Kisah ini menceritakan tentang kisah seorang gadis desa yang gaptek dan dalam keadaan mendesak dia dipaksa menikah dengan CEO muda Arga Mahendra, seorang pengusaha muda yang tengah mencari istri sebagai jaminan kesehatan neneknya.
Mereka terpaksa menikah,disatu sisi Arga membutuhkan istri atas keinginan terahir neneknya dan disisi lain safa terpaksa harus mengorbankan masa mudanya demi mendapatkan uang karna ibunya terlilit hutang pada rentenir dan dia juga butuh biaya untuk berobat.
akankah cinta mereka bersemi diatas kertas kontrak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atha Diyuta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1 Menikah
Safa mengira hari itu dia akan melakukan interview kerja jadi admin di salah satu butik.
Dia tampil rapih dengan memakai gamis terbaiknya dipadu padankan dengan jilbab berwarna pink yang sudah dia setrika dengan rapih dari subuh. Dia juga sudah menghafal beberapa jawaban yang biasanya ditanyakan saat interview. Nama saya Safa, pendidikan terakhir saya SMK.Kelebihan saya ,saya bisa menjahit dan saya juga bisa membuat laporan keuangan sederhana.
Tapi saat Safa datang, ternyata kenyataan di depannya itu jauh dari apa yang dia bayangkan.
Safa dibawa kesuatu tempat,tempat yang sama sekali belum pernah dia datangi.Safa dibawa ke sebuah ruang tamu yang terlihat sangat mewah dan disana Safa melihat seorang pria dengan jas hitam duduk dengan tegap.Wajahnya tampan, berwibawa namun sorot matanya terlihat dingin.
Disebelahnya ada seseorang yang juga memakai jas namun dia memegang map tebal ditangannya.
Sepersekian detik Safa membeku,dia tak hal apa yang akan terjadi kepadanya.Tapi yang jelas dia datang buka untuk interview sebuah pekerjaan.
"Jadi ini gadisnya?" tanya pria itu tanpa menatap Safa. Suaranya terdengar begitu datar.
Pak RT yang berdiri sebelah Safa mengangguk cepat. " Betul pak Arga,ini Safa dia anak tunggal dari Bu Lastri.Safa ini anak yang baik,rajin dan juga santun.
Safa semakin bingung apa lagi saat melihat ibunya duduk di sudut ruangan itu dengan wajah berderai airmata.
" Bu,katakan ini sebenarnya ada apa? Bukankah tadi ibu bilang safa mau interview kerja? Terus mereka siapa Bu?"
Lastri bungkam, mulutnya seakan terkunci.Ia tak bisa mengatakan apapun kepada anaknya.Lastri berdiri sambil meremas ujung jilbabnya untuk menutupi rasa gugupnya.
Laki- laki yang memegang map terlihat muK melihat dramaku dan ibu,dia kemudian membuka salah satu map. "Baik Nona Safa, seperti yang sudah disepakati ibu Lastri sudah setuju untuk menikahkan anda dengan Tuan Arga Mahendra.Kalian akan menikah secara kontrak selama satu tahun dan sebagai gantinya, hutang keluarga anda sebesar tiga ratus juta akan lunas dan biaya pengobatan ibu anda akan ditanggung penuh oleh Tuan Arga sampai benar-benar sehat.
Dunia Safa seakan runtuh seketika.
"Menikah? menikah kontrak?" Suara Safa bergetar." Hutang apa yang dia katakan Bu, untuk apa ibu hutang sebanyak itu?"
Arga akhirnya menole dan menatap Safa dari ujung kepala sampai ujung kaki.Safa terlihat begitu sederhana,polos dengan tampilan sederhananya.
" Saya Arga,saya yang akan menikahi kamu.Saya hanya butuh kamu menjadi istri saya selama satu tahun dan kamu tenang saja,ikatan itu hanya diatas kertas.Setelah satu tahun saya akan memberikan kamu 50 juta dan setelah itu kamu akan bebas kembali.Kita bercerai." papar Arga dengan gayanya yang arogan.
Safa menggeleng keras. "Enggak, saya ngga mau menikah ,apa lagi menikah kontrak hanya untuk mendapatkan uang.Itu sama saja seperti saya diperjualbelikan.Ngga saya ngga mau." dengan suara tegas dan lantang Safa mengatakan itu didepan ibunya,pak RT,Arga dan pengacaranya.
