Tuan!, kau masih saja ya setampan dulu, suara itu menyapa dengan senyum lembut .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lili Pinarsih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Pukul dua dini hari.
Jarum jam di dinding kamar Satoshi Katagiri menunjukkan angka yang sama dengan layar jam digital di atas nakasnya. Namun, meskipun malam telah begitu larut, kedua matanya masih terbuka lebar.
Ia berbaring telentang, menatap langit-langit kamar yang luas, sementara pikirannya terus berputar tanpa henti.
Perkataan Lili masih terngiang-ngiang di telinganya.
Saya tidak ingin tinggal di rumah ini lebih lama lagi.
Kalimat itu terus menghantuinya sejak beberapa jam lalu. Bahkan setelah ia mencoba memejamkan mata berkali-kali, bayangan wajah Lili tetap muncul di benaknya.
Ia teringat bagaimana perempuan itu memandangnya dengan tatapan lelah. Tidak ada lagi harapan yang dahulu selalu terlihat di matanya. Tidak ada lagi senyum kecil yang biasa diberikan setiap kali ia pulang. Bahkan, Lili tidak lagi berusaha mencari alasan untuk berada di dekatnya.
Seolah-olah selama tiga tahun pernikahan mereka, Satoshi hanyalah seseorang yang kebetulan tinggal di rumah yang sama.
Satoshi membalikkan tubuhnya, kemudian mengembuskan napas kasar.
“Bagaimana caranya agar kau tidak pergi, Lili?” gumamnya.
Pertanyaan itu terdengar begitu asing di telinganya sendiri.
Dahulu, ia tidak pernah memikirkan cara mempertahankan perempuan itu. Ia justru menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk membuat Lili merasa tidak diinginkan. Ia mengusirnya dari kamar, mempermalukannya, dan sengaja membawa perempuan lain ke rumah mereka agar istrinya memahami bahwa dirinya tidak memiliki tempat di hatinya.
Kini, ketika Lili benar-benar ingin pergi, ia justru mencari cara untuk menahannya.
Satoshi bangkit dari tempat tidur, berjalan menuju jendela, lalu menyibakkan tirai.
Halaman rumah tampak sunyi di bawah cahaya lampu taman. Tidak ada seorang pun di luar sana. Para pekerja telah pulang sejak sore, sedangkan kedua orang tuanya tinggal bersama Kakek Mahito di kediaman utama keluarga Katagiri.
Rumah besar itu seharusnya memberikan kenyamanan baginya.
Namun, malam ini, keheningannya justru terasa menyesakkan.
Tiba-tiba, sebuah pikiran melintas di benaknya.
Bagaimana jika Lili mengandung anaknya?
Satoshi terdiam.
Selama tiga tahun, ia tidak pernah benar-benar menjalankan perannya sebagai suami. Meskipun mereka terikat dalam pernikahan, ia tidak pernah membangun kedekatan yang semestinya ada di antara pasangan. Ia selalu menjauhkan Lili, bahkan menghukumnya ketika perempuan itu mencoba bersikap mesra.
Pernikahan mereka hanya menjadi ikatan di atas kertas.
Namun, sekarang, pikirannya mulai membayangkan kemungkinan yang berbeda. Jika Lili mengandung anaknya, mungkinkah perempuan itu mempertimbangkan kembali keputusannya? Mungkinkah kehadiran seorang anak membuatnya mengurungkan niat untuk meninggalkan rumah tersebut?
Satoshi mengepalkan tangan.
Untuk sesaat, gagasan itu terasa seperti jawaban atas ketakutannya.
Akan tetapi, semakin lama ia memikirkannya, semakin jelas ia menyadari sesuatu yang mengerikan.
Ia sedang mempertimbangkan untuk menggunakan seorang anak sebagai alasan agar Lili tidak dapat pergi dengan mudah.
Bukan karena ia telah siap menjadi suami yang baik. Bukan pula karena ia telah belajar mencintai istrinya dengan benar.
Melainkan karena ia takut kehilangan kendali atas perempuan yang selama ini selalu berada dalam jangkauannya.
“Brengsek,” desisnya sambil mengusap wajah.
Ia membenci kenyataan bahwa bahkan dalam keadaan takut kehilangan Lili, pikirannya masih dipenuhi keinginan untuk mengendalikan hidup perempuan itu.
Namun, ia belum sepenuhnya mampu melepaskan pemikiran tersebut.
