NovelToon NovelToon
Heir To Immortality

Heir To Immortality

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Fantasi / Wuxia
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Danzo28

Pria Terbuang, Topeng Hitam, dan Kekuatan Kuno yang Mengguncang Alam Kultivasi!

​Dibuang oleh keluarga sendiri karena dianggap sampah tanpa masa depan, Lu Mingseng bangkit bersama warisan tiga pembimbing kuno. Dengan topeng hitam separuh wajah dan anomali struktur energi di tubuhnya, ia siap menuntaskan dendam masa lalu dan membakar jalurnya menuju puncak keabadian!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Topeng Separuh Wajah dan Bisikan dari Kegelapan

​Malam semakin larut menyelimuti kompleks Sekte Pedang Awan.

​Di dalam kamar sederhana yang hanya diterangi redup cahaya lampu minyak, Lu Mingseng duduk seorang diri di hadapan baskom berisi air jernih. Usai menuntaskan siklus ketat latihan Tubuh Naga Darah, ia berniat membersihkan cucuran keringat sebelum kembali masuk ke dalam meditasi dalam.

​Namun, saat matanya secara tidak sengaja menatap pantulan dirinya di permukaan air, seluruh gerakannya mendadak terhenti.

​Separuh wajahnya tampak biasa saja—bahkan, jika diperhatikan dengan saksama, garis rahangnya tegas, hidungnya mancung, dan sepasang matanya menyimpan ketajaman dingin yang sulit ditemukan pada pemuda seusianya.

​Tetapi separuh wajah lainnya tampak kontras mengerikan.

​Bekas luka bakar lama membentang dari dekat pelipis hingga menyeberangi pipinya. Kulit di sekitarnya tampak kasar, tidak rata, dan gelap, seolah-olah dahulu ada trauma kejam yang merobek parasnya tanpa ampun. Perbedaan ekstrem itu membuat keseluruhan bentuk wajahnya terlihat ganjil dan sangat mudah menjadi sasaran ejekan.

​Mingseng perlahan mengangkat tangan, menyentuh tekstur kasar bekas luka itu dengan ujung jarinya. Sudah lama sekali ia tidak memperhatikan dirinya sendiri seperti ini.

​Tiba-tiba, tanpa bisa ditahan, bayangan sesosok perempuan berwajah lembut muncul di dalam benaknya.

​Ibunya.

​Perempuan yang dahulu selalu tersenyum kepadanya, bahkan ketika tubuhnya sendiri kian hari kian mengurus digerogoti penyakit parah. Ia masih ingat betul bagaimana ibunya pernah mengusap pipinya lembut sambil berbisik bahwa fisik seseorang tidak pernah menentukan harga diri dan nilai kehidupannya.

​Saat itu, Mingseng masih terlalu kecil. Ia belum memahami dalamnya arti ucapan tersebut. Ia hanya tahu bahwa setiap kali anak-anak lain melemparinya batu dan mengejek wajahnya, ibunya akan mendekapnya erat-erat sambil menangis.

​Namun, ketika penyakit ibunya memburuk, pintu rumah utama Keluarga Lu justru terkunci rapat. Ayah kandungnya, Lu Tianhao, bahkan menganggap biaya obat untuk seorang perempuan yang tidak lagi memiliki nilai guna sebagai tindakan pemborosan yang sia-sia.

​Klek!

​Mingseng mengepalkan tangannya di tepi baskom hingga tulangnya memutih. Bayangan masa lalu yang kelam berputar kencang bagai pusaran air:

​"Apa gunanya menghabiskan sumber daya keluarga untuk seorang anak cacat yang bahkan tidak memiliki bakat kultivasi?" Suara dingin Lu Tianhao terdengar bagai gema dari neraka.

​Lalu muncul wajah Lu Wenjie, saudara tiri yang dipuja sebagai jenius muda, menunjuk wajahnya sambil tertawa terbahak-bahak di hadapan para pelayan: "Kalau wajahmu sudah menjijikkan seperti itu, sebaiknya kau membusuk saja di dalam kamar! Kau membuat nama besar Keluarga Lu tercoreng!"

​Gelak tawa sinis itu berlanjut hingga hari puncaknya—hari di mana Mingseng diusir secara resmi. Lu Tianhao berdiri di bawah guyuran hujan lebat tanpa belas kasihan.

​"Mulai hari ini, kau bukan lagi bagian dari Keluarga Lu! Pergi dari sini dan jangan pernah berani menampakkan mukamu lagi!"

​Mingseng meresapi setiap baris kata-kata jahat itu. Yang paling menyakitkan baginya bukanlah pengusiran atau kehilangan gelar bangsawan, melainkan kenyataan pahit bahwa darah dagingnya sendiri yang menjadi orang pertama yang meremukkan harga dirinya hingga hancur berkeping-keping.