"Baiklah,jika kamu menolak besok kamu akan melihat ibu kamu terbaring tanpa pengobatan, sakit yang dideritanya akan semakin parah dan membuatnya meninggal perlahan dan satu lagi,rumah kalian dan semua aset kalian akan disita oleh bank.Jika masih belum cukup kamu atau ibumu akan diseret ke penjara! Pilihan ada ditangan kamu!"
" Bu,tolong jelaskan jika yang dia katakan itu hanya kebohongan.Jelaskan Bu!" cecar Safa.
Melihat air mata anaknya Lastri menghampiri putrinya,memeluk lututnya dan menangis serta memohon pada putrinya itu." Nak,maafkan ibu dulu ibu memang berhutang banyak pada rentir untuk pengobatan almarhum ayah kamu.Ibu tidak tau jika pinjaman itu akan terus berbunga dan bunganya semakin hari semakin besar,ibu tidak sanggup lagi untuk membayarnya.Ibu juga butuh obat nak,dasa ibu rasanya sesak sekali.Tolong Safa,ibu mohon! Kamu harapan ibu satu-satunya."
Mendengar itu safa menangis dan meraung sejadi-jadinya.Usianya baru 20 tahun,dia belum memikirkan sebuah pernikahan,tapi melihat kenyataan didepan matanya hati safa tersentuh.
" Jika memang aku harus berkorban demi ibu,maka aku akan berkorban." gumanya dalam hati.
Setelah memutuskan dengan banyak pertimbangan akhirnya Safa menyetujui kontrak itu.
Sore itu juga, akad berlangsung.Acara yang sangat sederhana tidak ada hiasan bunga, tidak ada tamu tidak juga dekorasi pernikahan.Hanya ada penghulu yang dipanggil dengan cepat oleh pengacara Arga ,Bu Lastri, dan pak RT sebagai saksi serta Arga sebagai mempelai prianya .
Ijab qobul berlangsung dengan khidmat dan setelahnya ditutup dengan doa.Setelah acara selesai, Arga langsung berdiri kemudian merapihkan jasnya.
"Pengacara saya akan mengantar ibu kamu ke rumah sakit terbaik di kota ini sementara kamu ikut saya!"
"Ikut ke mana?"
"Pulang,kerumah saya! Mulai malam ini dan satu tahun kedepan kamu akan tinggal di penthouse saya."
Safa hanya mengangguk, kemudian berpamitan kepada ibunya.Acara perpisahan itu berlangsung dramatis,Safa terus sama menangis dipangkuan ibunya dan Lastri, perempuan paruh baya itu hanya bisa menangis namun dia juga pasrah karna dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain mengorbankan safa.
Setelah berpamitan Safa meminta izin untuk pulang sebentar dan dia kembali setelah beberapa menit dengan membawa satu kantong kresek kecil berisi beberapa helai gamis dan jilbab.Dia juga membawa mukenanya,mukena dan sajadah usang miliknya.
Perjalanan menuju penthouse menempuh waktu kurang lebih 7 jam dan tak terasa mereka sudag sampai di penthouse dilantai 32, Begitu masuk Safa melongo saat melihat rumahnya begitu besar, semua serba putih dan terdapat kaca dimana-mana, terdapat lampu otomatis yang bisa menyala sendiri
"Wow... ini rumah atau hotel, Pak?" celetuk Safa polos.
Arga menatapnya sinis. "Ini rumah dan mulai sekarang panggil aku Mas, bukan Pak. Kita suami istri meskipun kita hanya menikah kontrak tapi saya bukan bos kamu jadi panggil saya mas."
"Oh iya, Mas maaf!"
Arga melempar sebuah map ke meja marmer didepannya tepat didepan Safa."Baca itu! Disana ada beberapa aturan selama kamu jadi istri kontrak saya."
Safa membuka map itu,isinya banyak sekali pasal-pasal.
Pasal 1: Dilarang masuk ke ruang kerja.
Pasal 2: Dilarang menyentuh barang-barang tanpa izin.
Pasal 3: Harus tampil rapi jika ada tamu atau keluarga datang.
Pasal 4: Dilarang jatuh cinta.
Safa membaca pasal terakhir dengan kening berkerut. "Dilarang jatuh cinta? Emang cinta bisa dilarang?"cletuknya.
Arga mendengus. "Gadis desa sepertimu biasanya gampang baper,jadi aku peringatkan dulu sebelum kejadian."ucap Arga datar.
