulai merasa ada yang aneh.
Mereka terlalu banyak menyimpan rahasia.
Dan semakin Ema mencoba mencari tahu, semakin ia sadar kalau keluarga yang sekarang menjadi keluarganya itu... sama sekali bukan keluarga biasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon crowell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 21
“Tolong, segera tolong Tuan! Bagaimanapun caranya, selamatkan beliau!” pinta Vandes dengan panik kepada tim medis yang sedang berusaha menangani Damian.
Wajahnya terlihat pucat. Kedua tangannya mengepal erat, sementara pandangannya tak pernah lepas dari Damian yang terbaring tak berdaya.
“Bagaimana mungkin Tuan bisa terkena air suci seperti ini?” gumam Vandes dengan suara bergetar. “Kalau sampai terjadi sesuatu kepada Tuan, bagaimana nasib keluarga ini? Bagaimana dengan Yang Mulia ? Dan yang paling penting, bagaimana cara saya menjelaskan semuanya kepada Nyonya Emma?”
Vandes mengusap wajahnya kasar. Dia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa.
Selama ini, Damian selalu terlihat kuat di hadapan siapa pun. Namun, sekarang pria itu bahkan tak mampu membuka matanya.
Belum sempat Vandes menenangkan pikirannya, suara langkah kaki terdengar mendekat. Dia segera menoleh dan mendapati Raina serta Leonardo berjalan cepat ke arahnya.
“Bagaimana keadaan putraku, Vandes?!” tanya Raina dengan suara bergetar. Wajahnya tampak begitu cemas ketika melihat Damian terbaring di atas ranjang perawatan.
Vandes langsung menundukkan kepalanya.
“Ampun, Yang Mulia Ratu. Hamba gagal melindungi Tuan Damian,” jawabnya penuh penyesalan. “Hamba seharusnya tidak membiarkan beliau menghadapi Orzan sendirian.”
Raina terdiam sesaat. Dia kemudian menoleh ke arah putranya, berusaha menahan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya.
“Anakku...” bisiknya lirih.
Leonardo yang berdiri di sampingnya segera menghampiri tim medis untuk menanyakan kondisi Damian. Setelah mendengar penjelasan singkat mereka, wajahnya berubah serius.
“Vandes, apakah Emma sudah mengetahui kejadian ini?” tanyanya sambil menoleh kepada pria itu.
Vandes menggeleng cepat.
“Belum, Yang Mulia. Hamba belum memberitahukan apa pun kepada Nyonya Emma. Hamba takut jika beliau mengetahui keadaan Tuan Damian, beliau akan sangat terpukul.”
“Kalau begitu, untuk sementara jangan beri tahu Emma dulu,” ujar Raina sambil mengembuskan napas panjang. Dia berusaha berpikir jernih meskipun hatinya sedang kacau.
Namun, Leonardo langsung menoleh kepadanya.
“Bagaimana mungkin kita menyembunyikan ini darinya, Raina?” tanyanya tegas. “Damian adalah suaminya. Emma berhak mengetahui apa yang sedang terjadi.”
Raina menggeleng pelan.
“Aku tahu, tetapi lihatlah keadaan Damian sekarang! Aku tidak ingin Emma panik sebelum kita menemukan cara untuk menyelamatkan putraku.”
Leonardo terdiam sejenak, lalu mengalihkan pandangannya kepada Damian.
“Masalahnya, waktu kita tidak banyak,” ucapnya serius.
Vandes segera mengangkat wajahnya.
“Apa maksud Yang Mulia?”
Leonardo menarik napas panjang sebelum menjelaskan sesuatu yang membuat Raina terdiam.
“Luka akibat air suci bukanlah luka biasa bagi vampir. Kemampuan regenerasi Damian tidak akan bekerja sebagaimana mestinya selama pengaruh air suci itu masih ada dalam tubuhnya.”
Dia berhenti sejenak, kemudian melanjutkan dengan nada berat.
“Dan satu-satunya cara untuk menyelamatkannya adalah melalui darah pasangan hidupnya.”
“Apa?!” seru Vandes spontan. Matanya membelalak, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
Raina pun langsung menoleh kepada Leonardo.
“Kau yakin tidak ada cara lain?” tanyanya cemas.
Leonardo menggeleng perlahan.
“Kalau ada, aku pasti sudah melakukannya sejak tadi.”
Ruangan itu mendadak hening Vandes menatap Damian, kemudian menoleh kepada Raina dan Leonardo secara bergantian.
“Jadi... hanya Nyonya Emma yang bisa menyelamatkan Tuan Damian?” tanyanya pelan.
“Benar,” jawab Leonardo singkat.
Raina memejamkan mata sesaat. Dia tahu betul bahwa menyembunyikan keadaan Damian dari Emma bukanlah keputusan yang mudah. Namun, dia juga takut jika mereka melibatkan Emma tanpa mempersiapkannya terlebih dahulu.
Leonardo mengusap wajahnya, lalu menatap Raina dengan serius.
“Kita tidak bisa terus menunda ini. Jika darah Emma memang satu-satunya cara untuk menyelamatkan Damian, kita harus segera membawanya kemari.”
“Tapi bagaimana aku menjelaskan semuanya kepada Emma?” tanya Raina lirih. “Selama ini, dia bahkan belum sepenuhnya memahami dunia kita.”
Leonardo terdiam sejenak sebelum menjawab.
“Kalau begitu, sudah waktunya dia mengetahui kebenarannya.”Dia melirik Damian yang masih terbaring tak sadarkan diri.“Karena sekarang, keselamatan putra kita bergantung pada istrinya sendiri.”