Satoshi berjalan menuju pintu kamar. Ia ingin melihat Lili, meskipun hanya sebentar. Ia ingin memastikan perempuan itu masih berada di rumah, masih berada di tempat yang selama ini dikenalnya.
Mungkin, jika melihatnya, ia dapat menemukan jawaban atas kegelisahan yang tidak dipahaminya.
---
Lorong lantai bawah begitu sunyi ketika Satoshi menuruni tangga.
Langkahnya berhenti di depan pintu kamar Lili yang terletak digudang. Ia menatap daun pintu itu beberapa saat sebelum meraih gagangnya.
Pintu terkunci.
Satoshi mencoba memutarnya sekali lagi, tetapi hasilnya tetap sama.
Ia mengerutkan kening.
Dahulu, ia tidak pernah memedulikan apakah pintu kamar Lili terkunci atau tidak. Ia bahkan tidak pernah berpikir bahwa perempuan itu mungkin membutuhkan tempat yang aman untuk dirinya sendiri.
Sekarang, sebuah pintu terkunci membuatnya merasa seolah-olah ada batas yang tidak dapat ia lewati.
Ia kembali ke kamarnya di lantai atas dan membuka laci meja yang berisi beberapa kunci cadangan. Setelah menemukan kunci yang dicarinya, ia kembali turun.
Tangannya berhenti sesaat sebelum memasukkan kunci ke lubang pintu.
Ia tahu Lili tidak mengundangnya masuk.
Ia juga tahu bahwa perempuan itu telah memintanya agar tidak menyentuhnya tanpa izin.
Namun, rasa takut kehilangan membuatnya ingin mengabaikan semua hal tersebut.
Kunci berputar pelan.
Pintu terbuka.
Satoshi masuk tanpa menyalakan lampu, kemudian menutup pintu dengan hati-hati agar tidak membangunkan Lili.
Cahaya lampu tidur yang remang-remang menerangi sebagian ruangan.
Lili sedang tertidur pulas di atas ranjang sederhana. Rambut hitam panjangnya terurai di atas bantal, sementara gaun tidurnya yang tipis tampak bergerak lembut mengikuti tarikan napasnya.
Wajahnya terlihat tenang.
Tidak ada kerutan di dahinya. Tidak ada air mata di pipinya. Untuk pertama kalinya malam itu, Satoshi melihat Lili tanpa tatapan sedih yang selama ini selalu membuatnya merasa tidak nyaman.
Ia berdiri beberapa langkah dari ranjang, tidak bergerak.
Biasanya, pada jam seperti ini, ia masih terjaga bersama perempuan lain. Selama 3tahun, malam-malamnya dipenuhi kesenangan sesaat yang tidak pernah memberinya alasan untuk memikirkan siapa pun setelah perempuan-perempuan itu pergi.
Namun, selama dua hari terakhir, ia tidak membawa seorang perempuan pun ke rumah.
Awalnya, ia mengira dirinya hanya sedang kehilangan minat. Akan tetapi, sekarang ia mulai menyadari bahwa pikirannya terus kembali kepada satu orang yang justru tidak menginginkan kehadirannya.
Lili.
Ketika pandangannya kembali tertuju pada perempuan yang sedang tidur itu, Satoshi merasakan gejolak dalam dirinya. Ia menyadari bahwa ia masih menganggap Lili sebagai istrinya, tetapi selama ini ia hanya mengingat status tersebut ketika merasa cemburu atau takut kehilangan.
Ia mengalihkan pandangan, lalu menarik napas panjang.
Keheningan membuat pikirannya kembali kepada gagasan yang sebelumnya muncul di kamar.
Tentang seorang anak.
Tentang kemungkinan bahwa kehamilan dapat membuat Lili bertahan.
Satoshi menatap wajah istrinya sekali lagi. Perempuan itu begitu tidak berdaya dalam tidurnya, sama sekali tidak mengetahui bahwa suaminya sedang berdiri di dekat ranjangnya.
Untuk sesaat, ia melangkah maju.
Kemudian, ia berhenti.
Ia teringat suara Lili di dalam mobil, ketika perempuan itu berkata bahwa dirinya tidak lagi menginginkan sentuhan Satoshi.
Ia teringat tubuh Lili yang menegang, tangannya yang berusaha melepaskan diri, serta ketakutan yang terlihat jelas di matanya.
Ia pernah mengabaikan semua itu.