​"Kalau Ibu masih hidup..." suara Mingseng bergetar teramat pelan. "Apakah Ibu akan bangga... atau justru kasihan melihatku sekarang?"

​Untuk pertama kalinya setelah menanggung penderitaan tiada akhir, pemuda yang selalu berpura-pura tangguh di hadapan orang lain ini membiarkan kerapuhannya meluap. Ia memang telah mendapatkan warisan masa lalu, melewati siksaan Penempaan Darah, dan melesat ke puncak Pengumpulan Qi dalam waktu singkat. Namun luka batin yang digoreskan oleh keluarganya sendiri masih menganga lebar di balik dadanya.

​Pandangan Sang Wanita Misterius

​"Jangan menatap air terlalu lama, Mingseng."

​Sebuah suara perempuan terdengar lembut dan sejuk menggema di dalam kesadarannya.

​Mingseng terkejut dan segera mengangkat kepala. Di hadapannya, pendar cahaya putih keperakan perlahan memadat, membentuk siluet wanita berjubah putih. Wajahnya samar tertutup kabut tipis, namun mata indahnya memancarkan rasa empati yang mendalam.

​Mingseng menyeka sudut matanya cepat-cepat, kembali memasang raut wajah tegar. "Guru... apakah aku mengganggu istirahatmu?"

​Wanita itu tidak langsung menjawab. Ia melangkah mendekat, mengamati struktur wajah Mingseng secara mendalam selama beberapa saat, lalu menghela napas panjang.

​"Siapa yang pernah mendikte bahwa wajahmu buruk rupa?"

​"Banyak orang," jawab Mingseng getir. "Hampir semua orang yang kujumpai."

​"Kalau begitu, penglihatan orang-orang itu sangatlah dangkal dan patut dikasihani," balas wanita itu tenang.

​Sebelum Mingseng sempat memprotes, sang wanita mengibaskan tangannya. Sebuah cermin bening dari pendar spiritual melayang di udara, menampilkan pantulan wajah Mingseng secara detail dari sudut yang berbeda.

​"Perhatikan baik-baik," ujar sang wanita. "Separuh wajahmu memang memiliki bekas luka yang pekat. Namun, bekas luka itu bukanlah definisi keseluruhan dari dirimu. Lihat bentuk tulang pipimu, garis rahangmu yang tegas, simetri hidungmu, dan yang paling penting... sepasang matamu yang menyimpan ketajaman serta ketabahan yang luar biasa."

​Wanita itu tersenyum tipis nan anggun. "Seandainya tidak ada bekas luka itu, kau pasti akan menjadi pemuda yang sangat tampan dan dipuja banyak orang."

​Mingseng tertegun kaku. Tampan? Seumur hidupnya, ia hanya mengenal julukan 'sampah', 'muka cacat', dan 'monster'.

​"Guru... kau tidak perlu menghiburku dengan kebohongan semacam itu."

​"Aku tidak sedang menghiburmu," tegas wanita itu, menatap lurus ke dalam pupil mata Mingseng. "Aku telah menyaksikan jutaan wujud selama keberadaanku. Paras tampan itu biasa, paras cacat pun tersebar di mana-mana. Namun seseorang yang sanggup mempertahankan tatapan berprinsip setajam milikmu setelah ditempa penderitaan tiada henti... dialah sosok yang langka. Jangan pernah biarkan penilaian orang jahat mendikte bagaimana caramu menghargai dirimu sendiri!"

​Mingseng terdiam seribu bahasa. Dadanya terasa sesak oleh kehangatan yang asing. "Aku... akan berusaha mengingat pesan Guru."

​Topeng Separuh Wajah dari Sang Penjaga

​"Cukup sentimentalnya. Perasaan lembek tidak akan mempercepat Pembukaan Meridianmu," suara serak penjaga Balai Penempaan Darah menyela tiba-tiba.

​Pendar merah membara menyala di sudut kamar. Sosok penjaga balai berdiri dengan tangan terlipat di belakang punggung, berdampingan dengan bayangan samar Kaisar Keabadian.

​Penjaga balai melirik Mingseng. "Tapi aku harus mengakui, identitas lamamu sebagai pemuda lemah yang gampang diinjak akan menjadi hambatan psikologis jika orang-orang masa lalumu melihatmu secara langsung."

​Kaisar Abadi mengangguk menyetujui. 'Benar. Ketika kau berhadapan kembali dengan Keluarga Lu atau musuh-musuhmu kelak, mereka hanya akan melihat wujud pemuda sampah yang pernah mereka injak. Itu bisa mengganggu fokusmu.'

​Penjaga balai menjentikkan jarinya ke udara. Wush!