“Kita lihat perkembangan keadaan Tuan ke depannya dulu, Yang Mulia. Tuan saja sampai harus berbohong kepada Nyonya. Bagaimana bisa kita membocorkan rahasia itu begitu saja?” ucap Vandes, berusaha meyakinkan Raina.
“Baiklah, kalau begitu kita tunggu tiga hari ke depan,” putus Raina. Sebenarnya, ia takut Emma akan mengetahui bahwa putranya telah membohonginya. Ia tidak ingin hubungan Damian dan Emma menjadi buruk karena masalah ini.
“Tidak bisa! Ini menyangkut nyawa Damian!” bantah Leonardo tegas.
“Suamiku, Damian pasti bisa bertahan. Apa kau tidak ingat? Dulu Damian pernah mengalami kejadian seperti ini, tetapi hanya dalam tiga hari dia sudah sembuh,” ujar Raina, berusaha meyakinkan Leonardo sekaligus menenangkan hatinya sendiri.
Leonardo terdiam sejenak. Ia memikirkan perkataan istrinya sebelum akhirnya mengangguk setuju, meskipun kekhawatiran masih terlihat jelas di wajahnya.
---
Sementara itu, di mansion, Emma sedang menyiram bibit bunga yang dibelinya kemarin. Ia tampak sibuk merawat tanaman-tanaman kecil itu, tetapi entah mengapa hatinya terasa gelisah sejak tadi.
Tangannya berhenti menyiram. Emma menatap bunga-bunga di hadapannya dengan tatapan kosong. Dadanya terasa sesak, dan entah mengapa, ia seperti ingin menangis tanpa alasan yang jelas.
“Sonia, mengapa aku ingin sekali menangis, ya? Tubuhku juga terasa tidak nyaman,” keluh Emma sambil meletakkan alat penyiram tanaman.
Sonia yang berdiri tidak jauh darinya segera mendekat.
“Mungkin suasana hati Nyonya sedang kurang baik,” jawab Sonia, mencoba menenangkan majikannya.
Emma menggeleng pelan. “Entahlah. Rasanya aneh sekali.”
Ia terdiam sebentar, lalu menoleh kepada Sonia dengan wajah penasaran.
“Sonia, kau pernah merindukan seorang pria sampai rasanya ingin menangis?”
Sonia tertegun mendengar pertanyaan itu.
“Belum pernah, Nyonya,” jawabnya jujur.
Emma kembali menunduk. Ia memainkan jemarinya dengan gelisah, lalu mengembuskan napas panjang.
“Kalau begitu, kenapa aku merasa seperti ini, ya? Padahal baru sebentar Damian pergi, tapi rasanya aku ingin sekali bertemu dengannya.”
Sonia hanya bisa tersenyum tipis. Ia ingin mengatakan sesuatu, tetapi ia teringat pesan yang diberikan Vandes kepadanya.
Sementara itu, Emma sama sekali tidak mengetahui bahwa kegelisahan yang dirasakannya mungkin bukan sekadar kerinduan Jauh dari mansion, Damian sedang berjuang untuk tetap bertahan hidup.
“Sonia, apakah aku jatuh cinta kepada tuanmu?” tanya Emma tiba-tiba.
Sonia sedikit terkejut mendengar pertanyaan itu. Ia menatap Emma yang tampak kebingungan dengan perasaannya sendiri.
“Sepertinya begitu, Nyonya,” jawab Sonia hati-hati.
Emma terdiam sesaat, lalu bibirnya mulai bergetar. Entah sejak kapan, bayangan Damian terus memenuhi pikirannya. Ia merindukan pria itu, bahkan hanya dengan mengingat wajahnya saja sudah membuat hatinya terasa sesak.
“Tapi aku sungguh merindukannya, hiks, hiks.” Emma mulai terisak sambil mengusap sudut matanya. “Berapa lama lagi aku harus menunggu tuanmu pulang, hiks?”
Sonia merasa iba melihat majikannya seperti itu. Ia pun berusaha menenangkan Emma.
“Tuan mungkin baru akan pulang minggu depan, Nyonya,” jawabnya, terpaksa menyampaikan kebohongan yang telah dipesankan kepadanya.
“HUWAAAAA!”
Emma langsung menangis semakin keras.
“Dia bahkan tidak membalas pesanku! Dia memang tidak menyukaiku!” rengeknya sambil memeluk tubuhnya sendiri. “Tapi ... sepertinya aku sedikit menyukainya.”
Sonia menahan senyum sekaligus rasa bersalah. Ia tidak tega melihat Emma menangis hanya karena merindukan Damian, sementara dirinya tahu bahwa keadaan tuannya jauh lebih buruk daripada yang bisa dibayangkan Emma.
“Nyonya, jangan berpikir seperti itu. Mungkin Tuan sedang sangat sibuk dengan pekerjaannya,” bujuk Sonia.
“Bohong! Kalau dia sibuk setidaknya membalas pesan ku tidak menggangu perkejaan nya sekedar menjawab ya saja, setidaknya dia bisa membalas satu pesanku saja!” protes Emma dengan mata berkaca-kaca.
Ia mengambil ponselnya, membuka percakapannya dengan Damian, lalu kembali menatap layar yang masih tidak menunjukkan balasan apa pun.
“Dasar vampir menyebalkan! Pulang nanti awas saja kau!” gerutunya di sela-sela tangis.
Sonia hanya bisa menghela napas pelan.
Maafkan aku, Nyonya. Seandainya Anda tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Tuan Damian .... batinnya.
eh thor update gih utusan istrahat nanti di akhirat 😍🤭