Safa mendongak, dengan wajah sedikit kesal. "Mas tenang saja! Lagipula selera saya bukan CEO yang judes,kaku dan dingin kayak kulkas dua pintu. Saya tau yang saya nikahi uang mas bukan mas." sentak Safa.
Untuk pertama kalinya, alis Arga terangkat. Tidak ada yang berani bicara seperti itu padanya selama ini.
Malam itu, masalah pertama muncul.
Safa lapar dan ingin masak mie instan.Dia masuk ke dapur yang super canggih. Semua kompornya datar, tidak ada api, hanya tombol-tombol sentuh yang menyala.
Dia menekan satu tombol. Namun tidak menyala, kemudian dia menekan tombol lain yang terjadi justru menimbulkan bunyi nyaring tiiiit tiiiit.
"Astaga, kompornya rusak." Safa menjadi semakin panik.
Arga yang sedang menelfon seseorang di ruang tengah datang dengan wajah kesal. "Apa yang sedang kamu lakukan!"
"Kompornya nggak bisa nyala mas,aku coba pencet-pencet malah bunyi. Aku mau masak mie instan,aku laper mas!"
Arga menatap kompor itu, lalu menatap Safa seperti melihat makhluk aneh yang datang dari planet lain dan sekarang ada didepannya."Itu kompor induksi. Harus pakai panci khusus dan harus di tap dulu baru bisa dipakai buat masak." jelas Arga.
Safa melongo. "Kompor apa? Induksi? Aku taunya kompor gas yang ada apinya, Mas. Yang kalau mau nyala harus pakai korek."
Arga menghela napas panjang. Dia mengambil panci khusus dan menyalakannya dalam tiga detik. "Perhatikan ini,begini caranya,Gaptek banget sih kamu!"
Wajah Safa merah padam karena malu, tapi dia tidak perduli karna dia sudah lapar. " Ya, namanya juga aku orang desa mas.Di desa,kami terbiasa masak pake tungku dan kayu bakar Mas, bukan pakai kompor sentuh -sentuh begini.Jadi mana paham cara pakainya." jawab Safa polos.
Arga menyodorkan mie instan yang sudah jadi padanya tanpa berkata apa-apa lagi, lalu kembali ke ruang kerjanya dengan wajah sedikit kesal.
Safa menyantap mie itu di meja makan besar sendirian. Sambil makan, air matanya jatuh lagi. Penthouse ini besar, tapi terasa sunyi dan sepi.Tidak ada suara jangkrik seperti di desanya.Tidak ada suara tetangga yang berkumpul di pos atau dipinggir jalan.
Jam 10 malam Safa yang mengantuk meringkuk diatas sofa.
Arga yang baru keluar dari ruang kerja semakin kesal melihatnya.
" Apa yang sedang kamu lakukan disana?" sentaknya tanpa melihat kearah Safa.
"Mau tidur mas,aku ngantuk tapi ngga tau kamarnya dimana."
Arga menunjuk sebuah kamar di ujung. "Itu kamar kamu dan yang disebelah itu kamar saya.Awas jangan sampai kamu salah masuk!" ucapnya.
Tanpa menjawab,Safa langsung berjalan menuju ke kamarnya dan dia langsung masuk ke kamar itu. Kamar yang luas ,wangi dan tertata rapih dengan ranjangnya yang empuk.Tapi semua itu tak membuatnya merasa bahagia karna kini hatinya terasa kosong.
Dia menatap foto ibunya di layar ponsel jadulnya yang layarnya bahkan sudah retak.
"Bu, Safa udah menikah,tapi ini bukan pernikahan yang nyata,bukan pernikahan yang Safa impikan.Semoga ibu cepet sembuh ya."bisiknya pelan sebelum akhirnya tertidur karena lelah sudah menangis seharian.
Di kamar sebelah, Arga berdiri di depan jendela kaca besar melihat lampu kota. Dia juga tidak bisa tidur.
Rencananya berjalan lancar. Dia mendapatkan istri kontrak untuk menyenangkan neneknya yang sakit dan ingin melihatnya menikah. Dia mendapatkan istri seorang Gadis desa yang penurut dan tidak akan mungkin berbuat macam-macam.
Tapi setelah mengingat gadis itu mengatakan selera saya bukan CEO judes,kaku dan dingin kaya kulkas dua pintu membuat arga tersenyum tipis untuk pertama kalinya hari itu, senyum yang begitu tipis hampir tidak terlihat.
" Menarik." ucapnya lirih.
"Mungkin satu tahun ini tidak akan sebosan yangku bayangkan." gumamnya.
Bersambung