​Sebuah topeng hitam melayang dan hinggap di atas meja. Topeng itu dirancang khusus hanya menutupi separuh wajah bagian atas hingga pipi, menyisakan area bibir dan rahang. Permukaannya berwarna hitam pekat dengan ukiran garis-garis merah gelap yang menyerupai sulur api kuno.

​"Pakailah topeng separuh wajah ini," titah sang penjaga.

​"Untuk menyembunyikan keburukanku?" tanya Mingseng.

​"Bukan untuk bersembunyi," potong sang penjaga tegas. "Topeng ini adalah simbol. Benda ini akan membuat dunia luar melihatmu sebagai sosok baru yang berbahaya—bukan lagi Mingseng si pembalik telapak tangan yang malang, melainkan seorang ahli misterius yang siap mencabut nyawa mereka!"

​Wanita berjubah putih menambahi dengan bijak, "Pakailah jika itu membantumu menguatkan tekad. Tapi ingat, jangan pernah memakainya karena kau malu pada dirimu sendiri."

​Mingseng memandangi topeng hitam di atas meja. Ia meraihnya, merasakan sensasi dingin dari material logam tempaan masa lalu tersebut. Saat ia menyalurkan sedikit Qi puncak ke dalamnya, topeng itu memancarkan aura perlindungan halus yang mampu menyamarkan fluktuasi energinya dari intaian orang lain.

​Mingseng perlahan mengenakan topeng tersebut ke wajahnya.

​Klik.

​Topeng itu mencengkeram sempurna, menutup separuh wajahnya yang terluka. Kini yang tersisa di permukaan adalah rahangnya yang kokoh serta sepasang mata tajam yang berkilat membara di balik celah topeng hitam bergaris merah.

​Di dalam pantulan air baskom, wujudnya telah bertransformasi total. Ia masih Lu Mingseng yang sama, namun aura di sekelilingnya kini memancarkan nuansa dingin, misterius, dan penuh dominasi.

​"Sempurna!" tawa penjaga balai bergelora. "Biarkan para bajingan yang pernah merendahkanmu gemetar ketakutan di hadapan sosok barumu!"

​Denyut Terlarang yang Terbangun

​Mingseng melepas kembali topeng itu dan meletakkannya dengan rapi di dekat pembaringan. Ia lalu membuang air di baskom, membuang semua bayangan masa lalu yang sempat menahan langkahnya.

​"Ibu," bisik Mingseng dalam batin sambil menatap langit-langit kamar. "Aku berjanji... aku tidak akan biarkan siapa pun menginjak-injak kita lagi."

​Ia bersiap kembali duduk bersila untuk merapikan energi Puncak Pengumpulan Qi sebagai persiapan menuju ranah Pembukaan Meridian.

​Namun tepat pada saat itu, lempengan tablet hitam di atas meja mendadak bergetar hebat. Pendar garis darah merah menyala terang membentuk barisan kata baru:

​UJIAN KEDUA: TEMUKAN SESUATU YANG TIDAK DAPAT DITEMUKAN OLEH KETIGA PEMBIMBINGMU.

​Mingseng menatap tulisan itu dengan pandangan menajam. "Sesuatu yang tak bisa ditemukan oleh ketiga guruku...?"

​Ketiga entitas kuno di jiwanya pun tampak memusatkan batin pada tulisan tablet tersebut, mengira itu hanyalah teka-teki instruksi latihan berikutnya dari Balai Penempaan Darah.

​Namun, jauh di balik kedalaman jiwa Mingseng—di wilayah paling terlarang yang berada di bawah kesadaran Kaisar Abadi, sang penjaga, maupun wanita misterius—sesuatu yang teramat kuno mendadak berdenyut pelan.

​Berdebar...

​Bukan berupa aliran Qi, bukan pula suara wujud. Hawa dingin yang teramat asing merayap sekilas melewati sumsum tulang belakang Mingseng, membuat bulu kuduknya berdiri.

​Ketiga guru kunonya sama sekali tidak menyadari keberadaan gema misterius tersebut. Mereka terlalu fokus menganalisis tulisan di tablet.

​Dan entitas asing yang mendiami kegelapan terdalam jiwa Mingseng itu... untuk pertama kalinya membuka matanya yang kelam, menatap lurus pada topeng separuh wajah yang terbaring di samping Mingseng dengan senyuman tanpa wujud yang menggetarkan takdir.

1
kute
keren
Sri
❤️‍🔥❤️‍🔥❤️‍🔥
Sri
😎😎😎
Sri
😍😍😍
Danzo28
Yuk Like komen vote nya Jangan lupa yahh ❤️❤️❤️🙏👍
Danzo28
pantau terus ya
Jan lupa vote nya 🥳🥳🥳
Uranenantios
langsung up 4 ni thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!