Namun, jika malam ini ia kembali mengabaikan kehendak Lili hanya demi mempertahankannya, apa bedanya dirinya dengan pria yang selama ini telah menghancurkan kehidupan perempuan tersebut?
Satoshi menundukkan kepala.
Tidak ada jawaban yang dapat membenarkan tindakannya.
Kehamilan tidak akan menghapus luka Lili. Seorang anak tidak akan secara ajaib mengubah kebencian menjadi cinta. Dan ikatan darah tidak akan membuat seorang perempuan merasa aman di samping pria yang telah berulang kali menyakitinya.
Ia akhirnya memahami bahwa jika ia memaksakan kehendaknya malam ini, ia mungkin akan memperoleh sesuatu yang selama ini diinginkannya, tetapi kehilangan kesempatan untuk memperbaiki apa pun.
Satoshi mundur selangkah.
Ia tidak menyentuh Lili. Ia tidak membangunkannya. Ia bahkan tidak berani mendekati ranjang itu lagi.
Sebaliknya, ia berjalan menuju pintu dan berhenti di ambangnya.
Sebelum keluar, ia menoleh untuk terakhir kalinya.
“Bagaimana aku bisa membuatmu percaya kepadaku lagi?” bisiknya.
Lili tidak menjawab. Napasnya tetap teratur, dan matanya tetap terpejam.
Satoshi tahu bahwa perempuan itu tidak dapat mendengar pertanyaannya. Mungkin, bahkan jika Lili terbangun, ia pun tidak akan memberikan jawaban yang diharapkannya.
Sebab selama tiga tahun, Satoshi telah mengajari istrinya satu hal: bahwa dirinya bukanlah seseorang yang dapat dipercaya.
Ia menutup pintu dengan perlahan, kemudian mengunci kembali dari luar dan membawa kunci cadangan itu bersamanya.
Saat kembali ke kamarnya, langit di luar jendela masih gelap.
Satoshi duduk di tepi ranjang dengan kedua tangan saling bertaut. Ia tidak tahu apakah Lili masih akan pergi pada pagi hari. Ia tidak tahu apakah surat perceraian itu akan segera sampai ke pengadilan. Ia bahkan tidak tahu apakah masih ada sedikit ruang di hati istrinya yang dapat memberinya kesempatan.
Untuk pertama kalinya, ia memahami bahwa mempertahankan seseorang tidak sama dengan menahannya.
Jika ia benar-benar ingin Lili tetap berada di sisinya, ia harus belajar menjadi seseorang yang dapat dipilih perempuan itu tanpa rasa takut, tanpa paksaan, dan tanpa ancaman.
Namun, pemahaman itu tidak serta-merta membuatnya menjadi pria yang lebih baik.
Ia masih cemburu kepada Tyson. Ia masih takut Lili akan menemukan kebahagiaan bersama orang lain. Dan sebagian dirinya masih ingin mencari cara agar perempuan itu tidak pernah meninggalkannya.
Akan tetapi, malam itu, ia setidaknya berhasil menahan dirinya untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.
Satoshi merebahkan tubuhnya, tetapi kantuk tetap tidak datang.
Pukul dua telah berlalu.
Dan di dalam rumah yang sama, seorang perempuan tidur dengan tenang tanpa mengetahui bahwa suaminya baru saja berhadapan dengan sisi terburuk dirinya sendiri.
Sementara itu, Satoshi menatap kegelapan dengan satu kenyataan yang perlahan mulai diterimanya.
Ia tidak dapat meminta Lili memberinya seorang anak untuk menyelamatkan pernikahan mereka.
Ia tidak dapat memaksanya tinggal hanya karena dirinya takut kesepian.
Dan ia tidak dapat menuntut cinta dari perempuan yang selama tiga tahun telah ia ajari untuk hidup tanpa cinta darinya.
Jika masih ada kesempatan untuk memperbaiki semuanya, kesempatan itu tidak akan dimulai dengan sebuah ikatan baru.
Kesempatan itu harus dimulai dengan keberanian untuk mengakui kesalahannya—dan menerima bahwa Lili tetap memiliki hak untuk pergi.
Untuk pertama kalinya, Satoshi tidak mencari cara untuk menguasai Lili. Ia mulai mencari cara untuk berhenti menjadi alasan perempuan itu ingin melarikan diri.
mampir juga yuk kak ke new sc akuu😁